Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Kota Pensiun

Oleh Nyoman Sukadana • 01 September 2026 • 07:44:00 WITA

Kota Pensiun
Menot Sukadana (AI/Vector)

MEMBACA iklan properti di Bali belakangan ini terasa janggal. Kosakatanya baru. Label "lokasi strategis" ditanggalkan. Iming-iming "investasi menjanjikan" ditepikan. Mantra kuno "harga pasti naik" tak lagi dipakai.

Sebuah rumah dekat pusat Tabanan ditawarkan. Embel-embelnya menarik: cocok untuk pensiun. Di Mambang, Tabanan, ada lagi. Lingkungan asri. Cocok untuk masa tua. Vila di Kaba-Kaba pakai istilah asing: retirement home. Kavling di Penebel ikut-ikutan. Menjual ketenangan. Sebagai paket masa tua.

Tentu saja. Itu bahasa agen. Pemandangan sawah disebut healing. Jalan kampung dilabeli private access. Tempat antah berantah dibilang exclusive location. Biasa.

Tapi, bahasa pasar tidak lahir dari ruang kosong. Ia membaca pasar. Membaca kegelisahan. Ternyata di Bali, ada tren baru. Orang tidak sekadar mencari rumah. Mereka mencari tempat untuk menua.

Ini aneh. Menarik. Puluhan tahun kita diajari sebaliknya. Semakin ramai, semakin maju. Jalan besar, harga tanah meroket. Hotel, restoran, ruko. Itu tanda kawasan "berkembang". Sawah jadi kavling. Orang bersorak. Nilai tanah melonjak gila-gilaan.

Lihatlah Dalung. Dulu dekat dengan sawah. Panen dan musim hujan jadi penentu hidup. Sekarang? Batas Dalung dan Denpasar sudah lenyap. Rumah berdempet kos. Kos nempel bengkel. Bengkel di sebelah minimarket. Jalan kampung dipaksa menanggung ribuan kendaraan. Macet. Tanah mahal sekali. Pemiliknya kaya raya.

Tapi, apakah hidup lebih nyaman? Belum tentu.

Itulah paradoks Bali. Aset meroket. Ruang menyempit. Rumah mahal, halamannya secuil. Sawah mahal kalau sudah bukan sawah. Jarak satu kilometer terasa sangat panjang. Macet.

Maka, orang mencari pelarian. Mencari tempat yang belum tertular. Tabanan dilirik. Bukan karena mewah. Justru karena belum terlalu mewah. Fasilitas ada. Rumah sakit, pasar, sekolah. Tapi sawah masih sisa. Rumah belum berdesakan. Harga tanah? Naik. Tapi belum segila Badung Selatan.

Iklan "masa pensiun" itu pun masuk akal. Sebenarnya, yang dijual bukan rumah. Yang dijual adalah jarak. Jarak dari bising. Halaman. Udara lapang. Jalan yang manusiawi. Dulu, ini gratis. Tersedia begitu saja. Sekarang, ruang itu ada harganya. Mahal.

Manusia memang aneh. Waktu muda, ingin di pusat keramaian. Kantor dekat. Teman banyak. Nongkrong sampai malam. Rela menukar ruang sempit demi akses. Kos kecil tidak apa-apa asal di kota. Lalu, usia datang. Mengubah hitungan.

Tubuh mulai enggan naik tangga. Telinga bising dengar knalpot. Rumah sakit mendadak lebih penting dari mal. Trotoar lebih dicari dari kafe baru. Kota yang berlari kencang ternyata melelahkan.

Dari situlah lahir gagasan "kota pensiun". Bukan panti jompo. Bukan kompleks berpagar tinggi tempat menunggu ajal. Ini sederhana. Kota yang tidak memaksa warganya terus berlari. Bisa jalan kaki ke warung. Kenal tetangga. Dengar ayam berkokok tanpa harus sewa vila jutaan.

Masalahnya, Bali punya rapor merah. Rapor soal menjaga ketenangan. Begitu satu tempat nyaman, orang datang. Orang datang, properti dibangun. Properti dibangun, harga melonjak. Jalan dilebarkan. Kendaraan membanjir. Ketenangan? Hilang. Menguap.

Canggu adalah contoh paling telanjang. Dulu dicari karena desa dan sawah. Sekarang? Desanya jadi kota super sibuk. Ubud juga sama. Begitu pula Dalung. Pertanyaannya: berapa lama Tabanan bisa bertahan?

Iklan masa pensiun itu punya dua wajah. Satu, bukti Tabanan masih nyaman. Dua, alarm. Tanda awal perubahan.

Begitu sawah dan ketenangan dipromosikan, modal akan datang. Bawa kalkulator. Sawah dihitung. Lima are. Sepuluh are. Bisa jadi berapa vila? Berapa untungnya? Ruang hidup diubah jadi barang jualan. Dalam bisnis, tanah kosong itu tidak produktif. Harus dibangun. Dalam hidup, tanah kosong itu penting. Memberi jarak. Menyerap air. Jalan lewatnya angin. Biar kita tidak perlu dengar TV tetangga.

Nilai ini tak muat di brosur iklan. Sampai ia hilang, baru kita sadar. Kemewahan sejati sebuah kota bukanlah mal besar. Kemewahan itu adalah ruang kosong. Ruang yang tidak dibangun.

Saya jadi curiga pada kata "maju". Maju ke mana? Tanah naik sepuluh kali lipat, tapi anak muda tak bisa beli rumah. Maju? Punya aset miliaran, tapi tak bisa keluar gang karena macet. Sejahtera?

Kota pensiun bukan soal umur. Itu kritik. Kritik keras cara kita membangun kota. Semua butuh ruang. Anak butuh halaman. Orang tua butuh dekat klinik. Saat muda kita pikir kecepatan bisa menggantikan ruang. Kelak tubuh sadar. Kita bukan mesin. Kita butuh tempat berhenti.

Dua puluh tahun lagi, kemewahan di Bali mungkin bukan vila pinggir pantai. Kemewahan itu sangat sederhana. Punya cukup ruang, untuk menjadi tua. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.