Inflasi Gengsi
DUA ketakutan yang sedang berbenturan keras di Bali hari ini. Pekerja takut tidak bisa makan. Pengusaha takut tidak bisa bayar gaji.
Pemicunya satu: usulan UMP Rp5,2 juta. Secara hitungan Kebutuhan Hidup Layak (KHL), angka itu sangat rasional. Tapi memaksakan kenaikan dari Rp3,2 juta menjadi Rp5,2 juta secara serentak, itu bikin jantungan.
Bagi korporasi besar berskala dolar di selatan Bali, itu mungkin cuma riak kecil. Tapi bagi rumah makan, bengkel, dan UMKM di Dalung atau Denpasar, itu ancaman gulung tikar.
Bali itu keras. Data BPS membuktikan. Lebih dari separuh pengeluaran lari ke urusan nonmakanan. Kos. Bensin. Kuota internet. Dan jangan lupa pajak tak kasat mata: urusan sosial komunal. Ada iuran banjar. Ada urunan yadnya. Ada kewajiban menyama braya.
Itu pengeluaran wajib. Mengunci dompet pekerja lokal. Uang Rp5 juta hari ini, beda rasanya dengan lima tahun lalu. Inflasi pelan-pelan mencekik.
Di titik ini, perdebatan selalu buntu. Mari kita geser sedikit. Anggaplah tuntutan itu gol. Gaji benar-benar naik. Apakah pekerja otomatis sejahtera?
Belum tentu. Banyak yang sinis: "Buruh miskin itu karena tidak pintar ngatur uang". Itu argumen sesat. Gaji Rp3,2 juta tapi butuh Rp5,2 juta itu bukan masalah literasi. Itu murni defisit. Upah layak itu hak dasar. Ia memberi ruang napas.
Tapi awas. Ruang napas itu bisa langsung tersumbat lagi oleh penyakit lain. Penyakit itu bernama: inflasi gengsi.
Apalagi di Indonesia. Penyakit keuangannya ganjil. Akses tinggi. Tembus 93 persen. Tapi yang paham hanya 69 persen. Gampang berutang. Susah membayar. Rekening ada. Dompet digital penuh. Paylater selalu siap melayani ego.
Bayangkan pekerja yang gajinya tiba-tiba naik sejuta. Lalu apa yang terjadi? Gaji naik, gaya hidup minta ikut terbang. Standar konsumsi dipaksa menyesuaikan status. Merasa sudah naik kelas.
Dulu lapar cukup diredam sebungkus nasi jinggo. Kini merasa turun gengsi kalau tidak memesan makanan kekinian lewat aplikasi. Dulu ke mana-mana nyaman dan bersyukur pakai Scoopy. Begitu gaji naik, mata gatal melirik brosur cicilan Vespa Primavera. Dulu percaya diri dengan kaus polos, kemeja flanel, dan topi pet. Kini merasa wajib pamer pakaian bermerek di mal.
Gaji boleh saja bertambah sejuta. Tapi kalau gengsi ikut naik sejuta dua ratus, hitungannya jadi minus. Secara nominal tampak makmur. Secara finansial malah berdarah. Kita hanya sedang merawat kemiskinan dengan cara yang lebih bergaya.
Jika kelak UMP Bali benar-benar menyentuh lima juta, masalah tidak lantas selesai. Wajahnya saja yang berubah. Hari ini, jeritan pekerja berbunyi: "Gaji saya tidak cukup untuk hidup." Kelak, jeritannya berganti: "Gaji saya naik, kok tabungan tetap nol?"
Mencukupkan upah dari tanggal satu ke tanggal tiga puluh itu urusan bertahan hidup. Tapi menaklukkan gengsi agar sisa rupiah sudi menetap di dompet.... rupanya jauh lebih berat. (*)
Menot Sukadana