Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Dari Umbu sampai Algoritma

Oleh Nyoman Sukadana • 03 Agustus 2026 • 09:47:00 WITA

Dari Umbu sampai Algoritma

PADA 8 Juli 1979, pembaca Bali Post menemukan sebuah catatan berjudul “Memanggil Remaja Kreatif” di rubrik Pos Remaja. Penulisnya Umbu Landu Paranggi, penyair kelahiran Sumba, 10 Agustus 1943, yang ketika itu baru bergabung dengan koran tersebut. Isinya sederhana: anak-anak muda ditantang menulis dan memanfaatkan ruang sastra yang tersedia di surat kabar.

Catatan itu kemudian menjadi bagian dari periode penting dalam perkembangan kepenulisan di Bali. Kajian I Nyoman Darma Putra dalam Heterogenitas Sastra di Bali, terbitan Pustaka Larasan pada 2021, mencatat Umbu mengelola ruang sastra Bali Post sejak 1979 hingga 1998, hampir dua dasawarsa. Ia tidak sekadar menunggu naskah datang ke meja redaksi. Ada diskusi, pembacaan puisi, pertemuan apresiasi, dan komunikasi dengan penulis muda. Kegiatan pertama setelah ia masuk Bali Post berlangsung di Art Centre Denpasar pada 5 Agustus 1979 dengan sekitar 15 peserta.

Pertemuan semacam itu kemudian berlangsung di berbagai tempat. Pada periode tertentu, kegiatan sastra bahkan digelar hampir setiap minggu. Dari lingkungan tersebut tumbuh penulis yang beberapa tahun kemudian menerbitkan karya di media nasional, menulis buku, menjadi wartawan, akademisi, penyair, maupun esais.

Cara kerja seperti itu terasa jauh dari ruang redaksi digital sekarang. Reporter hari ini tidak cukup membawa buku catatan, menemui narasumber, lalu menulis berita. Ia berhadapan dengan situs, mesin pencari, media sosial, video vertikal, statistik pembaca, notifikasi, dan semakin sering kecerdasan buatan. Sebuah berita harus cepat diterbitkan, mudah ditemukan, cukup menarik untuk diklik, serta mempunyai peluang beredar di berbagai platform.

Perjalanan dari Umbu sampai algoritma karena itu tidak sekadar menggambarkan pergantian alat kerja. Di dalamnya terdapat perubahan penting pada lingkungan yang membentuk seorang wartawan menjadi penulis. Pertanyaannya, apakah ruang redaksi Bali masih mampu menjalankan fungsi tersebut?

Pertanyaan itu relevan karena hubungan antara jurnalistik dan kepenulisan di Bali bukan kisah satu-dua orang. Jejak sejarahnya cukup panjang.

Bali Post sendiri lahir jauh sebelum Umbu tiba. Koran yang mula-mula bernama Suara Indonesia itu terbit pada 16 Agustus 1948, didirikan Ketut Nadha bersama Made Sarya Udaya dan I Gusti Putu Arka. Ketiganya memiliki pengalaman bekerja di Bali Shinbun pada masa pendudukan Jepang. Dalam perkembangannya, Bali Post menyediakan ruang sastra melalui berbagai rubrik, antara lain Benteng Muda, Tamara, Pos Remaja, dan Pos Budaya.

Ensiklopedia Sastra Indonesia Badan Bahasa mencatat Bali Post memiliki peran penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern di Bali. Rubrik-rubrik tersebut menyediakan tempat bagi puisi, cerpen, esai, cerita bersambung, sekaligus menjadi pintu masuk bagi penulis muda untuk berhubungan dengan dunia penerbitan.

Bahkan sebelum Umbu bergabung, kehidupan semacam itu sudah berkembang. Pada 9 Mei 1972, wartawan Bali Post Widminarko membentuk Sanggar Pos Remaja. Di dalamnya bergabung antara lain Gde Aryantha Soethama dan Putu Setia, dua nama yang kemudian memperlihatkan betapa dekat hubungan profesi wartawan dengan kehidupan kepenulisan Bali. Sanggar tersebut menggelar kegiatan sastra, pembacaan puisi, dan berbagai pertemuan anak muda.

Umbu kemudian memperkuat atmosfer tersebut sejak 1979. Perannya tidak terutama terletak pada jumlah buku yang ia terbitkan. Ia dikenal karena membaca karya orang lain, memberikan catatan, menghubungkan penulis, dan mendorong mereka mencoba lagi. Dalam ekosistem seperti itu, kantor media, komunitas sastra, wartawan, mahasiswa, dan seniman berada dalam lingkaran yang relatif dekat.

Dari lingkungan tersebut muncul generasi wartawan-penulis kelahiran 1950-an.

Putu Setia lahir di Pujungan, Tabanan, 4 April 1951. Ia menjalani karier jurnalistik panjang, antara lain di Bali Post dan Tempo, tempat ia bekerja hingga pensiun pada 2006. Namun jejak Putu di Bali tidak berhenti pada berita. Buku Menggugat Bali, yang pertama terbit pada 1986, menghimpun pengamatannya terhadap perubahan sosial dan kebudayaan Bali sejak dekade 1970-an.

Buku tersebut diterbitkan kembali oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2014 dengan judul Bali Menggugat. Persoalan yang dibahas luas, dari ngaben, perjudian, sastra, arsitektur, Kuta, hingga desa wisata. Ketika tulisan-tulisan itu dibaca kembali beberapa dasawarsa kemudian, nilainya tidak hanya terletak pada pendapat Putu Setia. Pembaca mendapat kesempatan melihat Bali bergerak dari satu periode ke periode berikutnya.

Gde Aryantha Soethama, kelahiran 15 Juli 1955, mempunyai jalur yang hampir sama kuatnya antara jurnalistik dan kepenulisan. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi mingguan Karya Bhakti pada 1981-1987 serta redaktur Harian Nusa Tenggara pada 1989-1990. Bersamaan dengan pekerjaan tersebut, Aryantha menulis cerpen, novel, dan esai.

Dari perjalanan itu lahir Basa Basi Bali pada 2002, Bali is Bali pada 2003, Bali Tikam Bali pada 2004, hingga Bolak Balik Bali pada 2006. Buku terakhir menghimpun kolom yang sebelumnya terbit di Harian Nusa pada periode Oktober 2003 sampai Oktober 2005. Tema-temanya bertolak dari kehidupan sosial dan kebiasaan masyarakat Bali.

Putu Setia dan Aryantha menunjukkan fungsi penting pengalaman jurnalistik. Seorang wartawan bertemu banyak orang, mengikuti peristiwa, melihat konflik, dan mempelajari perubahan masyarakat dari jarak dekat. Berita membutuhkan fakta-fakta tersebut untuk menjelaskan apa yang terjadi. Esai memberi ruang lebih luas untuk mempertanyakan mengapa peristiwa itu terjadi dan apa maknanya bagi masyarakat.

Generasi berikutnya, terutama mereka yang lahir pada dekade 1960-an, menunjukkan jalur yang semakin beragam.

I Nyoman Darma Putra lahir di Denpasar pada 5 Desember 1961. Ketika masih mahasiswa semester pertama Jurusan Sastra Indonesia Universitas Udayana pada 1980, ia sudah bekerja sebagai wartawan Bali Post. Pada 1986-1988, Darma menjadi redaktur pelaksana Bali Post Minggu. Pada 1986 pula ia mulai bekerja sebagai dosen.

Kariernya kemudian bergerak semakin jauh ke dunia akademik hingga menjadi guru besar, tetapi pengalaman jurnalistik tetap menyertai pekerjaannya. Ia menulis mengenai sastra Bali, identitas, modernitas, pariwisata, dan kebudayaan. Perjalanannya menunjukkan bahwa ruang redaksi tidak selalu melahirkan kolumnis atau sastrawan. Bagi sebagian orang, jurnalistik justru menjadi dasar untuk riset dan penulisan akademik.

Putu Fajar Arcana lahir di Negara, Jembrana, 10 Juli 1965. Ia memulai pekerjaan jurnalistik di media lokal seperti Karya Bhakti dan Nusa Tenggara, sempat bekerja di Tempo, kemudian bergabung dengan Kompas pada 1994. Kariernya di Kompas berlangsung hingga 2022. Di luar pekerjaan jurnalistik, Putu Fajar menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah teater serta terlibat dalam berbagai kegiatan seni.

Warih Wisatsana juga tumbuh dalam ekosistem media dan sastra Bali. Sejumlah sumber berbeda mengenai tahun kelahirannya, antara 1962 dan 1965, tetapi jejaknya sebagai wartawan Bali Post pada 1980-an cukup jelas. Perjumpaannya dengan Umbu ikut memperkuat pilihannya menekuni puisi. Kemenangan melalui puisi “Amsal Sebuah Patung” pada Borobudur Award 1997 kemudian menjadi salah satu tonggak penting perjalanan sastranya.

Oka Rusmini, lahir di Jakarta pada 11 Juli 1967 dan kemudian menetap di Bali, bekerja di Bali Post sejak awal dekade 1990-an. Di samping menjadi wartawan, ia menghasilkan novel, cerpen, puisi, dan esai. Tarian Bumi, Sagra, Kenanga, dan Tempurung membuat namanya dikenal jauh di luar lingkungan pers Bali.

Pengalaman jurnalistik mempertemukannya dengan berbagai sisi kehidupan perempuan Bali. Sastra kemudian memberikan ruang untuk mengolah persoalan kasta, tubuh, keluarga, kekerasan, dan relasi kuasa dengan kedalaman yang tidak mungkin seluruhnya ditampung berita harian.

Made Adnyana Ole, lahir di Tabanan pada 3 Mei 1968, juga menjalani dunia wartawan dan sastra secara bersamaan. Tulisan-tulisannya sudah muncul sejak pertengahan 1980-an. Puisi, cerpen, esai, dan pekerjaan jurnalistik berjalan dalam jalur yang beririsan. Pada perkembangan berikutnya, Ole ikut membangun Tatkala, media yang memberi ruang besar bagi berita kisah, sastra, pendidikan, dan jurnalisme naratif.

Cok Sawitri, lahir di Sidemen, Karangasem, 1 September 1968 dan meninggal pada 4 April 2024, berada dalam lingkungan serupa. Ia dikenal sebagai novelis, dramawan, penyair, aktivis, serta penulis yang karyanya muncul di Bali Post, Nusa Tenggara, Kompas, Gatra, The Jakarta Post, dan berbagai media lain. Perjalanannya memperlihatkan betapa cair batas antara media, sastra, seni, dan aktivisme dalam ekosistem Bali pada periode tersebut.

Kajian Darma Putra bahkan menunjukkan hubungan antara profesi wartawan dan sastra Bali modern jauh lebih luas daripada nama-nama populer itu. Ia menyebut I Made Suarsa yang pernah bekerja di Sinar Harapan/Suara Pembaruan, I Made Sugianto di Harian Nusa, Mas Ruscitadewi di Bali Post, Ni Made Ari Dwijayanthi di Pos Bali, hingga Putu Supartika di Tribun Bali.

Ada alasan mengapa wartawan cukup sering masuk dunia kepenulisan. Pekerjaan mereka memberi akses langsung kepada kehidupan sosial. Seorang reporter bisa berpindah dari kantor pemerintah ke desa, dari pengadilan ke pasar, dari panggung seni ke rumah korban bencana dalam waktu yang berdekatan. Setiap liputan memperluas persediaan pengalaman dan pengetahuan.

Memasuki generasi kelahiran 1970-an, hubungan itu masih terlihat, tetapi lingkungan kerjanya mulai berubah.

I Gede Sutarya lahir di Penida Kaja, Bangli, 8 November 1972. Ia bekerja sebagai wartawan Bali Post pada 1994-1999, kemudian menjadi redaktur Bali Timur di Harian Nusa pada 2000-2003. Setelah masuk dunia akademik, Sutarya akhirnya menjadi guru besar Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Ia pernah menceritakan bahwa ketika masih menjadi wartawan, salah satu target kepenulisannya adalah menembus Kompas. Ketika menjadi akademisi, target itu bergeser ke jurnal internasional.

Menot Sukadana lahir di Denpasar pada 1977. Setelah mengalami masa Reformasi 1998 sebagai aktivis mahasiswa Universitas Udayana, ia masuk jurnalistik dan menjalani berbagai pekerjaan mulai reporter, redaktur politik, koordinator liputan hingga redaktur pelaksana. Dalam perkembangan berikutnya ia ikut mengelola perusahaan media dan semakin aktif menulis kolom serta esai. Buku JEDA: Catatan Renungan Seorang Jurnalis menjadi salah satu hasil fase tersebut.

Ayu Sulistyowati juga lahir pada 1977. Ia menghabiskan 16 tahun delapan bulan bekerja sebagai wartawan Harian Kompas sebelum mengambil pensiun dini pada 1 Mei 2020. Pada tahun yang sama ia menerbitkan Saya Kamu Mereka #Dirumahaja. Setelah keluar dari Kompas, Ayu tetap berhubungan dengan dunia jurnalistik dan kepenulisan di Bali.

Generasi kelahiran 1980-an menghadapi struktur media yang berbeda lagi.

I Made Sujaya lahir di Kusamba, Klungkung, 10 Agustus 1980. Ia menjadi wartawan DenPost pada 1999-2019 dan selama 2005-2019 mengasuh halaman sastra dan budaya DenPost Minggu. Pada saat yang sama ia menulis buku, mengajar, mengelola Balisaja.com, dan melanjutkan pendidikan akademik hingga doktor.

Luh De Suriyani, lahir pada 1981, mengenal dunia pers melalui pers mahasiswa dan bekerja sebagai jurnalis sejak awal 2000-an. Karyanya kemudian berkembang kuat pada liputan lingkungan dan sosial. Sampah, energi, pesisir, mangrove, pertanian, konservasi, dan konflik ekologis Bali menjadi wilayah yang secara konsisten ditulisnya selama bertahun-tahun.

Ni Komang Erviani lahir di Denpasar pada 14 Maret 1982. Karier jurnalistik profesionalnya dimulai di Harian Warta Bali pada 2003. Setelah itu ia menulis untuk Gatra, Seputar Indonesia, Media Indonesia, Mongabay, The Jakarta Post, dan sejumlah media lain. Pengalaman reportasenya kemudian bergerak pula ke buku nonfiksi dan biografi.

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara pada 14 Februari 1984, mulai serius menulis esai ketika menjadi wartawan tabloid budaya di Denpasar pada 2008. Di luar pekerjaan jurnalistik, ia menghasilkan puisi dan kumpulan esai. Pada 2026, Balai Bahasa Provinsi Bali menghadirkannya sebagai penulis, jurnalis, dan editor dalam kegiatan pembekalan penulisan esai.

Jika nama-nama tersebut disusun berdasarkan generasi, terlihat satu pola yang cukup jelas. Generasi Putu Setia dan Aryantha tumbuh ketika koran bukan hanya menjadi pusat distribusi berita, tetapi juga ruang penting bagi percakapan kebudayaan. Generasi Putu Fajar, Oka, Ole, dan penulis kelahiran 1960-an masih mengalami kuatnya halaman budaya, sekaligus mulai berhadapan dengan dominasi televisi. Generasi 1970-an memasuki redaksi ketika komputer dan internet mulai mengubah kerja pers, sedangkan generasi 1980-an menjalani karier ketika media daring, media sosial, dan platform digital semakin menentukan distribusi berita.

Kini perubahannya jauh lebih besar.

Digital News Report 2026 Reuters Institute, berdasarkan hampir 100.000 responden di 48 pasar, menunjukkan platform sosial dan video semakin dominan sebagai pintu masuk berita. Di Indonesia, WhatsApp, YouTube, Facebook, TikTok, dan platform lain menjadi bagian penting konsumsi informasi. Lebih dari 80 persen responden Indonesia mengonsumsi video berita daring setiap pekan.

Pergeseran perilaku pembaca berpengaruh langsung terhadap newsroom. Survei Reuters Institute terhadap 280 pemimpin media di 51 negara pada 2026 menemukan 76 persen responden berencana mendorong staf mereka bekerja lebih menyerupai kreator. Sebagian perusahaan juga mulai merekrut atau bekerja sama dengan kreator untuk memperkuat distribusi.

Pada saat yang sama, hubungan media dengan mesin pencari mulai berubah. Data Chartbeat yang dikutip Reuters Institute menunjukkan trafik organik Google ke lebih dari 2.500 situs berita turun sekitar 33 persen antara November 2024 dan November 2025. Para pemimpin media memperkirakan penurunan trafik pencarian masih berlanjut dalam beberapa tahun berikutnya.

Tekanan tersebut ikut sampai ke media lokal.

Reporter sekarang tidak hanya harus mengetahui siapa yang perlu diwawancarai dan bagaimana memeriksa fakta. Ia dituntut memahami SEO, mengolah video, mengirim materi ke media sosial, mengikuti perubahan algoritma, dan menggunakan berbagai perangkat digital. Kecerdasan buatan mulai membantu transkripsi wawancara, penelusuran dokumen, penyuntingan, dan sebagian pekerjaan rutin lainnya.

Teknologi memberi banyak kemudahan. Rekaman wawancara satu jam dapat diubah menjadi transkrip hanya dalam beberapa menit. Dokumen panjang dapat ditelusuri dengan cepat. Foto serta video dari lapangan dapat langsung dikirim ke ruang redaksi. Pekerjaan yang dahulu memerlukan waktu lama sekarang bisa diselesaikan jauh lebih cepat.

Namun efisiensi tidak selalu berarti wartawan memperoleh lebih banyak waktu untuk berpikir. Dalam industri yang sangat bergantung pada volume, waktu yang berhasil dihemat sering berubah menjadi target produksi berikutnya.

Akibatnya, seorang reporter bisa menulis jauh lebih banyak dibandingkan wartawan generasi koran, tetapi belum tentu mempunyai kesempatan lebih besar untuk berkembang sebagai penulis.

Inilah perbedaan yang perlu diperhatikan.

Berita membutuhkan kemampuan menyeleksi fakta, memeriksa informasi, menemukan sudut pandang, serta menulis dengan jelas. Menjadi penulis membutuhkan lapisan pekerjaan berikutnya. Wartawan perlu menghubungkan pengalaman yang terpisah, membaca di luar kebutuhan liputan, melihat perkembangan persoalan dalam rentang panjang, dan mempertanyakan kembali kesimpulan yang pernah dibuat.

Seorang reporter media daring bisa menghasilkan ribuan berita selama sepuluh tahun. Jumlah tersebut menunjukkan produktivitas, tetapi belum otomatis menghasilkan buku, esai panjang, atau corpus yang memperlihatkan cara ia membaca masyarakat.

Padahal posisi wartawan sangat strategis untuk melakukan pekerjaan itu.

Reporter pariwisata yang bekerja selama sepuluh atau dua puluh tahun kemungkinan mengetahui perubahan Kuta, pertumbuhan Seminyak, kemunculan Canggu, perubahan pola investasi, pergeseran pekerjaan, dan transformasi bahasa yang digunakan industri pariwisata. Wartawan lingkungan mengikuti persoalan sampah, air, abrasi, mangrove, pertanian, hingga konflik ruang. Reporter pemerintahan melihat pergantian pemimpin, anggaran, proyek, kebijakan, dan janji yang terkadang muncul kembali dengan istilah baru.

Pengetahuan tersebut tidak selalu tersedia dalam dokumen resmi. Sebagiannya hidup dalam ingatan wartawan, buku catatan, arsip berita, serta pengalaman berhubungan dengan narasumber selama bertahun-tahun.

Jika semua pengalaman itu berhenti pada berita harian, sebagian pengetahuan mengenai Bali ikut hilang.

Di sinilah wartawan yang kemudian menulis buku, esai, sastra, atau penelitian mempunyai peran penting. Mereka memindahkan pengalaman sehari-hari ruang redaksi ke medium yang mempunyai usia lebih panjang.

Putu Setia melakukannya melalui esai perubahan Bali. Aryantha membaca kehidupan sosial dan kebudayaan. Oka Rusmini mengolah pengalaman manusia ke dalam prosa. Darma Putra membawa disiplin jurnalistik menuju penelitian akademik. Putu Fajar menghubungkannya dengan sastra, seni, dan teater. Ole membangun media naratif. Sujaya mengawinkan newsroom, sastra, dan kampus. Luh De membangun jejak panjang tentang lingkungan. Erviani bergerak ke nonfiksi. Ayu membawa pengalaman jurnalistik ke buku.

Mereka tidak menempuh jalan yang sama. Justru keberagaman itu menunjukkan bahwa jurnalisme dapat menjadi dasar bagi banyak bentuk kepenulisan.

Persoalan berikutnya adalah apakah media lokal hari ini masih mempunyai ruang untuk membantu proses tersebut.

Jawabannya tidak bisa diselesaikan dengan nostalgia terhadap masa Umbu. Redaksi digital tidak mungkin kembali bekerja seperti koran tahun 1979. Bisnis media berubah, perilaku pembaca berubah, sedangkan tekanan ekonomi jauh lebih kompleks.

Namun beberapa prinsip lama masih relevan.

Wartawan membutuhkan kesempatan membaca dan mendiskusikan tulisan. Reporter yang sudah bertahun-tahun menangani satu bidang dapat diberi ruang membuat esai atau feature panjang berdasarkan pengalaman liputannya. Arsip berita dapat dikelola sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar kumpulan tautan. Redaksi juga dapat mendorong proyek buku tanpa mengharuskan setiap wartawan menjadi sastrawan.

Tatkala menunjukkan salah satu kemungkinan tersebut. Media itu secara sadar menggabungkan berita, sastra, pendidikan, serta tulisan naratif. Pada diskusi mengenai “berita kisah” pada 2022, I Made Sujaya menekankan pentingnya riset yang lebih cermat dan umur tulisan yang lebih panjang dibandingkan berita langsung. Made Adnyana Ole pada forum yang sama menyoroti kebutuhan wartawan memperluas pengetahuan agar dapat menghasilkan cerita yang baik.

Model serupa tentu tidak bisa begitu saja diterapkan pada semua media. Media dengan sumber daya terbatas tetap harus memproduksi berita harian dan menjaga keberlangsungan bisnis. Namun teknologi yang menghemat pekerjaan rutin semestinya membuka peluang bagi kerja jurnalistik yang lebih dalam, bukan hanya memperbesar jumlah konten.

Industri media global sendiri mulai bergerak ke arah tersebut. Survei Reuters Institute 2026 menunjukkan banyak pemimpin media berniat meningkatkan investasi pada investigasi orisinal, reportase lapangan, analisis, penjelasan kontekstual, dan cerita manusia. Berita umum yang mudah diringkas justru diperkirakan semakin mudah diambil alih oleh mesin dan platform AI.

Perubahan itu mengembalikan perhatian pada kemampuan dasar yang dahulu dimiliki wartawan: melihat, mendengar, membaca konteks, dan memahami manusia.

Proses tersebut tidak berlangsung dalam hitungan klik. Wartawan membutuhkan pengalaman, kegagalan, koreksi, pengetahuan, serta kesempatan mengembangkan gagasan dari waktu ke waktu. Seorang penulis juga tidak terbentuk hanya karena mampu memproduksi banyak teks. Ia tumbuh ketika pengalaman lapangan bertemu kebiasaan membaca dan ruang untuk memikirkan kembali apa yang sudah dilihatnya.

Umbu bekerja dalam ekosistem yang sangat sederhana dibandingkan teknologi newsroom sekarang. Ia mempunyai halaman koran, naskah yang datang dari penulis muda, pertemuan sastra, serta waktu untuk membaca dan memberi catatan. Tidak ada data analitik yang dapat menunjukkan apakah seorang penulis muda akan menghasilkan karya penting 20 tahun kemudian.

Hasil pekerjaan itu baru terlihat setelah waktu berjalan.

Pada zaman algoritma, hampir semua hal dapat diukur lebih cepat. Media mengetahui jumlah pembaca, durasi kunjungan, sumber trafik, rasio klik, dan performa setiap artikel. Data tersebut penting untuk memahami audiens dan menjaga bisnis.

Namun tidak semua hasil kerja redaksi dapat dibaca dari layar analitik. Salah satunya adalah kemampuan media membentuk wartawan yang semakin matang dalam memahami masyarakat tempat ia bekerja.

Bali membutuhkan kemampuan semacam itu karena perubahan berlangsung sangat cepat. Pariwisata bergerak ke desa-desa baru, tanah berubah fungsi, kawasan urban meluas, Canggu menjadi pusat ekonomi internasional, Kuta menjalani fase baru, Mengwi menghadapi tekanan pembangunan, sementara teknologi mengubah cara orang bekerja dan berhubungan.

Berita akan mencatat berbagai kejadian tersebut setiap hari. Akan tetapi, berita saja tidak selalu cukup untuk menjelaskan bagaimana semua perubahan itu saling berhubungan.

Di sanalah wartawan yang juga tumbuh sebagai penulis mempunyai tempat.

Dari Umbu pada 1979 sampai ruang redaksi yang kini bekerja bersama algoritma dan kecerdasan buatan, alat produksi media telah berubah hampir seluruhnya. Namun pekerjaan dasarnya masih sama: wartawan harus mengamati kenyataan, mendengar orang, memeriksa fakta, memahami konteks, lalu menyusun informasi agar masyarakat dapat mengetahui apa yang sedang terjadi. Pengalaman yang terkumpul dari pekerjaan itu kemudian dapat berkembang menjadi esai, sastra, penelitian, atau buku jika wartawan mempunyai kesempatan mengolahnya lebih jauh.

Tidak semua reporter harus menjadi penulis buku. Tidak semua redaksi perlu menjadi sanggar sastra. Namun sejarah pers Bali menunjukkan bahwa ketika ruang untuk bertumbuh tersedia, berita harian dapat menjadi sekolah bagi karya yang umurnya jauh lebih panjang.

Umbu tidak mempunyai dashboard untuk mengukur hasil pekerjaannya. Ia hanya menyediakan ruang, membaca karya, memberi catatan, dan membiarkan proses berjalan.

Hampir setengah abad kemudian, jejak proses itu masih dapat dibaca. Ukuran semacam itu memang sulit dimasukkan dalam laporan trafik bulanan. Namun bagi sejarah sebuah media, bahkan bagi sejarah intelektual sebuah daerah, nilainya tidak kecil. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.