Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Sebelum Gaji Menentukan Siapa yang Bekerja

Oleh Nyoman Sukadana • 23 Agustus 2026 • 00:25:00 WITA

Sebelum Gaji Menentukan Siapa yang Bekerja
ILUSTRASI menggambarkan tiga lapis kerja perempuan Bali: pasar, rumah tangga, dan ritual yang menopang kehidupan sehari-hari tanpa selalu dihitung penuh. (AI/Podiumnews)

PIERRE DUBOIS melihat perempuan hampir di mana-mana ketika tinggal di Bali antara 1828 hingga 1831. Mereka bekerja di pasar, jalan, ladang, dan kebun. Sebagian berjalan membawa keranjang di kepala atau di sisi tubuh, sementara yang lain menjual kue, buah, dan makanan kepada orang-orang yang datang ke keramaian. Di Badung, pemintalan dan penenunan bahkan disebut sebagai kegiatan industri utama yang melibatkan sebagian besar perempuan dan anak perempuan.

Pemandangan itu direkam hampir dua abad lalu, jauh sebelum istilah pekerja formal, upah minimum, karier, jam kantor, atau partisipasi angkatan kerja menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Helen Creese kemudian menerbitkan catatan Dubois secara lengkap dalam Bali in the Early Nineteenth Century: The Ethnographic Accounts of Pierre Dubois. Dari sana terlihat bahwa perempuan Bali bukan sosok yang baru memasuki kegiatan ekonomi setelah modernisasi datang. Mereka sudah berada di dalamnya ketika ekonomi Bali masih bertumpu pada sawah, pasar, produksi rumah tangga, pelabuhan dan kerajaan.

Dubois bahkan memberi gambaran yang cukup spesifik. Di jalan, pasar, ladang dan kebun, ia melihat perempuan bekerja dengan tekun. Ketika berlangsung sabung ayam atau hiburan umum yang didominasi laki-laki, perempuan berada di bagian belakang menjual makanan dan buah. Mereka juga membuat berbagai kebutuhan yang digunakan dalam persembahyangan. Di Badung, sebagian besar perempuan dan anak perempuan terlibat dalam pemintalan dan penenunan. Gianyar pun memiliki industri tenun penting yang dikerjakan perempuan, dengan kapas antara lain diperoleh dari Pasar Kuta.

Gambaran itu tentu harus dibaca dengan hati-hati. Dubois adalah pejabat kolonial Eropa abad ke-19. Ia membawa ukuran moral, pandangan tentang gender, dan penilaian mengenai masyarakat Bali yang tidak selalu dapat diterima sekarang. Helen Creese sendiri memperlihatkan bagaimana kekaguman Dubois terhadap perempuan Bali bercampur dengan konstruksi kolonial mengenai perempuan yang rajin, bermoral, tetapi berada di bawah kekuasaan laki-laki.

Deskripsi tentang pekerjaan sehari-hari tetap bernilai karena menunjukkan sesuatu yang mudah terlewat ketika sejarah ekonomi hanya dibaca melalui perdagangan besar, kerajaan, pelabuhan atau pajak. Di bawah struktur itu terdapat tenaga yang membuat kehidupan berjalan setiap hari. Perempuan membawa hasil bumi ke pasar, mengolah makanan, menjual barang, menenun kain, membantu pekerjaan pertanian dan menyediakan berbagai keperluan rumah tangga maupun upacara.

Dua abad kemudian, sebagian bentuk pekerjaannya masih mudah dikenali.

Masuklah ke pasar tradisional di Bali. Pedagang perempuan masih memenuhi los sayur, buah, bumbu, makanan, bunga, canang, kain dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Jenis barang berubah, transaksi sekarang memakai uang dengan nilai yang berbeda, telepon seluler berada di dekat timbangan, pembayaran digital mulai muncul, tetapi pasar tetap menjadi salah satu ruang ekonomi perempuan yang paling kentara.

Kesinambungan itu menarik karena bertentangan dengan salah satu cara modern memahami pekerjaan. Kini seseorang lebih mudah disebut bekerja ketika mempunyai tempat kerja, jabatan, jam kerja, pendapatan dan gaji yang dapat dihitung. Seorang pegawai yang berangkat pukul delapan pagi dan menerima transfer setiap akhir bulan tidak menimbulkan pertanyaan mengenai apakah ia bekerja.

Keadaannya menjadi lebih rumit ketika pekerjaan berlangsung di rumah, pasar kecil, sawah keluarga atau ruang ritual.

Perempuan yang membantu usaha suaminya tanpa menerima gaji tetap bekerja. Perempuan yang membuat makanan lalu menjualnya bekerja. Perempuan yang memelihara ternak untuk dijual juga menghasilkan nilai ekonomi. Namun ketika ia memasak untuk keluarga, membersihkan rumah, mengurus anak atau menghabiskan waktu berjam-jam menyiapkan kebutuhan ritual, pekerjaannya tidak selalu masuk dalam pengertian ekonomi yang sama.

Statistik ketenagakerjaan sebenarnya sudah lebih maju daripada anggapan bahwa hanya orang bergaji yang disebut bekerja. Badan Pusat Statistik memasukkan pekerja keluarga atau pekerja tidak dibayar ke dalam kategori bekerja apabila mereka membantu sebuah usaha atau kegiatan ekonomi. Istri yang membantu suami bekerja di sawah atau anggota keluarga yang membantu melayani warung dapat tetap tercatat sebagai pekerja meskipun tidak menerima upah.

Batasnya muncul ketika kegiatan tersebut tidak dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi untuk memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan dan keuntungan. Mengurus rumah tangga ditempatkan berbeda dari bekerja dalam statistik angkatan kerja. Di sinilah sebagian pekerjaan yang sangat menentukan kehidupan sehari-hari menjadi sulit terlihat ketika ekonomi hanya dibaca melalui pendapatan, produksi pasar dan pekerjaan berbayar.

Antropolog Ayami Nakatani menjadikan persoalan ini sebagai salah satu pokok kajiannya tentang perempuan Bali. Dalam Ritual as 'Work': The Invisibility of Women's Socio-economic and Religious Roles in a Changing Balinese Society, ia membahas bagaimana kegiatan sosial-ekonomi dan keagamaan perempuan dapat menjadi tidak terlihat sebagai pekerjaan, meskipun menghabiskan tenaga dan waktu dalam jumlah besar. Kajian tersebut diterbitkan dalam buku Inequality, Crisis and Social Change in Indonesia pada 2003.

Penelitian Nakatani sebelumnya juga membongkar pembagian sederhana antara ruang domestik perempuan dan ruang publik laki-laki. Berdasarkan penelitian di sebuah desa Bali bagian tengah-timur, ia menemukan kegiatan ritual perempuan justru menghubungkan satu rumah tangga dengan rumah tangga lain. Melalui persiapan upacara, pemberian, kegiatan pura dan hubungan kekerabatan, perempuan ikut memelihara jaringan sosial yang melampaui halaman rumah mereka sendiri.

Dengan cara pandang itu, dapur tidak selalu hanya dapur. Pekarangan rumah tidak sepenuhnya ruang privat. Pekerjaan membuat sarana upacara juga memiliki akibat sosial di luar rumah tangga. Tenaga yang dikeluarkan seseorang memang tidak menghasilkan slip gaji, tetapi membantu mempertahankan hubungan antarkeluarga, kewajiban komunal dan keberlangsungan ritual.

Di Bali, batas antara pekerjaan ekonomi, pekerjaan domestik dan pekerjaan sosial memang sering bertemu dalam satu kehidupan.

Seorang pedagang perempuan bisa berjualan sejak dini hari, pulang mengurus rumah, kemudian terlibat dalam persiapan upacara keluarga atau banjar. Hari berikutnya ia kembali ke pasar. Sebagian penghasilannya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak atau modal dagang, sementara sebagian lain dapat kembali keluar untuk memenuhi kebutuhan adat dan agama.

Penelitian Putu Utami Sri Wahyuni dan A.A.I.N. Marhaeni terhadap 83 pedagang perempuan di Pasar Ketapian, Denpasar Timur, menunjukkan betapa besar nilai ekonomi pekerjaan tersebut. Rata-rata kontribusi pendapatan perempuan terhadap pendapatan rumah tangga mencapai 63,27 persen. Artinya, dalam rumah tangga para responden itu, penghasilan perempuan bukan sekadar tambahan uang belanja. Ia merupakan bagian utama dari ekonomi keluarga.

Temuan tersebut menarik jika diletakkan berdampingan dengan catatan Dubois.

Sekitar 1830, seorang pejabat Eropa melihat perempuan Bali membawa barang, berdagang dan menghasilkan tekstil. Tahun 2021, sebuah penelitian ekonomi di Denpasar menemukan pedagang perempuan memberikan rata-rata lebih dari separuh pendapatan rumah tangganya. Bentuk pasar, nilai uang, kebutuhan keluarga dan struktur ekonomi telah berubah sangat jauh, tetapi keterlibatan perempuan dalam arus uang sehari-hari tetap terlihat.

Karena itu, narasi bahwa modernisasi kemudian “membawa perempuan Bali ke dunia kerja” terasa kurang tepat.

Modernisasi memang memperluas pilihan pekerjaan. Pendidikan membuka akses ke profesi yang sebelumnya tertutup. Perempuan kini menjadi dokter, dosen, pegawai negeri, manajer, wartawan, pengusaha, pekerja pariwisata, profesional teknologi dan berbagai pekerjaan lain yang tidak dikenal Dubois. Pendapatan mereka lebih mudah diukur dan profesinya lebih mudah dicantumkan dalam formulir.

Namun perempuan Bali tidak memulai sejarah kerjanya dari kantor.

Jauh sebelumnya mereka sudah menghasilkan barang, mengangkut komoditas, menanam, menjual, menenun dan menjalankan ekonomi rumah tangga. Perubahan besar bukan sekadar dari tidak bekerja menjadi bekerja, melainkan dari bentuk pekerjaan yang melekat pada rumah tangga dan komunitas menuju jenis pekerjaan yang semakin dipisahkan berdasarkan tempat, waktu, profesi dan pembayaran.

Gaji kemudian menjadi penanda yang sangat kuat.

Orang yang menerima gaji mudah menjawab pertanyaan, “Kerja di mana?” Nama perusahaan, kantor atau profesi dapat disebut dengan cepat. Pekerjaan perempuan yang tersebar di antara pasar, rumah, sawah, usaha keluarga dan aktivitas ritual jauh lebih sulit diringkas dalam satu kartu nama.

Situasi tersebut juga menjelaskan mengapa ungkapan “membantu suami” perlu diperiksa kembali ketika digunakan untuk menjelaskan aktivitas ekonomi perempuan. Kata membantu memberi kesan pekerjaan utama berada di tempat lain. Padahal seorang perempuan dapat mengurus pembelian bahan, menjual barang, mencatat uang, melayani pembeli dan menjaga usaha berjam-jam tanpa memiliki jabatan formal.

Siapa sebenarnya yang membantu siapa menjadi tidak selalu jelas.

Begitu pula dengan tenun. Kalau seorang perempuan menenun hanya dilihat sebagai penjaga tradisi, sebagian cerita ekonominya hilang. Dubois sudah mencatat pemintalan dan penenunan sebagai industri penting perempuan di Badung dan Gianyar pada awal abad ke-19. Kain bukan hanya benda budaya. Ia merupakan hasil produksi, diperdagangkan, mempunyai harga dan terhubung dengan pasar bahan baku.

Hal yang sama terjadi pada makanan dan perlengkapan ritual. Sesuatu yang awalnya diproduksi untuk kebutuhan rumah tangga dapat berubah menjadi barang dagangan ketika masyarakat membutuhkan kemudahan dan tidak lagi mempunyai cukup waktu membuatnya sendiri. Penjual canang di pasar, misalnya, mengubah pengetahuan ritual dan keterampilan domestik menjadi sumber penghasilan. Penelitian mengenai perempuan pedagang canang di pasar tradisional Denpasar Barat bahkan menunjukkan pilihan bekerja di sektor informal berkaitan dengan fleksibilitas waktu yang memungkinkan mereka menyesuaikan pekerjaan dengan kewajiban adat dan budaya.

Fleksibilitas itu sekaligus memperlihatkan persoalan lain. Pekerjaan perempuan sering harus menyesuaikan diri dengan kewajiban yang tidak berkurang ketika mereka mulai memperoleh pendapatan. Dunia kerja modern datang, tetapi pekerjaan domestik dan ritual tidak otomatis pindah kepada orang lain.

Karena itu, memuji perempuan Bali sebagai pekerja keras sebenarnya terlalu mudah.

Pujian dapat menutupi pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak pekerjaan yang harus mereka tanggung, siapa yang mendapat manfaat dari pekerjaan tersebut, mana yang dibayar, mana yang dianggap kewajiban, dan siapa yang mempunyai waktu untuk beristirahat setelah semuanya selesai.

Sejarah panjang perempuan Bali di pasar juga sebaiknya tidak dibaca sebagai bukti bahwa semuanya sejak dahulu sudah setara. Dubois hidup dalam masyarakat dengan hierarki gender dan sosial yang keras. Perempuan memang mempunyai ruang ekonomi, tetapi hak atas tubuh, perkawinan, status dan keputusan sosial sangat dipengaruhi struktur keluarga, kasta dan kekuasaan laki-laki. Catatannya sendiri memperlihatkan kontradiksi tersebut.

Hal yang dapat dipelajari justru lebih sederhana. Kehadiran perempuan dalam ekonomi Bali bukan produk baru abad modern. Mereka sudah menjadi bagian dari produksi dan pertukaran ketika Bali belum mengenal perusahaan modern, kawasan pariwisata, bank atau sistem penggajian seperti sekarang.

Ekonomi berubah dan cara menghitung kerja ikut berubah.

Dulu hasil kerja mungkin terlihat sebagai kain yang selesai ditenun, makanan yang terjual di pasar, ternak yang dipelihara atau hasil kebun yang dibawa pulang. Sekarang sebagian besar nilai ekonomi diterjemahkan dalam pendapatan bulanan, rekening bank, kontrak kerja, omzet dan statistik tenaga kerja.

Apa yang mudah diberi angka kemudian lebih mudah terlihat.

Sebaliknya, pekerjaan yang tersebar di antara rumah, keluarga dan kehidupan sosial mudah dianggap bagian dari rutinitas. Tidak ada kuitansi setelah seorang ibu menyelesaikan pekerjaan rumah. Tidak ada slip gaji untuk waktu yang digunakan mempersiapkan kebutuhan keluarga. Tidak ada invoice ketika seseorang menjaga hubungan kekerabatan melalui pekerjaan ritual.

Padahal masyarakat tidak berjalan hanya dengan pekerjaan yang mempunyai daftar gaji.

Catatan Dubois dari 1830 memberi jarak yang cukup panjang untuk melihat kenyataan tersebut. Dua abad lalu, ia sudah melihat perempuan bekerja sebelum ekonomi modern menciptakan banyak istilah untuk menentukan siapa disebut pekerja dan siapa bukan.

Mungkin persoalannya sekarang bukan lagi membuktikan bahwa perempuan Bali bekerja. Bukti sejarahnya sudah terlalu panjang.

Yang lebih penting adalah memastikan kita tidak hanya melihat kerja ketika seseorang dibayar untuk melakukannya. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.