Prapanca dan Kesepian para Kolumnis
"Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun." — Mpu Prapanca, Desawarnana, pupuh 95 (1365)
SEPI adalah rekan kerja paling setia seorang kolumnis. Ia tidak pernah ikut menandatangani tulisan, tetapi hadir di setiap paragraf. Larry Maddry, kolumnis The Virginian-Pilot di Norfolk, Amerika Serikat, mengenal rekan kerja itu dengan baik.
Ia lalu menyurati sesama kolumnis untuk mengajak mereka berkumpul, dan pada Juni 1977 sekitar dua puluh orang datang ke Hilton Inn, Virginia Beach, dari kota-kota yang saling berjauhan, dengan ongkos yang ditanggung koran masing-masing. Belum ada organisasi, belum ada kursi ketua untuk diperebutkan. Yang ada hanyalah sebuah pengakuan sederhana dari Maddry, yang dikutip majalah Editor & Publisher: "We seldom see or talk with other columnists to compare notes." Kami jarang bertemu, jarang bercakap dengan sesama kolumnis, sekadar untuk membandingkan catatan.
Enam abad sebelumnya, pada purnama bulan Aswayuja tahun Saka 1287, atau 1365 Masehi, seorang lelaki di sebuah dukuh bernama Kamalasana menuntaskan sebuah kakawin.
Ia menamai karyanya Desawarnana, uraian tentang desa-desa. Ia menyebut dirinya Prapanca, sebuah nama samaran. Ia tidak lagi tinggal di lingkar istana Majapahit. Di bait-bait terakhir kakawinnya, ia mengaku dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun, dan pasrah karena karyanya "pasti akan ditertawakan."
Dua dunia itu dipisahkan enam abad dan setengah bola bumi. Tetapi keduanya bekerja dengan rekan yang sama. Kolumnis menulis sendirian, menimbang sendirian, dan menanggung kekeliruannya sendirian. Pembacanya mungkin ribuan, tetapi teman bicaranya nyaris tidak ada.
Namun, benarkah orang yang menulis dari pinggir dengan sendirinya merdeka? Di sinilah Prapanca menyimpan sebuah ironi yang tidak nyaman, terutama bagi siapa saja yang hari ini menyebut dirinya kolumnis.
Lelaki dari Kamalasana
Sejumlah sejarawan mengidentifikasi Prapanca sebagai Dang Acarya Nadendra, yang pernah menjabat dharmadhyaksa ring kasogatan, kepala urusan agama Buddha di Majapahit. Itu bukan jabatan kecil.
Ia pernah berada di lingkar dalam, mengenal upacara, silsilah, dan tata krama istana dari jarak sedekat napas. Lalu ia meninggalkan istana, entah karena disingkirkan atau memilih menepi. Prapanca tidak menjelaskan sebabnya dengan rinci; yang ia tinggalkan hanyalah keluhan pendek tentang hinaan, dan kabar bahwa ia menepi ke dukuh Kamalasana.
Yang menarik, pengasingan tidak membuatnya berhenti menulis. Di pupuh 94 ia menyebut karya-karya lain yang pernah ia garap: Tahun Saka, Lambang, Parwasagara, Bismacarana, dan Sugataparwa. Dua di antaranya, Tahun Saka dan Lambang, belum rampung dan masih ingin ia lengkapi. Ia bukan penyair yang menulis sekali lalu diam. Ia penulis yang terus bekerja, sekalipun tahu tak ada lagi yang menunggunya di balairung.
Apa yang sebenarnya ia tulis? Judul aslinya sudah memberi petunjuk. Di dalam Desawarnana ada perjalanan raja, candi-candi, upacara sraddha untuk leluhur, desa-desa di pedalaman Jawa, daftar wilayah yang diklaim Majapahit, hingga kabar wafatnya Gajah Mada. Prapanca mencatat negerinya seperti seorang pengamat: melihat, mengingat, lalu menuliskan. Ia menulis istana dari luar pagarnya.
Bila hari ini ada yang bertanya siapa kolumnis pertama di Nusantara, nama Prapanca layak diajukan. Tentu ia tidak pernah menulis di koran. Tetapi ia menulis zamannya dengan suara seorang pribadi, lengkap dengan keluh kesah, rasa malu, dan pengakuan atas keterbatasannya sendiri, sesuatu yang jarang dimiliki prasasti dan kronik istana.
Pujian dari Pengasingan
Tetapi di titik inilah gambaran romantis tentang Prapanca mulai retak. Desawarnana, pada dasarnya, adalah puji-pujian untuk Hayam Wuruk. Di pupuh 94 Prapanca berterus terang: setelah mendengar pujian para pujangga istana, "Prapanca bangkit turut memuji Baginda." Doanya pun untuk kelanggengan kerajaan. Lelaki yang dihina para bangsawan itu, dari dukuhnya, justru menulis surat cinta paling panjang untuk istana.
Untuk membedah ironi ini, kita bisa meminjam pemikiran Edward Said, kritikus sastra Palestina-Amerika yang pada 1993 menyampaikan kuliah Reith di radio BBC (British Broadcasting Corporation), yang kemudian dibukukan sebagai Representations of the Intellectual. Said menggambarkan intelektual sejati sebagai orang buangan dan amatir: seseorang yang hidup di pinggir, tidak sepenuhnya diterima, dan justru karena itu sanggup mengucapkan hal-hal yang tak berani dikatakan orang dalam.
Bagi Said, pengasingan bukan sekadar keadaan geografis, melainkan sikap batin, yakni penolakan untuk dijinakkan oleh kekuasaan, oleh penghargaan, oleh kenyamanan berada di dalam lingkaran. Said bahkan mengingatkan, kerja intelektual yang kritis tidak akan memberi seseorang kawan di tempat tinggi ataupun penghargaan resmi. Keadaan itu memang sepi, tulisnya, tetapi selalu lebih baik daripada beramai-ramai menerima keadaan apa adanya.
Prapanca menguji teori Said dengan cara yang menyakitkan. Ia benar-benar telah menepi dari istana, tetapi hatinya tetap menghadap ke sana. Ia hidup di pinggir, tetapi menulis seperti orang yang berharap pintu balairung kembali dibukakan untuknya.
Ia bahkan menulis terang-terangan bahwa karyanya dibuat "agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat." Barangkali ia tulus mengagumi rajanya. Barangkali pula pujian adalah satu-satunya bahasa yang ia kenal agar tetap diingat. Kita tidak akan pernah tahu pasti. Yang kita tahu, pinggir ternyata tidak otomatis melahirkan kemerdekaan.
Pelajaran itu bukan milik abad ke-14 saja. Berapa banyak kolom hari ini yang ditulis dari Kamalasana, tetapi menghadap ke istana? Seorang kolumnis bisa tinggal jauh dari pusat kekuasaan, tak punya jabatan, bahkan merasa disisihkan, namun tetap menulis dengan sebelah mata mengintip ke arah undangan, proyek, atau kursi yang mungkin ditawarkan. Pinggir adalah tempat. Merdeka adalah sikap. Keduanya tidak selalu tinggal di alamat yang sama.
Amplop dari Virginia Beach
Maka kita kembali ke Virginia Beach. Yang menarik dari pertemuan Juni 1977 itu adalah hasilnya yang nyaris sepele. Para kolumnis sepakat untuk saling bertukar kolom secara rutin lewat pos. Setiap orang mengirimkan tulisannya kepada yang lain, membaca tulisan kawannya, dan, kita boleh menduga, saling mengoreksi.
Dalam pertemuan itu pula mereka membentuk sebuah perhimpunan, yang semula bernama National Society of Columnists dan kini dikenal sebagai National Society of Newspaper Columnists. Pertemuan berikutnya pun dirancang di Louisville, Kentucky, setahun kemudian.
Maddry tidak mengobati kesepian para kolumnis dengan pesta atau tepuk tangan bersama. Ia mengobatinya dengan amplop dan perangko. Obat bagi kesepian penulis ternyata pembaca yang sejajar: orang yang paham betapa beratnya mengisi kolom yang sama setiap pekan, dan karena itu berhak berkata, "Tulisanmu kali ini lemah." Maddry wafat pada 2024. Perhimpunan yang ia prakarsai di Virginia Beach itu masih bertahan hampir setengah abad.
Pada masa yang hampir bersamaan, pertengahan 1970-an, Goenawan Mohamad mulai menulis Catatan Pinggir di majalah Tempo. Nama rubrik itu seolah sebuah pernyataan sikap: catatan yang sadar ditulis dari pinggir, di luar arus berita utama. Dalam tradisi kolom, pinggir rupanya bisa menjadi tempat berdiri, bukan tempat pembuangan. Tetapi pinggir yang dipilih dengan sadar pun tetap membutuhkan pembaca, penyunting, dan pengkritik yang menjaganya tetap jujur.
Membaca Bali
Di sinilah kisah Prapanca berbelok ke Bali, dengan cara yang jarang kita sadari.
Nama yang kita hafal sejak bangku sekolah, Negarakertagama, atau Nagarakretagama dalam ejaan para filolog, ternyata bukan pemberian Prapanca. Nama itu baru muncul pada kolofon sebuah salinan yang dibuat di Bali timur pada 1662 Saka, atau 1740 Masehi, oleh seseorang bernama Artha Pamasah.
Hampir empat abad setelah Prapanca menuntaskan kakawinnya, seorang penyalin di Bali memberi karya itu nama baru. Nama itulah yang kemudian dipakai filolog Belanda J.L.A. Brandes ketika menerbitkan edisi pertamanya pada 1902. Bali bukan hanya menyimpan Prapanca. Bali menamainya.
Naskah yang kemudian paling termasyhur juga tidak ditemukan di Jawa. Ia tersimpan di Puri Cakranegara, Lombok, istana dinasti Bali di pulau seberang. Ketika pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), tentara kolonial Hindia Belanda, menyerbu Cakranegara pada 1894, naskah itu ikut diangkut sebagai bagian dari jarahan yang dikenal sebagai harta Lombok.
Brandes, yang ikut dalam ekspedisi itu, disebut menyelamatkan koleksi perpustakaan puri dari kobaran api. Naskah itu lalu menginap di Leiden hampir delapan dekade, sebelum pulang ke Indonesia pada awal 1970-an dan kini tersimpan di Perpustakaan Nasional. Pada 2013, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memasukkannya ke dalam daftar Memory of the World. Salinan lain milik Gria Pidada di Amlapura bahkan memakai judul yang berbeda lagi: Wawacan Jawa.
Mengapa Bali merawatnya dengan begitu tekun? Sebagian jawabannya ada pada tradisi yang masih hidup di banjar-banjar hingga hari ini: mabebasan, pembacaan kakawin secara berkelompok.
Dalam mabebasan, kakawin tidak dibaca sendirian. Seseorang menembangkan baitnya, seorang lagi mengartikan dan menafsirkannya ke dalam bahasa Bali, sementara yang lain menyimak, menyela, dan membetulkan. Teks Jawa Kuno yang rumit itu dihidupkan bukan oleh satu orang jenius, melainkan oleh sekaa, oleh sekumpulan orang yang membaca bersama.
Setiap kali sebuah lontar disalin, penyalinnya pun menulis kolofon: nama, tanggal, dan kerap kali permohonan maaf atas aksara yang kurang indah atau kekeliruan yang mungkin terselip. Sebuah tanggung jawab yang rendah hati, yang membuat setiap salinan bisa dilacak, diperiksa, dan dibantah.
Prapanca menulis sendirian di Kamalasana, tetapi ia dibaca beramai-ramai di Bali. Lelaki yang dihina para bangsawan itu justru diselamatkan oleh orang-orang yang tak pernah ia kenal, para penyalin dan penembang yang menganggap kata-kata layak dirawat lebih lama daripada umur penguasanya.
Ironinya indah sekaligus menampar: kekuasaan yang ia puja telah lama runtuh, sementara komunitas pembaca yang tak pernah ia bayangkan justru membuat namanya bertahan.
Kolumnis tanpa Penyalin
Lalu, siapa yang hari ini menjadi Artha Pamasah bagi tulisan-tulisan kita?
Kolom terbit pada hari Senin, dibagikan pada hari Selasa, lalu dilupakan pada hari Jumat. Rubrik opini di banyak media menyempit, tautan daring mati ketika situs berganti rupa, dan arsip berpindah dari lemari redaksi ke server yang tak pernah kita lihat.
Kolumnis hari ini jauh lebih mudah menerbitkan tulisan dibandingkan dengan Prapanca, tetapi barangkali jauh lebih sulit untuk dibaca dengan sungguh-sungguh. Kita punya banyak pembaca yang lewat, tetapi sedikit pembaca yang mau menyalin, menafsir, dan membantah.
Di Bali, kegelisahan semacam ini terasa lebih ganjil. Pulau ini punya bale banjar untuk sangkep, rapat warga, dan wantilan, balai terbuka tempat pertunjukan dan segala keramaian desa. Ia punya sekaa untuk menabuh, menari, dan menembang. Tetapi para penulisnya, para kolumnis dan esaisnya, kerap bekerja seperti Prapanca di Kamalasana: sendirian, menulis dari pinggir, dan diam-diam berharap ada yang membaca.
Kolumnis memang tidak perlu berkumpul untuk saling memuji. Komunitas penulis yang sibuk bertepuk tangan hanya memindahkan istana dari Trowulan ke ruang rapat. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih tua sekaligus lebih sederhana: sekumpulan pembaca yang mau menembangkan, mengartikan, dan membetulkan; yang menulis kolofon dengan jujur; dan yang berani berkata kepada kawannya sendiri bahwa tulisannya kali ini sedang menghadap ke istana.
Prapanca tidak pernah tahu bahwa hampir empat abad kemudian seorang penyalin di Bali akan menamai karyanya. Larry Maddry juga tidak tahu bahwa surat ajakan yang ia kirim dari Norfolk, dan amplop-amplop berisi kolom sesudahnya, akan menjadi perhimpunan yang bertahan hampir setengah abad. Keduanya menulis dalam sepi, dan keduanya diselamatkan oleh orang lain.
Pada akhirnya, kolumnis memang menulis di pinggir. Tetapi pinggir hanya akan menjadi pengasingan, bukan kebebasan, bila tak ada yang mau membaca, menyalin, dan membantah kita. (*)
Menot Sukadana