Sejarah Bali dari Tubuh Perempuan
FOTO-FOTO Bali yang dibuat pada awal abad ke-20 memperlihatkan perempuan dengan pakaian yang sekarang hampir tidak pernah terlihat. Mereka mengenakan kain dari pinggang ke bawah, sementara bagian atas tubuh dibiarkan terbuka. Ada yang sedang menenun, membawa barang, bekerja di sekitar rumah atau berdiri di pasar.
Bagi masyarakat Bali ketika itu, pemandangan tersebut bukan sesuatu yang ganjil. Cara berpakaian perempuan memang seperti itu.
Kebaya yang sekarang begitu lekat dengan perempuan Bali belum menjadi pakaian sehari-hari sebagaimana dikenal sekarang. Antropolog Megan Jennaway, dalam tulisan Body-binding in Bali yang dimuat Inside Indonesia pada 2007, mencatat penggunaan kamen dan sabuk sebagai bagian utama busana perempuan Bali. Pada kegiatan tertentu, terutama upacara, tubuh dapat ditutup lebih banyak.
Perubahan mulai berlangsung ketika hubungan Bali dengan dunia luar semakin ramai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pemerintahan kolonial Belanda menguat, perdagangan berkembang, pendidikan mulai masuk dan lingkungan puri makin sering berhubungan dengan pejabat maupun pendatang dari luar Bali.
Pakaian ikut berubah.
A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya dari Program Studi Desain Fashion ISI Denpasar menelusuri perubahan itu dalam penelitian Hegemoni Fashion Barat pada Busana Bangsawan di Bali Utara (1800-1940) yang terbit di Mudra Jurnal Seni Budaya pada 2021. Ia menemukan pengaruh Barat pada pakaian bangsawan, termasuk penggunaan pakaian jahitan, bros, giwang, liontin dan hiasan kepala perempuan yang menyerupai tiara Eropa.
Kebaya kemudian semakin luas digunakan. Dalam penelitian itu, Tenaya juga mengutip Miguel Covarrubias yang menulis tentang Bali pada masa kolonial. Covarrubias menyebut adanya dorongan untuk menutup tubuh perempuan Bali dengan kebaya, yang dikaitkan dengan moral serdadu Belanda. Cerita ini menarik, tetapi tetap perlu dibaca hati-hati karena keterangan mengenai kebijakan kolonial tersebut banyak sampai kepada kita melalui kutipan sekunder, bukan dokumen pemerintah kolonial yang mudah diperiksa.
Namun foto-foto dari periode tersebut memperlihatkan perubahan yang sulit dibantah. Semakin jauh Bali memasuki abad ke-20, semakin jarang perempuan tampil dengan bagian atas tubuh terbuka.
Perubahan itu berlangsung justru ketika Bali sedang mengalami modernisasi.
Bila memakai ukuran sekarang, orang mungkin tergoda menganggap masyarakat dengan pakaian lebih terbuka sebagai masyarakat yang lebih liberal. Sejarah Bali menunjukkan persoalannya tidak sesederhana itu. Perempuan Bali pada masyarakat agraris dahulu dapat bertelanjang dada dalam keseharian, tetapi itu tidak berarti mereka memiliki kebebasan sosial lebih besar dibanding perempuan Bali sekarang.
Pakaian terbuka ketika itu hanyalah bagian dari kebiasaan.
Persoalan menjadi lain setelah pariwisata mulai berkembang pada 1920-an dan 1930-an. Bali semakin sering didatangi pelancong, seniman, fotografer dan penulis asing. Buku perjalanan tentang Bali beredar di Eropa dan Amerika. Foto-foto dari pulau ini dicetak dalam buku dan kartu pos.
Perempuan Bali termasuk objek yang banyak direkam.
Kamera menangkap mereka ketika bekerja, membawa sesajen, berada di pasar atau mandi. Banyak foto menampilkan perempuan tanpa penutup bagian atas tubuh. Gambar semacam itu kemudian ikut membangun gambaran Bali sebagai pulau tropis yang dianggap masih alami dan berbeda dari kehidupan Barat.
Sejarawan Adrian Vickers membahas pembentukan citra tersebut dalam Bali: A Paradise Created, yang terbit pertama kali pada 1989. Menurut Vickers, citra Bali sebagai pulau surga tidak lahir begitu saja dari keadaan pulau ini. Gambaran itu ikut dibentuk melalui tulisan perjalanan, seni, fotografi dan perkembangan pariwisata sejak masa kolonial.
Cara perempuan Bali ditampilkan dalam periode yang sama diteliti lebih khusus oleh Jojor Ria Sitompul. Dalam disertasi doktoralnya di University of Warwick pada 2008, Visual and Textual Images of Women: 1930s Representations of Colonial Bali as Produced by Men and Women Travellers, Sitompul membaca foto dan tulisan para pelancong tentang perempuan Bali pada 1930-an. Catatan perjalanan itu memang lahir dari pengalaman melihat Bali secara langsung, tetapi pembuatnya juga datang dengan bacaan dan bayangan tertentu mengenai pulau ini.
Tubuh perempuan akhirnya ikut masuk ke dalam citra Bali yang beredar di luar negeri.
Menariknya, pada masa yang hampir bersamaan, perempuan Bali mulai memperoleh pendidikan modern dan masuk organisasi. Di lingkungan Bali Darma Laksana lahir Putri Bali Sadar pada pertengahan 1930-an. Sebagian anggotanya merupakan perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah Belanda di Jawa dan kemudian bekerja sebagai guru.
I Nyoman Darma Putra mencatat perjalanan itu dalam A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. Anggota Putri Bali Sadar menggunakan majalah Djatajoe untuk membicarakan pendidikan perempuan, poligami dan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Mereka juga menyatakan keberatan terhadap penggunaan gambar perempuan Bali bertelanjang dada pada kartu pos dan promosi pariwisata.
Ini membuat perubahan pakaian perempuan Bali tidak bisa dilihat hanya sebagai urusan kesopanan.
Perempuan yang mempersoalkan gambar tersebut justru datang dari kelompok yang sedang memperoleh pendidikan dan mencari ruang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Mereka tidak sedang kembali ke masa lalu. Mereka sedang berhadapan dengan dunia modern dan mulai mempunyai pendapat sendiri mengenai bagaimana perempuan Bali ditampilkan kepada orang lain.
Sesudah kemerdekaan, perubahan pakaian berjalan bersama perubahan ekonomi Bali.
Mesin jahit semakin mudah dijumpai. Kain produksi pabrik beredar lebih luas. Rayon, polyester, brokat dan berbagai bahan baru masuk ke pasar. Penjahit mempunyai lebih banyak pilihan bahan dan model.
Lapangan pekerjaan perempuan juga bertambah.
Sekolah membutuhkan guru. Pemerintah merekrut pegawai. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan berkembang. Setelah pariwisata tumbuh pesat, terutama sejak 1970-an, hotel, restoran, bank, toko dan biro perjalanan membuka lapangan kerja baru.
Perempuan Bali yang sebelumnya banyak bekerja di sektor pertanian dan perdagangan tradisional semakin sering terlihat di ruang kerja modern.
Pakaian mengikuti tempat mereka bekerja. Seragam sekolah, pakaian kantor, rok, kemeja, celana panjang dan seragam hotel masuk ke kehidupan sehari-hari. Pilihan pakaian tidak lagi terutama ditentukan desa, adat atau pekerjaan di sawah.
Pertumbuhan pariwisata membawa perubahan yang lebih jauh. Penghasilan meningkat pada sebagian masyarakat, kota berkembang dan kegiatan konsumsi ikut berubah. Denpasar serta kawasan pariwisata di Badung menjadi tempat bertemunya berbagai model pakaian.
Kebaya tidak tersingkir. Bentuknya malah semakin beragam.
Ida Ayu Mahadewi dari Program Studi Desain Mode ISI Bali menelusuri perkembangannya dalam penelitian Transformasi Desain Kebaya Bali: Menelusuri Perkembangan dari Tradisional hingga Kontemporer yang dimuat Segara Widya pada 2025. Penelitian melalui studi pustaka, wawancara dengan perancang dan pengamatan kebaya itu menemukan perubahan pada bahan, motif serta teknik pembuatan, dengan teknologi, globalisasi dan media sosial ikut memengaruhinya.
Perubahan tersebut mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Brokat, satin dan berbagai bahan lain masuk ke lemari pakaian. Potongan kebaya berubah mengikuti selera. Model yang sedang digemari cepat masuk ke toko kain dan penjahit. Pelanggan cukup membawa foto untuk menunjukkan pakaian yang ingin dibuat.
Telepon pintar dan media sosial mempercepat peredarannya.
Model kebaya yang muncul dalam pesta perkawinan atau unggahan figur publik dapat segera berpindah ke layar telepon ribuan orang. Instagram, Facebook dan platform video menjadi etalase bagi penjahit, butik dan perancang busana.
Upacara adat ikut membentuk pasar. Perkawinan membutuhkan pakaian khusus. Acara keluarga mendatangkan pesanan kebaya dan kamen. Foto pranikah dan dokumentasi upacara membuat busana mendapat perhatian lebih besar dibanding beberapa dekade sebelumnya.
Di belakang pakaian itu bekerja toko kain, penjahit, perancang, butik, penyewaan busana, perias hingga fotografer.
Pemerintah Bali kemudian ikut memperluas penggunaan pakaian adat melalui Pergub Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali. Aturan itu menetapkan penggunaan busana adat antara lain pada Kamis, Purnama dan Tilem di lingkungan lembaga pemerintah maupun swasta. Untuk perempuan, unsur busananya sekurang-kurangnya terdiri atas kebaya, kamen dan selendang, dengan ketentuan menggunakan produk lokal Bali.
Kebijakan tersebut terutama ditujukan untuk memperkuat adat dan kebudayaan Bali. Dampaknya juga sampai ke pasar. Orang membutuhkan kain, kebaya, kamen dan perlengkapan pakaian adat dalam jumlah yang lebih besar. Penjahit dan pedagang memperoleh permintaan yang berulang.
Perjalanan pakaian perempuan Bali selama lebih dari satu abad akhirnya sulit dimasukkan ke dalam rumus sederhana tentang ekonomi dan mode.
Di Barat pernah populer gagasan Hemline Index: ketika ekonomi makmur, rok perempuan disebut cenderung semakin pendek, sedangkan ketika ekonomi memburuk panjang rok bergerak ke bawah.
Dua peneliti Erasmus School of Economics, Marjolein van Baardwijk dan Philip Hans Franses, pernah mengujinya menggunakan data panjang rok periode 1921-2009. Dalam laporan The Hemline and the Economy: Is There Any Match? pada 2010, mereka memang menemukan hubungan dengan siklus ekonomi, tetapi perubahan panjang rok tertinggal sekitar tiga tahun. Hasil itu membuat panjang rok sulit digunakan sebagai penunjuk keadaan ekonomi saat itu juga.
Bali mempunyai perjalanan yang berbeda.
Ketika ekonominya masih sangat bergantung pada pertanian, perempuan dapat bekerja dengan bagian atas tubuh terbuka. Ketika pendidikan, pemerintahan kolonial dan hubungan dengan dunia luar berkembang, pakaian menjadi semakin tertutup. Setelah pariwisata memperbesar ekonomi Bali, model pakaian justru semakin beragam.
Perubahannya tidak mengikuti panjang atau pendek kain.
Yang lebih mudah dilihat adalah masyarakat yang berubah di belakang pakaian tersebut. Pekerjaan bergeser, perempuan masuk sekolah dan kantor, pariwisata membuka lapangan kerja, teknologi tekstil berkembang, sementara media sosial membuat mode bergerak jauh lebih cepat.
Karena itu sebuah foto perempuan Bali yang dibuat seratus tahun lalu bisa dibaca lebih jauh daripada sekadar soal pakaian.
Perempuan yang sedang menenun dengan kain sederhana pada foto 1920-an hidup dalam ekonomi dan lingkungan sosial yang berbeda dengan pegawai perempuan di Denpasar yang mengenakan kebaya ke kantor pada hari penggunaan busana adat. Yang berubah di antara keduanya bukan hanya kain yang menempel di tubuh.
Bali juga berubah.
Tidak seluruh perubahan itu tercatat lewat angka pertumbuhan ekonomi atau jumlah hotel. Sebagiannya dapat ditemukan pada benda yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: kamen, kebaya dan cara perempuan Bali berpakaian. (*)
Menot Sukadana