Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Esais Selalu Punya Nama Lain

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Oktober 2026 • 03:17:00 WITA

Esais Selalu Punya Nama Lain
Atribut hakim, juru tulis, wartawan, dan penyair tergantung, sementara pena di meja menunggu sang esais yang selalu punya nama lain. (Ilustrasi/Podiumnews)

Hampir tak ada orang yang hidup sebagai esais semata. Mereka hakim, juru tulis, wartawan, penyair, atau profesor yang menulis di sela pekerjaan. Edward Said menyebut mereka amatir, dan di Bali semangat itu punya nama: ngayah.

“Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis.” — Mahbub Djunaidi

MAHBUB DJUNAIDI punya terlalu banyak nama untuk satu kartu nama. Ia ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah memimpin GP Ansor, menjadi wakil ketua PBNU, dan duduk di DPR-GR. Ia memulai karier sebagai wartawan harian Duta Masyarakat pada 1958, memimpin redaksinya sepanjang 1960 sampai 1970, dan menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia pada 1965 hingga 1970. Ia menulis novel Dari Hari ke Hari dan menerjemahkan Animal Farm karya George Orwell menjadi Binatangisme.

Namun pembaca mengingatnya terutama lewat satu hal: kolom “Asal Usul” di harian Kompas. Sejak 23 November 1986, kolom jenaka dan menyengat itu terbit rutin, kira-kira dua pekan sekali, sampai 236 tulisan.

Ketika ditanya siapa dirinya sebagai penulis, Mahbub tidak menyebut diri esais. Ia menyebut diri generalis. Jawaban itu ternyata menyimpan rahasia tentang sebuah genre: esais hampir tidak pernah dikenal sebagai esais lebih dulu. Mereka selalu punya nama lain.

Daftar Nama Lain

Sejarah esai sejak awal adalah sejarah orang-orang dengan pekerjaan lain. Michel de Montaigne, yang melahirkan kata esai, adalah hakim di Bordeaux dan kemudian wali kota kota itu. Charles Lamb, esais Inggris abad ke-19 yang tulisannya masih diajarkan di kelas sastra, bekerja lebih dari tiga puluh tahun sebagai juru tulis di kantor dagang East India House di London. Esai-esainya ia tulis ketika masih bekerja di kantor itu, dan ia menerbitkannya dengan nama samaran: Elia.

George Orwell bahkan lebih jauh lagi. Nama itu sendiri adalah nama lain, karena nama aslinya Eric Arthur Blair. Dunia mengenalnya sebagai novelis Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four. Padahal esai-esainya, dari “Shooting an Elephant” sampai “Politics and the English Language”, dibaca sampai hari ini sebagai pelajaran tentang kejujuran menulis. Dalam “Why I Write”, Orwell mengaku cita-citanya adalah menjadikan tulisan politik sebagai seni.

Di Indonesia, polanya sama. Goenawan Mohamad menerbitkan kumpulan puisi Parikesit pada 1971 dan Interlude pada 1973, sebelum Catatan Pinggir mulai muncul di majalah Tempo pada 1976. Ia penyair lebih dulu, esais kemudian. Seno Gumira Ajidarma lebih dikenal sebagai cerpenis, padahal ia juga wartawan dan menulis buku esai. Mahbub dikenang sebagai wartawan dan politisi, padahal kolomnyalah yang paling lama bertahan di ingatan pembaca.

Esai, rupanya, adalah pekerjaan yang dilakukan orang-orang di sela pekerjaan lain. Ia lahir dari waktu yang dicuri: selepas sidang pengadilan, di sela pekerjaan kantor, sesudah tenggat redaksi.

Said dan Para Amatir

Untuk memahami mengapa demikian, kita bisa meminjam pemikiran Edward Said, kritikus sastra kelahiran Yerusalem yang mengajar di Universitas Columbia, New York. Pada 1993, ia memberikan rangkaian ceramah Reith Lectures di radio BBC, yang kemudian terbit sebagai buku Representations of the Intellectual. Salah satu ceramahnya, disiarkan pada 2 Agustus 1993, membahas profesional dan amatir.

Bagi Said, ancaman terbesar bagi intelektual modern adalah profesionalisasi: spesialisasi yang sempit, ketergantungan pada lembaga, dan kebiasaan berpikir hanya sejauh yang dibayar. Sebagai lawannya, ia menawarkan sikap amatir, yaitu kegiatan yang digerakkan oleh kepedulian dan kasih, bukan oleh keuntungan. Kata amateur sendiri berakar dari bahasa Latin amator, pencinta.

Amatir dalam pengertian Said bukan orang yang setengah-setengah. Ia adalah orang yang berani mengajukan pertanyaan moral di tengah urusan teknis, yang melintasi batas bidang karena peduli, dan yang tidak takut tersesat di luar keahliannya. Dalam ceramah lain di seri yang sama, Said menggambarkan intelektual sebagai orang buangan, seseorang yang tak pernah sepenuhnya betah di rumah mana pun.

Di sinilah letak kekuatan para esais yang punya nama lain. Karena tidak menggantungkan hidup pada esai, mereka bebas menulis tentang apa saja: Lamb tentang babi panggang dan kenangan masa kecil, Orwell tentang kemiskinan dan bahasa politik, Mahbub tentang politik, sepak bola, dan kelakuan pejabat. Said sendiri, ironisnya, dikenal lebih dulu sebagai profesor sastra dan penulis Orientalism, sebelum ceramah-ceramahnya tentang intelektual dibaca orang di seluruh dunia.

Ngayah di Ladang Kata

Gagasan Said tentang amatir sesungguhnya akrab bagi masyarakat Bali. Di pulau ini, ada tradisi yang disebut ngayah: bekerja untuk pura, banjar, atau sesama tanpa mengharap upah, digerakkan oleh bakti dan rasa memiliki. Orang menabuh gamelan saat odalan, memasak di dapur banjar, menganyam sarana upacara, atau menari di pura bukan karena dibayar, melainkan karena merasa terpanggil.

Ngayah tidak dikerjakan oleh orang yang menganggur. Ia dikerjakan oleh petani, pegawai, pedagang, dan guru yang menyisihkan waktunya di sela pekerjaan sehari-hari. Penabuh gamelan di pura bisa saja seorang sopir pada hari biasa. Penari bisa saja seorang perawat. Nama mereka di luar pura berbeda-beda, tetapi saat ngayah, semuanya bekerja untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.

Perbandingan ini tentu tidak sempurna. Mahbub, Goenawan, dan Lamb tetap menerima honor atau gaji dari tulisan mereka. Namun honor kolom jarang sebanding dengan waktu, tenaga, dan risiko yang dipertaruhkan. Yang membuat mereka terus menulis selama puluhan tahun bukanlah bayaran, melainkan kepedulian. Dalam arti itulah para esais sedang ngayah di ladang kata: menyisihkan waktu dari pekerjaan utama untuk merawat percakapan bersama tentang hidup, kekuasaan, dan makna.

Harga Sebuah Kemerdekaan

Kemerdekaan para amatir ini juga ada harganya, dan Mahbub membayarnya dengan mahal. Pada pukul tujuh pagi, 11 April 1978, polisi menangkapnya di rumahnya di Jalan Nilem, Bandung. Tulisan dan ucapannya dianggap subversif. Tanpa pengadilan, ia ditahan di Nirbaya, di belakang Taman Mini Indonesia Indah, sampai April 1979.

Di tahanan, Mahbub tidak berhenti bekerja dengan kata. Ia menerjemahkan buku, dan lembar-lembar terjemahannya diselundupkan keluar di antara pakaian kotor. Kepada seorang kawan, ia menulis surat dengan nada khasnya yang jenaka, menegaskan bahwa dirinya bukan maling.

Kisah itu menunjukkan sisi lain amatirisme. Esais yang tak bergantung pada esai untuk hidup memang bebas menulis apa saja, tetapi kebebasan itu tidak membuatnya kebal. Banyak esai bagus berhenti di tengah jalan karena penulisnya harus mencari nafkah, dipenjara, atau dibungkam. Banyak suara hilang karena pemiliknya tak lagi punya waktu yang bisa dicuri.

Ada pula pengecualian yang patut dicatat. Sebagian kecil penulis memang dikenang terutama sebagai esais, seperti William Hazlitt di Inggris, meski ia pun memulai hidupnya sebagai pelukis. Goenawan Mohamad pun, setelah puluhan tahun, barangkali kini lebih dikenal lewat Catatan Pinggir daripada lewat puisi-puisinya. Bahkan esais yang paling dikenang sebagai esais pun hampir selalu memulai dari rumah lain, lalu sampai pada esai sebagai tempat singgah yang ternyata menjadi rumah paling lama.

Rumah Tanpa Alamat

Pada akhirnya, Mahbub benar ketika menyebut dirinya generalis. Esais memang tak punya rumah tetap. Mereka berpindah dari ruang sidang ke ruang redaksi, dari kantor dagang ke kamar kerja, dari panggung politik ke halaman koran, bahkan ke ruang tahanan. Kartu nama mereka mencantumkan jabatan lain, sementara esai tumbuh di celah-celah yang tidak tercatat.

Di situlah justru kemerdekaannya. Esais yang tak bergantung pada esai untuk hidup bisa menulis tanpa terikat batas keahlian dan tanpa harus menyenangkan siapa pun. Mereka menulis seperti orang Bali ngayah: karena peduli, bukan karena dibayar. Mari kita hargai para amatir ini dan sediakan ruang yang layak bagi mereka, karena dari tangan merekalah lahir tulisan-tulisan yang paling merdeka.

Mahbub Djunaidi wafat pada 1 Oktober 1995. Seminggu kemudian, 8 Oktober 1995, tulisannya masih terbit di kolom “Asal Usul”, seolah ia belum selesai ngayah. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.