Pujian untuk Raja
Dari Ovidius sampai Ronggowarsito, para penyair yang berhadapan dengan penguasa kerap memilih memuji agar selamat. Sejarah menunjukkan pujian itu jarang menolong mereka, sementara kritik merekalah yang bertahan.
ODE untuk Josef Stalin itu ditulis penyair Rusia Osip Mandelstam dengan memaksa diri, di kota pembuangan Voronezh, pada awal 1937. Tiga tahun sebelumnya, pada musim gugur 1933, ia membacakan sajak ejekan terhadap Stalin di beberapa pertemuan kecil di Moskwa. Seseorang yang ia percayai menyerahkan salinan sajak itu kepada polisi rahasia, dan identitas orang tersebut tidak pernah terungkap. Mandelstam ditangkap pada malam 16 menuju 17 Mei 1934 lalu dibuang. Menurut catatan riwayat hidupnya, ode untuk Stalin ia tulis dengan harapan pujian itu akan melindunginya dari persekusi berikutnya.
Harapan itu tidak terwujud. Ode itu bahkan tidak pernah terbit semasa hidupnya, karena ketika ia menawarkannya kepada Persatuan Penulis Soviet pada 1938, penilainya menyarankan agar tidak diterbitkan. Setelah dilaporkan Ketua Persatuan Penulis Soviet Vladimir Stavsky kepada kepala polisi rahasia Nikolai Yezhov, Mandelstam kembali ditangkap pada 5 Mei 1938 dan dijatuhi hukuman lima tahun kamp kerja. Ia meninggal karena tifus pada 27 Desember 1938 di kamp transit Vtoraya Rechka, dekat Vladivostok. Sesama tahanan dikabarkan menyembunyikan kematiannya selama dua hari agar bisa terus mengambil jatah makannya.
Yang kemudian dikenang dari Mandelstam bukan odenya. Istrinya, Nadezhda, menghafal seluruh sajak sang suami karena khawatir semua salinan tertulis dimusnahkan. Puluhan tahun kemudian, pada 1960-an dan 1970-an, sajak-sajak itu kembali beredar secara diam-diam. Pola serupa, yaitu pujian yang tidak menyelamatkan dan kritik yang justru diingat, juga terlihat pada seorang pujangga Jawa yang wafat delapan belas tahun sebelum Mandelstam lahir.
Pujangga dari Keluarga Tertuduh
Raden Ngabehi Ronggowarsito lahir di Surakarta pada 14 Maret 1802 dengan nama Bagus Burhan. Ia cucu Yasadipura II, pujangga besar Keraton Kasunanan Surakarta, dan kelak dikenal sebagai pujangga penutup karena sesudahnya keraton tidak lagi mengangkat pujangga. Namun riwayat keluarganya menyimpan beban yang berat.
Ayahnya, Mas Pajangswara, adalah juru tulis keraton. Pejabat kolonial Belanda menuduh Pajangswara membocorkan persekutuan rahasia Pakubuwono VI dengan Pangeran Diponegoro, yang berujung pada pembuangan sang raja ke Ambon. Pajangswara meninggal karena siksaan Belanda tanpa pernah mengaku. Putra Pakubuwono VI, yang kemudian naik takhta sebagai Pakubuwono IX dan memerintah dari 1861 sampai 1893, menyimpan dendam terhadap keluarga Pajangswara karena tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Ronggowarsito sempat berusaha memperbaiki hubungan itu dengan mempersembahkan Serat Cemporet kepada sang raja.
Dalam keadaan seperti itulah Serat Kalatidha perlu dibaca. Syair ini biasanya disebut ditulis sekitar 1860, meskipun sejarawan Nancy K. Florida dari University of Michigan, dalam ceramahnya di Harvard University pada 2019, menyebutnya ditulis tidak lama sebelum Ronggowarsito wafat pada Desember 1873. Di bait pertama, Ronggowarsito menggambarkan martabat negara yang merosot dan para pembesar yang tak lagi menjadi teladan. Di bait kedua, ia menyebut rajanya utama, patihnya cakap, dan para pejabatnya berniat baik, tetapi negeri tetap dilanda kesulitan. Raja dalam bait itu umumnya dibaca sebagai Pakubuwono IX, dan riwayat sang raja mencatat Kalatidha sebagai syair yang memuji Pakubuwono IX sambil mengkritik para pejabat di sekelilingnya yang mementingkan diri sendiri.
Pujian itu dapat dibaca dengan dua cara. Bisa saja Ronggowarsito memang menghormati rajanya. Tetapi bagi pujangga dari keluarga yang dicurigai, memuji raja sambil mengkritik pejabatnya juga merupakan cara paling aman untuk tetap bisa mengkritik. Kedua tafsir itu tidak saling meniadakan, dan keduanya menunjukkan betapa sempit ruang yang dimiliki seorang pujangga istana.
Ruang itu juga tidak menjamin kesejahteraan. Penelitian Sisyono Eko Widodo, Siti Muslifah, dan Yohanes Suwanto dari Universitas Sebelas Maret, yang dimuat jurnal Kawruh volume 5 nomor 2, menelaah surat-surat pribadi Ronggowarsito yang disimpan Yayasan Sastra Lestari Surakarta. Mereka menemukan bahwa kehidupan ekonominya tidak sebanding dengan kemasyhurannya. Ia mengalami kesulitan keuangan dan harus meminjam uang dari kawan-kawannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian yang sama mencatat bahwa ia mengajar bahasa Jawa kepada para misionaris dan membantu C.F. Winter, juru bahasa keturunan Indo-Eropa, menyusun kamus bahasa Jawa. Ironinya, ia bekerja bersama orang-orang Eropa di bawah pemerintahan kolonial yang menyiksa ayahnya sampai mati.
Pujian yang Tak Berbalas
Ronggowarsito bukan pujangga pertama yang memuji penguasa dalam keadaan terdesak. Hampir dua ribu tahun sebelumnya, pada tahun 8 Masehi, Kaisar Augustus membuang penyair Romawi Ovidius ke Tomis, kota terpencil di tepi Laut Hitam yang kini menjadi Constan?a di Rumania. Pembuangan itu diputuskan tanpa melibatkan senat atau pengadilan. Ovidius sendiri menyebut penyebabnya carmen et error, sebuah puisi dan sebuah kekeliruan. Puisi itu diduga Ars Amatoria, sedangkan kekeliruannya tidak pernah jelas.
Dari pembuangan, Ovidius menulis Tristia dan Epistulae ex Ponto. Dalam kedua karya itu ia menggambarkan penderitaannya, menyebut kesalahannya sebagai kekhilafan tanpa niat jahat, dan memuji kaisar beserta keluarganya. Tujuannya satu, yaitu dipanggil pulang ke Roma. Panggilan itu tidak pernah datang, dan Ovidius meninggal di pembuangan.
Di Uni Soviet, Anna Akhmatova menempuh jalan yang sama dengan alasan yang lebih pribadi. Mantan suaminya, Nikolai Gumilev, dieksekusi kaum Bolshevik pada 1921. Setelah Perang Dunia II, ia diserang Andrei Zhdanov, Sekretaris Komite Sentral Partai Komunis, dan dikeluarkan dari Persatuan Penulis. Putranya, Lev Gumilev, ditangkap pada 1949. Menurut Academy of American Poets, Akhmatova kemudian menulis sajak-sajak yang memuji Stalin untuk membebaskan putranya. Usaha itu gagal, karena Lev baru bebas pada 1956. Belakangan Akhmatova meminta sajak-sajak pujian itu tidak dimasukkan ke dalam kumpulan karyanya. Karya Akhmatova yang justru dikenang adalah Requiem, rangkaian sajak yang ia susun sejak akhir 1930-an untuk mengenang para korban Stalin.
Pujian dari Ovidius, Mandelstam, dan Akhmatova sama-sama ditulis dalam tekanan, dan sama-sama gagal mencapai tujuannya. Namun ada penyair yang hubungannya dengan penguasa lebih rumit lagi, karena raja bukan hanya pihak yang dipuji, melainkan juga pelindung dan penyensornya.
Raja sebagai Sensor
Alexander Pushkin, penyair terbesar Rusia, pernah dibuang karena sajak-sajaknya yang dianggap menghasut. Setelah diampuni Tsar Nikolai I, Pushkin menulis bahwa sang tsar kini menjadi sensornya sendiri. Kedekatan itu tidak membuat hidupnya lebih mudah. Ia diberi pangkat istana rendah yang ia anggap merendahkan, dan ketika meninggal pada 1837, dua hari setelah terluka dalam duel, ia meninggalkan utang yang sangat besar, termasuk utang judi dan pinjaman dari kas negara.
Menurut catatan Gateway to Russia, Nikolai I kemudian melunasi utang-utang Pushkin, memberi santunan kepada janda dan anak-anaknya, serta membiayai penerbitan karya-karyanya dari kas negara. Penguasa yang semasa hidup Pushkin bertindak sebagai penyensor tulisan-tulisannya baru melunasi utang dan menyantuni keluarganya setelah sang penyair meninggal. Kisah ini sejajar dengan Ronggowarsito: bergantung pada istana, dicurigai istana, dan tetap hidup kekurangan di bawah naungan istana.
Mereka yang Tidak Memuji
Tidak semua penyair memilih memuji. W.S. Rendra memilih jalan sebaliknya pada masa Orde Baru. Rendra membacakan sajak-sajak bertema pembangunan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada malam 28 April 1978, di hadapan penonton yang memenuhi gedung. Di tengah pertunjukan, seseorang melemparkan bom amonia dan tiga penonton pingsan. Tiga hari kemudian aparat menahan Rendra. Komando Daerah Militer Jaya menyebut penahanan itu untuk mengamankannya, sedangkan Laksamana Sudomo, yang sejak April 1978 memimpin Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), menyebut sajak-sajaknya menghasut. Keith Foulcher, peneliti sastra Indonesia dari University of Sydney, mencatat Rendra ditahan lebih dari lima bulan, yaitu dari 1 Mei sampai 7 Oktober 1978. Sebelumnya, sebagaimana ditulis Ajip Rosidi, ia juga sempat dilarang tampil di luar Yogyakarta.
Chairil Anwar menempuh jalan yang lain lagi. Ia tidak bergantung pada patron mana pun, sehingga tidak perlu memuji siapa pun karena takut. Sajaknya "Persetujuan dengan Bung Karno" lahir dari kesetujuan, bukan dari tekanan. Namun kebebasan itu tidak membuatnya lebih sejahtera. Ketika Chairil meninggal pada 28 April 1949 dalam usia 26 tahun, harta yang ditinggalkannya, sebagaimana kerap dicatat dalam riwayat hidupnya, hanya sedikit gula merah, sepasang sepatu, kaus kaki hitam, selembar uang, dan map berisi naskah sajak. Terjemahan "Datang Dara Hilang Dara", yang kemudian memicu tuduhan plagiat, menurut H.B. Jassin dalam bukunya Chairil Anwar Pelopor Angkatan '45 dikerjakan Chairil untuk membayar biaya dokter.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa ketergantungan pada penguasa dan kebebasan dari penguasa sama-sama tidak menjamin kesejahteraan seorang penyair. Yang membedakan adalah harga yang dibayar untuk tetap bisa menulis: Ronggowarsito membayarnya dengan pujian, Rendra dengan penahanan, dan Chairil dengan kemiskinan tanpa perlindungan.
Lebih dari satu setengah abad setelah Kalatidha ditulis, yang diingat pembaca Indonesia dari syair itu adalah zaman edan dan pesan eling lawan waspada, bukan pujian untuk Pakubuwono IX. Hal yang sama berlaku pada Mandelstam, yang dikenang lewat sajak-sajaknya, termasuk sajak ejekan untuk Stalin, bukan lewat odenya, dan pada Akhmatova yang dikenang lewat Requiem. Pujian kepada raja memang kerap menjadi harga yang dibayar agar kritik bisa lewat, tetapi sejarah memperlihatkan bahwa yang tercatat pada akhirnya adalah kritiknya. (*)
Menot Sukadana