Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Mundur Maju

Oleh Nyoman Sukadana • 23 Oktober 2026 • 05:04:00 WITA

Mundur Maju
Menot Sukadana (Dok/Podiumnews)

UMUR Dahlan Iskan 75 tahun. Pekan lalu ia berjalan kaki di Jepang, menyusuri jalur kuno bernama Nakasendo. Ia menyebutnya camino, dan tetap menulis setiap pagi.

Camino aslinya nama jalur ziarah jalan kaki di Spanyol. Dahlan sendiri menulis, camino-nya kali ini bukan di Santiago, melainkan camino-nya Jepang. Nakasendo adalah jalan zaman Edo yang menembus pegunungan, menghubungkan Edo, nama lama Tokyo, dengan Kyoto. Bersama teman-teman satu program, ia berjalan dua etape mulai dari Tsumago. Saya membayangkan pegalnya kaki orang 75 tahun di jalur pegunungan seperti itu.

Setelah berjalan, mereka makan siang di Magome. Menurut Dahlan, agenda terpenting di sana justru membeli talenan. Ia mengaku agak malu menyebutkannya. Orang berjalan jauh-jauh di jalur bersejarah, yang paling diingat malah talenan.

Padahal Dahlan pernah berhenti. Sejak akhir 2017 ia tidak lagi menulis di koran, termasuk di Jawa Pos, kelompok media yang ia besarkan sejak 1982. Umurnya waktu itu 66. Ketika seorang kawan datang membujuknya menulis lagi, jawabannya tegas: ia sudah tidak mau menulis lagi. Kalimat itu terdengar seperti kalimat orang yang sudah capek.

Yang membuatnya berubah pikiran justru obrolan yang terdengar seperti kelakar. Dahlan bertanya kenapa banyak wartawan kena stroke saat tua. Si kawan menjawab asal saja: biasanya menulis setiap hari, lalu tiba-tiba berhenti karena tidak punya media. “Stres,” sahut Dahlan sendiri. Saya kira kawan itu setengah bercanda, setengah menakut-nakuti. Ternyata berhasil. Pada 9 Februari 2018, bertepatan dengan Hari Pers Nasional, blog Disway terbit. Sejak itu Dahlan menulis setiap hari.

Menulis setiap hari ternyata tidak selalu menyenangkan baginya. Dahlan pernah mengaku sering benci mengapa harus menulis setiap hari, terutama di hari yang sibuk. Ia menyamakannya dengan brokoli, pepaya, oatmeal, dan air putih yang menurutnya harus ia makan. Semua itu ia makan karena penting, bukan karena suka. Jarang penulis terkenal mau mengaku benci pada pekerjaannya sendiri.

Ia pernah dirawat seminggu karena Covid, beberapa kali sakit perut sampai lemas, dan sudah lama hidup tanpa kantong empedu. Tulisannya tetap terbit. Bahkan dari rumah sakit, katanya, lahir banyak tulisan, dua di antaranya viral, soal D-dimer dan vitamin D. Orang lain dirawat untuk istirahat, ia malah mendapat bahan tulisan.

Menurut pengakuannya, hanya dua atau tiga kali ia benar-benar ingin berhenti, dan rasa itu selalu datang menjelang pukul sembilan malam. Jam segitu memang jam rawan. Tulisan untuk besok pagi belum selesai, badan sudah minta tidur.

Sejak 6 Agustus 2007 ia juga hidup dengan hati orang lain. Hatinya yang penuh kanker diganti di Tianjin dengan hati seorang anak muda yang meninggal mendadak. Ia merayakan dua ulang tahun setiap tahun. Agustus tahun lalu, menjelang ulang tahun ke-19 hidup barunya, ia berada di Beijing mengantar seseorang berumur 42 tahun yang hatinya sudah sirosis berat dan harus ganti hati.

Dalam tulisan itu Dahlan menghitung, hatinya yang baru berumur 20 tahun ketika dicangkokkan, jadi saat itu 39 tahun. Seorang pembacanya mengoreksi di kolom komentar: mestinya 38. Sesekali hitungan meleset, dan pembacanya yang membetulkan.

Saya tidak tahu apakah menulis ikut membuatnya awet. Mungkin malah sebaliknya: karena merasa diberi umur tambahan, ia tidak mau menyia-nyiakannya. Itu dugaan saya saja.

Di Bali ada Putu Wijaya. Ia lahir di Puri Anom, Tabanan, tahun 1944. Umurnya kini 82. Lebih dari sepuluh tahun lalu ia terserang stroke. Fungsi tangan dan kaki kirinya terganggu, dan sehari-hari ia di kursi roda.

Waktu itu Putu kesulitan membiayai pengobatannya. Dahlan, yang sedang menjabat Menteri BUMN, datang menjenguk ke rumahnya di Ciputat bersama seorang dokter ahli stem cell. Mereka pernah sama-sama bekerja di Tempo, dan Dahlan memang penggemar cerpen-cerpen Putu. Lewat pesan pendek kepada wartawan, Dahlan menyatakan biaya terapi itu akan menjadi tanggungannya pribadi.

Berita yang sama menulis, akibat stroke itu Putu tidak bisa berkarya lagi.

Bertahun-tahun kemudian, ketika wartawan Tempo datang ke rumahnya, Putu memamerkan tujuh buku tebal yang ia tulis sejak stroke. Buku-buku itu ditumpuk di meja televisi, di samping tempat duduknya. Ia menulis dengan tangan kanan saja, mengetik di ponsel. Coba Anda bayangkan menulis satu buku tebal dengan satu tangan di layar ponsel. Saya mengetik pesan WhatsApp panjang saja sudah malas.

Putu memang dikenal sebagai penulis cepat. Di acara peluncuran salah satu bukunya, seseorang berseloroh: lemparkan sandal ke arah Putu, beberapa menit kemudian jadilah cerpen tentang sandal itu. Saya penasaran cerpen apa yang lahir dari sandal itu. Sayang, tidak disebutkan.

Putu sendiri pernah bilang, kalau cerpennya ada salah ketik, ia memilih tidak menyuntingnya. Menyunting makan waktu lebih lama daripada menulis cerpen baru. Pengakuan ini jujur sekali, dan sedikit nakal.

Resepnya kalau macet di tengah tulisan: jangan bangun dari kursi. Mengetik saja terus, nanti ada jalan.

Lalu ada Rosihan Anwar, yang dijuluki wartawan tiga zaman. Pada 29 November 1985, dalam acara menghormati seorang wartawan pejuang di Gedung Dewan Pers, seseorang bertanya apakah ia tergerak menulis buku tentang wartawan-wartawan tua. “Buat apa,” jawab Rosihan. Generasi muda sekarang tidak mengenal mereka. Ketika terus didesak, ia menutup dengan kalimat: biarlah, ia tidak melihat gunanya. Umurnya waktu itu 63.

Sepekan kemudian ia diminta memberi ceramah sejarah pers di Departemen Luar Negeri. Untuk menyegarkan ingatan, ia membaca ulang buku-buku lama di perpustakaan PWI. Membaca kisah perjuangan para wartawan dulu, Rosihan menangis. Ia sedih karena pengorbanan mereka untuk kemerdekaan seolah dianggap tidak ada apa-apa.

Kisah itu ia tulis di Sinar Harapan, terbit 11 Desember 1985. Di tulisan itu ia merasa perlu menjelaskan bahwa tangisnya bukan dibuat-buat, juga bukan karena usia. Orang bilang, tulisnya, di atas 60 tahun orang cenderung mudah menangis. Kesedihannya, katanya, sungguh-sungguh.

Rosihan terus menulis kolom sampai akhir hidupnya. Ia meninggal pada April 2011, di usia 88.

Catatan harian Dahlan terbit setiap pukul empat pagi waktu Indonesia barat. Di Bali, itu pukul lima. Saya belum tahu besok ia menulis dari kota mana. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.