Kutukan Pinjaman
KUTUKAN itu akhirnya patah. Begitu kata media daring semalam.
Saya ikut lega. Sampai saya sadar: yang patah itu kutukan siapa?
Semalam Emil Audero menepis tendangan Nattapong Sayriya. Gelora Bung Karno bergemuruh. Indonesia juara.
Juara! Kata itu sudah lama sekali tidak mampir ke timnas senior kita. Sampai lupa rasanya.
Hampir semua berita daring sepakat: kutukan runner-up sudah lunas. Enam kali gagal di final Piala AFF, terbayar dalam satu malam.
Pertanyaan saya tadi pun menemukan jawabannya. Mata saya berhenti di dua kata itu: Piala AFF.
Lho.
Yang kita menangkan semalam kan bukan Piala AFF.
Saya cek lagi. Benar. Namanya FIFA ASEAN Cup. Edisi pertama. Gagasan Gianni Infantino, presiden FIFA. AFF, federasi sepak bola Asia Tenggara sendiri, tidak diberi tahu lebih dulu. Kesepakatan dengan AFF baru menyusul belakangan.
AFF tetap punya turnamennya. Yang lama. Yang dulu bernama Piala Tiger, lalu Piala Suzuki, lalu Mitsubishi Electric Cup, kini Piala Hyundai. Yang enam kali membuat kita menangis di final.
Turnamen itu juga digelar tahun ini. Juaranya Vietnam. Di final mereka mengalahkan Thailand, agregat 4-2.
Indonesia? Tidak sampai semifinal. Kalah 0-3 dari Vietnam di Pakansari. Lalu hanya imbang dengan Singapura di laga penentuan. Itu bulan Agustus. Baru dua bulan lalu.
Jadi tahun ini Asia Tenggara punya dua juara. Vietnam juara versi AFF. Indonesia juara versi FIFA.
Mirip tinju. Ada beberapa organisasi. Masing-masing punya sabuk juara dunia. Siapa juaranya, tergantung Anda bertanya kepada siapa.
Saya tidak sedang mengecilkan gelar ini.
Menang adalah menang. Thailand bukan lawan kaleng-kaleng. Empat dari enam final AFF kita kalah dari mereka. Malam itu kita membalasnya. Di rumah sendiri. Melawan sepuluh pemain yang tidak mau menyerah sampai adu penalti.
Itu nyata. Air mata di tribune itu nyata.
Yang saya persoalkan adalah pinjamannya.
Kutukan itu, kalau memang ada kutukan, milik Piala AFF. Semalam kita menang di turnamen sebelah. Lalu kutukan dari sana kita pinjam, supaya kemenangan ini terasa seperti penebusan.
Kenapa bisa begitu?
Saya kira karena kita, wartawan, sudah terlalu lama merawat satu cerita.
Cerita tentang spesialis runner-up itu enak ditulis. Sedih, tapi enak. Setiap dua tahun ada babak baru. Dan setiap cerita sedih menunggu akhir yang bahagia.
Begitu akhirnya ada trofi, trofi apa saja, akhir bahagia itu langsung ditempelkan. Tidak sempat ditanya: ini cerita yang sama atau bukan?
Siapa pun yang pernah di ruang redaksi menjelang tengah malam tahu rasanya. Redaksi butuh judul. Pembaca butuh lega. Kita semua butuh percaya bahwa penantian panjang ada ujungnya.
Saya maklum. Tapi maklum tidak sama dengan benar.
Ada hal lain yang ikut tenggelam dalam euforia.
Semua laga divisi utama turnamen ini dimainkan di Indonesia. Jakarta. Bandung. Thailand pun memainkan fase grupnya di Bandung.
Finalnya hanya satu laga. Di GBK. Bukan dua leg kandang-tandang seperti kebanyakan final AFF yang dulu membuat kita patah hati.
Tiket ke final pun didapat dengan cara yang bikin jantung copot. Indonesia harus menang besar atas Bangladesh. Tiga gol terakhir baru datang di menit ke-90 dan masa tambahan waktu. Skor akhir 9-2.
Pada saat yang sama Malaysia menang 6-0 atas Singapura. Poin sama. Selisih gol sama. Indonesia lolos karena lebih banyak memasukkan gol.
Bangladesh. Juga Pakistan. Dua tim undangan dari Asia Selatan. Di turnamen yang bernama ASEAN.
Sekali lagi: itu bukan salah Indonesia. Aturannya begitu. Indonesia memainkannya dengan baik.
Tapi kalau mau jujur, format ini memihak tuan rumah. Dan tuan rumahnya kita.
Lalu apa artinya kalimat "mentalitas tim sudah terbentuk"?
Kalimat semacam itu muncul di banyak tulisan malam itu. Saya ragu. Bukan karena mental pemain kita lemah. Tapi karena kalimat itu selalu ditulis sesudah menang.
Seandainya Audero gagal menepis, kalimatnya akan berbalik: mental belum siap.
Delapan minggu sebelumnya, dengan pelatih yang sama tapi tanpa banyak pemain yang merumput di Eropa, tim ini tersingkir di fase grup. Bisakah mental terbentuk dalam delapan minggu?
Bisa saja. Tapi yang lebih jelas berubah adalah keadaannya. Stadionnya. Formatnya. Lawannya. Pemainnya.
Jadi, bagaimana sebaiknya gelar ini disebut?
Sebut saja apa adanya. Juara FIFA ASEAN Cup pertama dalam sejarah. Itu sudah membanggakan. Tidak perlu meminjam nama turnamen lain.
Tidak perlu pula dibebani tugas menghapus enam kekalahan yang terjadi di tempat lain.
Dengan begitu kutukan Piala AFF tetap hidup. Dan itu bagus. Masih ada pekerjaan rumah. Masih ada alasan untuk menonton dua tahun lagi.
Saya membayangkan suatu hari Indonesia benar-benar juara Piala AFF. Di final dua leg. Dengan separuh laga di kandang lawan.
Malam itu juga media akan menulis: kutukan itu akhirnya patah.
Kali ini bukan pinjaman. Milik kita sendiri. (*)
Menot Sukadana