Podiumnews.com / Kolom / Opini

Sepeda Motor Mahal di Kos Murah

Oleh Nyoman Sukadana • 07 Oktober 2026 • 16:29:00 WITA

Sepeda Motor Mahal di Kos Murah
Angga Wijaya (Vector/AI)

Oleh Angga Wijaya*

DI Denpasar, sepeda motor bukan sekadar alat untuk berpindah tempat. Ia seperti bagian dari identitas seseorang. Terparkir di depan kos, mengilap setelah dicuci, menjadi benda pertama yang terlihat ketika seseorang pulang kerja. Kita mengenali seseorang bukan hanya dari wajahnya, tetapi juga dari kendaraan yang dibawanya.

Pemandangan semacam itu sudah menjadi keseharian di Denpasar dan Badung. Jalanan dipenuhi sepeda motor sejak pagi. Orang berangkat bekerja, mengantar anak, pergi kuliah, membeli makanan, sampai mencari hiburan dengan kendaraan yang sama. Bagi banyak orang, sepeda motor bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Kendaraan itu juga semakin mudah dimiliki. Sistem kredit dan leasing membuat seseorang tidak perlu menunggu sampai memiliki uang tunai yang cukup. Dengan uang muka dan cicilan bulanan, kendaraan yang harganya puluhan juta rupiah terasa lebih dekat. Harga besar berubah menjadi angka kecil yang harus dibayar setiap bulan.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Kita bisa menemukan sepeda motor baru dengan harga hingga puluhan juta rupiah terparkir di depan kos sederhana. Kendaraan yang jika dibayar tunai bisa mencapai sekitar Rp39 juta, sementara orang yang mengendarainya masih menyewa kamar dan belum memiliki rumah sendiri.

Tentu tidak ada yang salah dengan tinggal di kos. Bagi pekerja dari luar daerah, kos adalah pilihan yang masuk akal. Bagi sebagian orang, kamar kos bahkan sudah menjadi rumah dalam pengertian paling praktis. Persoalannya muncul ketika kemampuan membeli kendaraan tumbuh lebih cepat daripada kemampuan memiliki tempat tinggal.

Kita sanggup membayar cicilan sepeda motor selama bertahun-tahun. Tetapi belum tentu sanggup membayar uang muka rumah. Kita bisa mengganti kendaraan beberapa tahun sekali, sementara alamat tempat tinggal tidak banyak berubah. Di situlah sebuah pertanyaan muncul tentang cara kita menentukan kebutuhan.

Pada 2026, UMP Bali ditetapkan Rp3.207.459. UMK Denpasar sebesar Rp3.499.879 dan UMK Badung Rp3.791.003. Angka tersebut tentu tidak menggambarkan seluruh pendapatan pekerja Bali. Namun, ia memberi gambaran tentang besarnya penghasilan minimum ketika berhadapan dengan biaya hidup kawasan perkotaan.

Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali pada Mei 2026 menyebut kebutuhan hidup layak di Bali berada di kisaran Rp5 juta. Jarak antara angka upah minimum dan kebutuhan hidup itu memperlihatkan persoalan yang sederhana. Penghasilan harus dibagi untuk terlalu banyak kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Kos harus dibayar. Beras harus dibeli. Listrik, internet, bensin, obat, pulsa, dan kebutuhan keluarga menunggu. Lalu, di antara semua itu, ada cicilan sepeda motor yang harus dibayarkan setiap bulan. Gaji yang masuk sudah memiliki banyak tujuan sebelum sempat benar-benar kita rasakan.

Cicilan membuat benda mahal terasa lebih murah. Rp39 juta terdengar berat jika disebut sekaligus. Tetapi ketika berubah menjadi uang muka dan angsuran bulanan, angka tersebut terasa lebih mungkin dijangkau. Kita tidak lagi melihat keseluruhan harga. Kita hanya melihat berapa yang harus dibayar bulan ini.

Mungkin di situlah kita mulai terbiasa dengan utang. Bukan hanya utang untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga utang untuk membuat kehidupan terlihat lebih baik. Sepeda motor baru, ponsel baru, perabot baru, dan berbagai benda memberikan kesenangan segera. Pembayarannya bisa ditunda, tetapi keinginannya bisa dipenuhi sekarang.

Di halaman kos, persoalan itu terlihat sederhana. Kamar-kamar berdiri berderet. Jemuran bergantung di depan pintu. Sandal berserakan. Di antara semua itu, sepeda motor baru terparkir dengan bodi yang masih mengilap. Pemandangan tersebut terlalu sering kita lihat sehingga terasa biasa.

Namun, jika berhenti sebentar, ada sesuatu yang ganjil. Kendaraan yang nilainya puluhan juta rupiah berada di depan kamar yang mungkin hanya beberapa meter persegi. Benda yang membawa kita ke mana-mana sudah dimiliki, sementara tempat untuk benar-benar menetap masih menjadi impian.

Denpasar dan Badung memang membutuhkan kendaraan pribadi. Orang harus bergerak dari tempat tinggal menuju tempat kerja. Pekerja bisa tinggal di satu wilayah dan bekerja di wilayah lain. Jarak, kemacetan, serta pola ruang kota membuat sepeda motor menjadi pilihan yang praktis.

Ketika transportasi umum belum menjadi pilihan utama bagi banyak warga, kendaraan pribadi semakin sulit ditinggalkan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar menyalahkan orang yang membeli sepeda motor. Pilihan tersebut juga lahir dari keadaan kota dan kebutuhan orang untuk terus bergerak.

Sepeda motor membantu orang bekerja, mencari nafkah, mengantar keluarga, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat bertahan di tengah kota yang terus bergerak. Tetapi kebutuhan kemudian bertemu dengan gengsi, terutama ketika benda yang kita miliki ikut menentukan bagaimana orang lain melihat kita.

Kita hidup dalam masyarakat yang mudah silau oleh penampilan. Barang yang terlihat sering lebih cepat memperoleh pengakuan. Kendaraan baru memberikan kesan tertentu. Ia mengirim pesan tanpa harus berbicara bahwa pemiliknya mampu membeli sesuatu yang baru. Sebelum mengenal pemiliknya, kendaraannya sudah lebih dulu bercerita.

Kita mungkin tidak mengatakannya secara terbuka. Namun, kita tahu bagaimana masyarakat membaca benda. Motor lama sering dianggap biasa. Motor baru menarik perhatian. Motor murah tidak banyak dibicarakan. Motor dengan harga puluhan juta rupiah bisa menjadi bahan percakapan.

Barangkali karena itu kita sering membeli sesuatu bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga untuk dilihat. Kita ingin terlihat berhasil. Kita ingin menunjukkan bahwa kehidupan sedang berjalan ke arah yang lebih baik. Masalahnya, keberhasilan yang terlalu bergantung pada penampilan mudah membuat kita lupa menghitung kemampuan sendiri.

Penghasilan tetap, sementara keinginan terus bertambah. Ketika pendapatan tidak cukup mengikuti gaya hidup, cicilan menjadi jalan yang terasa paling mudah. Keinginan pun berubah menjadi kewajiban bulanan. Padahal cicilan tidak menghilangkan harga. Ia hanya membaginya ke dalam waktu.

Harga itu tetap datang setiap bulan bersama tagihan lain. Gaji yang baru diterima sudah memiliki banyak alamat sebelum sempat kita nikmati. Untuk kos, makan, bensin, keluarga, dan cicilan yang belum selesai. Karena itu, saya sering membayangkan sepeda motor bekas yang dibeli secara tunai.

Bentuknya mungkin tidak sempurna. Catnya mulai pudar. Joknya pernah rusak lalu diperbaiki. Mesinnya tidak lagi sehalus kendaraan baru. Tetapi setiap kali pemiliknya menghidupkan mesin, tidak ada cicilan yang ikut menyala di kepalanya. Ia sudah lunas.

Ada rasa lega dalam kata sederhana itu. Saya lebih menyukai sepeda motor bekas yang dibeli lunas daripada sepeda motor baru yang harganya mendekati sebuah mobil keluarga lama, tetapi masih harus dicicil bertahun-tahun. Bukan karena kendaraan baru itu buruk.

Bukan pula karena semua cicilan merupakan keputusan yang keliru. Saya hanya melihatnya dari sisi yang berbeda. Benda yang sudah lunas memberikan ruang. Ruang untuk menabung, membantu keluarga, menghadapi sakit, menghadapi kehilangan pekerjaan, atau merencanakan sesuatu tanpa terus memikirkan tagihan yang belum selesai.

Kita sering mengukur kemampuan dari apa yang berhasil dibeli. Mungkin sesekali kita perlu mengukurnya dari apa yang berhasil dilunasi. Sebab memiliki barang tidak selalu berarti mampu membelinya. Seseorang bisa memiliki kendaraan mahal karena fasilitas kredit tersedia.

Kemampuan yang sesungguhnya baru terasa ketika kehidupan tetap berjalan setelah semua cicilan dan kebutuhan dibayarkan. Di kota seperti Denpasar, ukuran keberhasilan menjadi semakin rumit. Kita hidup di tengah pertumbuhan ekonomi, pariwisata, bisnis, pembangunan, dan arus manusia dari berbagai daerah.

Namun, pertumbuhan sebuah kota tidak otomatis membuat setiap orang yang bekerja di dalamnya memiliki rumah. Sebagian tetap menyewa kamar. Sebagian berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Sebagian menabung sedikit demi sedikit. Sebagian masih berharap suatu hari dapat membeli tanah.

Di halaman tempat tinggal mereka, sepeda motor tetap menjadi kendaraan utama. Di situlah sepeda motor mahal di kos murah berubah menjadi sebuah metafora. Ia bukan hanya tentang kendaraan. Ia tentang masyarakat yang lebih mudah membeli sesuatu yang terlihat daripada sesuatu yang membutuhkan proses panjang.

Ia tentang kota yang membuat mobilitas menjadi kebutuhan, tetapi belum selalu menyediakan pilihan transportasi yang nyaman dan terjangkau. Ia tentang upah yang harus berhadapan dengan biaya hidup. Ia juga tentang gengsi yang diam-diam ikut menentukan keputusan ekonomi.

Kita ingin bergerak cepat. Kita ingin terlihat berhasil, kita ingin mengikuti zaman. Namun, mungkin kita lupa bertanya apakah kehidupan benar-benar menjadi lebih baik. Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah ketika kebutuhan dan keinginan bercampur.

Rumah bukan hanya bangunan. Ia adalah rasa aman. Tabungan bukan sekadar angka dalam rekening. Ia adalah ruang bernapas ketika keadaan berubah. Kendaraan bukan hanya simbol keberhasilan. Ia seharusnya menjadi alat yang membantu kita menjalani hidup, bukan benda yang membuat hidup terus-menerus mengejar pembayaran.

Mungkin tidak ada yang salah dengan sepeda motor mahal. Yang perlu kita pikirkan adalah kehidupan yang berada di belakang stangnya. Siapa yang mengendarainya, berapa penghasilannya, berapa harga kos yang dibayarnya, atau berapa banyak anggota keluarga yang harus ditanggung.

Berapa cicilan yang masih tersisa, berapa banyak keinginan lain yang harus ditunda karena setiap bulan sebagian penghasilan sudah lebih dulu pergi. Di depan kos, sepeda motor itu mungkin terlihat gagah. Tetapi kehidupan tidak berhenti pada apa yang terlihat dari luar.

Pada akhirnya, kita semua akan pulang ke kamar masing-masing. Meletakkan kunci di atas meja, membuka pintu, menghitung uang yang tersisa, dan menunggu tanggal gajian berikutnya. Mungkin pada saat seperti itu kita baru memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk memiliki kendaraan paling baru.

Hidup adalah tentang memiliki cukup ruang untuk bernapas. Dan barangkali, di tengah kota yang semakin penuh oleh kendaraan, sepeda motor yang paling mahal bukanlah yang harganya paling tinggi. Melainkan sepeda motor yang membuat pemiliknya harus mencicil kehidupan. (*)

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan 21 buku, terdiri atas kumpulan puisi, esai, dan karya nonfiksi. Tulisannya terbit di sejumlah media di Indonesia. Ia banyak menulis tentang Bali, kebudayaan, masyarakat, sastra, seni, dan pengalaman sehari-hari.




Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.