Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Krisis Kasur

Oleh Nyoman Sukadana • 09 September 2026 • 11:26:00 WITA

Krisis Kasur
Menot Sukadana (AI/Vector)

WAJAH pariwisata Bali itu ramah. Penuh senyum. Ada di front office hotel berbintang. Di balik meja bar beach club elite. Atau di restoran estetik kawasan Canggu dan Seminyak.

Mereka adalah anak-anak muda. Pekerja lokal. Penopang utama industri ini.

Tapi, ada cerita pilu begitu shift kerja mereka usai.

Senyum ramah itu langsung lumat. Berganti lelah yang teramat sangat. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit: Bali Selatan semakin gemerlap, tapi kasur mereka makin menjauh.

Terusir. Secara perlahan. Oleh kekuatan modal.

Dulu, bekerja di pusat wisata berarti bisa tinggal di dekatnya. Cukup jalan kaki. Atau naik motor lima menit. Kos-kosan bertebaran. Sederhana, tetapi terjangkau.

Sekarang? Jangan harap.

Kawasan ekonomi baru seperti Canggu dan Berawa sudah menjelma jadi bisnis properti global. Kamar-kamar sewa di sana bersolek. Ditambah AC. Water heater. Kolam renang. Internet cepat.

Targetnya bukan lagi anak lokal. Namun ekspatriat. Digital nomad. Turis yang berani bayar pakai standar dolar.

Pemilik tanah tidak salah. Ini bisnis. Kalau bisa dapat jutaan per minggu dari turis, mengapa harus menerima ratusan ribu per bulan dari pekerja lokal?

Dampaknya nyata. Terjadilah krisis kasur.

Ruang tinggal yang ramah kantong lenyap dari pusat pertumbuhan ekonomi. Anak-anak muda lokal terdepak. Mereka tidak lagi mampu membeli ruang untuk tidur di tempat mereka memeras keringat.

Pilihan mereka tinggal dua. Bertahan di dekat tempat kerja dengan mengorbankan seluruh isi dompet, atau menyingkir ke pinggiran.

Mayoritas memilih menyingkir. Menyerah pada keadaan.

Mereka bergeser ke Dalung. Ke Padangluwih. Kesambi. Bahkan banyak yang terpaksa mundur lebih jauh lagi. Menyeberang ke pelosok Denpasar Barat, Sidakarya, hingga ke perbatasan Tabanan. Mencari daerah yang kasur sederhananya masih dihargai masuk akal.

Di atas peta, beberapa daerah seperti Dalung memang kelihatan dekat. Hanya hitungan kilometer dari Canggu.

Tapi jangan tertipu. Di Bali Selatan hari ini, kilometer tidak lagi bisa dipakai untuk mengukur waktu.

Jarak dekat atau jauh sama saja horornya. Jalur penghubungnya macet total. Padat merayap.

Bayangkan suasana sore hari di Jalan Raya Canggu atau Jalan Raya Padonan. Jalur sempit itu terkunci. Berubah jadi lautan kendaraan. Mobil-mobil sewaan turis berukuran besar mandek, tidak bisa bergerak.

Di sela-selanya, ribuan pekerja lokal di atas motor saling berebut sejumput ruang. Menjepit diri di antara badan mobil dan selokan. Knalpot menyemburkan hawa panas. Asap mengepul bebas.

Lalu lihat ke arah Sunset Road menuju Denpasar Selatan. Simpang jalan tersumbat total. Antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter.

Di bawah kepungan lampu merah yang terasa sangat lama, para pekerja ini terpaksa menelan debu jalanan. Kaki mereka harus terus menahan beban motor yang berhenti setiap beberapa detik.

Jarak yang di peta hanya sepelemparan batu, di atas aspal berubah menjadi labirin siksaan tanpa akhir. Apalagi bagi mereka yang harus pulang pergi dari pinggiran kota atau luar kabupaten.

Waktu mereka habis tersedot di jalan. Energi mereka terkuras habis oleh stres dan bisingnya klakson. Tubuh mereka sudah remuk duluan sebelum sempat menyentuh bantal.

Ini ironi terbesar pariwisata kita.

Anak-anak muda ini setiap hari merawat kenyamanan orang asing. Mereka merapikan tempat tidur vila yang mewah. Memastikan selimut turis terpasang sempurna.

Namun, mereka sendiri kesulitan mempertahankan satu hal yang paling dasar bagi seorang manusia: sepetak kamar yang cukup untuk merebahkan punggung tanpa harus menguras seluruh isi kantong.

Pemerintah sibuk membangun jalan. Sibuk menata destinasi. Sibuk mempromosikan investasi.

Tapi lupa pada hal yang sangat mikro. Lupa pada nasib kasur para pekerjanya.

Industri pariwisata butuh manusia untuk menggerakkannya. Manusia butuh istirahat agar bisa bekerja dengan baik. Jika tempat istirahat itu makin menjauh, mahal, dan melelahkan untuk dicapai, fondasi industri ini sebenarnya sedang keropos.

Krisis kasur ini nyata. Dan sedang terjadi sekarang.

Di balik gemerlap lampu pesta Bali Selatan, ada ribuan pekerja muda yang tiap malam hanya bisa menghela napas panjang. Menatap kasur kosan mereka yang jauh di pinggiran, sambil berharap besok pagi kemacetan tidak membuat mereka terlambat bekerja.

Tidur kini sudah jadi barang mewah. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.