Malu-Malu Cemas
BAGI Bali, pariwisata itu candu yang lezat. Semua orang tahu itu. Semua orang menikmatinya.
Dulu, rumusnya sederhana. Ada turis, ada dolar. Ada hotel, ada kerjaan. Ada restoran, ada pasar. Kemiskinan di desa-desa Bali dipukul mundur. Rumah-rumah bambu berganti tembok bata. Anak-anak petani bisa kuliah sampai sarjana.
Pariwisata adalah pahlawan tanpa cela bagi Pulau Dewata.
Lalu zaman bergeser. Musim berganti. Lahirlah generasi baru Bali. Generasi yang tidak pernah merasakan pahitnya paceklik masa lalu. Mereka lahir di atas kasur empuk yang dibeli dari uang sewa kamar, vila, dan komisi perjalanan.
Di titik inilah ironi dimulai.
Generasi muda Bali hari ini hidup dalam posisi yang serba salah. Mau menolak pariwisata sama sekali? Mustahil. Dari sektor inilah roda ekonomi keluarga dan daerah berputar. Dari situ pula gaya hidup modern hari ini dibiayai.
Mau memuja pariwisata seperti generasi terdahulu? Nurani mereka menolak.
Maka lahirlah sikap yang ganjil: malu-malu tapi cemas.
Malu karena sadar diri. Fasilitas hidup hari ini, akses informasi, hingga ruang untuk berpikir kritis adalah buah manis dari industri pelesiran Bali. Namun, cemasnya juga nyata. Kecemasan yang beralasan.
Mereka menyaksikan sawah-sawah masa kecil di berbagai sudut Bali berubah menjadi deretan vila bertembok tinggi. Mereka melihat sumur bor menyedot air tanah tanpa henti. Mereka merasakan jalanan yang dulu lengang kini padat merayap setiap sore.
Belum lagi soal harga tanah di Bali. Angkanya sudah melompat ke luar nalar. Generasi muda hari ini sadar betul satu fakta pahit: tanpa warisan tanah dari orang tua, mereka hampir mustahil membeli rumah di tanah kelahirannya sendiri.
Kecemasan itu meledak di ruang digital. Diskusi tentang krisis ruang di Bali, gentrifikasi, krisis air, hingga degradasi lingkungan ramai diperdebatkan. Kritik meluncur deras. Sikap skeptis terhadap ekspansi pariwisata menjadi simbol kesadaran baru anak-anak muda pulau ini.
Tetapi, kritik itu sering kali menggantung di udara. Berhenti pada batas kegelisahan.
Mengapa? Karena ada rasa malu yang menyelinap. Ada kontradiksi yang sulit diurai. Menyerang industri pariwisata terasa seperti menebang pohon tempat orang Bali berteduh. Menikmati hasilnya sambil terus memaki dampaknya terasa seperti kemunafikan yang disengaja.
Ini bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah. Ini benturan dua zaman di Bali.
Generasi terdahulu bertarung melawan perut lapar. Bagi mereka, keberhasilan adalah angka: berapa banyak wisatawan datang, berapa banyak kamar terisi, berapa besar uang berputar. Mereka tidak punya kemewahan waktu untuk memikirkan daya dukung pulau lima puluh tahun ke depan.
Generasi hari ini berada di seberang meja. Perut mereka sudah kenyang. Maka mata mereka mulai melihat kerusakan yang ditinggalkan di halaman belakang Bali. Mereka menuntut etika, tata ruang, dan keberlanjutan masa depan pulau ini.
Kesenjangan cara pandang ini yang membuat suasana menjadi kikuk.
Bagi Bali, pariwisata bukan lagi sekadar urusan devisa. Pariwisata sudah menjelma menjadi ujian mentalitas krama pulau ini. Bagaimana bersikap adil pada sektor yang menghidupi, tanpa harus menutup mata pada kerusakan yang ditimbulkan.
Malu-malu menikmati kuenya. Cemas melihat dapurnya mulai kelebihan beban.
Kecemasan itu tidak boleh hanya berhenti jadi keluhan di layar gawai. Jika generasi baru Bali hanya bisa cemas tanpa menawarkan cetak biru ekonomi yang baru, kegelisahan itu hanya akan jadi ornamen pemanis.
Pariwisata Bali tidak butuh kebencian. Pariwisata butuh rem yang pakem dan arah kemudi yang waras. (*)
Menot Sukadana