Merawat Ruang Berpikir Lewat Bali Columnists Community
Oleh Angga Wijaya*
SIANG itu saya bertemu dengan Bli Menot Sukadana, yang memiliki nama asli I Nyoman Sukadana. Ia adalah wartawan, esais, penggagas dan pegiat organisasi kewartawanan, serta pendiri dan pemilik media daring Podiumnews.com. Kami berbincang tentang aktivitas masing-masing, bertukar cerita, dan berbagi pandangan mengenai dunia kepenulisan.
Menjelang akhir perjumpaan, Bli Menot bercerita tentang rencananya membentuk Bali Columnists Community (BCC), sebuah komunitas yang dirancang untuk mempertemukan para penulis kolom atau kolumnis di Bali dari beragam latar belakang profesi dan generasi.
Saya tertarik mendengar gagasan itu. Sebagai wartawan yang juga menulis esai, kolom, dan buku, saya tahu bahwa perjalanan menulis tidak selalu mudah. Ada kalanya gagasan datang begitu saja, tetapi ada pula saat-saat ketika pikiran terasa buntu. Kita membaca, mengamati, mencatat, dan memikirkan banyak hal, tetapi tidak semuanya segera menemukan bentuk dalam tulisan.
Menulis memang kerap menjadi pekerjaan individual. Seorang penulis duduk di hadapan halaman kosong, menyusun kalimat, menghapus bagian yang dianggap tidak perlu, lalu mencoba lagi sampai menemukan bentuk yang dirasa sesuai. Proses itu membutuhkan kesendirian. Namun, bukan berarti seorang penulis harus menjalani seluruh perjalanan kepenulisannya sendirian.
Di balik pekerjaan yang sunyi itu, seorang penulis tetap membutuhkan perjumpaan. Ia membutuhkan orang lain untuk membaca tulisannya, mendengarkan pendapat yang berbeda, atau sekadar berbincang tentang gagasan yang sedang mengganggu pikirannya. Tidak semua percakapan harus menghasilkan tulisan. Terkadang, perbincangan sederhana justru membantu kita melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.
Barangkali, di situlah letak daya tarik gagasan membangun komunitas kolumnis. Bukan semata-mata menyediakan tempat berkumpul bagi orang-orang yang memiliki kegemaran serupa, melainkan membuka kemungkinan untuk saling belajar dan memperluas cara pandang.
Kolom dan esai memiliki tempat tersendiri dalam dunia kepenulisan. Keduanya memberi ruang bagi penulis untuk mengolah peristiwa, menafsirkan kenyataan, mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa, dan menyampaikan pandangan kepada publik. Tulisan tidak berhenti pada apa yang terjadi, tetapi juga berusaha memahami mengapa sesuatu terjadi dan apa maknanya bagi kehidupan bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita berhadapan dengan begitu banyak informasi. Berita datang silih berganti, perdebatan muncul di media sosial, dan berbagai pendapat saling bersahutan. Kita dapat mengetahui banyak hal dalam waktu singkat. Namun, mengetahui sebuah peristiwa tidak selalu berarti memahaminya.
Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, kolom dan esai memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Penulis dapat mengambil jarak dari hiruk-pikuk, memeriksa persoalan, dan mengajak pembaca melihat sisi lain yang mungkin luput dari perhatian. Sebuah tulisan tidak harus selalu menawarkan jawaban. Ada kalanya, pertanyaan yang diajukan dengan jernih jauh lebih berarti daripada kesimpulan yang terburu-buru.
Karena itu, saya menyambut rencana Bli Menot membentuk BCC. Menurut penuturannya, sejauh ini belum ada organisasi atau komunitas khusus yang secara spesifik mempertemukan para kolumnis di Bali. BCC dirancang untuk mengisi ruang tersebut sekaligus menjadi tempat perjumpaan bagi para penulis kolom dan esai dari berbagai latar belakang.
Rencana kegiatannya mencakup pertemuan rutin, pelatihan menulis, edukasi, serta konsultasi kepenulisan bagi masyarakat yang mulai tertarik menulis. Sasarannya antara lain siswa, mahasiswa, pegawai, dan warga yang ingin mengembangkan kemampuan menulis.
Bagi saya, rencana tersebut memiliki arti penting. Tidak semua orang yang ingin menulis mengetahui bagaimana memulai. Ada orang yang menyimpan banyak pengalaman, tetapi kesulitan menuangkannya ke dalam kalimat. Ada pula yang mempunyai gagasan tentang persoalan di sekitarnya, tetapi tidak tahu bagaimana menyusunnya menjadi tulisan yang dapat dibaca orang lain.
Pengalaman hidup sebenarnya menyediakan banyak bahan untuk menulis. Kehidupan di rumah, pekerjaan, perjumpaan dengan orang lain, perubahan di lingkungan sekitar, hingga persoalan sosial yang kita hadapi sehari-hari dapat menjadi sumber gagasan. Tantangannya adalah mengolah pengalaman itu menjadi tulisan yang jernih, bernas, dan bertanggung jawab.
Belajar menulis pun tidak cukup hanya dengan mengetahui teknik menyusun paragraf atau memilih kata. Seseorang perlu belajar mengamati, membaca, mengembangkan argumen, memeriksa fakta, dan bersedia menerima kritik. Kemampuan tersebut tumbuh melalui latihan, tetapi juga melalui percakapan dan perjumpaan dengan orang lain.
Saya membayangkan BCC dapat menjadi salah satu ruang untuk proses itu. Orang-orang yang telah lama menulis bisa berbagi pengalaman dengan mereka yang baru memulai. Wartawan dapat membawa perspektif dari kerja jurnalistiknya, akademisi dari dunia pendidikan dan penelitian, sedangkan orang-orang dari profesi lain dapat menyumbangkan pengalaman yang berangkat dari kehidupan sehari-hari.
Pertemuan berbagai latar belakang itu berpotensi memperkaya tulisan. Cara seseorang memahami persoalan sering kali dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Ketika pengalaman yang berbeda saling bertemu, muncul kesempatan untuk memeriksa kembali pandangan sendiri dan memahami persoalan dari sudut yang lebih luas.
Dalam rencana keanggotaannya, BCC menyasar penulis esai atau kolom yang karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring, dengan sedikitnya lima tulisan terbit sebagai salah satu kriteria yang disebutkan. Ketentuan tersebut dapat menjadi titik awal untuk menghimpun orang-orang yang telah memiliki pengalaman dasar dalam penulisan kolom dan esai.
Namun, pengalaman menulis seharusnya tidak membuat seseorang berhenti belajar. Jumlah tulisan yang telah diterbitkan bukan jaminan bahwa semua gagasan kita sudah matang atau seluruh pandangan kita selalu benar. Tulisan yang pernah dimuat di media pun tetap dapat diperiksa, dikritik, dan diperbaiki.
Di sinilah tantangan sebuah komunitas kepenulisan. Mempertemukan orang-orang yang gemar menulis mungkin bukan pekerjaan paling sulit. Yang lebih menantang adalah menjaga agar pertemuan tersebut terus menghasilkan percakapan bermakna, membuka kesempatan belajar, dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Komunitas juga perlu memberi ruang bagi perbedaan. Kolom dan esai kerap bersentuhan dengan persoalan sosial, kebudayaan, politik, ekonomi, serta kehidupan masyarakat. Perbedaan pandangan merupakan bagian yang wajar dari proses menulis dan membaca kenyataan. Komunitas yang sehat tidak harus membuat semua anggotanya berpikir sama, tetapi memungkinkan mereka menyampaikan pendapat dengan argumen dan tanggung jawab.
Bagi seorang penulis, kesediaan menerima kritik sama pentingnya dengan keberanian menyampaikan pendapat. Kritik mungkin membuat kita tidak nyaman, terutama ketika menyentuh gagasan yang sudah lama kita yakini. Namun, tanpa kesediaan menguji pemikiran sendiri, menulis dapat berubah menjadi kegiatan mengulang keyakinan yang sama.
Saya berharap BCC kelak menjadi ruang yang memungkinkan para penulis saling membaca tanpa harus selalu sepakat. Sebuah ruang tempat gagasan dapat dipertanyakan tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya. Dengan demikian, perbedaan tidak menjadi alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk memperluas pemahaman.
Sebagai penulis, saya sendiri masih terus belajar. Pengalaman menulis dan menerbitkan buku tidak membuat saya merasa telah selesai dengan dunia kepenulisan. Selalu ada hal baru yang dapat dipelajari, ada tulisan yang membuat kita mempertanyakan kembali pandangan sendiri, dan ada pengalaman orang lain yang memperkaya cara kita membaca kehidupan.
Karena itu, saya berharap dapat bergabung dan ikut berkontribusi ketika BCC kelak terbentuk. Saya ingin bertemu dengan penulis lain dan mengambil bagian dalam percakapan yang dapat memperkaya pengalaman menulis. Kontribusi tidak harus selalu berupa karya baru. Membaca tulisan orang lain dengan sungguh-sungguh, berbagi pengalaman, dan memberi masukan yang jujur juga merupakan bagian dari merawat tradisi kepenulisan.
Perjumpaan siang itu berlangsung sederhana. Kami berbicara tentang aktivitas masing-masing, lalu percakapan berujung pada sebuah gagasan yang membutuhkan waktu dan kerja bersama untuk diwujudkan. BCC masih berada dalam tahap persiapan. Karena itu, gagasan ini belum dapat dinilai dari kegiatan yang telah terlaksana, melainkan dari kemungkinan yang ditawarkannya dan kesungguhan orang-orang yang kelak mengerjakannya.
Saya tidak tahu bagaimana perjalanan BCC nantinya. Namun, saya percaya bahwa ruang perjumpaan bagi para penulis layak diusahakan. Bukan karena semua orang harus menjadi penulis, melainkan karena masyarakat membutuhkan orang-orang yang bersedia mengamati, berpikir, dan menyampaikan pandangannya secara bertanggung jawab.
Menulis memang dapat menjadi pekerjaan yang sunyi. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari satu kalimat yang terasa tepat atau berulang kali membaca tulisan sendiri sambil mempertanyakan apakah gagasan di dalamnya sudah tersampaikan dengan baik. Akan tetapi, kesunyian itu tidak harus menjadi batas. Di luar halaman yang kita hadapi sendirian, selalu ada kemungkinan untuk bertemu, berdialog, dan belajar dari orang lain.
Barangkali, di situlah arti penting sebuah komunitas kepenulisan. Bukan sekadar menghimpun orang-orang yang memiliki kegemaran serupa, melainkan merawat ruang tempat gagasan dapat bertemu, dipertanyakan, dan berkembang. Menulis memang pekerjaan individual, tetapi tradisi berpikir tidak seharusnya tumbuh sendirian. (*)
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya berasal dari Jembrana, Bali, dan telah lama menetap di Denpasar. Menjadi wartawan pertama kali semasa mahasiswa pada 2008, kemudian menekuninya kembali sejak 2015 hingga sekarang. Ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku yang terdiri atas kumpulan puisi, kumpulan esai, dan memoar. Ia bekerja di media daring Kanalbali.id, serta menulis lepas untuk Tatkala.co dan Podiumnews.com. Ia juga mengembangkan Bicarabali.com, media independen yang berupaya membaca persoalan sosial dan kebudayaan Bali lebih dalam.