Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Kamar Kartini, Kamar Woolf

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Oktober 2026 • 01:32:00 WITA

Kamar Kartini, Kamar Woolf
Kartini menulis dari balik jeruji pingitan, Woolf menuntut kamar sendiri; surat-surat menembus dinding yang memisahkan dua zaman dan dua dunia. (Ilustrasi/Podiumnews)

Virginia Woolf berkata perempuan butuh uang dan kamar sendiri untuk menulis. Kartini menulis justru dari kamar yang tak boleh ia tinggalkan, dan dari kurungan itu lahir salah satu suara paling jernih dalam sejarah bangsa ini.

“Seorang perempuan harus memiliki uang dan kamar sendiri jika ia hendak menulis fiksi.” — Virginia Woolf

KAMAR adalah ruang paling kecil dalam sebuah rumah, tetapi sejarah pemikiran perempuan banyak ditentukan olehnya. Pada Oktober 1928, Virginia Woolf berdiri di hadapan para mahasiswi di dua kolese perempuan di Universitas Cambridge, Newnham dan Girton. Ia diminta berbicara tentang perempuan dan fiksi. Ceramah itu kemudian ia kembangkan menjadi buku tipis berjudul A Room of One’s Own, terbit pada 1929.

Tesisnya terdengar sederhana, bahkan nyaris remeh: untuk bisa menulis, seorang perempuan membutuhkan uang dan kamar sendiri. Ia menyebut angka lima ratus pound setahun dan sebuah kamar yang pintunya bisa dikunci. Tanpa keduanya, bakat sebesar apa pun akan tenggelam dalam urusan rumah tangga, ketergantungan ekonomi, dan gangguan yang tak pernah berhenti.

Tiga dekade sebelum Woolf berceramah di Cambridge, di sebuah rumah kabupaten di Jepara, seorang gadis Jawa telah menguji tesis itu dengan cara yang paling getir. Ia punya kamar, tetapi kamar itu bukan miliknya. Ia tidak boleh keluar dari sana. Namanya Raden Ajeng Kartini.

Dua Kamar Berjauhan

Kartini memasuki masa pingitan pada usia 12 tahun, setelah menamatkan sekolah dasar Belanda. Menurut adat priayi Jawa, gadis bangsawan yang beranjak dewasa harus tinggal di dalam rumah sampai ada lelaki yang melamarnya. Sekolahnya berhenti, dunia luarnya tertutup. Armijn Pane, penerjemah surat-suratnya, mencatat bahwa Kartini baru resmi keluar dari pingitan pada 1898, ketika usianya 19 tahun. Hampir tujuh tahun ia hidup di balik dinding rumah ayahnya.

Jika diukur dengan syarat Woolf, Kartini seharusnya mustahil menjadi penulis. Ia tidak punya uang sendiri, tidak punya kebebasan bergerak, dan tidak punya hak menentukan masa depannya. Kamarnya bukan ruang yang ia kunci dari dalam, melainkan ruang yang dikunci adat dari luar.

Namun justru dari kamar itulah Kartini menulis. Selama pingitan, membaca dan menulis surat menjadi teman utamanya, didukung ayahnya, Bupati Jepara, dan kakaknya, Sosrokartono. Dua kamar ini, satu di Cambridge dan satu di Jepara, sesungguhnya sedang membicarakan hal yang sama: siapa yang berhak memiliki ruang untuk berpikir.

Woolf dan Uang

Untuk memahami kekuatan argumen Woolf, kita perlu melihat bagaimana ia membangunnya. Dalam A Room of One’s Own, ia mengajak pembaca membayangkan Shakespeare punya seorang adik perempuan bernama Judith, sama berbakatnya, sama cerdasnya. Tetapi Judith tidak dikirim ke sekolah, dipaksa menikah, dan ketika nekat lari ke London untuk bermain teater, pintu-pintu tertutup baginya. Hidupnya berakhir tragis tanpa satu baris pun yang tersisa.

Judith adalah tokoh rekaan, tetapi pesannya nyata: bakat tidak lahir di ruang hampa. Ia membutuhkan syarat material. Woolf sendiri mengakui bahwa warisan dari seorang bibinya membebaskannya dari keharusan bekerja demi upah, dan kebebasan itulah yang memungkinkannya menulis.

Di sinilah Kartini menjadi bantahan yang menarik bagi Woolf, sekaligus pembuktiannya. Kartini tidak punya uang dan tidak punya kamar sendiri, tetapi ia tetap menulis. Yang tidak ia miliki adalah kebebasan untuk menerbitkan, menjadi guru, bersekolah ke Belanda, dan memilih suaminya sendiri. Suaranya hidup, tetapi tubuhnya tetap tertawan.

Bachelard dan Ruang Batin

Filsuf Prancis Gaston Bachelard menawarkan cara lain memandang kamar. Dalam La Poétique de l’espace (1958), ia menulis bahwa rumah dan sudut-sudutnya adalah tempat yang melindungi lamunan. Kamar bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang tempat imajinasi bisa tumbuh tanpa gangguan dunia luar.

Bagi Kartini, pingitan memaksa tubuhnya diam, tetapi justru membuat pikirannya bergerak jauh. Ia membaca buku-buku dan majalah berbahasa Belanda, mengikuti perdebatan tentang hak perempuan di Eropa, dan menimbang nasib perempuan Jawa dari balik dinding. Kamar yang dimaksudkan untuk membungkamnya berubah menjadi ruang batin yang luas.

Khazanah Jawa sebenarnya mengenal gagasan serupa melalui laku tapa, menyepi dan menahan diri dari dunia ramai untuk mengasah batin. Para satria dalam pewayangan bertapa di gua atau hutan sebelum kembali membawa kesaktian. Kartini tidak memilih pingitannya, dan pingitan bukanlah pertapaan. Tetapi ia memperlakukan kurungan itu seperti seorang pertapa memperlakukan guanya: sebagai tempat menajamkan pikiran.

Jendela Bernama Surat

Jika kamar Woolf punya pintu yang bisa dikunci, kamar Kartini punya jendela. Jendela itu bernama surat.

Pada 1899, setahun setelah keluar dari pingitan, Kartini memasang iklan mencari sahabat pena di majalah feminis Belanda, De Hollandsche Lelie. Iklan itu dijawab Stella Zeehandelaar, seorang perempuan muda feminis dari Amsterdam. Surat pertama Kartini kepada Stella bertanggal 25 Mei 1899, dikirim dari Jepara.

Lewat surat, Kartini keluar dari kamarnya tanpa melangkahkan kaki. Ia mengkritik poligami, menggugat feodalisme yang membuat priayi disembah, menuntut pendidikan bagi perempuan, dan menimbang agama serta tradisinya sendiri dengan jujur. Surat adalah bentuk tulisan paling pribadi, tetapi di tangan Kartini ia berfungsi seperti esai: pikiran yang sedang bergerak, menimbang, dan berani berbeda pendapat.

Ironinya, jendela itu tidak membebaskan tubuhnya. Pada 8 November 1903, Kartini menikah dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat, Bupati Rembang, yang telah memiliki tiga istri. Pada 13 September 1904 ia melahirkan putranya, Soesalit, dan empat hari kemudian Kartini meninggal dunia dalam usia 25 tahun. Surat-suratnya baru terbit pada 1911, dihimpun oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht, yang kemudian kita kenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.

Membaca Kamar Kita

Lebih dari satu abad kemudian, pertanyaan Woolf dan Kartini belum selesai. Perempuan Indonesia hari ini boleh bersekolah setinggi mungkin, bekerja, dan menerbitkan tulisannya. Tetapi apakah mereka sudah punya kamar sendiri dalam arti yang dimaksud Woolf, yaitu waktu, uang, dan ruang yang tidak terus-menerus diminta oleh urusan rumah tangga dan pekerjaan?

Di Bali, Oka Rusmini menjawab pertanyaan itu lewat novelnya, Tarian Bumi (2000), yang menggugat beban kasta dan adat yang dipikul perempuan. Novel itu lahir dari keberanian seorang perempuan Bali untuk menulis tentang dunianya sendiri, sesuatu yang di masa Kartini nyaris mustahil.

Namun kamar baru juga punya dinding baru. Perempuan penulis kini menghadapi beban ganda pekerjaan dan rumah, serta serangan di media sosial ketika pendapatnya dianggap terlalu keras. Pingitan mungkin sudah hilang, tetapi bentuk-bentuk pembatasan yang lebih halus masih bekerja.

Kamar yang Tak Dimiliki

Pada akhirnya, Woolf dan Kartini mengajarkan dua pelajaran yang saling melengkapi. Woolf benar bahwa menulis membutuhkan syarat material, dan masyarakat yang adil wajib menyediakannya bagi perempuan. Kartini membuktikan bahwa ketika syarat itu dirampas, pikiran yang jernih tetap bisa menemukan jendelanya sendiri.

Kartini tidak pernah memiliki kamar sendiri. Ia lahir di rumah ayahnya, dipingit di sana, menikah ke rumah suaminya, dan meninggal tak lama sesudahnya. Tetapi surat-surat yang ia tulis dari kamar pinjaman itu kini dibaca jutaan orang. Mari kita pastikan tidak ada lagi perempuan yang harus menulis dari balik dinding yang dikunci orang lain. Karena kamar sendiri bukanlah kemewahan, melainkan syarat paling dasar bagi sebuah pikiran untuk merdeka. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.