Belajar Lagi dari Sanur
SANUR hari ini tetap memperlihatkan satu hal yang makin jarang ditemukan di kawasan wisata Bali: fungsi pariwisata masih bercampur dengan kehidupan warga.
Di jalur tepi pantai, pesepeda berbagi ruang dengan pejalan kaki. Jukung masih ditambatkan di dekat hotel. Warung berdiri tak jauh dari restoran. Di sejumlah titik, warga datang untuk sembahyang sementara wisatawan duduk menghadap laut. Pantai dipakai untuk rekreasi, bekerja, berjualan, berolahraga, upacara dan sekadar menikmati ruang terbuka.
Sanur memang kawasan wisata. Namun setelah puluhan tahun, kawasan ini belum sepenuhnya berubah menjadi ruang yang hanya melayani wisatawan.
Di situlah Sanur menarik dibaca kembali.
Selama beberapa tahun terakhir, perdebatan pariwisata Bali banyak berpusat pada Canggu, Uluwatu, Pererenan dan kawasan lain yang tumbuh cepat. Kemacetan, alih fungsi lahan, pembangunan vila, tekanan terhadap air, sampah dan perubahan ruang menjadi persoalan yang terus berulang.
Solusinya juga sudah sering terdengar: pembangunan jalan, angkutan umum, pembatasan bangunan, destinasi alternatif, pariwisata berkualitas dan penyebaran wisatawan.
Padahal Bali memiliki sebuah kawasan yang sudah menjalani eksperimen pariwisata selama sekitar enam dekade.
Namanya Sanur.
Sanur tentu memiliki persoalannya sendiri. Tanah pertanian berubah menjadi bangunan, lalu lintas semakin padat, kegiatan wisata mengubah pola ruang, sementara pantai menghadapi tekanan komersialisasi dan lingkungan. Penelitian tentang Desa Adat Sanur yang diterbitkan pada 2025 mencatat perubahan besar dari lahan pertanian dan ruang belum terbangun menjadi hotel, restoran, toko serta fasilitas wisata. Perubahan itu ikut memengaruhi pola pergerakan, akses pantai, ruang ritual, air dan infrastruktur.
Justru karena telah melewati berbagai tahap perubahan, Sanur layak dilihat sebagai laboratorium.
Laboratorium bukan tempat yang seluruh eksperimennya berhasil. Ia justru bernilai karena menyimpan hasil, kesalahan dan jejak perubahan yang bisa dibaca ulang.
Sejarah percobaan itu dapat ditarik ke 1960-an. Bali Beach Hotel yang diprakarsai Presiden Sukarno dibuka pada 1966 sebagai salah satu tonggak awal pariwisata modern Bali. Bangunan sepuluh lantai di pantai Sanur menjadi simbol keterbukaan baru Bali kepada dunia setelah erupsi Gunung Agung 1963 dan gejolak politik pertengahan dekade itu. Menjelang akhir 1960-an hingga awal 1970-an, Sanur mulai dikenal sebagai tempat berlibur kalangan kaya, pesohor dan elite politik.
Bali kemudian berkembang jauh melampaui Sanur.
Kuta tumbuh. Nusa Dua dirancang. Seminyak naik kelas. Pariwisata bergerak ke Kerobokan dan Canggu. Uluwatu berkembang. Vila menyebar ke desa-desa yang sebelumnya berada di luar peta utama pariwisata.
Perbedaan antara kawasan lama dan kawasan baru terletak pada prosesnya.
Sanur mempunyai waktu.
Enam puluh tahun memberi kesempatan bagi sebuah kawasan untuk menyesuaikan diri. Rumah tinggal berubah sebagian menjadi homestay. Usaha kecil muncul mengikuti kebutuhan wisatawan. Desa bernegosiasi dengan hotel. Jalan dan gang menemukan fungsi baru. Ruang ritual tetap digunakan. Warga belajar hidup berdampingan dengan orang asing yang datang silih berganti.
Proses itu tentu penuh gesekan.
Penelitian Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja dari Universitas Dwijendra bersama I Dewa Gede Agung Diasana Putra, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dan Ni Made Yudantini dari Universitas Udayana menemukan praktik adaptasi yang menarik di Sanur. Sejumlah kompleks rumah tradisional digunakan sebagian sebagai homestay, sementara fungsi keluarga tetap dipertahankan. Penelitian yang sama mencatat adanya koridor hijau yang menghubungkan ruang sakral dengan kawasan wisata serta inisiatif berbasis masyarakat untuk mempertahankan ruang budaya.
Artinya, pariwisata masuk ke dalam kampung tanpa sepenuhnya menghapus fungsi kampung.
Kawasan baru berkembang dengan ritme berbeda.
Vila dibangun, lalu restoran menyusul. Kafe, gym dan toko datang hampir bersamaan. Kendaraan bertambah cepat. Setelah kepadatan muncul, pemerintah baru sibuk memikirkan jalan, parkir, drainase dan angkutan umum.
Di Canggu, perubahan itu sudah terlihat lewat sejumlah penelitian. Kajian mengenai Tibubeneng menunjukkan pertumbuhan akomodasi wisata berkaitan dengan alih fungsi lahan pertanian. Penelitian lain mengenai overtourism di Canggu mencatat keluhan warga tentang kemacetan, kebisingan, gentrifikasi dan meningkatnya jumlah wisatawan asing yang tinggal lebih lama.
Perbandingan Sanur dan Canggu tentu tidak sesederhana membagi keduanya menjadi kawasan baik dan buruk.
Keduanya lahir dari zaman yang berbeda.
Sanur berkembang ketika negara mempunyai peranan besar dalam menentukan arah pariwisata. Canggu tumbuh pada zaman investasi properti, platform digital, media sosial dan mobilitas global bergerak jauh lebih cepat daripada dokumen tata ruang.
Yang lebih penting adalah membaca hasilnya.
Di Sanur, hotel besar belum sepenuhnya menutup garis pantai dari fungsi lain. Pantai masih dipakai masyarakat. Jalur tepi laut memberi ruang bagi orang bergerak tanpa kendaraan. Kampung berada dekat dengan kawasan wisata. Warung lokal hidup berdampingan dengan hotel berbintang. Aktivitas berlangsung sejak dini hari sampai malam dengan pengguna yang berbeda-beda.
Dalam bahasa perencanaan kota, campuran fungsi semacam itu mempunyai nilai penting.
Jane Jacobs, pemikir perkotaan kelahiran Amerika Serikat yang kemudian menetap di Kanada, sejak 1960-an mengkritik kota yang dibagi terlalu kaku berdasarkan satu fungsi. Dalam The Death and Life of Great American Cities, ia melihat lingkungan yang hidup tumbuh dari percampuran kegiatan, bangunan dan pengguna yang hadir pada waktu berbeda. Jalan dan trotoar menjadi penting karena kehidupan sehari-hari bertemu di sana.
Sanur tentu berbeda jauh dari kota-kota yang diamati Jacobs.
Namun logikanya mudah dikenali.
Kawasan yang didominasi vila akan sangat bergantung pada penghuni sementara. Kawasan yang penuh restoran mengikuti jam konsumsi. Kompleks hotel tertutup cenderung memisahkan tamu dari lingkungan sekitarnya.
Ketika rumah, warung, penginapan, pura, pantai, sekolah, toko dan ruang publik tetap berada dalam jarak berdekatan, kawasan memiliki kehidupan yang tidak seluruhnya bergantung pada satu jenis pengguna.
Sanur masih menyimpan sebagian karakter itu.
Pantainya menjadi contoh paling mudah dilihat.
Penelitian Universitas Udayana mengenai daya dukung Pantai Sanur yang terbit pada 2025 membagi kawasan pantai ke dalam fungsi rekreasi, berenang dan memancing. Peneliti menghitung area rekreasi sekitar 4,83 hektare dan memperkirakan daya dukung keseluruhan kawasan sekitar 7.741 orang per hari, lebih tinggi dibandingkan rata-rata kunjungan harian yang mereka catat sekitar 3.882 orang. Studi yang sama masih menemukan kekurangan tempat duduk, penerangan, tempat sampah dan parkir.
Angka itu memperlihatkan dua hal sekaligus.
Sanur masih memiliki ruang yang bisa dipakai untuk berbagai aktivitas, tetapi ruang tersebut tetap membutuhkan pengelolaan.
Ruang publik dapat menyusut perlahan jika tekanan komersial dibiarkan. Hotel mendekat ke pantai. Restoran mengambil tempat. Pedagang memenuhi titik tertentu. Kendaraan bertambah. Pengunjung meningkat.
Kajian mengenai ruang terbuka publik di Pantai Sanur juga pernah mencatat tarik-menarik antara fungsi budaya, kepentingan masyarakat dan kegiatan komersial. Garis pantai dipakai untuk upacara Hindu sekaligus kegiatan wisata, sehingga pengelolaan dan akses publik terus membutuhkan keterlibatan pemerintah, swasta dan komunitas.
Pelajaran Sanur karena itu lebih berguna jika dilepaskan dari nostalgia.
Yang perlu diperiksa bukan romantisme Sanur lama, melainkan mekanisme yang membuat sebagian ruangnya masih bisa dipakai bersama setelah pariwisata berada di sana begitu lama.
Salah satu jawabannya terletak pada keberadaan masyarakat yang tetap mempunyai posisi di dalam kawasan wisata.
Sanur Village Festival memberi gambaran mengenai hubungan itu. Penelitian tentang ketahanan ruang Desa Adat Sanur menyebut festival tersebut sebagai salah satu inisiatif berbasis komunitas untuk mempertahankan seni, tradisi dan ruang budaya sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari wisata. Program lingkungan dan pengelolaan ruang juga tumbuh melalui lembaga lokal.
Desa dengan demikian tidak hanya menjadi latar di belakang hotel.
Ia tetap menjadi pelaku.
Perbedaannya penting.
Jika masyarakat hanya memiliki tanah, hubungan mereka dengan pariwisata bisa berakhir setelah tanah dijual atau disewakan. Namun ketika masyarakat memiliki organisasi, usaha, ruang publik, kegiatan budaya dan kewenangan sosial, mereka masih mempunyai posisi untuk ikut menentukan bentuk kawasan.
Pemikir Prancis Henri Lefebvre mempunyai istilah yang membantu menjelaskan hal ini: ruang diproduksi secara sosial.
Bagi Lefebvre, ruang bukan sekadar tanah kosong yang kemudian diisi bangunan. Ruang terbentuk melalui aktivitas sehari-hari, kekuasaan, kepentingan ekonomi, perencanaan serta cara orang menggunakannya. Penelitian terbaru tentang Sanur memakai kerangka ini untuk melihat bagaimana desa adat terus bernegosiasi antara kebutuhan pariwisata dan praktik ruang tradisional.
Cara pandang itu membantu membaca perubahan di kawasan wisata baru.
Ketika sawah berubah menjadi vila, yang berubah bukan hanya bentuk bangunan. Penggunanya ikut berganti. Gang desa yang awalnya melayani warga bisa berubah menjadi jalur kendaraan menuju akomodasi. Rumah yang menjadi penginapan mengubah hubungan dengan tetangga. Warung yang diganti restoran untuk pasar global mengubah struktur ekonomi kawasan.
Sedikit demi sedikit, tempat yang sama menghasilkan ruang sosial yang berbeda.
Masalah muncul ketika perubahan itu berlangsung terlalu cepat untuk dinegosiasikan.
Sanur memiliki puluhan tahun untuk beradaptasi. Canggu mengalami perubahan besar dalam waktu jauh lebih singkat. Penelitian 2025 tentang overtourism di Canggu menggambarkan tekanan berupa kemacetan, kebisingan, gentrifikasi dan konflik antarkomunitas yang dirasakan warga, meskipun manfaat ekonomi membuat sebagian masyarakat tetap menerima perkembangan tersebut.
Karena itu, menambah jalan saja tidak cukup.
Jalan memang perlu. Drainase harus dibenahi. Parkir harus tersedia. Angkutan umum semakin mendesak.
Namun persoalan dasarnya lebih luas: apakah kawasan wisata masih menyediakan ruang bagi kehidupan yang tidak berkaitan langsung dengan konsumsi wisatawan?
Bisakah warga menuju pantai tanpa melewati properti privat?
Apakah warung lokal masih bertahan ketika harga sewa naik?
Bagaimana nasib gang desa ketika ratusan kendaraan menggunakannya setiap hari?
Apakah anak-anak masih punya ruang bermain?
Bagaimana upacara berlangsung ketika arus kendaraan dan kegiatan komersial terus meningkat?
Pertanyaan seperti itu sering muncul terlambat.
Pada tahap awal pembangunan, perhatian lebih banyak tertuju pada izin, jumlah kamar, nilai investasi dan pekerjaan yang akan tercipta.
Ketika persoalan ruang mulai terasa, bangunan sudah berdiri.
Sanur memberi satu pelajaran penting: kawasan wisata pada akhirnya tetap merupakan tempat tinggal.
Penduduk tetap membutuhkan ruang hidup. Fungsi keseharian tidak bisa seluruhnya diganti oleh fungsi komersial. Pantai memiliki arti yang lebih luas daripada tempat berjemur.
Keseimbangan itu sekarang menghadapi ujian baru.
Sanur memasuki fase pembangunan berikutnya setelah pemerintah menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus Sanur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2022. Kawasan seluas 41,26 hektare diarahkan untuk pariwisata dan kesehatan, termasuk layanan kesehatan internasional dan wellness tourism.
Laboratorium Sanur dengan demikian belum selesai.
Pertanyaan lama kembali muncul dalam bentuk baru.
Bagaimana investasi besar menyatu dengan jaringan ruang yang sudah terbentuk? Apakah kawasan kesehatan internasional akan terhubung dengan kehidupan Sanur atau berdiri sebagai kantong ekonomi tersendiri? Bagaimana tambahan kendaraan dan pekerja ditampung? Sejauh mana pantai tetap mudah dijangkau publik?
Sanur akan kembali diuji oleh keberhasilannya sendiri.
Di situlah alasan Bali perlu mempelajarinya sekarang.
Tujuannya bukan menyalin Sanur ke Canggu, Uluwatu atau kawasan lain. Setiap tempat mempunyai sejarah, bentang alam, masyarakat dan tekanan ekonomi yang berbeda.
Yang bisa dipindahkan adalah prinsipnya.
Pembangunan kawasan wisata perlu memperhitungkan fungsi kampung. Akses publik harus dijaga. Pergerakan orang dirancang sebelum kendaraan menumpuk. Masyarakat lokal perlu tetap menjadi pelaku ekonomi. Ruang yang tidak menghasilkan uang setiap meter perseginya juga harus dipertahankan.
Sebuah kawasan pada akhirnya harus tetap layak dihuni.
Bali terlalu sering mencari model baru jauh dari rumah. Studi banding dilakukan. Istilah baru diperkenalkan. Sustainable tourism, quality tourism, regenerative tourism dan smart tourism datang bergantian.
Semua konsep itu berguna.
Namun sebuah laboratorium sudah bekerja di pesisir timur Denpasar selama sekitar enam puluh tahun.
Di sana hotel tua, kampung, pura, warung, jalan, pantai, wisatawan, nelayan, pejalan kaki, pesepeda dan warga terus berbagi ruang yang sama.
Sebagian berhasil bertahan. Sebagian berubah. Sebagian lainnya hilang.
Justru karena itu Sanur layak dipelajari.
Sebelum Bali sibuk mencari bentuk baru pariwisata masa depan, mungkin ada baiknya menyusuri Sanur sekali lagi dan melihat lebih teliti apa yang masih hidup di sana.
Kadang-kadang model yang dicari bukan belum ditemukan.
Kita hanya sudah terlalu lama melewatinya. (*)
Menot Sukadana