Cronkite dan Hutan Wanaprasta
KALIMAT itu sudah ribuan kali ia ucapkan, tetapi malam itu terdengar lain. “And that’s the way it is.” Begitulah keadaannya. Walter Cronkite menutup siaran CBS Evening News untuk terakhir kalinya pada 6 Maret 1981, setelah sembilan belas tahun duduk di kursi pembawa berita yang membuatnya sering disebut orang paling dipercaya di Amerika. Usianya 64 tahun. CBS memang punya aturan pensiun wajib pada usia 65, dan ia memilih mundur beberapa bulan sebelum batas itu. Kursinya kemudian diduduki Dan Rather. Malam itu Cronkite berjanji bahwa ia tidak benar-benar pergi, dan akan kembali untuk laporan-laporan khusus.
Dua puluh satu tahun kemudian, pada usia 85, Cronkite mengakui sesuatu yang tidak pernah terbaca dari keanggunan malam itu. Ia menyesal. Seharusnya ia bertahan jauh lebih lama, katanya, dan kerinduan untuk kembali bekerja menghampirinya setiap hari, paling terasa ketika peristiwa besar mengguncang dunia, seperti pagi ketika menara kembar di New York runtuh. Namun ada satu kalimat dalam pengakuan itu yang jauh lebih menarik daripada penyesalannya. Cronkite bilang, tampil di layar tidak lagi penting baginya. Yang ia rindukan adalah berada di ruang redaksi, ikut menentukan agenda.
Ia tidak merindukan panggung. Ia merindukan kursi di belakang panggung. Dan di sanalah, barangkali tanpa ia sadari, seorang wartawan Amerika sedang meraba-raba sebuah gagasan yang berabad-abad lebih tua darinya.
Hutan dalam Kitab
Dalam ajaran Catur Asrama, hidup manusia dibagi menjadi empat masa: brahmacari untuk belajar, grhasta untuk berumah tangga dan bekerja, wanaprasta untuk menepi, dan sannyasa untuk melepaskan segalanya. Manawa Dharmasastra memberi tanda yang sangat manusiawi tentang kapan masa ketiga itu tiba. Ketika seorang kepala rumah tangga melihat kulitnya mulai keriput, rambutnya memutih, dan anak dari anaknya telah lahir, ia boleh pergi ke hutan.
Yang sering terlupakan, yang ditekankan kitab itu bukan mengajar, melainkan membaca dan mendalami. Mereka yang memasuki wanaprasta diminta tekun membaca kitab suci dan mempelajari Upanishad. Ensiklopedia Britannica merangkum cirinya dengan tiga hal: menarik diri dari urusan duniawi, mencari kesunyian, dan menjalani laku tapa. Wanaprasta klasik menghadap ke dalam. Ia adalah perjalanan pulang ke diri sendiri, bukan perjalanan menuju murid-murid.
Di sini kita bertemu sebuah ketegangan yang menarik. Sebab dunia modern, terutama dunia kerja, justru menuntut sebaliknya dari orang-orang yang menua.
Erikson dan Generasi Berikutnya
Pada 1950, psikoanalis Erik Erikson memetakan delapan tahap perkembangan psikososial manusia. Tahap ketujuh, yang kira-kira jatuh pada usia paruh baya, ia namai pertarungan antara generativity dan stagnation. Keutamaan yang lahir dari tahap ini ia sebut care, kepedulian. Bagi Erikson, tugas utama usia paruh baya adalah kepedulian untuk membentuk dan membimbing generasi berikutnya. Yang gagal melakukannya akan tenggelam dalam stagnasi dan terjebak pada dirinya sendiri.
Erikson menghadap ke luar. Wanaprasta klasik menghadap ke dalam. Yang satu meminta orang tua turun ke tengah anak-anak muda, yang lain meminta mereka masuk ke hutan. Dua jawaban yang tampak berseberangan itu sebenarnya sedang menjawab pertanyaan yang sama: apa yang seharusnya dilakukan manusia ketika masa puncaknya telah lewat?
Pertanyaan itu menjadi sangat konkret di ruang redaksi. Wartawan senior mana yang seharusnya menepi, dan mana yang seharusnya membimbing? Dan apakah profesi kita memberi ruang bagi keduanya?
Mentor yang Juga Pemagang
Ada satu kisah yang mencoba mendamaikan dua arah itu. Chip Conley mendirikan dan memimpin perusahaan hotel butik selama 24 tahun sebelum menjualnya. Pada usia 52, ia bergabung dengan Airbnb, perusahaan rintisan yang pemimpinnya 21 tahun lebih muda darinya. Ia direkrut untuk mengajar dan membimbing. Namun ia segera menyadari bahwa dirinya juga murid. Rekan-rekan mudanya fasih dengan dunia digital yang asing baginya, dan ia harus belajar dari mereka.
Conley menuliskan pengalaman itu dalam Wisdom at Work: The Making of a Modern Elder (2018). Ia menggambarkan dirinya sebagai mentor sekaligus pemagang. Pengalaman puluhan tahun ia bawa, tetapi ia juga membawa rasa ingin tahu seorang pemula. Ia tidak menepi ke hutan, juga tidak merebut panggung. Ia memilih duduk di samping, memberi ketika diminta, dan belajar ketika perlu.
Kisah itu terdengar indah. Tetapi tidak semua orang diberi pilihan seperti Conley.
Ruang Redaksi yang Membuang
Sepanjang 2025, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat 549 jurnalis yang melapor terkena pemutusan hubungan kerja, naik dari 373 orang pada tahun sebelumnya. PHK itu menimpa awak media dari stasiun televisi hingga koran daerah. Dan itu baru yang melapor.
Angka itu tidak merinci usia. Tetapi ia memperlihatkan satu hal yang tidak bisa dibantah: ruang redaksi kita sedang kehilangan orang dalam jumlah besar, dan bersama mereka ikut hilang pengalaman yang tidak pernah sempat diwariskan. Wanaprasta mengandaikan seseorang memilih kapan menepi. Erikson mengandaikan seseorang punya tempat untuk membimbing. Bagi yang berpengalaman di antara mereka, dua pengandaian itu tidak berlaku. Mereka tidak menepi, mereka dikeluarkan. Mereka tidak sempat membimbing, karena meja tempat mereka bisa duduk di samping reporter muda ikut hilang.
Di sisi lain, ada pula wartawan yang terus bertahan di panggung terlalu lama, menolak menyerahkan kursi, dan menganggap tidak pernah berhenti sebagai satu-satunya bentuk kesetiaan pada profesi. Dua gejala ini tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya bersumber dari satu kekosongan yang sama: profesi kita jarang menyediakan tempat untuk wartawan yang sudah melewati masa puncaknya, selain panggung atau pintu keluar.
Hutan yang Dipilih
Di Bali, Catur Asrama bukan sekadar pelajaran agama di bangku sekolah, melainkan cara memahami perjalanan hidup. Menjalani keempat tahap itu dianggap ideal, tetapi bukan kewajiban. Wanaprasta adalah pilihan. Orang tidak diusir ke hutan, ia melangkah ke sana karena merasa waktunya telah tiba.
Pernah saya menulis di rubrik Jeda bahwa hutan dalam wanaprasta tidak harus berarti menjauh secara fisik. Hutan itu bisa berupa keheningan batin, ritme kerja yang lebih pelan, dan kesediaan untuk hadir dengan cara yang berbeda. Kalau tafsiran itu diterima, wanaprasta bagi seorang wartawan tidak harus berarti meninggalkan dunia pers. Ia bisa berarti meninggalkan panggungnya saja.
Mungkin inilah titik temu antara kitab klasik dan Erikson. Menepi dari panggung adalah separuh wanaprasta. Separuh lainnya adalah apa yang dilakukan dengan keheningan itu. Ada yang mengisinya dengan membaca dan merenung. Ada pula yang mengisinya dengan duduk di belakang, membiarkan generasi berikutnya memegang mikrofon, dan hanya bicara ketika ditanya.
Kursi di Belakang Layar
Pada akhirnya, kisah Cronkite berakhir dengan ironi yang ganjil. Ia menepati janjinya untuk kembali. Ia membawakan program sains mingguan Universe, lalu bertahun-tahun sesekali muncul sebagai koresponden khusus. Layar tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Yang hilang justru kursinya di ruang redaksi harian, tempat agenda ditentukan setiap hari. Ia masih sesekali mendapatkan apa yang tidak lagi ia rindukan, dan kehilangan yang paling ia rindukan.
Mari kita sediakan kursi itu. Kursi di belakang layar, bukan di depan kamera. Kursi bagi wartawan senior yang tidak lagi mengejar nama di halaman depan, tetapi masih mau membaca naskah reporter muda, menunjukkan paragraf yang lemah, dan menceritakan kesalahan yang dulu pernah mereka buat. Profesi yang bisa menyediakan kursi itu tidak akan kehilangan pengalamannya, dan tidak pula memaksa orang tuanya bertahan di panggung sampai kehabisan suara. Begitulah seharusnya keadaannya. (*)
Menot Sukadana