Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Sebelum Terbit

Oleh Nyoman Sukadana • 22 Agustus 2026 • 16:30:00 WITA

Sebelum Terbit
Menot Sukadana (AI/Vector)

SATU fase dalam menulis buku ternyata lebih melelahkan daripada menambah halaman: berhenti menulis.

Naskah berjudul Siapa Suruh Percaya? Media, Kuasa, dan Perebutan Kenyataan sebenarnya sudah selesai. Buku ini membicarakan bagaimana kepercayaan dibentuk, diperebutkan, dan diuji di tengah banjir informasi. Isinya bergerak dari ruang redaksi, tekanan pemilik dan pengiklan, ekonomi perhatian, algoritma, kecerdasan buatan, sampai Bali sebagai ruang konkret tempat citra, kepentingan, kebijakan, dan kenyataan sehari-hari sering tidak berada dalam satu bingkai.

Bab-babnya sudah lengkap, catatan sumber tersusun, daftar pustaka sudah ada, bahkan halaman tentang penulis telah siap. Secara kasat mata, pekerjaan terbesar mestinya sudah lewat. Tinggal mengirimkannya kepada penerbit, menunggu proses penyuntingan, lalu melihat naskah berubah menjadi benda bernama buku.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Ketika naskah dibaca kembali sebagai buku, bukan sebagai tulisan yang baru selesai dibuat, gangguan kecil mulai bermunculan. Sebuah gagasan yang terasa kuat ketika ditulis di Bab 1 ternyata muncul lagi di Bab 3. Contoh yang semula dianggap membantu pembaca diperkenalkan kembali beberapa puluh halaman kemudian. Kalimat yang masing-masing terdengar baik mulai terasa seragam ketika dibaca berurutan.

Penyakit lain baru terlihat setelah naskah dijauhkan beberapa langkah dari penulisnya. Beberapa kalimat terdengar seperti skripsi.

“Buku ini akan membahas…”

“Seperti dijelaskan pada Bab 1…”

“Bab berikutnya akan melihat…”

Kalimat semacam itu mungkin tidak salah. Dalam tulisan akademik, ia bahkan berguna untuk memberi peta kepada pembaca. Buku populer berbeda. Ia tidak seharusnya terus-menerus mengingatkan bahwa pembaca sedang berada di dalam sebuah buku. Gagasan semestinya membawa pembaca berpindah halaman dengan sendirinya.

Saya kemudian menyadari betapa sering penulis ingin membantu pembaca secara berlebihan. Kita takut hubungan antarbab tidak terlihat, lalu memasang papan petunjuk di setiap tikungan. Padahal kalau jalannya memang tersambung, pembaca tidak perlu terus diberi tahu bahwa setelah tikungan ini terdapat jalan berikutnya.

Maka pekerjaan berikutnya justru menghapus.

Kalimat “bab berikutnya membahas harga yang lebih konkret dari jarak tersebut: uang” cukup diganti dengan kalimat yang langsung masuk ke persoalan. Pembaca tidak perlu diberi tahu bahwa Bab 4 sebentar lagi dimulai. Ia hanya perlu merasakan bahwa pembicaraan tentang independensi redaksi akhirnya bertemu dengan persoalan paling nyata dalam bisnis media: siapa yang membayar ongkosnya.

Begitu pula ketika teknologi dibicarakan. Tidak perlu menulis bahwa persoalan itu “telah dibahas pada Bab 1”. Kalau gagasannya memang diperlukan lagi, ia harus hidup dalam konteks baru. Kalau hanya mengulang, lebih baik dibuang.

Menghapus ternyata membutuhkan keberanian yang berbeda dari menulis. Saat menulis, seseorang merasa setiap kalimat adalah hasil kerja. Saat menyunting, ia harus bersedia mengakui bahwa sebagian hasil kerja itu tidak lagi diperlukan.

Sebuah paragraf bisa saja sudah enak dibaca tetapi ternyata mengulang paragraf lain. Sebuah contoh bisa menarik tetapi fungsinya telah dijalankan contoh sebelumnya. Penjelasan dapat benar secara isi, namun membuat buku terlalu mirip ruang kuliah.

Bahkan satu pola kalimat dapat menjadi masalah ketika terlalu sering dipakai. “Bukan ini, melainkan itu.” “Tidak hanya ini, tetapi juga itu.” Sekali dua kali terasa tegas. Setelah puluhan kali, iramanya mulai mudah ditebak.

Saya pernah mengira repetisi hanya terjadi pada kata. Rupanya yang lebih sulit dikenali adalah repetisi cara berpikir. Penulis dapat mengganti kosakata, tetapi sebenarnya sedang mengatakan hal yang sama dengan susunan berbeda.

Itulah sebabnya membaca ulang naskah panjang memerlukan cara pandang lain. Pertanyaannya bukan lagi apakah sebuah paragraf bagus. Yang lebih penting: apakah paragraf ini masih diperlukan setelah delapan puluh halaman sebelumnya dibaca?

Proses itu juga membuka hal-hal yang sangat teknis. Daftar isi ternyata masih memakai nomor halaman versi lama. Bahan untuk sampul belakang ikut masuk ke badan buku, seolah menjadi bagian dari isi. Beberapa data perlu diberi batas waktu karena angka ekonomi, penggunaan internet, dan survei kepercayaan dapat berubah ketika buku akhirnya beredar.

Hal-hal kecil semacam itu nyaris tidak terlihat ketika perhatian masih tertuju pada gagasan besar.

Mungkin di situlah perbedaan antara naskah selesai dan buku siap terbit.

Naskah selesai ketika penulis merasa tidak punya lagi yang ingin ditambahkan. Buku mulai siap terbit ketika ia bersedia mencari apa yang masih harus dikurangi, diperiksa, dipindahkan, dan diperbaiki.

Saya juga mulai memahami mengapa penyunting diperlukan. Penulis terlalu lama hidup bersama kalimatnya sendiri. Ia mengenal maksud di balik setiap paragraf sehingga mudah membaca sesuatu yang sebenarnya tidak tertulis. Pembaca tidak membawa pengetahuan itu.

Kalau hubungan dua gagasan tidak jelas, pembaca tidak bisa diminta menebaknya. Kalau sebuah data tidak memiliki sumber yang cukup kuat, niat baik penulis tidak dapat menggantikannya. Jika dua bab mengulang cerita yang sama, pembaca tidak peduli bahwa keduanya ditulis pada waktu berbeda.

Buku hanya memiliki apa yang akhirnya tercetak.

Bagian itulah yang membuat persiapan penerbitan terasa berbeda dari menulis artikel. Berita dapat diperbarui beberapa menit setelah tayang. Kesalahan judul bisa diperbaiki. Angka dapat diganti. Paragraf tambahan dapat disisipkan.

Buku mempunyai umur yang lain.

Kalimat yang lolos akan tinggal di sana selama eksemplarnya masih berada di rak, perpustakaan, kardus, atau tangan seseorang. Sebuah data yang keliru tidak hilang hanya karena penulis kemudian mengetahui angka yang benar. Kesalahan itu ikut dicetak.

Kesadaran tersebut membuat satu halaman dibaca berkali-kali.

Bukan karena ingin menghasilkan buku yang sempurna. Buku sempurna mungkin tidak pernah ada. Bahkan setelah dicetak, barangkali masih akan ditemukan kalimat yang seharusnya bisa dibuat lebih pendek atau kata yang mestinya diganti.

Yang dapat dilakukan sebelum mesin cetak bekerja hanyalah memperkecil jumlah penyesalan.

Beberapa hari terakhir saya justru lebih banyak membuang daripada menambah. Kalimat yang terlalu menjelaskan dirinya sendiri dihapus. Pengulangan dipangkas. Sumber diperiksa. Nomor halaman dibetulkan. Bagian yang bukan isi buku dikeluarkan.

Jumlah halaman sedikit menyusut.

Anehnya, bukunya justru terasa semakin utuh.

Barangkali sebuah buku memang tidak selesai ketika tidak ada lagi yang bisa ditulis.

Ia selesai ketika penulis akhirnya tahu mana yang tidak perlu ikut diterbitkan. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.