Kalkulator Sawah
MENGWI adalah kampung saya. Di sana, percakapan tentang tanah selalu memiliki riwayat panjang.
Dulu, kumpi saya punya sawah sampai belasan hektar. Luas sekali. Saking luasnya, tetangga di kampung—bahkan sampai warga kampung sebelah—kerap menyebut kumpi kami sebagai inan sugih di Mengwi.
Julukan itu tidak hilang ditelan zaman. Tetangga dan para tetua keluarga kami masih sering mengatakannya sampai sekarang. Paman dan bibi saya pun gemar mengulang-ulang cerita itu saat kami berkumpul.
Ada rasa bangga yang terselip tiap kali kisah itu diceritakan. Menegaskan jejak kemakmuran masa lalu.
Tapi waktu berjalan tanpa kompromi. Generasi bertambah. Jumlah keluarga kami membesar. Dari belasan hektar itu, yang tersisa untuk kami hari ini tinggal sekitar tiga sampai empat hektar saja.
Sawah yang dahulu membentang tanpa batas, kini terbagi-bagi menjadi petak-petak kecil. Sebagian beralih rupa menjadi deretan bangunan.
Kini, setiap kali melintas di jalan-jalan Mengwi yang sudah saya kenal puluhan tahun, kepala saya mendadak bekerja seperti kalkulator.
Begitu melihat sepetak sawah hijau di pinggir jalan, pikiran saya tidak lagi membayangkan sejuknya embun pagi. Tidak juga menghitung berapa karung gabah yang bisa dipanen dari sana. Otak saya langsung berhitung cepat: satu are berapa ratus juta? Kalau lima are, totalnya berapa?
Aneh. Tapi begitulah kenyataannya.
Saya tidak merasa sendirian. Banyak orang di sekitar kita mengidap kebiasaan yang sama. Begitu ada lahan kosong, pertanyaannya seragam: berapa luasnya, bagaimana akses jalannya, lalu berapa harga per arenya.
Perubahannya berlangsung pelan. Nyaris tak terasa.
Mula-mula satu rumah berdiri. Lalu satu petak sawah di sampingnya diuruk. Jalan diperlebar. Tiang listrik ditancapkan. Beberapa tahun kemudian, hamparan hijau itu tinggal sisa beberapa petak, terjepit di antara toko dan pagar batako.
Lalu kita dengan enteng menasihati: pertahankan sawah! Jangan dijual!
Nasihat itu sangat enak diucapkan jika kita tidak hidup dari lumpur tersebut.
Coba bayangkan posisi petaninya. Setiap musim harus memikirkan pupuk, air, dan risiko gagal panen. Sementara kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, dan tuntutan hidup tidak bisa menunggu musim panen berikutnya. Lalu seseorang datang menyodorkan angka yang besarnya berkali-kali lipat dari hasil menggarap sawah seumur hidup.
Siapa yang sanggup menolak?
Bagi banyak keluarga Bali, tanah adalah cadangan terakhir. Tabungan hidup. Ketika keadaan mendesak, tanah yang menjadi juru selamat.
Karena itu, saya tidak mau berpura-pura suci. Saya juga ikut senang jika nilai tanah keluarga bergerak naik.
Hanya saja, saya mulai sadar. Sebelum traktor dan buldoser datang meratakan pematang, sawah itu sebenarnya sudah lenyap lebih dulu di kepala kita. Begitu tanah dinilai melulu dengan angka rupiah, fungsinya sudah beralih dari ruang hidup menjadi komoditas.
Cerita tentang kumpi dan predikat inan sugih di Mengwi kini tinggal riwayat yang dirawat di meja kopi. Sementara di luar jendela, Mengwi terus tumbuh semakin rapat.
Kelak, ketika melewati jalan yang sama, mungkin kepala saya masih otomatis mengalikan harga tanah per arenya. Namun di balik hitung-hitungan itu, selalu ada rasa yang mengganjal.
Kita begitu mahir menghitung harga tanah, sambil perlahan menghitung mundur hilangnya sesuatu yang kelak tak akan pernah bisa dibeli kembali. (*)
Menot Sukadana