Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Belum Kelar

Oleh Nyoman Sukadana • 23 Agustus 2026 • 00:58:00 WITA

Belum Kelar
Menot Sukadana (AI/Vector)

BERITA sudah terbit. Tayang. Selesai.

Di ruang redaksi, itu artinya tuntas. Tugas beres. Satu naskah masuk arsip, naskah lain menunggu giliran. Halaman depan berganti. Besok ada isu baru.

Dulu, saya hidup dari ritme begitu. Cepat. Menegangkan. Candu. Siapa bicara apa, kapan kejadiannya, angka berapa yang diumumkan. Telepon sana-sini. Kirim sebelum batas waktu. Nama masuk di byline. Rasanya puas sekali.

Sekarang tidak lagi.

Setiap kali sebuah tulisan selesai dikirim, ada rasa janggal yang tertinggal. Seperti ada hutang yang belum dibayar lunas. Peristiwanya mungkin sudah diberitakan. Faktanya lengkap. Narasumbernya berimbang. Tetapi persoalannya?

Belum kelar.

Ambil contoh sawah yang mendadak dipatok. Dijual. Besoknya alat berat masuk, semen dituang, perumahan berdiri.

Bagi wartawan harian, urusan itu selesai dalam 400 kata. Luas lahan dicatat. Izin dinas dicek. Kepala desa diwawancarai. Petani yang protes diberi porsi dua alinea. Adil. Rapi. Berita naik.

Lalu apa?

Yang tidak selesai justru rentetan di belakangnya. Mengapa petani itu mau melepas tanahnya? Apakah pupuk makin mahal? Apakah anak-anaknya menolak mencangkul lumpur? Ke mana uang hasil penjualan itu lari? Apakah habis untuk beli mobil baru, lalu dua tahun kemudian bingung mau makan apa?

Lalu bagaimana nasib saluran air subak di sebelahnya? Saluran yang sudah ratusan tahun membelah tanah itu tiba-tiba terputus tembok batako. Siapa yang menanggung air yang meluap ke jalan?

Itu tidak pernah masuk dalam berita kemarin. Berita kemarin sudah basi. Tenggelam oleh konferensi pers pejabat tadi pagi.

Kita begitu terbiasa merayakan peristiwa. Lupa menengok proses.

Saya sering merasa, berita harian cuma memotret asap. Tebal, hitam, bikin panik. Semua kamera mengarah ke sana. Tapi tidak ada yang mau melongok ke dalam tungku: kayu apa yang sedang dibakar? Siapa yang pegang korek api?

Itu sebabnya saya belakangan lebih suka membaca berkas lama. Melihat tabel statistik lima atau sepuluh tahun lalu. Membuka arsip peraturan yang sudah berdebu.

Ternyata, hampir tidak ada masalah baru di bawah matahari.

Kemacetan yang bikin kita mengumpat hari ini, akarnya adalah izin tata ruang belasan tahun silam. Pariwisata yang riuh dan mahal, bibitnya sudah ditanam saat kebijakan investasi dibuat tanpa rem. Sampah yang menumpuk di muara sungai, bukan cuma soal warga buang puntung rokok sembarangan. Ada tata kelola yang macet puluhan tahun.

Wajah pejabatnya ganti. Judul programnya makin mentereng. Menggunakan istilah bahasa Inggris yang keren. Tapi penyakitnya sama persis.

Kalau sudah tahu begitu, bagaimana mungkin kita bilang tugas sudah selesai hanya karena naskah sudah diklik terbit?

Mungkin ini pengaruh usia. Napas tidak lagi sependek dulu. Saya tidak lagi terlalu bernafsu jadi yang paling cepat mengirim kabar.

Biarlah yang muda-muda berlari kencang memburu siapa dan apa. Itu tugas mereka. Sangat penting. Tanpa fakta di lapangan, kita buta.

Tetapi sesudah mereka bubar, saya memilih tinggal lebih lama. Duduk di pojokan warung. Menyesap kopi hitam tanpa gula. Mengamati orang-orang yang tersisa di lokasi.

Di sanalah cerita sesungguhnya baru dimulai.

Saat keramaian pergi, panggung resmi bubar, dan para pembicara masuk mobil dinas masing-masing. Di sisa sunyi itulah kita tahu: urusan sebenarnya memang belum kelar. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.