Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Suara Rama dari Mulut Marica

Oleh Nyoman Sukadana • 15 Oktober 2026 • 03:47:00 WITA

Suara Rama dari Mulut Marica
Kijang emas Marica lahir dari layar ponsel: wajah yang kita percayai dipinjam kecerdasan buatan untuk memanggil kita keluar dari pondok. (Ilustrasi: PodiumNews/AI)

Suara itu milik Rama, tetapi mulutnya milik Marica. Di zaman kecerdasan buatan, tipu daya kuno dari Ramayana kembali, kali ini lewat wajah raja, menteri, dan artis di layar ponsel kita.

HUTAN Dandaka sore itu terlalu indah untuk dicurigai. Di antara rumpun pepohonan dan cahaya yang jatuh miring, seekor kijang berbulu emas melintas di dekat pondok tempat Rama, Sita, dan Laksmana menjalani pengasingan. Kulitnya bertotol perak, tanduknya berkilau seperti permata. Sita meminta suaminya menangkap kijang itu, dan Rama pun pergi mengejarnya, meninggalkan Laksmana untuk menjaga pondok.

Kijang itu bukan kijang. Ia Marica, raksasa yang dipaksa Rahwana menyamar; menolak berarti mati di tangan rajanya sendiri. Ketika panah Rama akhirnya menembus tubuhnya, Marica tidak mati dalam diam. Dengan napas terakhir ia menirukan suara Rama, memanggil-manggil Sita dan Laksmana seolah sang pangeran sedang sekarat. Sita panik dan mendesak Laksmana menyusul. Laksmana tahu itu tipu daya, tetapi ia kalah oleh tangis dan tuduhan. Begitu pondok kosong, Rahwana datang dalam rupa seorang pertapa, dan Sita pun dibawa lari ke Alengka.

Berabad-abad kemudian, pada 2 September 2026, beredar di Facebook sebuah video Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang mempromosikan produk investasi dengan janji Rp 2 juta per hari, seumur hidup. Peminat cukup mengklik tautan di bawahnya untuk mendaftar. Wajahnya wajah Sultan. Suaranya, menurut klarifikasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY, adalah rekaman lama yang dipermak dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), lengkap dengan gerak bibir yang disesuaikan. Itulah deepfake, rekayasa gambar dan suara dengan AI agar tampak dan terdengar nyata. Marica rupanya sudah pindah ke ponsel kita.

Namun, mengapa tipu daya setua itu masih bekerja? Mengapa Sita, yang tahu suaminya kesatria tanpa tanding, percaya begitu saja pada sebuah teriakan minta tolong dari balik hutan? Jawabannya barangkali tidak terletak pada kecanggihan tiruan, melainkan pada siapa yang ditiru. Marica tidak meniru suara orang asing. Ia meniru suara orang yang paling dipercaya Sita. Di situlah kekejaman deepfake: yang dicuri bukan sekadar wajah, melainkan kepercayaan yang selama ini melekat pada wajah itu.

Suara Yakub, Tangan Esau

Kitab Kejadian menyimpan kisah serupa dari dunia yang lain. Ishak, bapa bangsa yang sudah renta dan matanya kabur, hendak memberkati putra sulungnya, Esau. Ribka, sang istri, diam-diam mendandani putra bungsunya, Yakub, dengan pakaian Esau dan membalut tangan serta lehernya dengan kulit anak kambing, sebab Esau berbulu lebat. Yakub menghadap ayahnya membawa masakan. Ishak meraba tangan itu, lalu ragu: suaranya suara Yakub, tetapi tangannya tangan Esau. Toh berkat itu tetap ia berikan, dan dalam kisah itu berkat yang telah terucap tidak bisa ditarik kembali.

Perhatikan cara tipuan Yakub bekerja. Ia memalsukan raba, bukan suara. Ishak yang buta masih punya satu indra yang curiga, yakni telinganya, dan karena itu ia sempat bertanya. Deepfake membalik tipuan itu sekaligus menyempurnakannya. Kini yang palsu justru suaranya, sedangkan wajah di layar diambil dari rekaman asli; hanya gerak bibirnya yang disesuaikan. Mata, indra yang paling kita percayai di zaman layar, melihat wajah Sultan yang sungguhan, sehingga telinga tidak sempat bertanya. Kita lebih buta daripada Ishak, justru karena kita merasa melihat.

Dan seperti berkat Ishak, kerusakan deepfake sulit ditarik kembali. Klarifikasi selalu datang belakangan, setelah janji palsu telanjur diucapkan oleh wajah yang dipercaya dan setelah tautannya telanjur diklik. Bantahan berjalan kaki, kebohongan menunggang kuda.

Wajah yang Dipinjam

Sultan tidak sendirian. Surat kabar Kompas, dalam liputannya pada 14 Oktober 2026, menelusuri 665 artikel periksa fakta di situs Turnbackhoax.id milik Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) dari 2022 hingga Agustus 2026. Lebih dari 170 tokoh dicatut dalam hoaks buatan AI, dari pejabat, artis, pengusaha, atlet, sampai tokoh agama. Nama yang paling sering muncul adalah Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Menteri Keuangan yang dicopot pada 14 September lalu, dalam 29 konten. Di belakangnya Raffi Ahmad, artis yang juga Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, dalam 28 konten.

Pilihan wajah itu tidak acak. Purbaya dipinjam untuk menjanjikan hibah, misalnya Rp 250 juta per kepala keluarga dalam sebuah video TikTok pada Juli. Siapa yang lebih meyakinkan untuk membagikan uang negara selain bendahara negara sendiri? Raffi dipinjam untuk keperluan lain: mempromosikan situs judi daring, juga menjadi umpan penipuan berkedok motor murah dan bagi-bagi jam tangan mewah. Wajah pejabat menjual kesan resmi, wajah artis menjual kesan rezeki. Seperti Marica, para penipu selalu tahu suara siapa yang paling ampuh untuk memanggil Sita keluar dari pondoknya.

Yang lebih mencemaskan, kebohongan itu enggan mati. Video Purbaya yang seolah "menolak dicalonkan menjadi wakil presiden" sudah dibantah sejak Januari 2026, ketika ia masih menjabat. Pada akhir September, setelah ia tak lagi menteri, video serupa beredar lagi di Facebook dan meraup lebih dari lima ribu tanda suka. Jabatannya sudah dilepas, tetapi wajahnya masih terus bekerja untuk orang lain.

Aura yang Dicuri

Untuk membedah fenomena ini, kita bisa meminjam pemikiran Walter Benjamin, filsuf dan kritikus budaya Jerman yang pada 1935 menulis esai termasyhur Karya Seni di Zaman Reproduksi Mekanis. Benjamin mengamati bahwa fotografi dan film membuat karya seni bisa digandakan tanpa batas. Yang hilang dalam penggandaan itu, katanya, adalah aura: kehadiran unik sebuah karya di satu tempat dan satu waktu, yang membuat orang berdiri khidmat di depan lukisan asli dan tidak di depan cetakannya.

Benjamin sebenarnya sudah melihat gejala itu menimpa manusia. Menurutnya, aktor film kehilangan aura karena tampil di depan kamera, bukan di hadapan penonton, dan industri film menambal kehilangan itu dengan memupuk kultus bintang, pesona kepribadian yang tak lebih dari pesona barang dagangan. Namun, ia tidak membayangkan zaman ketika wajah seseorang bisa digandakan untuk mengucapkan kata-kata yang tak pernah keluar dari mulutnya. Aura seorang Sultan tidak semata soal rupa. Aura itu terbentuk dari puluhan tahun bertakhta, dari keraton dan tradisinya, dari keyakinan rakyat bahwa apa yang diucapkan rajanya bisa dipegang. Deepfake mencabut wajah dari seluruh riwayat itu, lalu menempelkannya pada kata-kata yang tak pernah ia ucapkan. Aura dipisahkan dari pemiliknya, kemudian dijual eceran di kolom komentar.

Di sinilah letak paradoksnya. Benjamin mengira reproduksi akan meluruhkan aura, sedangkan deepfake justru menunggangi aura yang masih hidup. Penipuan itu hanya berhasil karena kita masih percaya pada wajah Sultan; seandainya wibawa itu sudah luruh, video palsunya tidak akan laku. Para penipu adalah parasit kepercayaan. Mereka mengisap wibawa yang dibangun orang lain sepanjang hidupnya, dan setiap kali satu video terbongkar, sedikit dari wibawa itu ikut terkikis. Bila dibiarkan, suatu hari wajah yang asli pun tak lagi dipercaya, dan itulah kerugian yang tidak tercatat dalam laporan polisi mana pun.

Topeng Tanpa Pasupati

Bali sebenarnya sudah lama akrab dengan seni meminjam wajah. Dalam dramatari topeng, seorang penari mengenakan wajah raja, patih, atau rakyat jelata, lalu menghidupkannya di kalangan, arena pertunjukan. Sebagian topeng bahkan bukan sekadar properti panggung, melainkan benda sakral, seperti Topeng Sidakarya yang hadir untuk menuntaskan sebuah upacara. Topeng semacam itu diupacarai pasupati, ritual untuk menghidupkan sebuah benda agar memiliki kekuatan, lalu disimpan di tempat suci dan hanya dikeluarkan pada saat yang patut.

Sebelum menari, penari menghaturkan sesajen dan matur piuning, memohon izin kepada Yang Kuasa. Ia tidak merasa memiliki wajah yang ia kenakan. Ia meminjamnya, dan karena meminjam, ia memikul kewajiban. Selesai menari, topeng dikembalikan ke tempatnya. Dalam tradisi Bali, meminjam wajah adalah laku yang penuh tata krama: ada izin, ada upacara, ada batas waktu, ada tanggung jawab.

Orang Bali juga mengenal desa kala patra, tempat, waktu, dan keadaan, sebagai ukuran pantas atau tidaknya sebuah tindakan. Video asli yang dipakai untuk hoaks hibah Rp 250 juta itu, menurut penelusuran Mafindo, direkam ketika Purbaya mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Wajah itu dicabut dari tempat, waktu, dan keadaannya, lalu dipaksa menjanjikan hibah di TikTok. Deepfake, dengan demikian, adalah topeng tanpa pasupati: wajah dipinjam tanpa izin pemiliknya, tanpa upacara, tanpa waktu kembali, dan tanpa seorang pun yang mau bertanggung jawab atas apa yang diucapkan topeng itu.

Panggung Tanpa Pecalang

Lalu, siapa yang menjaga kalangan? Di desa adat Bali, setiap pertunjukan di ruang bersama punya penjaga. Pecalang, petugas keamanan adat, berdiri di pinggir arena. Awig-awig, aturan adat desa, mengatur apa yang boleh dan tidak boleh terjadi, dan penyelenggara ikut menanggung ketertiban. Tidak ada banjar yang membiarkan orang asing menyamar menjadi pemangku lalu memungut uang dari warga di depan pura.

Panggung digital kita bekerja dengan cara sebaliknya. Kompas mencatat dua video Sultan itu masih bisa ditemukan di Facebook pada 3 Oktober 2026, sebulan setelah diunggah dan beberapa pekan setelah Pemprov DIY menyatakannya hoaks. Platform menikmati keramaian, termasuk keramaian yang dibangun penipuan, tetapi enggan memikul tugas pecalang. Sementara itu, nasihat yang terus diulang justru ditujukan kepada warga: lebih kritis, tingkatkan literasi digital, jangan mudah percaya. Seorang akademisi bahkan menduga daya kritis warga melemah karena "perutnya lapar".

Literasi tentu penting, tetapi pembagian bebannya ganjil. Kita menuntut Sita lebih waspada, sementara Marica dibiarkan berteriak di halaman pondoknya sesuka hati. Dalam sejumlah versi Ramayana, Laksmana sempat menggoreskan garis di tanah sebelum pergi, batas pelindung yang tak bisa dilewati raksasa. Garis semacam itulah yang kini kita tunggu dari para pemilik panggung: batas yang tegas dan ditegakkan cepat, bukan sekadar imbauan agar korban menjaga dirinya sendiri.

Kembali ke Dandaka

Kisah Kijang Kencana sering dibaca sebagai peringatan tentang hasrat: Sita tergoda keindahan, maka ia celaka. Bacaan itu terlalu mudah, dan sedikit kejam. Sita meninggalkan lindungan bukan karena serakah, tetapi karena ia mencintai pemilik suara itu. Yang dimanfaatkan Marica adalah kesetiaannya, bukan kebodohannya. Begitu pula orang-orang yang menulis komentar positif di bawah video Sultan, atau mereka yang tergoda menghubungi nomor pendaftaran hibah atas nama Purbaya. Mereka tidak sedang bodoh. Mereka sedang percaya, dan kepercayaan itulah yang kini dijadikan umpan.

Pada akhirnya, pertanyaan zaman ini bukan lagi apakah kita mampu membedakan suara Rama dari suara Marica. Teknologi akan terus membuat keduanya makin serupa, sampai telinga paling tajam pun kalah. Pertanyaannya adalah siapa yang mau berdiri di pinggir kalangan, menjaga agar wajah-wajah yang kita percayai tidak dipakai oleh sembarang mulut. Selama penjaga itu belum ada, hutan Dandaka akan terus memanggil-manggil kita, dengan suara orang-orang yang paling kita cintai. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.