Ribuan Berita, Sedikit Buku
SEORANG wartawan yang menulis tiga berita sehari bisa menghasilkan sekitar 750 berita dalam setahun. Dalam sepuluh tahun, jumlahnya mencapai 7.500. Jika bertahan dua puluh tahun di ruang redaksi, jejak tulisannya bisa melewati sepuluh ribu berita. Tetapi menulis ribuan berita ternyata tidak otomatis berujung pada banyak buku.
Dalam sekitar setengah abad perjalanan pers Bali, wartawan dan mantan wartawan yang pernah menerbitkan buku memang tidak sedikit. Jejaknya bisa ditemukan dalam bentuk kumpulan esai, cerpen, puisi, novel, memoar, catatan perjalanan, buku jurnalistik, kebudayaan, hingga akademik. Namun ketika ukurannya dinaikkan menjadi belasan buku, daftarnya menyusut drastis. Jumlahnya bukan lagi puluhan, melainkan hanya segelintir.
Gde Aryantha Soethama termasuk nama yang paling jelas. Perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik menghasilkan buku yang membentang dari soal profesi wartawan hingga Bali. Ada Wawancara Jurnalistik, Menjadi Wartawan Desa, Basa Basi Bali, Bali Tikam Bali, Bolak Balik Bali, Dari Bule Jadi Bali, Jangan Mati di Bali, hingga Menitip Mayat di Bali.
Oka Rusmini menempuh jalur berbeda. Ia lama bekerja di ruang redaksi Bali Post, tetapi jejak bukunya tumbuh jauh melampaui pekerjaan jurnalistik. Novel, cerpen, dan puisinya kemudian menempatkan namanya dalam sastra Indonesia. Angga Wijaya datang dari generasi lebih muda. Sejak mulai menerbitkan buku pada 2018, jumlah karyanya berkembang cepat hingga mencapai belasan, bahkan sekitar dua puluh judul. Ia menunjukkan bahwa produktivitas buku tidak selalu menunggu wartawan memasuki usia senior.
Di luar nama-nama itu, masih terdapat wartawan Bali yang memiliki beberapa buku. Putu Setia menulis Bali, pengalaman profesi, hingga perjalanan hidup. Made Nariana membukukan perjalanan pers dan olahraga. I Made Sugianto membawa pengalaman jurnalistiknya ke sastra Bali modern. I Gede Sarjana Putra menerbitkan kumpulan cerpen ketika masih aktif menjadi wartawan. Tetapi ketika batasnya tetap dipasang pada belasan buku, lingkarannya kembali mengecil.
Angka pasti memang sulit dibuat. Tidak pernah ada sensus mengenai jumlah buku yang diterbitkan wartawan Bali. Buku-buku generasi lama juga tidak semuanya tercatat dalam katalog digital. Sebagian diterbitkan secara terbatas, sebagian mungkin masih tersimpan dalam perpustakaan pribadi atau dokumentasi penerbit kecil. Namun jejak bibliografi yang bisa ditelusuri menunjukkan satu pola yang cukup jelas: wartawan Bali yang menerbitkan belasan buku dalam sekitar lima puluh tahun terakhir merupakan kelompok sangat kecil.
Padahal menulis adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Seorang wartawan bisa menulis lebih banyak dibandingkan banyak profesi lain. Reporter bangun pagi mengejar agenda, siang mencari narasumber, sore menulis, malam berita sudah tayang. Besok pagi pekerjaan baru datang dan siklus yang sama berjalan lagi bertahun-tahun.
Dalam media cetak, seorang wartawan bisa mengisi ribuan halaman koran sepanjang kariernya. Media daring membuat jumlah tulisan meningkat lebih cepat lagi. Reporter dapat menghasilkan beberapa berita dalam sehari, belum termasuk pembaruan berita, laporan khusus, feature, wawancara, dan tulisan lain.
Masalahnya, berita bekerja dengan umur yang pendek. Berita pagi bisa tenggelam sebelum makan malam. Besok muncul berita baru, lusa berganti lagi. Seminggu kemudian, wartawannya sendiri kadang sudah lupa judul berita yang pernah ditulis. Ribuan tulisan kemudian tersimpan sebagai arsip. Sebagian bertahan di mesin pencari, sebagian turun semakin jauh di halaman situs, sebagian lagi hilang ketika media berhenti terbit atau mengganti sistem penyimpanan.
Wartawan terus bergerak ke depan. Buku meminta pekerjaan sebaliknya. Ia memaksa wartawan berhenti, membuka kembali arsip, membaca tulisan lama, lalu menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain.
Dua puluh berita mengenai penjualan sawah, misalnya, mungkin semula berdiri sendiri. Satu membahas harga tanah. Satu lagi mengenai pembangunan vila. Berikutnya tentang petani yang menjual lahan, irigasi yang terputus, atau jalan desa yang mulai dipenuhi kendaraan. Ketika dibaca kembali lima atau sepuluh tahun kemudian, berita-berita itu bisa menunjukkan perubahan sebuah kawasan.
Hal yang sama terjadi pada liputan pariwisata. Satu berita tentang hotel baru hanya mencatat investasi. Satu berita mengenai tenaga kerja berbicara tentang pekerjaan. Berita kemacetan membahas lalu lintas. Tetapi jika ratusan berita itu dikumpulkan dalam rentang panjang, akan terlihat bagaimana sebuah daerah berubah: tanah berpindah tangan, lapangan kerja tumbuh, harga naik, penduduk datang, jalan penuh, dan ruang hidup semakin mahal.
Bahan buku sebenarnya telah tersedia di meja wartawan setiap hari. Yang sering tidak tersedia adalah waktu dan kebiasaan untuk mengolahnya. Ruang redaksi meminta berita hari ini selesai hari ini. Tidak banyak reporter diberi kesempatan menghabiskan dua minggu hanya untuk membaca kembali tulisan yang dibuat lima tahun sebelumnya.
Ukuran kerja jurnalistik juga berbeda. Wartawan dinilai dari kecepatan, ketepatan, jaringan sumber, kualitas liputan, dan kemampuan mengikuti perkembangan berita. Tidak ada kewajiban menghasilkan buku. Itulah sebabnya seorang wartawan bisa sangat produktif selama tiga puluh tahun tanpa pernah menerbitkan satu buku pun.
Tidak ada yang salah dengan itu. Buku bukan ukuran mutu seorang wartawan. Reporter yang tidak pernah menulis buku bisa menghasilkan liputan penting sepanjang hidupnya. Sebaliknya, wartawan yang mempunyai banyak buku belum tentu lebih baik ketika meliput sebuah peristiwa. Keduanya bekerja dengan ukuran berbeda.
Yang menarik justru jaraknya. Bagaimana seseorang yang pekerjaannya menulis hampir setiap hari dapat menghasilkan sepuluh ribu berita, tetapi hanya sedikit yang kemudian memiliki sepuluh atau belasan buku?
Jawabannya bukan hanya soal waktu. Menulis buku memerlukan cara kerja lain. Berita meminta penyelesaian, sedangkan buku meminta pengendapan. Berita bergerak mengikuti peristiwa, sementara buku harus memilih peristiwa mana yang masih penting setelah keramaiannya selesai.
Karena itu ribuan berita tidak bisa begitu saja dijilid menjadi buku. Dari seratus tulisan mungkin hanya dua puluh yang masih menarik ketika dibaca beberapa tahun kemudian. Sebagian sudah kehilangan konteks. Datanya tua. Persoalannya selesai. Tokohnya tidak lagi relevan. Sebagian lain memang sejak awal hanya bekerja untuk hari ketika berita itu diterbitkan.
Buku membutuhkan penyaringan. Wartawan harus membaca kembali pekerjaannya sendiri dan menerima kenyataan bahwa sebagian besar mungkin tidak perlu dibawa lebih jauh. Dari sinilah perbedaan antara arsip dan buku muncul. Arsip menyimpan berita, sedangkan buku memilih apa yang masih perlu dibaca.
Gde Aryantha Soethama, misalnya, tidak sekadar memindahkan tulisan koran ke halaman buku. Esai-esainya tentang Bali kemudian membentuk catatan mengenai masyarakat yang berubah. Pengalaman panjang Putu Setia sebagai wartawan juga memberi bahan yang terus muncul dalam tulisannya tentang Bali, agama, masyarakat, dan profesi. Sementara Angga Wijaya menunjukkan kemungkinan lain: buku tidak harus menunggu wartawan pensiun. Kebiasaan menerbitkan karya bisa tumbuh bersamaan dengan pekerjaan jurnalistik.
Tetapi contoh seperti itu belum banyak. Di Bali, generasi wartawan terus berganti. Media cetak pernah menjadi pusat kehidupan pers. Radio tumbuh, televisi lokal datang, kemudian media daring membuat ruang redaksi semakin padat dan produksi berita semakin besar.
Dalam lima puluh tahun, jumlah berita yang dihasilkan wartawan Bali mungkin sudah jutaan. Sebaliknya, jumlah wartawan yang mampu mempertahankan kebiasaan menulis hingga menghasilkan belasan buku tetap sangat sedikit.
Kenyataan itu menarik bukan karena wartawan wajib menjadi penulis buku. Justru karena mereka memiliki salah satu modal terbaik untuk melakukannya: pengalaman melihat perubahan dari jarak dekat. Wartawan senior pernah melihat Denpasar sebelum kota itu sepadat sekarang. Mereka pernah masuk kawasan wisata ketika vila belum memenuhi gang, meliput desa sebelum harga tanah melonjak, serta mengikuti pergantian gubernur, bupati, pemilu, krisis ekonomi, bom Bali, pandemi, perubahan pariwisata, sampai kedatangan media sosial dan kecerdasan buatan.
Pengalaman itu tidak selalu tercatat dalam satu berita. Ia tersebar dalam ribuan tulisan. Jika tidak pernah dirawat kembali, sebagian akan ikut hilang bersama arsip.
Mungkin itu sebabnya jumlah wartawan dengan belasan buku tetap menarik untuk diperhatikan. Bukan karena belasan buku harus menjadi target setiap wartawan, dan bukan pula karena buku membuat seseorang lebih tinggi daripada reporter lain. Tetapi di tengah profesi yang menghasilkan begitu banyak tulisan, hanya sedikit yang berhasil membawa sebagian pekerjaannya melewati umur berita.
Ribuan berita sudah ditulis. Yang menjadi buku masih sedikit. (*)
Menot Sukadana