Pamit Untung
JARANG ada bule yang mengaku ikut jadi masalah bagi Bali. Yang ini mengaku.
Orangnya Amerika. Ia menulis di Substack, blog berlangganan yang sekarang lagi ramai, dengan nama pena yang agak aneh: The Unhedged Capitalist. Kira-kira artinya kapitalis yang berani main tanpa jaring pengaman. Judul tulisannya Bidding Farewell to Bali, terbit 21 April 2024. Beberapa hari kemudian ia pulang ke Amerika.
Ia tinggal di Uluwatu sejak Juni 2019. Menyewa rumah empat kamar. Satu kamar ia pakai sendiri, sisanya ia sewakan ke turis lewat Airbnb. Laku keras. Tamunya dari Kosta Rika, Portugal, Rusia, Irlandia, India, juga sesama Amerika. Ia tinggal serumah dengan mereka, dan merasa ternyata pandai jadi tuan rumah.
Saya penasaran siapa pemilik rumah itu. Orang Bali? Ia tidak menyebut. Yang jelas, rumah sewaan itu ia sewakan lagi. Dan untungnya masuk ke kantongnya.
Lalu Covid. Perbatasan ditutup, dan sebulan kemudian tamunya habis. Rumah empat kamar itu tinggal berisi dia, cicak, dan serangga. Berbulan-bulan, dalam sehari ia hanya bicara lima sampai sepuluh kata dengan orang lain. Ia mengaku hampir gila. Yang menyelamatkannya seekor anjing yang ia pelihara.
Dengan anjing itu ia biasa jalan-jalan. Setiap kali ia jalan dengan anjingnya, orang-orang tersenyum dan melambai. Ia menulisnya sebagai salah satu hal yang ia sukai dari Bali.
Tapi di bagian lain ia mengaku tidak pernah bisa ngobrol dengan tetangganya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di lingkungannya. Ia malu. Rumah yang ia sewa itu, katanya, mungkin bisa ditempati keluarga Bali.
Lima tahun disapa orang di jalan, tapi tidak pernah benar-benar bicara dengan tetangganya. Di kampung saya di Mengwi, itu sulit. Belum seminggu, orang sudah ditanya asalnya dari mana dan anaknya berapa.
Ternyata bukan cuma dia yang merasa begitu. Di makan malam perpisahannya, di sebuah restoran Meksiko yang makanannya biasa saja tapi sedang jadi tongkrongan orang gaul, seorang kawan Australia yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Bali berkata: dulu saya kenal orang-orang di sekitar sini.
Dua puluh tahun, dan kini merasa asing.
Ia tidak menyalahkan orang Bali. Keluhannya cuma panas dan macet. Orang Indonesia, katanya, ramah, tidak terlalu kecanduan ponsel, dan jago menawar. Ia menyarankan jangan pernah menawar dengan orang Indonesia, karena pasti kalah.
Soal macet ia punya angka sendiri. Januari 2022 perbatasan dibuka. Menurut dia, sebulan kemudian mobil di jalan Uluwatu sudah dua kali lipat. Setahun kemudian dua kali lipat lagi. Harga properti di sana naik 100 sampai 200 persen hanya dalam dua tahun.
Angka itu tentu angka dia sendiri, bukan data resmi. Tapi siapa pun yang pernah terjebak di Jalan Raya Uluwatu sore hari mungkin tidak akan membantahnya.
Ia juga menulis yang ia suka. Panggil tukang ledeng, dalam 48 jam datang, bayar 20 dolar. Skuternya diperbaiki montir setengah jam, bayar 3 dolar. Kopi Indonesia kelas dunia, sekantong 4 dolar. Silakan Anda kalikan sendiri dengan kurs hari ini.
Kenapa akhirnya pulang? Bukan hanya karena macet. Setelah sepuluh tahun hidup di luar negeri, ia rindu keluarga. Rindu makan malam bersama. Rindu hot dog setiap 4 Juli dan kalkun saat Thanksgiving. Rindu bisa ngobrol lancar dalam bahasanya sendiri. Ia menulis, orang ternyata jauh lebih penting daripada pemandangan seperti di kartu pos.
Setelah itu saya membaca tulisan bule lain, juga di Substack. Namanya TimStone. Kali ini bukan pengakuan, tapi hitungan. Judulnya Bali as a Base?, terbit 5 Agustus 2023.
TimStone hidup berpindah-pindah antara Dubai, Manila, dan Bali. Saat menulis, ia baru lima minggu di Bali. Dalam lima minggu itu ia sudah sarapan di lebih dari 30 tempat dan ngopi di lebih dari 45 tempat. Tidak sekali pun, katanya, dapat kopi yang buruk.
Di Bali ia membeli townhouse dua kamar dengan kolam kecil. Belinya inden, waktu Covid. Ia tinggal di sana dua sampai empat bulan setahun. Menurut dia, uang 1.500 sampai 2.500 dolar sebulan di Bali sudah dapat vila dua kamar dengan kolam pribadi. Di Dubai, apartemen satu kamar saja 2.500 sampai 3.000 dolar lebih. Wajar ia betah.
Lalu ia masuk ke soal tanah. Bagian ini yang penting.
Anda tahu, orang asing tidak boleh punya hak milik atas tanah di Indonesia. Jalan keluarnya: sewa jangka panjang, umumnya 25 tahun. Agen properti menyebutnya leasehold. Orang Bali menyebutnya kontrak. Sertifikat tetap atas nama pemilik tanah.
Kata TimStone, waktu itu 200 ribu dolar sudah cukup untuk mengontrak vila dua kamar berkolam selama 25 tahun.
Lalu ia membuka cara yang biasa dipakai investor. Kontrak vila 25 tahun. Sewakan ke turis lima tahun. Setelah itu sisa kontraknya, yang tinggal 20 tahun, dijual ke investor lain. Untung 25 sampai 50 persen. Uangnya dipakai mengontrak vila berikutnya. Begitu terus.
Yang menarik, TimStone sendiri tidak mau main begitu. Ia menyamakannya dengan jual-beli koin kripto abal-abal, hanya lebih lambat. Ia lebih suka beli properti di Dubai, yang bisa dimiliki penuh.
Saya coba hitung. Agen properti sering menjanjikan hasil sewa 10 persen setahun. Kalau benar, lima tahun disewakan dapat sekitar 100 ribu dolar. Lalu dijual, laku 250 sampai 300 ribu dolar. Modal 200 ribu dolar kembali, dan masih ada tambahan 150 sampai 200 ribu dolar.
Itu belum dipotong pajak dan komisi agen. Taruhlah tinggal separuhnya. Masih besar untuk lima tahun.
Di proyek tempat TimStone membeli, harganya lebih tinggi lagi. Di kolom komentar, ia menyebut unit satu kamar ditawarkan sekitar 250 ribu dolar untuk sisa kontrak sekitar 22 tahun. Yang dua kamar, ia perkirakan, 360 sampai 380 ribu dolar.
Lalu pemilik tanahnya dapat berapa?
Saya cari angkanya. Tidak ketemu. Dua tulisan itu juga tidak menyebut. Barangkali Anda tahu. Atau keluarga Anda pernah mengontrakkan tanah ke bule.
TimStone hanya memberi gambaran bagaimana tanah-tanah itu didapat. Banyak transaksi di Bali, katanya, soal kenal orang. Contohnya: ada warga yang ibunya sakit dan butuh biaya operasi, lalu ditanya apakah punya tanah di Pererenan.
Itu memang ia tulis sebagai contoh. Tidak jelas pernah terjadi atau tidak. Tapi saya tidak perlu membayangkan terlalu jauh. Tanah memang sering lepas dari orang yang sedang butuh uang.
Saya tidak mau menyalahkan bulenya. Banyak yang sopan dan membayar tepat waktu, seperti bule Uluwatu yang selalu disapa saat jalan dengan anjingnya. Yang saya persoalkan cara jual-belinya. Pemilik tanah dibayar sekali di depan untuk 25 tahun. Setelah itu tanahnya kembali, atau kontraknya diperpanjang dengan bayaran baru. Tapi selama 25 tahun itu, sisa kontraknya bisa dijual dari satu investor ke investor lain, berkali-kali. Untungnya umumnya tidak sampai ke pemilik tanah.
Pemprov Bali tahun ini punya Perda Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan secara Nominee. Judulnya panjang. Salah satu isinya melarang nominee: bule membeli tanah dengan meminjam nama orang lokal. Itu bagus.
Tapi cara yang ditulis TimStone tidak perlu pinjam nama siapa-siapa. Kontrak 25 tahun itu sah.
Yang menandatangani kontraknya juga orang Bali sendiri. Ada yang terdesak, ada yang memang ingin untung. Saya tidak mau menghakimi. Kalau saya punya tanah di Pererenan dan ditawar dengan dolar, saya tidak yakin bisa menolak.
Bule Uluwatu tadi menulis satu kalimat yang terus saya ingat: “A neighborhood does not exist if everyone ‘living’ in it has a return ticket.” Kampung itu tidak benar-benar ada kalau semua penghuninya pegang tiket pulang.
Ia menulisnya untuk menyindir turis yang datang dua minggu, memotret, lalu pergi. Padahal ia sendiri juga pegang tiket pulang. Dan akhirnya ia pakai, untuk pulang ke hot dog dan kalkunnya.
Apakah ia pulang membawa untung? Saya tidak tahu. Covid sempat membuat rumahnya hanya berisi dia dan anjingnya. Para investor yang ditulis TimStone, saya kira, lebih beruntung. Di kalangan mereka, menjual sisa kontrak disebut exit. Keluar. Pamit, sambil membawa untung.
Kawan Australianya yang 20 tahun itu entah masih di Bali atau tidak. Rumah empat kamar di Uluwatu itu mungkin sekarang sudah dikontrak orang lain. Mungkin juga sudah dipasang lagi di Airbnb. (*)
Menot Sukadana