Podiumnews.com / Horison / Tata Kelola

Macet Dikejar, Macet Datang Lagi

Oleh Nyoman Sukadana • 04 Agustus 2026 • 09:58:00 WITA

Macet Dikejar, Macet Datang Lagi
ILUSTRASI jalan berbentuk simbol infinity menggambarkan kemacetan Bali Selatan yang terus diurai, tetapi berulang hadir seiring pertumbuhan perjalanan dan pembangunan. (AI/Podiumnews)

KEMACETAN menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai pada 29 Desember 2023 memberi gambaran tentang beratnya tekanan lalu lintas di Bali Selatan. Antrean kendaraan memanjang hingga Tol Bali Mandara. Sejumlah penumpang memilih turun dari mobil dan berjalan kaki sambil membawa koper untuk mengejar jadwal penerbangan.

Kepadatan saat itu memang terjadi pada puncak libur akhir tahun sebagai musim tertinggi kunjungan wisatawan. Namun, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tambahan kapasitas jalan tidak selalu mampu mengimbangi pertumbuhan perjalanan.

Tol Bali Mandara dibuka pada 2013 untuk memperbaiki konektivitas antara kawasan Benoa, bandara, dan Nusa Dua. Sebelumnya, sebagian besar pergerakan menuju kawasan selatan bertumpu pada Bypass Ngurah Rai. Ketika beban lalu lintas meningkat, pemerintah menambah kapasitas melalui underpass Dewa Ruci dan jalan tol.

Kedua proyek itu memperbaiki kelancaran lalu lintas. Akan tetapi, kegiatan ekonomi, pariwisata, dan jumlah kendaraan di Bali Selatan juga terus bertambah. Kapasitas kendaraan yang bertambah ini kembali memunculkan tekanan baru berupa area kemacetan kendaraan.

Pola serupa kini terjadi di Badung.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung membangun dan menyiapkan sejumlah ruas baru untuk mengatasi kemacetan dari Kuta Utara hingga Pecatu. Mulai dari Jalan Lingkar Selatan dikerjakan untuk memperbaiki akses kawasan selatan. Jalur Berawa-Umalas-Kedampang-Teuku Umar Barat disiapkan untuk memperkuat hubungan Kuta Utara dengan Denpasar. Simpang Jimbaran direncanakan dilengkapi underpass. Pemerintah juga menyiapkan jalan baru dari Gatot Subroto Barat menuju Canggu hingga Mengwi.

Jalan terakhir menjadi salah satu proyek paling penting karena beban lalu lintas menuju Canggu sudah jauh melampaui fungsi awal jaringan jalan di kawasan tersebut.

Sebagian ruas di Canggu tumbuh sebagai jalan desa dan jalan lingkungan. Jalan-jalan itu semula melayani permukiman, pertanian, dan kegiatan masyarakat setempat. Dalam dua dekade terakhir, fungsi ruang berubah cepat. Sawah dan permukiman kini berdampingan dengan hotel, vila, restoran, beach club, pusat kebugaran, pertokoan, dan tempat hiburan.

Perubahan fungsi ruang itu menambah jumlah perjalanan.

Hotel membutuhkan pekerja, kendaraan logistik, taksi, dan kendaraan yang mengangkut wisatawan. Restoran mendatangkan pelanggan, pekerja, pemasok, serta layanan antar. Vila menghasilkan perjalanan wisatawan, pekerja kebersihan, teknisi, dan kendaraan daring. Tempat hiburan dapat menarik ratusan kendaraan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sementara aktivitas bertambah, sebagian besar jaringan jalan tetap sama.

Kemacetan kemudian muncul bukan hanya karena jumlah kendaraan meningkat, melainkan juga karena banyak kegiatan komersial berada langsung di tepi jalan. Kendaraan memperlambat laju ketika masuk atau keluar hotel dan restoran. Mobil yang berhenti untuk menurunkan penumpang mengurangi ruang lalu lintas. Kendaraan pengangkut barang memakai ruas yang sama dengan pekerja, wisatawan, dan warga.

Pada jalan yang sempit, gangguan kecil yang terjadi berulang dapat segera menurunkan kecepatan arus.

Pemerintah Badung telah beberapa kali membuka jalur alternatif.

Pada Januari 2024, shortcut Canggu-Tibubeneng di Simpang Padonan diresmikan. Jalan sepanjang 335 meter itu dibangun untuk mengurangi beban pada salah satu titik padat di Kuta Utara. Biaya konstruksinya sekitar Rp6,2 miliar, sedangkan pembebasan lahannya sekitar Rp25 miliar.

Pembukaan jalan tersebut menambah pilihan rute. Namun, pertumbuhan kegiatan di Canggu terus berlangsung.

Dua tahun kemudian, persoalan akses kembali menjadi agenda utama. Pemerintah merancang jalan Gatot Subroto Barat-Canggu-Mengwi sepanjang sekitar 17,7 kilometer dengan kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp4,5 triliun. Jalur itu diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap akses lama melalui Kerobokan dan Dalung.

Dari sisi jaringan, penambahan jalan memang diperlukan.

Namun, pengalaman sejumlah koridor di Bali Selatan menunjukkan bahwa keberhasilan proyek tidak cukup diukur ketika jalan baru dibuka. Yang lebih menentukan adalah perkembangan kawasan setelah akses membaik.

Jalan baru membuat suatu wilayah lebih mudah dijangkau. Kemudahan akses meningkatkan nilai ekonomi lahan. Investasi kemudian mengikuti. Perumahan, vila, hotel, restoran, pertokoan, dan gudang cenderung tumbuh di sekitar jalur yang semakin mudah dicapai.

Perkembangan itu kembali menghasilkan tingkat perjalanan yang melonjak berkali lipat, namun sekali lagi berujung pada kemacetan baru. 

Hubungan tersebut terlihat pada Bypass Ngurah Rai.

Jalan itu dibangun sebagai koridor utama yang menghubungkan Denpasar, Sanur, Kuta, bandara, Jimbaran, dan Nusa Dua. Seiring perkembangan kawasan, kegiatan komersial tumbuh di sepanjang jalan. Hotel, pertokoan, restoran, persimpangan, akses keluar-masuk bangunan, serta fasilitas putar balik menambah konflik lalu lintas.

Penelitian I Made Kariyana dan kawan-kawan yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Vastuwidya pada 2024 menunjukkan pergerakan kendaraan pada fasilitas U-turn di ruas Bypass Ngurah Rai-Nusa Dua menurunkan kinerja jalan pada waktu tertentu.

Temuan itu memperlihatkan bahwa kapasitas jalan tidak hanya ditentukan oleh jumlah lajur.

Jalan yang lebar dapat kehilangan sebagian kapasitas apabila terlalu banyak kendaraan berhenti, keluar-masuk bangunan, berpindah lajur, atau berputar arah. Karena itu, pengendalian kegiatan di sepanjang koridor menentukan kemampuan jalan mempertahankan fungsinya.

Hal yang sama perlu diperhitungkan pada jalan Gatot Subroto Barat-Canggu-Mengwi.

Jika koridor baru kemudian dipenuhi akses langsung menuju hotel, vila, restoran, pertokoan, dan perumahan, kendaraan jarak menengah akan bercampur dengan lalu lintas lokal. Kecepatan perjalanan akan turun karena arus utama terus terganggu kendaraan yang masuk dan keluar bangunan.

Di sinilah pembangunan jalan bertemu dengan kebijakan tata ruang.

Kajian transportasi mengenal fenomena induced demand, yakni keadaan ketika tambahan kapasitas jalan pada akhirnya diikuti peningkatan perjalanan. Robert Cervero, antara lain, membahas hubungan antara perluasan jalan, pertumbuhan kawasan, dan peningkatan perjalanan dalam penelitian Road Expansion, Urban Growth, and Induced Travel: A Path Analysis.

Konsep tersebut tidak berarti bahwa pembangunan jalan selalu menimbulkan kemacetan. Jalan baru tetap dibutuhkan ketika kapasitas jaringan sudah tidak memadai.

Namun, tambahan kapasitas dapat berkurang manfaatnya apabila setelah jalan dibuka jumlah perjalanan terus bertambah.

Ketika waktu tempuh membaik, orang dapat memilih rute tersebut untuk perjalanan yang sebelumnya menggunakan jalur lain. Akses yang lebih baik juga membuka kawasan baru bagi kegiatan ekonomi. Dalam jangka panjang, dua proses itu dapat kembali meningkatkan volume kendaraan.

Masalah Bali Selatan karena itu tidak dapat dipahami hanya sebagai kekurangan jalan.

Kegiatan ekonomi terkonsentrasi di sejumlah kawasan, sedangkan pekerjanya tersebar di wilayah yang lebih luas. Banyak pekerja hotel, restoran, vila, dan pusat hiburan di Badung tinggal di Denpasar, Mengwi, Tabanan, dan Gianyar. Mereka melakukan perjalanan pulang-pergi setiap hari.

Pariwisata menambah arus tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 6,95 juta kunjungan wisatawan mancanegara langsung ke Bali sepanjang 2025, meningkat 9,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Setiap pertumbuhan kunjungan menambah kebutuhan perjalanan dari bandara ke hotel, dari hotel ke destinasi wisata, restoran, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan.

Sebagian besar perjalanan itu masih bergantung pada jalan raya.

Akibatnya, perbaikan satu titik belum tentu menyelesaikan persoalan jaringan.

Jika sebuah simpang diperlebar atau dibangun underpass, kendaraan memang dapat melewati titik tersebut lebih cepat. Namun, kendaraan yang sama kemudian masuk ke ruas berikutnya. Jika kapasitas ruas berikutnya tidak berubah, antrean dapat berpindah.

Kondisi semacam itu mudah ditemukan di Bali Selatan.

Kendaraan dari Canggu bergerak menuju Kerobokan, Seminyak, atau Denpasar. Arus dari Pecatu bertemu dengan kendaraan dari Jimbaran dan Nusa Dua. Perjalanan dari Sanur menuju bandara masuk ke Bypass Ngurah Rai. Seluruh pergerakan tersebut saling berhubungan.

Karena itu penanganan kemacetan tidak cukup dilakukan berdasarkan satu simpang atau satu kawasan.

Bali Selatan membutuhkan pengelolaan jaringan secara keseluruhan, terutama karena ruang untuk pelebaran jalan semakin terbatas. Di Kuta, Seminyak, Kerobokan, dan Canggu, bangunan telah berdiri rapat di sejumlah ruas. Pembebasan tanah membutuhkan biaya tinggi dan sering kali tidak mudah dilakukan.

Pilihan lain adalah meningkatkan kapasitas angkutan manusia, bukan hanya kapasitas kendaraan. Yakni melalui peningkatan moda angkutan umum

Angkutan umum dapat mengangkut lebih banyak orang dengan penggunaan ruang jalan yang lebih kecil dibandingkan moda angkutan pribadi seperti mobil pribadi. Namun, angkutan umum baru akan dipilih jika rutenya sesuai kebutuhan perjalanan, waktu tunggunya dapat diperkirakan, dan waktu tempuh, tingkat kenyaman serta keselamatan   mampu bersaing dengan kendaraan pribadi.

Selama bus angkutan umum berada dalam antrean yang sama dengan mobil dan sepeda motor, masyarakat tidak memiliki insentif kuat untuk berpindah ke moda angkutan umum.

Karena itu, pembangunan jalan Gatot Subroto Barat-Canggu-Mengwi seharusnya disertai perencanaan angkutan umum sejak awal. Ruang untuk halte, titik perpindahan penumpang, jalur pengumpan, serta kemungkinan prioritas angkutan umum perlu disiapkan sebelum kawasan di sepanjang jalan berkembang lebih padat.

Pengendalian tata ruang juga tidak dapat dipisahkan.

Sebab, ruas jalan baru mendorong pembangunan hotel, restoran, tempat hiburan, perumahan, dan kawasan komersial yang akan meningkatkan jumlah perjalanan secara tajam. Untuk itu, dampaknya terhadap lalu lintas perlu dihitung sebelum izin diberikan. Tempat usaha harus menyediakan parkir dan ruang drop-off di dalam lahan. Akses langsung menuju jalan utama perlu dibatasi agar fungsi koridor tetap terjaga.

Tanpa pengaturan itu, pemerintah akan terus menghadapi siklus yang sama. 

Kegiatan ekonomi tumbuh dan menghasilkan perjalanan. Jalan menjadi padat. Pemerintah menambah kapasitas. Setelah akses membaik, pembangunan baru muncul dan kembali menambah perjalanan.

Badung sekarang sedang berusaha memutus siklus tersebut melalui pembangunan infrastruktur dalam skala besar.

Langkah itu memiliki dasar yang kuat. Kemacetan sudah memengaruhi mobilitas warga, pekerja, distribusi barang, dan perjalanan wisatawan. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa juga telah mengingatkan bahwa kelancaran akses berkaitan langsung dengan daya saing pariwisata dan pendapatan daerah. Yang secara otomatis mempengaruhi kemajuan dan kemunduran pembangunan daerah itu sendiri.

Peringatan itu penting karena sektor pariwisata Badung sangat bergantung pada mobilitas.

Hotel, restoran, dan tempat hiburan membutuhkan wisatawan yang dapat bergerak dengan mudah. Pekerja membutuhkan waktu tempuh yang wajar. Distribusi barang memerlukan kepastian perjalanan. Jika kemacetan membuat waktu tempuh sulit diperkirakan, biaya ekonomi ikut meningkat.

Sehingga pula daya saing pariwisata daerah Badung dan pendapatan daerah akan ikut menurun. 

Karena itu perdebatan tentang jalan baru sebaiknya tidak berhenti pada pilihan membangun atau tidak membangun.

Bali Selatan memang membutuhkan tambahan jaringan jalan.

Namun, pembangunan jalan harus diikuti pengendalian penggunaan lahan, penataan akses bangunan, pengelolaan parkir, penguatan angkutan umum, dan koordinasi antardaerah.

Pengalaman Bypass Ngurah Rai, underpass Dewa Ruci, dan Tol Bali Mandara menunjukkan bahwa infrastruktur dapat memperbaiki lalu lintas dalam jangka tertentu. Pengalaman yang sama juga menunjukkan bahwa pertumbuhan perjalanan dapat kembali memenuhi kapasitas yang tersedia.

Kini Badung kembali membangun jalan di Canggu, Jimbaran, dan Pecatu.

Jika pembangunan kawasan dan jumlah perjalanan terus bertambah tanpa perubahan pada sistem transportasi, persoalan yang sama akan kembali muncul.

Jalannya baru. Kemacetannya datang lagi. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.