Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Koran Mati, Esai Hidup?

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Oktober 2026 • 01:04:00 WITA

Koran Mati, Esai Hidup?
Esai lahir di menara Montaigne, tumbuh di halaman koran, dan kini tercerai-berai di ribuan layar ponsel yang tak saling menjawab. (Ilustrasi/Podiumnews)

Esai lahir dari kesendirian seorang pemikir, lalu besar di halaman koran tempat ia dibaca dan dijawab bersama. Kini koran berguguran dan esai kembali menyendiri, beredar di layar ponsel tanpa halaman yang mempertemukannya dengan bantahan.

"Que sais-je? Apa yang saya tahu?" — Michel de Montaigne

ESAI tidak lahir di koran. Ia lahir di sebuah menara batu di sudut kastel di wilayah Bordeaux, Prancis, pada abad ke-16. Pada 1571, di hari ulang tahunnya yang ke-38, Michel de Montaigne meninggalkan jabatannya sebagai hakim. Di dinding ruang kecil di samping perpustakaannya, ia menuliskan dalam bahasa Latin bahwa ia telah lelah melayani pengadilan dan urusan umum, dan kini kembali ke pangkuan para dewi ilmu pengetahuan untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam ketenangan dan kebebasan.

Rencana itu gagal. Montaigne sendiri mengaku bahwa begitu terbebas dari pekerjaan, pikirannya justru berlari seperti kuda lepas, melahirkan khayalan yang aneh-aneh tanpa urutan. Untuk menjinakkannya, ia mencatat semuanya. Catatan itu ia namai Essais, yang berarti percobaan, dan terbit pada 1580.

Sejak awal, esai adalah pikiran yang sedang bergerak, bukan kesimpulan yang sudah jadi. Montaigne menulis tentang persahabatan, kematian, kanibal, kebiasaan, bahkan batu ginjalnya sendiri. Ia menulis sendirian di menaranya. Namun esai baru benar-benar hidup ketika ia keluar dari menara itu dan menemukan pembacanya.

Bertemu Kedai Kopi

Lebih dari seabad kemudian, esai menemukan rumah barunya. Pada 1711, Joseph Addison dan Richard Steele menerbitkan The Spectator di London, lembaran harian berisi esai-esai pendek tentang sopan santun, selera, dan kehidupan kota. Dalam edisi kesepuluh, Addison, melalui tokoh rekaannya Mr. Spectator, menyatakan cita-citanya dengan terang: membawa filsafat keluar dari ruang-ruang pribadi dan perpustakaan, sekolah dan perguruan tinggi, lalu menghadirkannya di klub dan perkumpulan, di meja minum teh, dan di kedai kopi.

Oplahnya hanya sekitar 3.000 eksemplar sehari, tetapi lembaran itu tersedia di kedai-kedai kopi London yang berlangganan, dibaca bergantian oleh para pengunjungnya, diperbincangkan, disetujui, dan dibantah. Di sinilah esai berubah watak. Ia tidak lagi sekadar catatan pribadi seorang bangsawan yang menyepi, melainkan percakapan publik yang dibaca banyak orang pada hari yang sama.

Senjata Pergerakan

Di Nusantara, esai tumbuh di halaman koran sebagai senjata. Pada 1913, Soewardi Soerjaningrat, yang kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, menulis "Als ik eens Nederlander was" atau "Seandainya Aku Seorang Belanda". Ia menyindir rencana pemerintah kolonial merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis dengan uang yang dipungut dari rakyat jajahan. Tulisan itu dimuat surat kabar De Expres, diterjemahkan ke bahasa Melayu, dan membuat Soewardi dibuang ke Belanda.

Dua dekade kemudian, halaman cetak menjadi gelanggang pertarungan gagasan paling bergengsi dalam sejarah kebudayaan kita. Pada 1935, Sutan Takdir Alisjahbana menulis di majalah Pujangga Baru bahwa Indonesia harus memutus diri dari masa lalu dan belajar dari dinamika Barat. Sanusi Pane, Poerbatjaraka, Ki Hadjar Dewantara, dan sejumlah tokoh lain membalas. Mereka saling menjawab selama bertahun-tahun di majalah dan surat kabar, sampai Achdiat K. Mihardja menghimpunnya menjadi buku Polemik Kebudayaan pada 1948.

Tradisi itu berlanjut di masa Orde Baru. Goenawan Mohamad merawat Catatan Pinggir di majalah Tempo, Mahbub Djunaidi menulis kolom-kolom jenaka yang menyengat, dan rubrik opini di koran-koran menjadi tempat para intelektual menimbang persoalan negeri di hadapan jutaan pembaca. Hampir semua esais besar Indonesia pernah punya satu kaki di dunia pers.

Koran Berguguran

Namun rumah itu kini rapuh. Harian Republika terbit dalam bentuk cetak untuk terakhir kalinya pada 31 Desember 2022 dan sejak 1 Januari 2023 sepenuhnya beralih ke digital. Menurut Serikat Perusahaan Pers, jumlah media cetak di Indonesia turun dari 593 pada 2021 menjadi 399 pada 2022. Hampir 200 media cetak berhenti terbit hanya dalam setahun. Survei Reuters Institute pada awal 2025 mencatat hanya 10 persen orang Indonesia yang masih mendapat berita dari media cetak.

Yang lebih menyedihkan, ruang opini sering menjadi yang pertama dikorbankan, bahkan sebelum korannya mati. Di Amerika Serikat, Gannett, pemilik sekitar 250 koran, pada 2022 memangkas halaman opini di koran-korannya menjadi hanya beberapa hari dalam seminggu. Sejumlah editor senior yang sudah pensiun menilai langkah itu tak lebih dari cara halus untuk menekan biaya.

Pindah ke Ponsel

Esai tidak ikut mati. Ia pindah. Sebagian ke platform berlangganan seperti Substack, yang menyatakan telah melewati 5 juta langganan berbayar pada Maret 2025. Sebagian besar lainnya, terutama di Indonesia, pindah ke aplikasi percakapan. Laporan Reuters Institute 2026 mencatat penggunaan WhatsApp sebagai sumber berita di Indonesia naik 13 poin persentase menjadi 56 persen.

Kini siapa pun bisa menulis esai dan menyebarkannya dalam hitungan menit, tanpa menunggu persetujuan redaktur. Esai tidak pernah sebanyak hari ini. Namun ia beredar di ribuan grup yang terpisah, pada jam yang berbeda, bercampur dengan kabar duka, ucapan selamat pagi, dan pesan berantai. Pembaca di satu grup tidak tahu siapa yang membaca di grup lain. Bantahan terhadapnya, kalau ada, berjalan di jalur lain dan belum tentu sampai kepada pembaca tulisan pertama.

Lalu, apa yang sesungguhnya hilang ketika esai meninggalkan halaman koran?

Habermas dan Ruang Publik

Untuk membedah pertanyaan itu, kita bisa meminjam pemikiran Jürgen Habermas, filsuf Jerman yang menghabiskan hidupnya memikirkan bagaimana warga biasa bisa berdebat secara bermartabat. Dalam Strukturwandel der Öffentlichkeit (1962), Habermas menggambarkan lahirnya ruang publik di Eropa abad ke-18, persis di kedai-kedai kopi tempat The Spectator dibaca, di salon-salon Paris, dan di lembaran-lembaran cetak tempat orang dari berbagai kalangan menimbang urusan bersama dengan argumen, bukan dengan pangkat atau keturunan.

Ruang publik itu bekerja karena semua orang berbicara di tempat yang sama. Sebuah tulisan dibantah di halaman yang sama, dan bantahannya dibaca oleh orang-orang yang membaca tulisan pertama. Di sinilah letak kekuatan koran: ia bukan sekadar wadah tulisan, melainkan gelanggang.

Enam dekade kemudian, dalam bukunya tentang perubahan baru ruang publik (2022), Habermas yang sudah berusia lanjut kembali ke tema yang sama. Ia mengingatkan bahwa platform digital memang menjadikan setiap orang calon penulis tanpa penjaga gerbang redaksi, tetapi sekaligus memecah ruang publik menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang saling tertutup. Setiap orang bisa bicara, namun semakin sedikit yang benar-benar saling mendengar.

Anderson dan Doa Pagi

Benedict Anderson, ilmuwan politik Universitas Cornell yang mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk meneliti Indonesia, menambahkan lapisan lain. Dalam Imagined Communities (1983), ia mengutip pengamatan Hegel bahwa membaca koran pagi telah menjadi pengganti doa pagi bagi manusia modern. Setiap orang membaca di tempatnya masing-masing, tetapi sadar ribuan orang lain sedang membaca halaman yang sama pada hari yang sama. Dari kesadaran itulah lahir komunitas yang dibayangkan.

Lensa Anderson menjelaskan mengapa esai-esai lama begitu berpengaruh. Tulisan Soewardi mengguncang karena dibaca serentak oleh banyak orang dalam waktu yang berdekatan. Polemik Kebudayaan bisa diikuti dari awal sampai akhir karena tulisan dan balasannya terbit di halaman yang dibaca oleh orang-orang yang sama. Esai menjadi peristiwa bersama, bukan bacaan pribadi.

Di layar ponsel, upacara membaca bersama itu pecah. Esai tetap dibaca, bahkan mungkin oleh lebih banyak orang daripada di masa koran. Tetapi ia dibaca sendiri-sendiri, dalam ribuan lingkaran yang tidak saling tahu.

Esai Tanpa Balasan

Pada akhirnya, perjalanan esai seperti kembali ke titik awalnya. Montaigne menulis sendirian di menaranya, dan hari ini setiap penulis kembali menulis di menaranya masing-masing, di layar ponsel dan grup percakapan yang tertutup. Bedanya, esai Montaigne akhirnya keluar dari menara itu dan dijawab oleh pembacanya selama berabad-abad. Esai hari ini justru keluar dari halaman bersama dan masuk ke ribuan menara kecil.

Koran boleh mati, dan esai akan tetap hidup, sebab manusia tidak akan pernah berhenti mencoba memahami dunianya. Namun esai yang tak pernah dijawab hanyalah percobaan yang tak pernah diuji. Mari kita bangun kembali halaman bersama itu, entah berupa rubrik opini yang dikurasi, forum yang mempertemukan tulisan dengan tanggapannya, atau ruang-ruang baru tempat esai bisa saling menjawab seperti Polemik Kebudayaan dulu. Karena esai memang lahir dari kesendirian, tetapi ia hanya bisa hidup dari percakapan. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.