Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Bom yang Melahirkan Ajeg Bali

Oleh Nyoman Sukadana • 13 Oktober 2026 • 19:45:00 WITA

Bom yang Melahirkan Ajeg Bali
Ilustrasi candi bentar Bali menggambarkan turis bebas melintas, sementara pekerja tertahan pemeriksaan identitas, memperlihatkan perbedaan perlakuan terhadap sesama pendatang. (AI/Podiumnews)

Bom Bali 2002 tidak dibalas dengan amuk, tetapi kegelisahan yang ditinggalkannya melahirkan Ajeg Bali, kata yang sejak itu dipakai untuk menjaga Bali sekaligus mencurigai orang luar.

BOM di Paddy's Pub dan Sari Club, Kuta, genap berumur 24 tahun pada 12 Oktober lalu. Korbannya 202 orang tewas dan 209 orang luka. Korban tewas terbanyak warga Australia, 88 orang. Sebanyak 38 korban lainnya orang Indonesia.

Ada sisi yang jarang dibicarakan dari peristiwa itu, yaitu apa yang dilakukan orang Bali sesudahnya.

Sebulan setelah ledakan, pada Kamis malam, 14 November 2002, warga Kuta mengarak air suci yang diambil dari 30 pura di Bali, Jawa, dan Lombok. Air itu dibawa ke lokasi ledakan dan dipercikkan ke tanah dan ke orang-orang yang hadir.

Esok harinya digelar upacara besar Pemarisudha Karipubhaya untuk menyucikan tempat itu. Hampir 5.000 polisi berjaga.

Jawaban dari Pura

Upacara itu jawaban Bali atas bom. Dalam keyakinan Hindu Bali, tempat yang tercemar kematian dan kekerasan menjadi leteh, kotor secara niskala atau tak kasatmata. Keseimbangannya harus dipulihkan lewat upacara penyucian. Pelaku diurus polisi. Tempatnya diurus pemangku.

Cara ini patut dicatat. Bali punya alasan untuk marah. Pariwisata, sumber utama ekonomi Bali, ambruk hampir dalam semalam. Negara-negara tetangga mengeluarkan peringatan perjalanan dan hotel kosong.

Menurut International Crisis Group, lembaga riset konflik yang berbasis di Brussel, lebih dari 30 ribu orang Bali kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata. Para pelaku juga datang dari luar Bali.

Tetapi kemarahan itu tidak berubah menjadi kerusuhan. Jawaban pertama Bali adalah upacara. Enam hari setelah ledakan, pemangku memimpin doa di lokasi ledakan, dihadiri umat Hindu, Kristen, dan Islam. Sebagian orang Bali bahkan merasa bersalah karena gagal menjaga tamu mereka.

Lahirnya Sebuah Kata

Kegelisahan itu mencari bentuk lain. Bentuknya sebuah kata: ajeg.

Dalam bahasa Bali, ajeg berarti tegak, kokoh, tidak goyah. Kata ini dipopulerkan Satria Naradha, pemimpin Kelompok Media Bali Post, di tengah keterpurukan setelah bom.

Kelompok media terbesar di Bali itu menjadikannya kampanye lewat koran dan televisinya. Ada penandatanganan prasasti komitmen, ada safari ke kabupaten dan kota. Pejabat dan anggota dewan bersumpah menjaga Ajeg Bali saat dilantik.

Masalahnya, tidak ada yang tahu persis apa arti Ajeg Bali. Pamela Allen dan Carmencita Palermo, dua peneliti dari Universitas Tasmania, Australia, yang mewawancarai banyak orang Bali pada 2003 dan 2004, menemukan maknanya berbeda-beda tergantung siapa yang bicara. Kesimpulan mereka, justru karena kabur, kata itu mudah dipakai untuk kepentingan tertentu.

Sepuluh tahun kemudian, Gede Indra Pramana, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, sampai pada kesimpulan serupa. Ia menyebut Ajeg Bali penanda kosong, kata yang bisa diisi apa saja oleh siapa saja.

Benteng yang Terbuka

Sejarawan Belanda Henk Schulte Nordholt punya istilah yang tepat untuk Bali pada masa itu. Dalam bukunya, Bali: An Open Fortress (2007), ia menyebut Bali benteng yang terbuka.

Bali bergantung pada orang luar: turis, investor, dan tenaga kerja murah. Pada saat yang sama, orang Bali merasa terancam oleh orang luar, entah itu investor besar, gaya hidup Barat, atau Islam. Bali membuka gerbangnya sambil terus memeriksa siapa yang masuk.

Ajeg Bali hidup di dalam ketegangan itu. Wujudnya yang paling nyata adalah pengawasan terhadap penduduk pendatang.

Menurut laporan International Crisis Group pada November 2003, bom memberi alasan kuat untuk menekan arus pendatang. Setelah bom, peran pecalang, petugas keamanan desa adat, makin menonjol. Antara Oktober dan awal Desember 2002, lebih dari 8.000 pendatang dipulangkan ke Jawa.

Kartu Identitas Penduduk Musiman (Kipem) menjadi alat utama. Kabar rencana kenaikan biaya Kipem pada akhir 2002 saja sudah membuat banyak pendatang mundur, meski kenaikan itu akhirnya tidak diterapkan.

Ketakutan itu bisa dipahami. Para pelaku bom memang datang dari luar Bali. Tetapi yang kemudian diperiksa adalah pekerja pendatang biasa yang tidak ada hubungannya dengan bom.

Ada yang lebih ironis. Menurut Pramana, Ajeg Bali tidak menghentikan perubahan yang paling mengubah wajah Bali, yaitu alih fungsi lahan untuk hotel dan vila. Di tengah kuatnya modal, katanya, Ajeg Bali justru melayani kekuasaan. Pendatang miskin diperiksa Kipem-nya, sementara sawah terus berganti menjadi vila.

Setelah 24 Tahun

Monumen di Legian adalah warisan bom Bali yang paling mudah dilihat. Warisan yang lebih panjang ada di cara Bali memandang dirinya sendiri.

Upacara pada November 2002 menunjukkan Bali bisa menghadapi kekerasan tanpa membalas. Kampanye Ajeg Bali yang menyusul kemudian lebih rumit. Ia memberi orang Bali rasa percaya diri di tengah krisis, tetapi juga membuat pendatang biasa ikut dicurigai.

Entah kampanye Ajeg Bali masih seramai dulu atau tidak, perdebatan tentang pendatang dan alih fungsi lahan masih terus muncul di Bali, dengan pertanyaan yang kurang lebih sama.

Air suci dari 30 pura itu dipercikkan 24 tahun lalu untuk memulihkan keseimbangan Bali. Pariwisata sudah lama pulih; pada 2025, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai rekor 7,05 juta. Yang belum selesai adalah cara Bali menerima orang luar yang datang untuk bekerja, bukan untuk berlibur. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.