Podiumnews.com / Khas / Warisan

Dari Taru Pramana ke Wellness

Oleh Nyoman Sukadana • 20 Agustus 2026 • 19:42:00 WITA

Dari Taru Pramana ke Wellness

Dokter, Apoteker, Perawat hingga Pekerja Pariwisata Mulai Tertarik Mempelajarinya

PENGOBATAN tradisional Bali ternyata tidak sesederhana gambaran tentang ramuan herbal atau tanaman berkhasiat obat. Di balik praktik yang selama ini dikenal masyarakat, terdapat beragam metode yang bersumber dari pengetahuan tradisional Bali.

Ketua Umum DPP Gotra Pengusada Bali, Prof Dr Dr Putu Suta Sadnyana SH MH, menjelaskan terdapat lima golongan besar pengobatan tradisional Bali berdasarkan tutur.

Kelima golongan tersebut adalah taru pramana, sato pramana, mustika pramana, bayu pramana, dan jiwa pramana.

“Dahulu banyak orang jika mendengar istilah pengobatan tradisional, terbayang dalam pikiran adalah herbal atau tanaman berkhasiat obat. Padahal terdapat lima golongan besar pengobatan tradisional Bali berdasarkan tutur,” kata Putu.

Taru pramana merupakan pengobatan menggunakan bahan tanaman. Sato pramana menggunakan bahan satwa, seperti minyak ikan. Mustika pramana menggunakan benda-benda mustika, antara lain batu permata yang dipercaya memiliki khasiat.

Sementara bayu pramana merupakan pengobatan menggunakan tenaga, seperti pijat. Adapun jiwa pramana merupakan pengobatan tenaga batin, yang antara lain mencakup melukat dengan pendekatan agama Hindu.

Selain kelima golongan itu, dalam praktik pengobatan tradisional Bali juga dikenal penggunaan sarana air, bunga, benang tridatu dan berbagai sarana lainnya.

Menariknya, sebagian metode tersebut memiliki irisan dengan praktik yang dikenal dalam pengobatan modern. Pijat, misalnya, berkembang menjadi pijat refleksi dan akupresur. Sementara stimulasi titik-titik tertentu dengan jarum dikenal sebagai akupunktur.

Dalam istilah tradisional Bali, praktik tersebut dikenal sebagai pacak wesi.

Pengembangan pengobatan tradisional Bali juga berlangsung melalui metode yang lebih kontemporer. Salah satunya adalah penggunaan kartu petunjuk atau Balinese oracle card.

Menurut Putu, istilah tarot berasal dari luar negeri. Dalam konteks Bali, dikembangkan kartu petunjuk dengan gambar-gambar Bali yang penggunaannya dapat dikaitkan dengan pengetahuan tradisional seperti wariga dan cakra.

Kartu tersebut dapat digunakan untuk memperoleh petunjuk mengenai kondisi seseorang. Dalam praktiknya, penyehat tradisional memohon petunjuk kepada dewa pengobatan. Hasil pembacaan kartu kemudian dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti totok darah atau pantograh.

Perkembangan pengobatan tradisional Bali juga mulai menarik perhatian kelompok profesional.

Dalam sambutannya, Putu menyebut meningkatnya minat dari berbagai kalangan, mulai dari apoteker, dokter, bidan, jururawat, mantri, advokat, pensiunan PNS, hingga pekerja industri pariwisata seperti pemandu wisata.

Dalam wawancara, ia juga menyebut pegawai negeri dan dosen sebagai kalangan yang mulai tertarik.

Alasannya beragam. Sebagian mempelajari pengobatan tradisional untuk diri sendiri dan keluarga. Sebagian lainnya melihatnya sebagai peluang profesi kedua.

“Malah bisa profesi yang kedua. Buka praktik sore kan,” kata Putu.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan pengobatan tradisional Bali memiliki peluang ekonomi sekaligus peluang pelestarian.

Bali bahkan dapat mengembangkan pengobatan tradisional ke arah wellness. Salah satu contoh yang disebut adalah spa Bali, yang dapat menggabungkan pijat tradisional, aroma terapi, dan relaksasi.

“Orang tidak harus sakit. Jadi mereka bisa memanfaatkan Bali wellness,” ujarnya.

Melukat juga menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Putu menempatkannya sebagai bagian dari jiwa pramana, meskipun praktik tersebut memiliki pendekatan agama Hindu.

Ia menegaskan bahwa orang non-Hindu yang memanfaatkan terapi atau mempelajari pengetahuan pengobatan tradisional Bali tidak otomatis menjadi Hindu.

“Belajar pengetahuan tidak apa-apa,” katanya.

Menurut Putu, masuk menjadi Hindu memiliki proses keagamaan tersendiri, termasuk melalui upacara sudi widani. Karena itu, mempelajari pengetahuan pengobatan tradisional Bali tidak sama dengan berpindah agama.

Putu juga mengajak generasi muda Bali mulai mempelajari bidang pengobatan tradisional yang mereka minati, baik tanaman obat, bahan satwa, benda mustika, maupun pengobatan dengan tenaga.

Harapan tersebut semakin terbuka karena pengobatan tradisional kini mulai masuk jalur pendidikan formal. Di Universitas Hindu Indonesia, misalnya, terdapat program Diploma 4 Pengobatan Tradisional Indonesia.

Di sisi lain, Gotra Pengusada Bali ingin pengetahuan tersebut semakin kuat secara akademis. Saat ini, kata Putu, pengobatan tradisional Bali belum memiliki pohon keilmuan yang terstandar.

“Kami berharap makin banyak orang Bali yang mempelajari, melestarikan dan mengembangkan pengobatan tradisional Bali, termasuk melakukan penelitian-penelitian ilmiah, sehingga pengobatan tradisional Bali menjadi saintifik,” katanya.

Dengan perkembangan tersebut, pengobatan tradisional Bali menghadapi masa depan yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar warisan masa lalu, melainkan dapat menjadi pengetahuan yang dipelajari, profesi yang dijalankan, objek penelitian, sekaligus bagian dari industri wellness Bali. 

(angga/sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.