Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Ke Mana Arsip Wartawan?

Oleh Nyoman Sukadana • 29 Agustus 2026 • 01:16:00 WITA

Ke Mana Arsip Wartawan?
ILUSTRASI arsip wartawan yang menyimpan koran, catatan, foto, dan rekaman, simbol jejak jurnalistik yang rawan hilang bersama waktu tanpa pengelolaan. (AI/Podiumnews)

KETIKA seorang wartawan pensiun, meja kerjanya bisa dibereskan dalam satu pagi. Buku catatan masuk kardus, kartu nama dan dokumen dibawa pulang, file foto pindah ke hard disk, rekaman wawancara tertinggal di telepon genggam lama. Berita yang sudah terbit tetap berada di media. Bahan yang melahirkannya belum tentu memiliki tempat penyimpanan yang jelas.

Seorang reporter yang bekerja dua puluh tahun mungkin sudah menulis ribuan berita. Di belakang berita sebanyak itu tersimpan bahan yang jauh lebih besar: catatan wawancara, dokumen, foto yang tidak terbit, rekaman suara, nomor telepon narasumber, laporan pemerintah, kliping, sampai cerita yang tidak pernah masuk koran.

Sebagian dibuang ketika dianggap tidak lagi diperlukan. Sebagian tinggal di komputer kantor. Sebagian ikut pulang bersama wartawannya. Tidak sedikit yang akhirnya berada di hard disk pribadi tanpa katalog dan hanya diketahui pemiliknya.

Masalah arsip pers di Bali bukan persoalan baru.

Peneliti sejarah Putu Prima Cahyadi pernah menulis secara khusus masalah tersebut dalam tulisan berjudul It's Now or Never: Merawat dan Melakukan Preservasi Surat Kabar Bali Post. Pengalamannya menelusuri sejarah Bali menunjukkan betapa koran lama bisa menjadi sumber ketika dokumen resmi dan narasumber sudah sulit ditemukan.

Ketika mengerjakan penelitian mengenai Bali periode 1950-an, Cahyadi kesulitan mendapatkan sejumlah arsip resmi. Beberapa orang yang mengalami masa itu juga telah meninggal. Jalan lain akhirnya datang dari surat kabar.

Bukan di Denpasar ia menemukan sebagian bahan penting tersebut.

Lima bundel harian Suara Indonesia, cikal bakal Bali Post, justru ditemukannya di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Koran-koran lama itu membantunya membuka kembali informasi mengenai Bali pada masa yang sulit dilacak melalui dokumen resmi.

Ketika kemudian menelusuri koleksi lama Bali Post, ia menemukan persoalan lain. Dalam catatannya, koleksi periode 1950-an tidak lengkap. Beberapa tahun pada dekade 1960-an juga tidak ditemukannya, termasuk edisi tahun 1963. Koran tertua yang berhasil dijumpainya ketika itu bertanggal 7 Februari 1958 dan kondisinya pun tidak utuh.

Catatan tersebut merupakan pengalaman seorang peneliti pada periode tertentu, bukan audit terbaru atas seluruh koleksi Bali Post. Namun temuan itu memperlihatkan akibat ketika mata rantai arsip terputus.

Satu tahun koran yang hilang berarti ratusan atau ribuan berita ikut sulit dilacak.

Persoalan serupa pernah ditemukan dalam penelusuran sastra Indonesia di Bali.

Dr I Made Sujaya, mantan wartawan dan redaktur budaya DenPost yang kini menjadi dosen di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia serta mengelola Balisaja.com, pernah menelusuri perkembangan sastra Indonesia di Bali melalui surat kabar. Ia menulis bahwa sulit mengetahui seperti apa rubrik sastra Suara Indonesia pada tahun-tahun awal penerbitannya karena arsip yang dapat diamati tidak tersedia. Dari koran yang tersisa pada 1959 baru diketahui media tersebut ketika itu sudah menyediakan ruang untuk sastra.

Bagi peneliti sastra, kehilangan beberapa edisi mungkin berarti kehilangan jejak puisi, cerpen, kritik, nama pengarang, atau perdebatan kebudayaan pada suatu masa.

Bagi peneliti sejarah kota, yang hilang bisa berbeda.

Sebuah koran lama dapat mencatat harga tanah, pembangunan jalan, pembukaan hotel, konflik pasar, keputusan pemerintah, iklan toko, hasil pertandingan, kematian tokoh, sampai nama orang biasa yang barangkali tidak pernah masuk dokumen resmi.

Satu berita mungkin terlihat kecil ketika terbit.

Seribu berita yang dibaca kembali tiga puluh tahun kemudian dapat menunjukkan bagaimana sebuah kota berubah.

Bali memiliki sejarah pers yang panjang. Bali Post berakar dari Suara Indonesia yang telah hadir sejak akhir 1940-an. Setelah itu lahir berbagai surat kabar, majalah, radio, televisi, dan kemudian ratusan media daring. Setiap hari ruang-ruang redaksi itu mencatat peristiwa yang berlangsung di Bali.

Sebagian arsip berhasil diselamatkan.

Pada Mei 2012, Bali Post dan Bali TV menyerahkan sejumlah dokumentasi kepada Monumen Pers Nasional di Surakarta. Koleksi tersebut antara lain berupa 41 buku, sampel halaman depan Bali Post, karikatur, dan foto pendiri Bali Post, Ketut Nadha.

Monumen Pers Nasional sendiri menyimpan koleksi media cetak dari masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Sebagian koleksi telah dialihmediakan dan didigitalkan sehingga dapat ditelusuri melalui basis data daring. Edisi Bali Post dari sejumlah tahun juga masuk dalam koleksi tersebut.

Namun arsip perusahaan media baru satu sisi.

Sisi lainnya berada pada wartawan.

Reporter yang mengikuti satu instansi selama sepuluh tahun biasanya memiliki bahan lebih banyak daripada yang pernah dimuat medianya. Ia menyimpan laporan, salinan surat, catatan rapat, foto, rekaman wawancara, kronologi perkara, sampai nomor telepon orang-orang yang pernah terlibat dalam sebuah peristiwa.

Wartawan politik yang mengikuti lima pemilu melihat pergantian elite dari dekat.

Wartawan pemerintahan mengetahui sebuah proyek sejak masih berupa rencana.

Wartawan pariwisata melihat hotel berdiri ketika tanah di sekelilingnya mungkin masih sawah.

Wartawan kriminal mengikuti perkara sejak kejadian, penyidikan, persidangan, hingga akhirnya terlupakan.

Pengetahuan semacam itu tersebar pada banyak orang.

Pengalaman jurnalis dan fotografer I Wayan Sumatika memberi gambaran bagaimana panjangnya jejak tersebut. Ia pernah bekerja di DenPost dan Bali Post, menulis feature, seni, dan budaya, sekaligus menghasilkan karya fotografi.

Sujaya mengenangnya sebagai wartawan yang pernah bersama dirinya mengungkap dugaan penggelembungan nilai rapor dalam penerimaan mahasiswa di Denpasar serta persoalan pungutan masuk perguruan tinggi pada 2001. Setelah meninggalkan pekerjaan sebagai wartawan tetap, Sumatika tetap menulis dan menekuni fotografi hingga meninggal pada April 2025.

Berapa banyak buku catatan, foto, kliping, dan dokumen yang terkumpul dari perjalanan kerja selama itu?

Pertanyaan tersebut berlaku pula untuk wartawan senior Bali lainnya.

Dunia fotografi memberi contoh yang lebih mudah terlihat.

Fotografer Widnyana Sudibya selama bertahun-tahun merekam kegiatan seni dan budaya Bali, termasuk Pesta Kesenian Bali dan berbagai upacara. Ketika ia meninggal pada Mei 2026, keluarganya menyebut terdapat ribuan dokumentasi foto yang dihasilkan selama puluhan tahun. Sebagian besar merekam kesenian dan kehidupan kebudayaan Bali.

Nilai sebuah foto berubah bersama waktu.

Panggung bisa dibongkar. Seniman meninggal. Bentuk pertunjukan berubah. Sawah menjadi perumahan. Bangunan lama diganti. Desa yang dahulu sepi berubah menjadi kawasan wisata.

Foto yang semula dibuat untuk memenuhi halaman koran kemudian menjadi dokumen.

Hal serupa terjadi pada catatan reporter.

Persoalannya kini semakin rumit karena sebagian besar pekerjaan jurnalistik telah berpindah ke perangkat digital.

Dulu ancaman arsip berupa kertas lapuk, rayap, gudang lembap, atau koran yang dibuang karena kekurangan tempat. Sekarang sebuah media dapat menyimpan ratusan ribu berita tanpa membutuhkan satu lemari pun.

Tetapi digital tidak berarti kekal.

Berita bergantung pada domain, server, basis data, dan sistem manajemen konten. Media bisa tutup. Server berpindah. Situs berganti desain. Sistem lama dibuang. Tautan berubah. Foto kehilangan keterangannya. Nama penulis bisa terlepas dari artikel.

Berkas yang masih tersimpan pun belum tentu mudah ditemukan jika sejak awal tidak diberi metadata yang baik.

Masalah yang sama terjadi pada perangkat pribadi wartawan.

Foto berada di telepon genggam. Rekaman wawancara tersimpan dalam aplikasi. Dokumen datang lewat WhatsApp. Catatan berada di laptop. Foto lama tersimpan di beberapa hard disk tanpa nama folder yang jelas.

Satu telepon rusak bisa menghilangkan ratusan rekaman.

Satu hard disk gagal dibaca bisa membawa pergi dokumentasi bertahun-tahun.

Menyelamatkan arsip jurnalistik tentu tidak berarti membuka semuanya kepada publik.

Wartawan memiliki kewajiban menjaga identitas sumber yang dirahasiakan. Rekaman wawancara bisa mengandung informasi pribadi. Sejumlah keterangan diberikan secara off the record. Dokumen tertentu juga tidak dapat begitu saja disebarkan.

Karena itu arsip membutuhkan pengelolaan, bukan sekadar penumpukan.

Foto perlu mempunyai tanggal, lokasi, nama fotografer, dan keterangan peristiwa. Dokumen publik bisa dikatalogkan. Bahan sensitif dapat diberi pembatasan akses. Identitas sumber rahasia tetap dilindungi. Berita digital perlu disimpan bersama data yang memungkinkan orang menemukannya kembali bertahun-tahun kemudian.

Bali bisa memulainya dari langkah yang sederhana.

Perusahaan media menyimpan salinan penerbitannya secara teratur. Organisasi wartawan dapat mulai mendata arsip milik wartawan senior. Kampus, perpustakaan, lembaga kearsipan, dan perusahaan pers bisa bekerja sama melakukan digitalisasi.

Ketika seorang wartawan senior pensiun, yang dibicarakan tidak hanya acara perpisahan.

Bisa pula ditanyakan apakah ia memiliki kliping, buku catatan, foto atau dokumen jurnalistik yang layak diselamatkan.

Tidak semuanya harus masuk museum.

Seratus buku catatan seorang reporter kabupaten mungkin dianggap tidak penting hari ini. Tiga puluh tahun lagi, ketika seseorang ingin mengetahui bagaimana daerah itu berubah, catatan tersebut bisa menjadi sumber yang tidak ditemukan di tempat lain.

Wartawan bekerja hampir selalu untuk hari ini.

Pagi mencari berita. Siang mewawancarai narasumber. Sore menulis. Malam berita terbit. Besok siklus dimulai lagi.

Jarang seorang reporter membayangkan seseorang akan membuka kembali catatannya dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian.

Padahal umur sebuah informasi bisa jauh lebih panjang daripada umur beritanya.

Wartawan Bali telah menghasilkan berita selama puluhan tahun. Sebagian menjadi buku. Sebagian tersimpan dalam arsip perusahaan media. Jauh lebih banyak lagi mungkin berada dalam kliping, kardus, lemari, laptop, hard disk, kamera, dan telepon genggam milik wartawannya.

Yang perlu dipikirkan bukan hanya berapa banyak berita yang pernah mereka hasilkan.

Tetapi setelah wartawannya berhenti bekerja, ke mana semua bahan itu pergi? (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.