Podiumnews.com / Horison / Adi Luhung

Orwell, Mochtar Lubis, dan Antrean Pertalite

Oleh Nyoman Sukadana • 15 Oktober 2026 • 01:51:00 WITA

Orwell, Mochtar Lubis, dan Antrean Pertalite
ILUSTRASI: Ketika kapal terlambat, yang dialirkan kepada warga bukan bensin, melainkan kata-kata halus yang jatuh ke tangki kosong tanpa pernah mengisinya. (Ilusttrasi/Podiumnews)

APRIL 1946, London belum selesai menyapu puing perang. Kertas masih dijatah, daging dan gula masih dijatah, dan di tengah segala penjatahan itu sebuah majalah sastra bernama Horizon, yang dipimpin Cyril Connolly, menerbitkan nomor 76 dengan satu esai yang sebelumnya ditolak majalah lain.

Penulisnya George Orwell, judulnya "Politics and the English Language". Sekilas isinya seperti omelan guru bahasa yang rewel: kalimat yang berbelit, kata asing yang tak perlu, bentuk pasif yang dipakai di mana-mana, frasa siap pakai yang dirakit seperti kandang ayam pabrikan.

Tetapi di balik kerewelan itu Orwell menyimpan tuduhan yang jauh lebih serius, yakni bahwa bahasa politik memang dirancang agar dusta terdengar jujur. Tak lama setelah terbit, para redaktur surat kabar mengedarkan esai itu kepada wartawan mereka, seakan-akan ia buku saku yang wajib dibawa ke lapangan.

Delapan puluh tahun kemudian, pada Senin malam, 12 Oktober 2026, antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kapal, Mengwi, Badung, mengular hingga ke badan jalan dan belum juga terurai ketika malam turun.

Siapa pun yang pernah terjebak di antrean semacam itu tahu ritualnya: mesin dimatikan agar sisa bensin tidak terbuang, motor didorong sejengkal demi sejengkal, mata terus mengawasi petugas di ujung sana sambil menebak apakah tangki pendam masih berisi ketika giliran tiba.

Di ujung barat pulau, 14 SPBU di Jembrana terdampak kekosongan, dan seorang warga bernama Putu memilih menyerah lebih dulu, berencana mencari bensin eceran.

Dari kantor Pertamina, kabar yang sampai ke publik berbunyi lain. Empat hari sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) menyatakan tengah melakukan "penyesuaian pola suplai secara dinamis" dan mengimbau masyarakat menggunakan bahan bakar minyak (BBM) "secara bijak sesuai kebutuhan". Area Manager Communication, Relations & CSR perusahaan itu, Ahad Rahedi, menambahkan bahwa sebelumnya memang terjadi keterlambatan pasokan Pertalite.

Kalimat-kalimat itu rapi, sopan, dan tidak bisa disebut bohong. Justru di situlah soalnya.

Orwell, seandainya ia ikut antre di Kapal malam itu, barangkali akan mengeluarkan buku catatannya dan mulai menyalin.

Kamus Tangki Kosong

Mari kita salin seperti Orwell menyalin lima contoh prosa buruk dalam esainya, lalu membedahnya satu per satu.

Kata pertama adalah sempat. Antrean BBM, menurut berita yang beredar pada 8 Oktober, "sempat mengular".

Kata keterangan sekecil itu bekerja seperti penghapus: ia memindahkan sebuah krisis ke masa lampau, seolah-olah antrean sudah menjadi kenangan ketika pembaca menyesap kopi paginya. Padahal empat hari kemudian, hingga pukul 17.30 WITA, stok Pertalite dan Pertamax di lima SPBU di Jembrana dan Negara masih kosong.

Kata sempat tidak berbohong tentang masa lalu. Ia hanya diam tentang masa kini.

Kata kedua adalah keterlambatan. "Memang sebelumnya keterlambatan pasokan Pertalite," demikian penjelasannya.

Siapa yang terlambat? Kapal mana, berangkat dari mana, tertahan oleh apa, dan sejak kapan keterlambatan itu diketahui?

Kalimat itu tidak punya pelaku, bahkan tidak punya kata kerja, dan sebuah kalimat tanpa pelaku adalah kalimat yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Keterlambatan hadir seperti hujan atau gempa, sesuatu yang menimpa kita semua, termasuk pihak yang mengucapkannya.

Kata ketiga adalah penyesuaian pola suplai secara dinamis. Inilah frasa kandang ayam pabrikan yang dicemaskan Orwell, rakitan kata-kata benda yang masing-masing terdengar teknis tetapi bersama-sama tidak menunjuk apa pun yang bisa dibayangkan.

Jika diterjemahkan ke bahasa warung, artinya kira-kira begini: bensinnya dijatah, karena kapalnya belum datang.

Kata dinamis menambahkan lapisan kabut terakhir. Ia bisa berarti apa saja, dan karena itu tidak berarti apa-apa.

Kata keempat, yang paling halus dan paling tajam, adalah bijak. Masyarakat diimbau menggunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan. Kalimat ini akan kita kembalikan di bagian akhir, sebab ia menyimpan pertanyaan yang lebih besar daripada urusan tangki.

Kamus ini tidak lahir minggu lalu. Pada awal Agustus 2026, Komisaris Utama PT Pertamina Patra Niaga, Sabar Yudo Suroso, meninjau Terminal BBM Sanggaran dan menyatakan bahwa masyarakat dan wisatawan tidak perlu khawatir soal ketersediaan BBM di Bali.

Sembilan tahun sebelumnya, pada 2017, ketika para wartawan menyebut kelangkaan BBM sering terjadi di Bali, seorang direktur Pertamina menjawab bahwa perusahaan tidak pernah menerima laporan kelangkaan, dan kalaupun ada, sifatnya sporadis.

Aman menjelang liburan, sempat ketika antrean terjadi, sporadis ketika ditanya. Kata-kata itu berganti dari tahun ke tahun, tetapi fungsinya tetap sama: membuat tangki yang kosong terdengar seperti tangki yang sedang diisi.

Kalimat Tanpa Pelaku

Di antara aturan menulis yang dirumuskan Orwell, ada satu yang terdengar paling remeh dan ternyata paling politis: jangan memakai bentuk pasif bila bentuk aktif bisa dipakai.

Bentuk pasif adalah tempat persembunyian yang nyaman, sebab ia memungkinkan sesuatu terjadi tanpa ada yang melakukannya. Orwell sendiri mencatat bagaimana desa yang dibom dari udara, penduduk yang diusir, dan gubuk yang dibakar cukup disebut dengan satu kata yang sejuk: pasifikasi.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, sebuah pulau kehabisan bensin tanpa ada yang lalai.

Tiga dekade setelah Orwell, di Jakarta, seorang wartawan lain sampai pada kesimpulan yang bersaudara. Pada 6 April 1977, di Taman Ismail Marzuki, Mochtar Lubis menyampaikan pidato kebudayaan yang kemudian dibukukan sebagai Manusia Indonesia.

Ia mendaftar sejumlah ciri yang membuat banyak pendengarnya gerah: munafik, berjiwa feodal, percaya takhayul, berwatak lemah, dan, yang paling relevan untuk antrean di Kapal, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Lubis mencatat betapa akrabnya lidah kita dengan dua kata, bukan saya. Jika ada yang salah, selalu ada atasan, bawahan, cuaca, atau nasib yang bisa disodorkan.

Sebaliknya, Lubis juga mencatat, untuk setiap keberhasilan manusia Indonesia tidak sungkan maju ke depan menerima bintang, tepuk tangan, dan piagam penghargaan. Kamus tangki kosong kita mengikuti pola yang sama persis.

Ketika pasokan lancar menjelang musim liburan, ada pejabat yang tampil di terminal BBM dan menjamin stok aman. Ketika antrean mengular, kalimatnya mendadak kehilangan subjek.

Orwell dan Lubis bukan sekadar dua penulis yang kebetulan berpikiran sama, melainkan dua wartawan yang sama-sama membayar harga untuk bahasa yang jernih.

Naskah Animal Farm milik Orwell ditolak sejumlah penerbit Inggris, termasuk penerbitnya sendiri, karena ia menolak memperhalus kekejaman Stalin. Lubis dipenjara bertahun-tahun di masa Sukarno, lalu menyaksikan korannya, Indonesia Raya, diberedel lagi oleh Orde Baru setelah Peristiwa Malari 1974.

Keduanya tahu dari pengalaman bahwa kekuasaan tidak selalu berbohong secara terang. Lebih sering ia sekadar menghilangkan subjek dari kalimat.

Ironisnya, salah satu sebab koran itu dibungkam adalah liputannya yang gencar tentang korupsi di tubuh Pertamina. Setengah abad kemudian, nama perusahaan yang sama kembali muncul di halaman berita, kali ini lewat kalimat-kalimat tanpa pelaku.

Maka "memang sebelumnya keterlambatan pasokan" adalah terjemahan birokratis dari bukan saya versi Lubis.

Kalimatnya tidak salah secara tata bahasa, tidak juga keliru secara fakta, tetapi ia membiarkan pertanyaan paling penting menggantung di udara Mengwi yang penuh asap knalpot: siapa yang semestinya tahu lebih dulu bahwa kapal tak akan datang tepat waktu, dan mengapa warga baru mengetahuinya ketika jarum bensin mereka sudah menyentuh huruf E?

Santun yang Memerintah

Orang Bali tidak perlu membaca Orwell untuk tahu bahwa bahasa menyimpan susunan kuasa. Kita tumbuh bersama sor singgih basa, tingkatan bahasa yang mengatur siapa berbicara kepada siapa dengan kata yang mana.

Ada basa alus untuk yang dihormati, ada basa andap untuk keseharian, dan setiap anak Bali belajar sejak kecil bahwa pilihan kata adalah juga pengakuan tentang letak diri.

Bahasa halus, dalam tradisi itu, bukan hanya soal kesantunan. Ia adalah peta tentang siapa di atas dan siapa di bawah.

Imbauan "bijak sesuai kebutuhan" bekerja dengan logika yang mirip, hanya saja arah alirannya terbalik.

Kalimatnya santun, nadanya keibuan, tetapi isinya tetap perintah, dan perintah itu turun dari pihak yang menguasai kapal, terminal, dan truk tangki kepada pihak yang hanya menguasai sebuah jeriken atau tangki motor berkapasitas empat liter.

Kesantunan menjadi kemasan, sementara beban berpindah tangan tanpa suara.

Pola ini tidak hanya terjadi di Bali. Ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memaparkan penyebab kelangkaan BBM di berbagai daerah di hadapan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada akhir Agustus 2026, faktor pertama yang disebut adalah isu penyesuaian harga yang memicu pembelian panik di masyarakat.

Perhatikan kamusnya lagi. Kenaikan harga disebut penyesuaian, sedangkan warga yang cemas disebut panik.

Yang satu dihaluskan, yang lain dikeraskan, dan kita tahu dari sor singgih basa siapa yang biasanya mendapat kata halus.

Ada pula ironi yang lebih getir. Pada Desember 2022, ketika antrean serupa melanda Denpasar dan sebagian pengendara terpaksa menuntun motornya yang kehabisan bensin, para pedagang eceran di pinggir jalan ternyata masih punya stok Pertalite.

Bensin, rupanya, selalu menemukan jalan ke botol-botol di rak warung, bahkan ketika ia tak sampai ke selang SPBU.

Kebijaksanaan siapa yang bekerja di situ, tidak pernah dijelaskan dengan bahasa apa pun, halus ataupun kasar.

Redaksi yang Ikut Menyalin

Tetapi esai ini akan menjadi munafik, dalam pengertian Lubis, jika ia hanya menunjuk ke kantor humas.

Kata sempat itu bahkan tidak tercantum dalam siaran pers. Ia lahir di ruang redaksi, dari kami yang setiap hari menerima siaran pers dengan bahasa yang sudah rapi, sudah sopan, dan sudah siap tayang, lalu tanpa sadar menambahkan kehalusan kami sendiri.

Pada pekan yang sama, dua media bisa menulis peristiwa yang sama dengan dua bahasa yang berbeda jauh. Satu menurunkan judul bahwa antrean BBM di Bali sempat mengular dan Pertamina mengakui pasokan terlambat.

Yang lain, kanal daerah sebuah media daring nasional yang wartawannya berdiri di pinggir SPBU sampai malam, menulis bahwa Bali sedang krisis BBM dan antrean horor terjadi di mana-mana.

Judul pertama menyalin nada siaran pers. Judul kedua menyalin apa yang dilihat mata.

Keduanya mungkin sama-sama benar secara fakta, tetapi hanya satu yang berani memakai kata yang sesuai dengan suasana kebatinan orang di antrean.

Esai Orwell paling berguna justru bagi orang-orang yang setiap hari menulis tentang politisi. Itulah sebabnya para redaktur 1946 mengedarkannya ke meja wartawan.

Tugas wartawan, dalam pengertian yang paling tua, adalah menerjemahkan: mengambil kalimat kekuasaan, membongkar kata-kata bendanya, mencari kembali subjek yang hilang, lalu mengembalikannya kepada pembaca dalam bahasa yang bisa dipakai untuk bertanya.

Setiap kali kami menyalin "penyesuaian pola suplai secara dinamis" tanpa menerjemahkannya, kami ikut merakit kandang ayam yang sama.

Yang Diminta Bijak

Kini kita kembali ke kata keempat. Masyarakat diimbau menggunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan.

Siaran pers yang sama bahkan meminta kebijaksanaan dua kali. Selain bijak memakai BBM, masyarakat juga diharapkan bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Warga diminta bijak soal bensin dan bijak soal kabar, sementara kapal yang terlambat tidak diminta apa-apa.

Pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang diminta bijak, ketika yang terlambat adalah kapalnya?

Pengemudi ojek daring di Kuta Selatan tidak bisa memesan tanker. Ibu yang mengantar sesajen ke pura di Tabanan tidak bisa mengatur jadwal sandar di Terminal BBM Manggis. Petani di Jembrana yang menunggu pompa air menyala tidak punya akses ke data stok harian.

Kebutuhan mereka bukan pilihan gaya hidup yang bisa ditawar, melainkan nafkah, ibadah, dan sawah. Lalu kebijaksanaan macam apa yang masih bisa diminta dari orang yang tangkinya sudah kosong?

Kebijaksanaan, dalam pengertiannya yang paling tua, adalah keutamaan para pemegang kendali. Raja-raja dalam kakawin dituntut bijak karena merekalah yang memegang lumbung, bukan rakyat yang antre di depan lumbung itu.

Imbauan Oktober ini membalik urutan tersebut.

Pihak yang mengelola rantai pasok sebuah pulau berpenduduk empat juta lebih, dengan konsumsi Pertalite sekitar 2.200 kiloliter sehari, cukup berkata telah terjadi keterlambatan, sementara pihak yang tidak mengelola apa-apa diminta menanggung kebijaksanaannya.

Pada akhirnya, Orwell tidak pernah percaya bahasa yang rusak adalah takdir. Di paragraf-paragraf awal esainya ia menolak anggapan bahwa kemerosotan bahasa tak bisa dilawan, dan ia percaya kebiasaan buruk itu bisa disembuhkan oleh siapa pun yang mau bersusah payah.

Langkah pertamanya sederhana, bahkan nyaris kekanak-kanakan: kembalikan subjek ke dalam kalimat.

Bayangkan jika pengumuman 8 Oktober itu berbunyi seperti ini: Kapal kami terlambat. Kami terlambat memperhitungkannya. Sampai kapal berikutnya tiba, bensin kami jatah. Kami minta maaf.

Empat kalimat pendek, semuanya aktif, semuanya punya pelaku, dan tidak satu pun memerlukan kata dinamis.

Mari kita, para penulis, wartawan, dan pembaca, belajar menagih kalimat semacam itu.

Bukan karena empat kalimat pendek bisa mengisi tangki yang kosong, tetapi karena di pulau yang setiap tahun kembali mengantre, kejujuran bahasa adalah satu-satunya bahan bakar yang tidak perlu menunggu kapal. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.