Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Cari Pemodal

Oleh Nyoman Sukadana • 06 Agustus 2026 • 15:03:00 WITA

Cari Pemodal
Menot Sukadana (AI/Vector)

BEBERAPA bulan terakhir, saya mulai punya kebiasaan baru. Kalau bertemu teman yang punya uang agak lebih, pertanyaan saya bukan lagi sekadar, “Kapan ngopi?” Saya mulai iseng bertanya, “Mau tanam uang di media?”

Biasanya mereka tertawa. Mungkin karena kalimat itu terdengar seperti ajakan masuk ke bisnis yang masa depannya sering dipertanyakan. Media adalah usaha yang setiap hari memproduksi berita, tetapi pemiliknya belum tentu tahu dari mana uang bulan depan datang.

Saya maklum. Karena itu, belakangan pertanyaannya saya ubah sedikit.

“Mau ikut bikin UrbanBali?”

Responsnya ternyata agak berbeda. Ada yang langsung bertanya soal konsep, ada yang penasaran dengan pasarnya, dan ada pula yang menjawab diplomatis, “Menarik. Kita ngobrol dulu.”

Saya sudah cukup lama hidup untuk tahu, kalimat “kita ngobrol dulu” dari seorang pengusaha bisa berarti macam-macam. Bisa benar-benar tertarik, bisa sedang menghitung, bisa juga sebenarnya belum yakin tetapi sungkan menolak.

Tidak apa-apa. Saya memang sedang mencari pemodal.

Bukan untuk PodiumNews. Media itu sudah berjalan, punya pembaca, jaringan, dan sumber pendapatan sendiri. Belum sampai membuat saya bisa membeli vila di Canggu lalu mengeluh soal kemacetan dari balkon, tetapi setidaknya sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Yang sedang saya carikan pasangan adalah UrbanBali.

Sejak awal saya membayangkan UrbanBali berbeda dari portal berita harian. Ia tidak perlu ikut berlari mengejar konferensi pers, kecelakaan, pelantikan pejabat, atau perdebatan politik yang kadang umurnya hanya sampai sore. UrbanBali ingin bergerak lebih pelan, tetapi masuk lebih dalam pada perubahan Bali yang jarang mendapat ruang cukup dalam pemberitaan harian.

Isinya bisa tentang kota, arsitektur, kuliner, perubahan kawasan, desain, gaya hidup, komunitas, ekonomi kreatif, sampai orang-orang yang membuat Bali bergerak. Banyak cerita semacam itu sering lewat begitu saja karena redaksi berita harian terlalu sibuk mengejar apa yang terjadi hari ini.

Konsep UrbanBali sebenarnya sudah lama berputar di kepala saya. Bahkan pada awalnya saya bertekad membangunnya dengan modal sendiri.

Pikiran saya sederhana. Mulai kecil, biayai sendiri, lalu biarkan tumbuh pelan-pelan. Saya juga merasa cara itu lebih nyaman karena tidak perlu berbagi terlalu banyak keputusan dengan orang lain. Kalau ada ide, tinggal jalan. Kalau salah, tanggung sendiri.

Kedengarannya sederhana.

Setelah dihitung lebih serius, ternyata tidak sesederhana itu.

Membangun media baru bukan hanya soal menyediakan uang untuk membuat website lalu merekrut dua atau tiga orang. Masalah terbesar justru bagaimana menjaga napas usaha sampai pendapatannya cukup stabil.

Orang harus digaji setiap bulan. Konten harus tetap dibuat ketika iklan belum datang. Website perlu dikembangkan. Video membutuhkan peralatan. Promosi membutuhkan biaya. Kalau ingin membangun komunitas atau event, ada lagi uang yang harus dikeluarkan.

Media baru juga membutuhkan waktu untuk menemukan audiensnya. Setelah audiens terbentuk, belum tentu langsung mudah diubah menjadi pendapatan.

Di situlah perhitungan saya mulai berubah.

Bukan berarti saya sama sekali tidak mampu memulai UrbanBali dengan modal sendiri. Masalahnya, kalau ingin dikerjakan serius, saya harus menyediakan modal kerja cukup panjang. Artinya, uang harus terus keluar ketika pemasukan belum tentu datang pada kecepatan yang sama.

Saya kemudian mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah masuk akal semua risiko itu saya tanggung sendiri?

Apalagi saya masih harus menjaga PodiumNews tetap sehat. Ada juga Kopi Redaksi yang ingin saya bangun serius. Belum lagi pekerjaan menulis, jaringan, proyek, dan pekerjaan sehari-hari yang tetap membutuhkan perhatian.

Kalau semua ide harus saya biayai dan kerjakan sendiri, yang tumbuh mungkin bukan bisnis.

Bisa-bisa uban.

Karena itu, rencana awal UrbanBali akhirnya saya ubah.

Bukan dibatalkan. Saya hanya tidak lagi berkeras harus membangunnya dengan modal sendiri.

Saya mulai melihat UrbanBali lebih masuk akal jika dibangun bersama orang lain. Ada pembagian modal, risiko, pekerjaan, jaringan, sekaligus kepala untuk berpikir. Saya tetap ingin berada di belakang konsep dan arah medianya, tetapi pengelolaan bisnisnya idealnya ditangani bersama partner yang memang punya minat pada media, lifestyle, dan industri kreatif.

Kalau partner itu sekaligus membawa modal, tentu lebih baik.

Di titik inilah kalimat “cari pemodal” mulai muncul.

Namun saya tidak sedang mencari orang yang hanya punya uang. Uang memang penting, bahkan sangat penting. Tetapi UrbanBali juga membutuhkan orang yang memahami bahwa bisnis media tidak bisa dinilai hanya dari berapa iklan yang masuk bulan pertama.

Kalau seorang pemodal datang membawa uang sambil setiap minggu bertanya, “Bulan ini untung berapa?”, kemungkinan kami akan sama-sama cepat pusing.

Media membutuhkan waktu untuk membangun pembaca dan kepercayaan. Terlebih UrbanBali sejak awal tidak saya bayangkan hidup hanya dari iklan banner.

Model bisnis media semacam itu semakin sulit dijadikan satu-satunya pegangan. Jumlah media bertambah, persaingan trafik makin keras, sementara belanja iklan digital sebagian besar mengalir ke platform besar.

Karena itu, UrbanBali harus punya beberapa sumber pendapatan.

Bisa melalui kerja sama merek, produksi konten, event, komunitas, direktori bisnis, proyek kreatif, lifestyle partnership, hingga kemungkinan membership atau produk turunannya.

Medianya menjadi pintu masuk. Yang dibangun lebih dulu adalah pembaca, identitas, dan kepercayaan. Setelah itu baru berbagai kegiatan bisnis bisa dikembangkan di sekitarnya.

Saya melihat gejalanya sebenarnya sudah lama muncul.

Orang mungkin tidak tertarik membayar untuk membaca sepuluh berita setiap pagi. Tetapi mereka tetap bersedia membeli tiket acara, datang ke festival, mengikuti workshop, membeli produk, minum kopi, atau membayar layanan yang mereka anggap berguna.

Brand juga masih membutuhkan media. Hanya bentuk kebutuhannya berubah.

Mereka tidak lagi sekadar mencari ruang banner. Mereka mencari audiens yang jelas, komunitas yang kuat, konten yang bisa dipercaya, dan ruang untuk bertemu langsung dengan konsumennya.

Di situlah saya melihat peluang UrbanBali.

Tentu saja semua itu masih konsep. Belum tentu berhasil.

Saya juga sudah cukup lama hidup di bisnis media untuk tidak menganggap setiap ide yang muncul di kepala pasti hebat. Banyak gagasan terlihat cemerlang ketika dibicarakan sambil minum kopi, tetapi berubah menjadi barang rongsokan begitu bertemu pasar.

Justru karena itu saya membutuhkan orang lain.

Orang yang berani mengatakan ide saya salah. Orang yang mampu menghitung ketika saya terlalu asyik memikirkan konsep. Orang yang tahu kapan harus mengerem, kapan harus menambah modal, dan kapan sebuah ide sebaiknya dihentikan sebelum terlalu banyak uang terbakar.

Pemilik media kadang punya penyakit yang sama dengan orang jatuh cinta. Sulit melihat kekurangan miliknya sendiri.

Portalnya dianggap paling bagus. Tulisan redaksinya dianggap paling bermutu. Desainnya dianggap paling keren. Programnya dianggap paling menarik.

Lalu bingung ketika rekening tetap tipis.

Pemodal biasanya lebih dingin. Ia akan bertanya berapa pembacanya, siapa audiensnya, berapa biaya operasionalnya, dari mana pendapatannya, berapa lama uang harus ditanam, dan kapan modal mulai kembali.

Pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak romantis. Tetapi dalam bisnis, mungkin justru pertanyaan semacam itulah yang dibutuhkan.

Karena itu, sekarang saya tidak lagi buru-buru menentukan kapan UrbanBali harus diluncurkan.

Nama itu bisa menunggu. Konsepnya masih bisa dimatangkan. Saya lebih memilih UrbanBali lahir bersama orang yang tepat dibanding memaksanya hidup hanya karena gengsi ingin punya satu media lagi.

Saya juga mulai belajar bahwa tidak semua yang saya pikirkan harus saya kerjakan sendiri.

PodiumNews tetap menjadi fokus utama sebagai mesin jurnalistik. Kopi Redaksi saya siapkan sebagai ruang fisik yang mempertemukan media, komunitas, percakapan, dan bisnis. Podium Kreatif tetap berjalan ketika ada proyek yang memang layak dikerjakan.

Sedangkan UrbanBali, saya ingin memberikan ruang kepada orang lain untuk ikut membesarkannya.

Kalau ada partner yang punya kemampuan bisnis, jaringan, modal, dan tertarik pada konsepnya, saya justru akan senang kalau suatu hari UrbanBali tidak terlalu bergantung kepada saya.

Saya cukup ikut menjaga arah.

Mungkin keputusan ini terdengar sederhana. Tetapi bagi orang yang terbiasa mengerjakan banyak hal sendiri, mengakui bahwa sebuah ide lebih baik dibangun bersama orang lain ternyata juga membutuhkan sedikit keberanian.

Dulu saya berpikir UrbanBali harus lahir dari uang saya sendiri.

Sekarang saya berpikir berbeda. Dalam bisnis, kemampuan bukan hanya soal berani mengeluarkan modal. Kadang kemampuan juga berarti tahu kapan harus berbagi risiko.

Jadi, untuk sementara status UrbanBali sederhana: sedang cari jodoh.

Punya modal tentu membantu. Kemampuan bisnis lebih bagus. Jaringan sangat berguna. Tetapi yang paling penting, jangan cuma datang membawa uang.

Datanglah membawa keinginan membangun sesuatu.

Kalau kebetulan ada yang tertarik, kita bisa mulai dari cara paling sederhana.

Ngopi dulu.

Setelah itu, baru bicara angka. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.