Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Nobel untuk Telinga Wartawan

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Oktober 2026 • 02:46:00 WITA

Nobel untuk Telinga Wartawan
Ribuan suara orang biasa yang direkam selama puluhan tahun menjadi jalan Svetlana Alexievich, wartawan desa Belarus, menuju Nobel Sastra 2015. (Ilustrasi/Podiumnews)

Svetlana Alexievich memulai kariernya di koran desa dan dimahkotai Nobel Sastra karena kesabarannya mendengar. Namun untuk sampai ke Stockholm, ia menanggalkan satu disiplin paling dasar seorang wartawan.

“Saya adalah telinga manusia.” — Svetlana Alexievich

TELEPON dari Stockholm itu datang ketika Svetlana Alexievich sedang menyetrika di rumahnya di Minsk, Belarus, pada 8 Oktober 2015. Di ujung sana, Akademi Swedia mengabarkan bahwa ia meraih Nobel Sastra. Belakangan Alexievich mengaku perasaannya rumit. Hadiah itu, katanya, akan membeli kebebasannya untuk menulis buku-buku berikutnya.

Komite Nobel memberinya penghargaan untuk tulisan-tulisan polifonik, yang mereka sebut monumen bagi penderitaan dan keberanian di zaman kita. Banyak media menyebutnya wartawan pertama peraih Nobel Sastra. Hemingway dan García Márquez memang pernah bekerja di koran, tetapi mereka dimahkotai untuk fiksi. Alexievich dimahkotai justru untuk karya yang lahir dari kerja wartawan.

Kabar itu disambut gembira oleh para wartawan di banyak negeri. Akhirnya, salah satu dari mereka sampai ke puncak sastra dunia, bukan lewat novel atau puisi, melainkan lewat pekerjaan yang paling akrab bagi setiap wartawan: mendengar orang bicara. Namun ada ironi yang jarang disinggung. Alexievich sendiri menolak disebut wartawan.

Dari Koran Desa

Perjalanan Alexievich dimulai jauh dari gemerlap Stockholm. Lahir pada 31 Mei 1948 di Ivano-Frankivsk, Ukraina, dari ayah Belarus dan ibu Ukraina yang sama-sama guru, ia tumbuh di pedesaan Belarus. Pada 1967 ia masuk jurusan jurnalistik Universitas Minsk, lalu bekerja sebagai reporter koran lokal di kota kecil Narovl, kemudian di koran Beresa sambil mengajar di sekolah setempat.

Dari koran-koran kecil itu ia pindah ke Minsk, bekerja di koran pedesaan Sel’skaja Gazeta, lalu menjadi kepala rubrik nonfiksi majalah sastra Neman. Di sinilah ia bertemu gurunya, Ales Adamovich, penulis Belarus yang menyusun buku dari kesaksian orang-orang yang selamat dari pembantaian desa-desa di masa perang. Dari Adamovich, Alexievich belajar satu prinsip: jangan mengarang apa pun, biarkan saksi berbicara.

Ia kemudian mengembangkan bentuk tulisan yang ia sebut “novel suara”. Tidak ada tokoh rekaan, tidak ada alur buatan. Yang ada hanya ratusan, bahkan ribuan, suara orang biasa yang ia rekam dengan pita kaset, lalu ia susun menjadi satu bangunan besar. Setiap buku menghabiskan lima sampai sepuluh tahun kerja.

Buku yang Ditahan

Buku pertamanya yang menggetarkan, The Unwomanly Face of War, berisi kesaksian ratusan perempuan Soviet yang ikut bertempur dalam Perang Dunia II: penembak jitu, perawat garis depan, pilot, tukang cuci tentara. Buku itu rampung pada 1983, tetapi tertahan dua tahun di penerbit. Pihak berwenang menuduhnya pasifis, terlalu naturalis, dan merendahkan citra pahlawan perempuan Soviet.

Ketika akhirnya terbit pada 1985, buku itu terjual lebih dari dua juta eksemplar. Pembaca Soviet, yang selama puluhan tahun hanya mengenal perang lewat kisah kepahlawanan resmi, untuk pertama kalinya mendengar perang dari mulut perempuan yang mengalaminya, tentang ketakutan dan tubuh perempuan di garis depan.

Bukunya tentang perang Afghanistan, Zinky Boys (1989), menyulut kemarahan koran-koran militer dan komunis. Pada 1992 ia diadili di Minsk, sebelum perkaranya akhirnya ditutup. Disusul Chernobyl Prayer (1997) dan Secondhand Time (2013). Lima buku itu ia anggap satu siklus, sejarah sebuah utopia yang diceritakan oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.

Menariknya, dua tahun sebelum Nobel, Secondhand Time meraih Prix Médicis di Prancis, bukan untuk kategori novel, melainkan untuk kategori esai. Karya yang kelak dimahkotai sebagai sastra tertinggi itu lebih dulu diakui sebagai esai.

Bakhtin dan Banyak Suara

Kata kunci dalam alasan komite Nobel adalah polifonik. Istilah itu berasal dari Mikhail Bakhtin, pemikir Rusia yang pada 1929 menulis buku tentang novel-novel Fyodor Dostoevsky. Bakhtin melihat sesuatu yang istimewa pada Dostoevsky: tokoh-tokohnya tidak sekadar menjadi corong pengarang. Masing-masing berbicara dengan suaranya sendiri, berdebat, saling membantah, dan pengarang tidak selalu memenangkan salah satunya. Bakhtin menyebutnya polifoni, banyak suara yang berdiri setara.

Alexievich memindahkan gagasan itu dari novel ke kenyataan. Dalam bukunya, yang berbicara bukan tokoh rekaan, melainkan istri petugas pemadam kebakaran Chernobyl, ibu prajurit yang pulang dalam peti seng, perempuan tua yang merindukan Uni Soviet. Sara Danius, Sekretaris Akademi Swedia, menyebut karyanya sejarah emosi, sejarah jiwa, dan genre sastra yang baru.

Dalam pidato Nobelnya, Alexievich mengutip Dostoevsky, penulis yang menjadi pokok kajian Bakhtin: umat manusia tahu jauh lebih banyak tentang dirinya daripada yang pernah dicatat sastra. Ia juga mengingatkan bahwa Flaubert menyebut dirinya pena manusia, sedangkan ia sendiri memilih menjadi telinga manusia. Di sinilah letak kekuatannya: ia tidak sedang menciptakan cerita, melainkan mengumpulkan sejarah yang luput dari buku-buku resmi, kehidupan batin orang biasa.

Kesaksian yang Disunting

Namun lensa Bakhtin bisa bekerja dua arah. Polifoni menuntut setiap suara berdiri sendiri. Lalu bagaimana jika suara-suara itu disunting, dipindahkan, dan diseragamkan oleh satu tangan?

Pertanyaan itu diajukan Sophie Pinkham dalam ulasannya di The New Republic pada Agustus 2016. Ia membandingkan edisi lama dan edisi baru kesaksian yang sama, dan menemukan perubahan: kata-kata dipindahkan, bagian-bagian dihapus atau ditambahkan, umur narasumber tidak konsisten, bahkan ada ungkapan yang berpindah dari satu narasumber ke narasumber lain. Menurut Pinkham, Alexievich tidak memverifikasi kesaksian dan memilih cerita karena kekuatan naratifnya, bukan karena mewakili kenyataan. Kesimpulannya, karya itu sastra, bukan jurnalisme.

Alexievich sebenarnya tidak menyembunyikan sikapnya. Dalam pidato Nobel, ia mengatakan tidak ada batas tegas antara fakta dan rekaan, karena saksi tidak pernah netral. Ia menolak disebut reporter. Ia mewarisi gagasan gurunya, Adamovich, tentang “sastra super”, sesuatu di atas dokumen, tempat saksi sendiri yang berbicara.

Di sinilah ironi judul esai ini. Nobel 2015 memang menghormati telinga seorang wartawan, kesabarannya mendengar ribuan orang selama hampir empat puluh tahun. Tetapi untuk sampai ke Stockholm, telinga itu menanggalkan pasangannya: kebiasaan memeriksa apa yang didengar.

Seno dan Saksi Mata

Indonesia punya kisah penyeberangan serupa, hanya lewat pintu yang berbeda. Pada November 1991, majalah Jakarta-Jakarta memberitakan tragedi Santa Cruz di Dili. Beberapa hari setelah diperiksa di Pusat Penerangan ABRI, redaktur pelaksananya, Seno Gumira Ajidarma, dinonaktifkan pada Januari 1992.

Seno tidak berhenti. Fakta yang tak boleh lagi ia beritakan ia pindahkan ke dalam cerita pendek, yang kemudian terhimpun dalam Saksi Mata (1994). Ia merumuskan sikapnya dalam judul buku esainya: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.

Alexievich dan Seno sama-sama wartawan yang menyeberang ke sastra. Bedanya, Seno menyeberang karena faktanya dibungkam, sehingga ia meminjam baju fiksi agar kebenaran tetap sampai. Alexievich menyeberang karena merasa fakta saja tidak cukup, sehingga ia menyusun ulang suara-suara nyata menjadi sesuatu yang lebih dari dokumen. Yang satu berpura-pura mengarang agar bisa jujur. Yang lain menolak mengarang, tetapi tetap menyunting.

Dua Kesetiaan Wartawan

Telinga wartawan sesungguhnya dilatih untuk dua hal sekaligus: mendengar dengan sabar dan memeriksa dengan teliti. Mendengar tanpa memeriksa melahirkan cerita yang menyentuh tetapi rapuh. Memeriksa tanpa mendengar melahirkan laporan yang benar tetapi dingin.

Wartawan yang menulis esai memikul ketegangan itu setiap hari. Ia setia pada fakta, karena pembaca mempercayainya sebagai wartawan. Ia juga setia pada makna, karena esai menuntut lebih dari sekadar data. Alexievich memilih makna dan menanggung kritik atas fakta. Seno memilih fiksi untuk menyelamatkan fakta.

Pada akhirnya, Nobel 2015 adalah pengakuan bahwa kesabaran mendengar orang biasa, pekerjaan sehari-hari para wartawan di koran-koran kecil, bisa sampai ke puncak sastra dunia. Tetapi kisah Alexievich juga mengingatkan bahwa telinga saja tidak cukup. Mari kita rawat keduanya, telinga yang sabar dan mata yang teliti, karena tulisan yang paling bermartabat lahir ketika seorang penulis setia pada suara orang lain sekaligus pada kebenaran yang mereka percayakan kepadanya. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.