Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Jalan Kaki Jadi Kemewahan

Oleh Nyoman Sukadana • 20 Agustus 2026 • 16:52:00 WITA

Jalan Kaki Jadi Kemewahan
ILUSTRASI: Berjalan kaki menjadi kemewahan ketika trotoar terputus, ruang menyempit, dan kendaraan bermotor menguasai hampir seluruh jalan di kawasan perkotaan Bali. (AI/Podiumnews)

JARAKNYA hanya beberapa ratus meter. Warung ada di ujung jalan, minimarket sedikit lebih jauh, dan tempat makan masih satu lingkungan. Secara jarak, semuanya dapat dicapai dengan berjalan kaki. Namun tangan tetap mencari kunci sepeda motor. Helm dipasang, mesin dinyalakan, lalu perjalanan lima atau sepuluh menit dengan kaki berubah menjadi perjalanan dua menit dengan kendaraan.

Pemandangan seperti ini terlalu biasa di Bali untuk dianggap aneh. Sepeda motor digunakan untuk bekerja, mengantar anak sekolah, pergi ke pasar, menghadiri rapat banjar, membeli makan, bahkan membeli kopi di tempat yang jaraknya tidak sampai satu kilometer. Kebiasaan itu sering dijelaskan dengan jawaban sederhana: orang sudah malas berjalan kaki. Penjelasan tersebut nyaman karena kesalahan diletakkan pada individu. Padahal, persoalannya jauh lebih rumit.

Cobalah berjalan kaki beberapa ratus meter di banyak ruas Denpasar, Badung, Gianyar, atau kawasan perkotaan Bali lainnya. Trotoar muncul, lalu menghilang. Ada yang berubah menjadi tempat parkir, dipotong akses keluar-masuk toko, bengkel, restoran, hotel, atau rumah. Tiang listrik berdiri di tengah jalur. Permukaan naik turun. Pohon peneduh tidak selalu tersedia. Pada beberapa tempat, pejalan kaki harus turun ke badan jalan dan berbagi ruang dengan sepeda motor serta mobil.

Berjalan kaki memang gratis. Namun untuk berjalan dengan aman dan nyaman ternyata dibutuhkan banyak hal: trotoar yang tersambung, penyeberangan aman, ruang yang tidak direbut parkir, pohon peneduh, jarak yang masuk akal, serta kendaraan yang tidak melaju terlalu cepat. Ketika semua itu menjadi langka, jalan kaki pelan-pelan berubah menjadi kemewahan.

Motor yang Rasional

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan betapa dominan sepeda motor dalam sistem mobilitas Bali. Dalam pencatatan kendaraan tahun 2025, jumlah sepeda motor di Bali sudah lebih dari 4,7 juta unit. Angka itu merupakan data registrasi kendaraan dan tentu tidak berarti semuanya beroperasi bersamaan setiap hari. Namun skalanya cukup menunjukkan betapa penting kendaraan roda dua dalam kehidupan masyarakat Bali.

Motor memang sangat cocok dengan struktur ruang Bali. Harganya relatif lebih terjangkau dibanding mobil, dapat masuk gang kecil, mudah diparkir, fleksibel, dan tidak membutuhkan jadwal. Ketika transportasi umum belum mampu memberikan kepastian rute, waktu, dan jangkauan, sepeda motor menawarkan sesuatu yang sangat berharga: kebebasan bergerak.

Karena itu, menyalahkan masyarakat karena terlalu bergantung pada motor tidak banyak membantu. Pertanyaan yang lebih penting justru mengapa motor menjadi pilihan yang hampir selalu lebih rasional daripada berjalan kaki. Jawabannya dapat dilihat pada cara ruang dibangun. Jalan diperkeras untuk kendaraan, persimpangan diatur agar kendaraan mengalir, tempat parkir disediakan di depan toko, dan bangunan memperoleh akses keluar-masuk. Kawasan permukiman juga berkembang semakin jauh dari pusat pekerjaan, sementara sekolah, pasar, kantor, dan pusat belanja mengikuti jaringan jalan.

Pejalan kaki sering memperoleh ruang setelah seluruh kebutuhan lain selesai dibagi. Dalam keadaan seperti itu, orang tidak perlu membenci jalan kaki untuk memilih motor. Kota secara tidak langsung telah memilihkannya.

Trotoar yang Berhenti

Penelitian Louis Sidharta, Naniek Kohdrata, dan I Made Agus Dharmadiatmika dari Universitas Udayana memberi gambaran konkret mengenai persoalan tersebut. Mereka mengamati jalur pejalan kaki di sekitar Kampus Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman, Denpasar, pada 2023. Radius sekitar 400 meter digunakan untuk menggambarkan perjalanan kaki kurang lebih lima menit, jarak yang sebenarnya sangat pendek.

Namun penelitian itu menemukan jalur pedestrian yang terputus, kendaraan parkir di atas trotoar, dan kondisi yang membuat pejalan kaki harus turun ke badan jalan. Fasilitas untuk pengguna kursi roda dan tunanetra juga belum sepenuhnya tersedia. Pada beberapa bagian, lebar trotoar masih berada di bawah ukuran yang dianggap cukup bagi dua orang untuk berpapasan dengan nyaman.

Ada satu temuan yang justru lebih menarik daripada ukuran trotoar. Sebagian pengguna masih menilai jalur tersebut cukup baik. Peneliti menduga orang yang sering melintasi kawasan itu sudah terbiasa dengan kondisinya.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam: kita mungkin terlalu lama hidup dengan trotoar yang tidak utuh sampai ketidakutuhan itu dianggap biasa. Turun sebentar ke badan jalan dianggap normal, motor parkir di jalur pedestrian dianggap gangguan kecil, dan trotoar yang berhenti dianggap sesuatu yang harus diterima.

Masalahnya bukan lagi hanya kekurangan fasilitas. Standar kita tentang berjalan kaki ikut menurun. Persoalan serupa juga bukan cerita baru. Berbagai penelitian mengenai Jalan Gajah Mada dan sejumlah koridor lain di Denpasar selama bertahun-tahun telah mencatat persoalan kualitas jalur pedestrian, keterbatasan ruang, gangguan parkir, hingga konflik antara pejalan kaki dengan fungsi jalan lainnya.

Pada Juni 2026, kegiatan audit berjalan kaki di beberapa kawasan Denpasar kembali menemukan trotoar rusak, kendaraan parkir sembarangan, serta akses yang belum sepenuhnya inklusif bagi penyandang disabilitas.

Artinya, kita bukan tidak tahu ada masalah. Persoalan itu sudah lama terlihat, hanya belum menjadi prioritas sebesar kebutuhan kendaraan.

Empat Syarat

Jeff Speck dalam Walkable City menjelaskan bahwa orang tidak otomatis mau berjalan hanya karena tersedia trotoar. Menurutnya, perjalanan kaki perlu memenuhi empat kondisi: berguna, aman, nyaman, dan menarik.

Berguna berarti tujuan sehari-hari memang dapat dicapai dengan berjalan kaki. Rumah harus cukup dekat dengan sekolah, warung, halte, pasar, kantor, taman, atau fasilitas lain. Aman berarti pejalan kaki tidak terus-menerus merasa sedang mempertaruhkan tubuhnya di antara kendaraan. Nyaman berarti jalurnya cukup lebar, teduh, rata, tidak dipenuhi hambatan, serta dapat digunakan anak-anak, orang tua maupun penyandang disabilitas. Sementara menarik berarti ada kehidupan yang dapat dilihat sepanjang perjalanan.

Untuk syarat terakhir, Bali sebenarnya mempunyai modal besar. Jalan-jalan Bali dipenuhi warung, toko, pura, pohon, pasar, rumah, pedagang, bengkel, sekolah, kegiatan banjar, orang duduk di depan rumah, upacara, percakapan, dan berbagai bentuk kehidupan sehari-hari.

Bali tidak kekurangan alasan visual untuk berjalan. Yang sering kurang justru ruang untuk meletakkan kaki.

Di sinilah jalan kaki menjadi semacam kemewahan. Bukan karena membutuhkan biaya mahal, melainkan karena lingkungan yang memungkinkan orang berjalan dengan nyaman belum tersedia secara merata. Orang yang tinggal di kawasan dengan trotoar baik, pohon rindang, penyeberangan aman, dan berbagai kebutuhan dalam jarak dekat dapat menikmati perjalanan kaki. Beberapa kilometer dari sana, orang lain mungkin tidak memiliki pilihan yang sama.

Jalan untuk Siapa?

Jan Gehl dalam Cities for People mengajak kota dibaca kembali dari skala manusia, bukan hanya dari kecepatan kendaraan, tetapi dari pengalaman orang yang bergerak dengan tubuhnya sendiri. Cara melihat ini penting karena pembicaraan mengenai jalan di Bali sangat mudah berubah menjadi pembicaraan mengenai kendaraan. Ketika kemacetan meningkat, jalan dilebarkan. Ketika persimpangan padat, arus diatur. Ketika parkir kurang, ruang parkir dicari. Ketika kendaraan semakin banyak, kapasitas jalan kembali ditambah.

Semua itu mempunyai alasan teknis. Namun ada pertanyaan lain yang jarang mendapat bobot sama besar: bagaimana orang menyeberang, bisakah anak berjalan ke sekolah, bisakah seseorang berjalan dari halte ke kantor, apakah lansia dapat mencapai pasar tanpa kendaraan, dan apakah pengguna kursi roda dapat melewati satu ruas jalan tanpa terputus?

Donald Appleyard melalui Livable Streets menunjukkan bahwa jalan bukan sekadar saluran kendaraan. Jalan juga merupakan ruang sosial. Di sanalah orang bertemu, anak bermain, tetangga bertegur sapa, pedagang bertahan, dan hubungan komunitas terbentuk. Ketika kendaraan mengambil terlalu banyak ruang dan bergerak terlalu cepat, fungsi sosial jalan ikut mengecil.

Pandangan itu terasa dekat dengan Bali, tempat jalan bukan hanya infrastruktur transportasi. Banyak jalan juga menjadi bagian dari kehidupan desa, akses menuju pura, ruang prosesi, tempat usaha, tempat bertemu, dan bagian dari hubungan antarrumah. Namun ruang jalan terbatas. Mobil membutuhkan lajur, motor membutuhkan lajur, kendaraan berhenti membutuhkan parkir, bangunan membutuhkan akses, drainase membutuhkan tempat, tiang utilitas mendapat ruang, dan pedagang juga membutuhkan ruang. Setelah semuanya mendapat bagian, pertanyaannya menjadi sederhana: berapa meter yang tersisa untuk tubuh manusia?

Mereka yang Tidak Punya Motor

Jalan kaki juga merupakan persoalan keadilan. Mimi Sheller memakai gagasan mobility justice untuk menunjukkan bahwa kemampuan bergerak tidak dibagikan secara sama. Infrastruktur dapat membuat seseorang sangat mudah mencapai pekerjaan, pendidikan, dan layanan, sementara orang lain menghadapi hambatan lebih besar.

Di Bali, sepeda motor dapat menyelesaikan banyak persoalan tersebut. Trotoar jelek, naik motor. Halte jauh, naik motor. Sekolah satu kilometer, antar dengan motor. Tempat kerja sulit dicapai, naik motor. Motor akhirnya menjadi semacam tiket masuk menuju mobilitas normal.

Namun tidak semua orang mempunyai tiket itu. Anak-anak belum dapat mengendarai kendaraan. Sebagian lansia tidak lagi nyaman melakukannya. Penyandang disabilitas mempunyai kebutuhan berbeda. Ada pula orang yang memang tidak memiliki kendaraan. Ketika sebuah kota hanya mudah dijalani oleh mereka yang mempunyai kendaraan bermotor, persoalannya bukan lagi sekadar transportasi. Ia menjadi persoalan akses.

Trotoar karena itu bukan hiasan kota atau sekadar paving yang dipasang setelah proyek jalan selesai. Ia merupakan infrastruktur dasar bagi orang yang bergerak menggunakan kemampuan paling mendasar yang dimiliki tubuh manusia: berjalan.

Kemewahan di Tempat Wisata

Ironinya, Bali sebenarnya tahu bagaimana membuat orang menikmati jalan kaki. Datanglah ke Sanur. Di sepanjang pantai, orang berjalan, jogging, bersepeda, berhenti makan, duduk, melihat laut, kemudian meneruskan perjalanan. Tidak sedikit orang sengaja datang ke kawasan itu justru untuk berjalan.

Hal serupa mudah ditemukan di lingkungan resort, hotel, kawasan komersial, dan sejumlah destinasi wisata. Jalur dibuat jelas, permukaan rata, pohon ditanam, kendaraan dikendalikan, lampu disediakan, dan jarak antarfungsi diperhitungkan. Orang tidak perlu didorong untuk berjalan. Ketika kondisi ruangnya mendukung, mereka berjalan dengan sendirinya.

Di titik itu muncul paradoks yang menarik. Bali dapat menjual pengalaman berjalan kaki kepada dunia. Wisatawan datang untuk berjalan di pantai, menyusuri kawasan wisata, masuk gang, melihat desa, menikmati persawahan, atau merasakan kehidupan lokal dengan kecepatan kaki. Sementara itu, banyak penduduk yang hidup di pulau yang sama harus mengeluarkan motor untuk membeli kebutuhan beberapa ratus meter dari rumah.

Bukan karena wisatawan lebih menyukai berjalan kaki dan bukan pula karena warga lokal lebih malas. Kondisi ruang mereka berbeda. Kemewahan yang sesungguhnya bukan mempunyai sepatu mahal untuk berjalan, melainkan mempunyai tempat yang memungkinkan orang berjalan tanpa terus-menerus merasa sedang mengganggu kendaraan.

Bukan Panjang Trotoar

Membangun kota ramah pejalan kaki karena itu tidak cukup dengan menghitung kilometer trotoar. Trotoar bukan proyek yang berdiri sendiri, melainkan jaringan. Seratus meter trotoar yang bagus tidak banyak berarti bila ujungnya mengarah ke badan jalan. Satu kilometer paving baru tidak menyelesaikan perjalanan jika orang tidak dapat menyeberang dengan aman. Guiding block tidak banyak membantu bila jalurnya berakhir di tiang atau kendaraan parkir.

Ukuran keberhasilan perlu digeser. Bukan berapa kilometer trotoar dibangun, tetapi berapa perjalanan dapat diselesaikan dengan berjalan kaki. Bisakah anak mencapai sekolah? Bisakah mahasiswa mencapai kampus dari tempat kos? Bisakah orang berjalan dari pasar menuju permukiman? Bisakah penumpang angkutan umum mencapai kantor dari halte? Bisakah lansia berjalan ke fasilitas kesehatan terdekat?

Radius 400 sampai 800 meter dari sekolah, kampus, pasar, halte, rumah sakit, terminal, pusat pekerjaan, dan pusat kegiatan dapat dijadikan kawasan prioritas. Di sana pemerintah tidak hanya melihat trotoar, tetapi juga penyeberangan, kecepatan kendaraan, parkir, pohon peneduh, akses bangunan, serta hambatan bagi penyandang disabilitas. Jaringan harus bersambung dari titik keberangkatan sampai tujuan.

Itu yang selama ini sering hilang. Kita membangun potongan trotoar, tetapi belum selalu membangun perjalanan.

Harga Perjalanan Gratis

Bali hampir selalu membicarakan kemacetan ketika kendaraan sudah berkumpul di jalan. Jumlah motor terlalu banyak, mobil bertambah, jalan sempit, persimpangan penuh. Kemudian kita mencari cara membuat kendaraan bergerak lebih cepat.

Padahal ada pertanyaan yang seharusnya muncul lebih awal: berapa perjalanan pendek yang sebenarnya dapat dilakukan tanpa kendaraan? Tidak semua perjalanan dapat dilakukan dengan berjalan kaki. Permukiman Bali sudah menyebar, pusat pekerjaan tidak selalu dekat, cuaca panas dan hujan menjadi kenyataan tropis, serta banyak orang bekerja belasan kilometer dari rumah. Sepeda motor akan tetap menjadi bagian penting sistem mobilitas Bali.

Namun tidak semua perjalanan membutuhkan mesin. Perjalanan 300 meter tidak selalu membutuhkan motor. Perjalanan anak ke sekolah satu lingkungan tidak seharusnya otomatis membutuhkan kendaraan. Perjalanan dari halte ke kantor juga tidak semestinya menjadi petualangan menghindari motor.

Jika perjalanan pendek dapat dilakukan dengan kaki, manfaatnya bukan hanya mengurangi kendaraan. Anak mendapat ruang bergerak, lansia lebih mandiri, jalan lebih hidup, usaha kecil lebih mudah terlihat, dan angkutan umum menjadi lebih masuk akal karena setiap penumpangnya selalu menjadi pejalan kaki sebelum dan sesudah naik kendaraan. Kota pun kembali mempunyai skala manusia.

Kembali kepada orang yang hendak membeli sesuatu beberapa ratus meter dari rumah. Ia membuka pintu, melihat matahari cukup terik, tidak menemukan trotoar, kemudian melihat jalan menyempit beberapa puluh meter di depan. Di tikungan kendaraan datang dari dua arah dan pinggir jalan dipenuhi motor parkir. Setelah menimbang semuanya beberapa detik, ia kembali masuk dan mengambil kunci motor.

Keputusan itu tampak pribadi, tetapi ruang telah melakukan sebagian besar perhitungannya. Motor menjadi pilihan paling mudah. Berjalan kaki menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki waktu lebih banyak, keberanian lebih besar, atau kebetulan tinggal di lingkungan yang memberi ruang untuk melakukannya.

Pada titik itu, aktivitas paling murah dalam sistem transportasi justru berubah menjadi sesuatu yang tidak semua orang dapat nikmati dengan nyaman. Jalan kaki menjadi kemewahan. Kota yang baik seharusnya melakukan kebalikannya: membuat hal paling sederhana kembali menjadi hal paling mudah. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.