Mancing Pensiun
PURBAYA YUDHI SADEWA kehilangan jabatan Menteri Keuangan. Yang terlintas di kepalanya justru ikan.
Seusai menyerahkan jabatan kepada Suahasil Nazara di kantor Kementerian Keuangan, Selasa, 15 September 2026, ia mengatakan hendak pulang. Di belakang rumah ada kolam dengan mujair dan nila. Di sanalah, katanya sambil berseloroh, ia bisa memancing sembari melamun memikirkan kenapa dipecat.
Saya membayangkan pelampung.
Sehari sebelumnya, Purbaya masih berada dalam dunia yang penuh angka besar. APBN, pajak, penerimaan negara, defisit, pertumbuhan. Presiden Prabowo Subianto telah melantik Suahasil Nazara sebagai penggantinya pada 14 September melalui Keputusan Presiden Nomor 97P Tahun 2026. Sehari kemudian serah terima berlangsung, dan sebuah pekerjaan yang setahun terakhir memenuhi hidup Purbaya resmi selesai.
Kini ada kolam di belakang rumah.
Perubahan seperti itu selalu sedikit ganjil. Kita terbiasa melihat jabatan dari saat seseorang mendapatkannya: pelantikan, seragam, sumpah, ucapan selamat. Jarang ada yang memperhatikan hari pertama setelah semuanya berakhir.
Padahal pada saat itulah seseorang mulai berkenalan dengan waktu yang berbeda.
Ignasius Jonan pernah menceritakan pengalaman semacam itu. Sesudah tak lagi menjadi pejabat publik, mantan Menteri Perhubungan dan Menteri ESDM tersebut masih menjadi penasihat perusahaan dan menjalankan beberapa kegiatan bisnis. Waktunya ternyata tetap banyak. Ia pun mulai menanam secara hidroponik di rumah.
Bayam, sawi, kangkung, pakcoy.
Jonan merawat sendiri tanaman itu dari bibit hingga panen. Ketika diwawancarai pada 2020, ia menyebutnya kegiatan mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pejabat publik.
Seorang mantan menteri mengurus sayuran. Mantan menteri lainnya memilih mujair.
Kedengarannya seperti penurunan skala yang drastis, padahal belum tentu demikian. Selama bertahun-tahun pekerjaan membuat manusia terbiasa dengan ukuran tertentu. Semakin tinggi jabatan, semakin besar wilayah yang disentuh keputusan. Waktu pun disusun orang lain: rapat pada jam sekian, menerima tamu selepas makan siang, membaca berkas menjelang malam.
Ketika semua itu berakhir, persoalannya bukan hanya bagaimana mengisi kalender yang kosong.
Pekerjaan rupanya ikut membentuk cara manusia mengenali dirinya.
Para peneliti tentang pensiun menyebut masa setelah pekerjaan berakhir sebagai sebuah transisi, bukan sekadar tanggal ketika seseorang berhenti datang ke kantor. Sebuah tinjauan dalam The Gerontologist pada 2025 membaca 30 penelitian mengenai hubungan pensiun dengan makna hidup. Kesimpulannya tidak sederhana, tetapi satu soal terus muncul: orang perlu menemukan kembali kegiatan dan tujuan yang terasa berarti setelah pekerjaan yang lama menopang kesehariannya selesai.
Itu terdengar akademis.
Di rumah, persoalannya barangkali hanya berupa pagi yang terlalu panjang.
Dulu seseorang bangun karena harus masuk kantor. Sekarang ia bangun karena memang sudah bangun.
Dari situ kebun memperoleh arti yang tidak selalu kita perhitungkan. Tanaman menyediakan alasan untuk keluar rumah, menyentuh tanah, melihat apakah daun baru muncul. Hasilnya juga dekat. Tidak perlu laporan tahunan untuk mengetahui cabai tumbuh dengan baik.
Pekerjaan besar sering tidak memberikan kepastian semacam itu. Sebuah kebijakan baru terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian, itu pun belum tentu orang sepakat mengenai penyebabnya.
Pakcoy lebih sederhana.
Ia tumbuh atau tidak.
Memancing bahkan menawarkan sesuatu yang lebih aneh. Orang pergi ke kolam justru untuk tidak melakukan terlalu banyak.
Umpan dilempar. Setelah itu pelampung mengambil alih urusan.
Bagi orang yang lama hidup dengan kalender penuh, duduk satu jam menunggu benda kecil di permukaan air bergerak mungkin bukan kemalasan. Waktu akhirnya tak perlu selalu menghasilkan keputusan.
Di sana jabatan juga kehilangan sebagian daya magisnya.
Ikan tidak membaca berita.
Mujair di kolam Purbaya tidak punya kepentingan mengetahui berapa besar anggaran negara yang pernah dikelola orang yang memegang joran. Pangkat tak membuat ikan lebih lapar.
Ada kesetaraan kecil di depan air.
Mungkin itu pula yang membuat kegiatan seperti berkebun, bertani, atau memancing terasa cocok dengan pensiun. Bukan karena orang tua harus dekat dengan cangkul dan joran. Soalnya bisa lebih sederhana: kegiatan semacam itu mengembalikan hubungan langsung antara manusia, waktu, dan sesuatu yang dikerjakannya.
Para ahli bahkan pernah mengkritik pengertian pensiun yang terlalu berpusat pada apa yang tidak lagi dilakukan seseorang: tidak lagi bekerja, tidak lagi berada dalam angkatan kerja, tidak lagi menerima upah. Sebuah kajian mengenai konsep pensiun menyarankan cara pandang lain, yakni melihat apa yang justru mulai dikerjakan seseorang sesudah pekerjaan formalnya selesai.
Cara melihat seperti itu membuat kata “pensiun” terasa kurang muram.
Orang tidak sekadar berhenti.
Ia berpindah.
Jonan berpindah sebagian waktunya ke tanaman. Orang lain mungkin kembali ke sawah keluarga, merawat ternak, menulis buku, mengajar, membuka warung atau tetap sibuk dalam organisasi. Pilihannya bergantung pada kehidupan masing-masing.
Karena itu ucapan Purbaya tentang memancing tak perlu dibebani tafsir psikologis yang berlebihan. Ia mengatakannya sambil bercanda. Kita tidak tahu apakah seminggu lagi ia masih tekun menunggu mujair atau sudah kembali masuk ke kesibukan lain. Yang menarik justru benturan dua dunianya.
Kemarin negara membutuhkan jawabannya.
Hari ini ikan belum tentu.
Dalam hidup yang lama dikejar target, mungkin ada kenikmatan ketika sesuatu tidak bisa diperintah untuk segera datang. Ikan menggigit umpan kalau ia mau.
Entah berapa lama Purbaya akan betah memancing. Mantan pejabat biasanya segera menemukan kesibukan baru.
Tapi untuk sementara, ia tak perlu memikirkan defisit, penerimaan negara, atau pertumbuhan ekonomi.
Yang ditunggu cuma pelampung bergerak. (*)
Menot Sukadana