Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Yudhistira, Bismarck, dan Seni Memotong Kebenaran

Oleh Nyoman Sukadana • 24 Oktober 2026 • 22:04:00 WITA

Yudhistira, Bismarck, dan Seni Memotong Kebenaran
Kalimatnya benar, potongannya menyesatkan. Dari Yudhistira hingga Bismarck, seni memotong kebenaran kini hidup di lini masa kita lewat klip pendek. (Ilustrasi/Podiumnews)

Gajah Milik Raja Malawa

GAJAH itu milik Indrawarman, raja Malawa yang bertempur di barisan Pandawa. Tubuhnya besar, dan namanya kebetulan sama dengan putra tunggal Drona, guru para Pandawa dan Kurawa yang di Kurusetra berdiri sebagai panglima Kurawa: Aswatama.

Di hari-hari terakhir kepemimpinannya, Drona membantai pasukan Pandawa tanpa bisa dihentikan. Kresna menyadari, selama sang guru masih memegang busur, tak seorang pun sanggup mengalahkannya.

Satu-satunya cara adalah membuat Drona sendiri yang meletakkan senjatanya, dan satu-satunya hal yang bisa membuat Drona melakukan itu adalah kabar kematian Aswatama.

Maka Bima membunuh gajah milik raja Malawa itu, gajah dari pasukannya sendiri, lalu berteriak bahwa ia telah membunuh Aswatama. Teriakan itu sampai ke telinga Drona, tetapi sang guru tidak langsung percaya.

Ia tahu putranya tangguh. Ia ingin memastikannya kepada satu orang yang ia yakini tak mungkin berbohong: Yudhistira, sulung Pandawa.

Yudhistira ragu. Kresna membujuknya dengan alasan yang terdengar sangat masuk akal di tengah perang: bila Drona terus bertempur dengan amarah seperti itu, setengah hari saja sudah cukup untuk memusnahkan pasukan Pandawa, dan dalam keadaan seperti ini, dusta lebih baik daripada kebenaran.

Ketika Drona datang bertanya, Yudhistira menjawab dengan lantang bahwa Aswatama telah mati, lalu menggumamkan kata "gajah" dengan suara nyaris tak terdengar. Dalam banyak penuturan, gumaman itu tertutup bunyi sangkakala para kesatria Pandawa.

Drona kehilangan keinginan untuk hidup. Ia akhirnya meletakkan senjata dan duduk bersemadi, dan saat itulah Drestadyumna memenggal kepalanya.

Pedalangan Jawa menceritakan peristiwa yang sama dengan sedikit berbeda. Gajahnya bernama Hestitama, dan hesti berarti gajah. Bima meremukkan kepalanya dengan gada, lalu kabar kematian itu diteriakkan di medan perang supaya sampai ke telinga Drona.

Ketika Drona bertanya, Puntadewa menjawab bahwa Hestitama memang mati. Kata hesti ia ucapkan pelan, kata tama ia keraskan. Di telinga seorang ayah yang sedang kalut, yang tertangkap hanyalah bunyi yang mirip nama putranya.

Dua versi itu memakai teknik yang sama.

Yudhistira tidak mengucapkan satu kata pun yang salah. Gajah itu memang mati.

Yang ia lakukan hanyalah memastikan satu kata tidak sampai ke telinga orang yang paling membutuhkannya. Kebohongannya tidak terletak pada apa yang ia ucapkan, melainkan pada apa yang ia biarkan hilang.

Telegram dari Ems

Teknik Yudhistira tidak tinggal di medan Kurusetra. Ia muncul lagi di Eropa abad ke-19, di tangan seorang negarawan yang jauh lebih dingin.

Raja Wilhelm I dari Prusia sedang berlibur di Ems, kota pemandian air panas di lembah Sungai Lahn, pada musim panas 1870. Duta Besar Prancis, Vincent Benedetti, menemuinya di jalan setapak taman dan mendesak sebuah jaminan: sang raja tidak akan pernah lagi merestui keluarga Hohenzollern mengincar takhta Spanyol.

Pangeran Leopold, kerabat sang raja, sebenarnya sudah menarik pencalonannya sebelum pertemuan itu. Prancis ingin lebih dari itu, ingin janji untuk selamanya. Wilhelm menolak dengan sopan.

Heinrich Abeken, pejabat kementerian luar negeri yang mendampingi raja, lalu mengirim laporan pertemuan itu lewat telegram kepada Kanselir Otto von Bismarck di Berlin, dengan izin untuk menyampaikannya kepada pers.

Bismarck sedang makan malam bersama Menteri Perang Albrecht von Roon dan Kepala Staf Umum Helmuth von Moltke ketika telegram itu tiba, malam 13 Juli 1870. Bismarck ingin memancing perang dengan Prancis, dan kedua tamunya sejalan.

Telegram dari Ems membuat mereka murung, karena nadanya terdengar seperti Prusia sedang mengalah.

Bismarck kemudian mengambil pena dan memangkas laporan itu. Kalimat-kalimat yang melunakkan dibuang, sehingga yang tersisa adalah inti yang kering: Prancis menuntut, raja menolak, dan raja tidak mau menerima sang duta lagi.

Dalam memoarnya, Bismarck mengenang komentar Moltke setelah mendengar versi baru itu. Sebelumnya, kata Moltke, bunyinya seperti tanda menyerah; sekarang seperti fanfar yang menjawab tantangan.

Bismarck sendiri meramalkan teks itu akan bekerja seperti kain merah yang dikibaskan di depan banteng Galia. Ramalannya tepat.

Versi suntingan itu tersebar ke surat kabar dan kedutaan, orang Prancis membacanya sebagai penghinaan terhadap duta mereka, dan pada 19 Juli 1870, enam hari kemudian, Prancis menyatakan perang. Perang itu berakhir dengan kekalahan Prancis dan berdirinya Kekaisaran Jerman.

Yang paling menarik dari kisah ini adalah pembelaan Bismarck sendiri. Di memoarnya ia menyangkal telah menambah atau mengubah isi telegram. Ia hanya memendekkannya.

Ia bahkan mengakui bahwa daya ledak versinya tidak datang dari kata-kata yang lebih keras, melainkan dari bentuknya.

Penyunting arsip sejarah Jerman yang memuat memoar itu mengingatkan agar ingatan Bismarck dibaca dengan hati-hati. Perbandingan kedua teks menunjukkan ia juga menyusun ulang kalimat, dari tuturan sang raja menjadi pengumuman resmi.

Tetapi justru di situ letak pelajarannya. Bismarck tahu persis apa yang ia lakukan, dan ia tetap merasa tidak berbohong.

Yudhistira menenggelamkan satu kata dengan suaranya. Bismarck membuang beberapa kalimat dengan penanya.

Keduanya memakai kata-kata yang benar, dan keduanya mendapatkan persis apa yang mereka inginkan: seorang guru meletakkan senjata, dan sebuah negara mengangkat senjata.

Kata yang Hilang

Indonesia punya contohnya sendiri, dan salah satunya bahkan berakhir di pengadilan.

Pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 diunggah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rekaman utuh berdurasi 1 jam 48 menit 33 detik. Buni Yani mengunggah potongannya, sekitar 30 detik, ke akun Facebook miliknya, disertai transkrip yang menghilangkan satu kata: "pakai".

Pengadilan Negeri Bandung menyatakannya bersalah melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan menjatuhkan hukuman satu tahun enam bulan penjara pada 14 November 2017.

Perkara ini perlu dibaca dengan adil. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia saat itu, Tito Karnavian, menjelaskan bahwa kata "pakai" masih terdengar di dalam video; yang hilang ada di transkrip yang ditulis Buni Yani.

Majelis hakim dalam perkara Basuki juga berpendapat tidak ada saksi yang memperoleh informasi soal penodaan agama dari unggahan Buni Yani.

Satu hal jelas dari putusan perkara Buni Yani: hukum kita pernah memandang pemotongan sebuah rekaman sebagai perbuatan yang bisa dipidana, bukan sekadar kelalaian menyalin.

Contoh kedua lebih dekat dengan cara kerja clipper hari ini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi tamu siniar Deddy Corbuzier yang tayang 3 Desember 2019. Ditanya soal situs porno, Ganjar menjawab dengan santai bahwa menonton bukan kesalahan bagi orang dewasa yang sudah menikah. Ia lalu menambahkan bahwa yang tidak boleh adalah menyebarkannya, karena penyebarnya bisa dijerat UU ITE.

Menjelang Pemilu 2024, ketika Ganjar menjadi calon presiden, sebuah halaman Facebook anonim mengambil ucapan itu, lalu menyandingkannya dengan penjelasan seorang dokter tentang bahaya pornografi. Menurut liputan yang menelusuri klip tersebut, bagian tentang batas hukum tidak ikut ditampilkan.

Penelusuran bersama Project Multatuli dan sejumlah media atas alat transparansi iklan Meta menunjukkan iklan di halaman itu, juga di halaman lain yang menyerang Anies Baswedan, didanai dua agensi digital, Matarasa Digital dan Sketsahouse, dengan belanja sekitar Rp16,3 juta. Matarasa Digital menolak diwawancarai, dan penelusuran itu tidak membuktikan adanya kontrak dengan tim kampanye mana pun.

Klip tentang Ganjar tidak memuat satu kata pun yang ia tidak ucapkan. Wajahnya asli, suaranya asli, kalimatnya asli.

Yang dibuang hanya penjelasannya, dan tanpa penjelasan itu, pengakuan jujur seorang pejabat tentang wilayah pribadi berubah menjadi pengakuan moral yang memalukan.

Dunia hukum mengenal sebuah adagium berbahasa Latin yang masih dipakai dalam hukum perjanjian sampai sekarang: suppressio veri, suggestio falsi. Menyembunyikan kebenaran sama dengan menyiratkan kebohongan.

Seorang penjual mobil bekas yang tidak menyebut mesinnya pernah terendam banjir tidak mengucapkan satu dusta pun, tetapi hukum bisa menganggapnya menipu, karena ia sengaja membiarkan pembeli menarik kesimpulan yang salah.

Adagium ini menjawab pembelaan Bismarck, dan menjawab pembelaan setiap clipper yang berkata, "Saya tidak mengubah apa-apa, itu ucapannya sendiri."

Di sini pula letak kesulitan para pemeriksa fakta. Mereka terbiasa bertanya apakah sebuah konten benar atau palsu.

Untuk potongan seperti klip Ganjar, jawabannya membingungkan: videonya benar, kesimpulannya palsu.

Label "hoaks" terasa tidak pas, dan sebelum pemeriksa fakta selesai menjelaskan apa yang dibuang, potongan itu sudah beredar jauh lebih luas daripada penjelasannya.

Pertanyaan yang lebih berguna bukan "apakah ini asli?", melainkan "apa yang tidak ditunjukkan kepada saya?"

Wartawan Juga Memotong

Tentu ada keberatan yang wajar. Bukankah memotong adalah pekerjaan sehari-hari jurnalisme?

Tidak ada berita yang memuat wawancara dua jam secara utuh. Setiap kutipan adalah potongan, setiap judul adalah pilihan tentang bagian mana yang ditonjolkan.

Keberatan itu benar, dan sejarahnya panjang. Daniel Hallin, peneliti komunikasi dari University of California, San Diego, menghitung panjang rata-rata potongan ucapan calon presiden Amerika Serikat di berita malam televisi.

Dalam kampanye 1968, rata-ratanya sekitar 43 detik. Dua puluh tahun kemudian, dalam kampanye 1988, tinggal 8,9 detik.

Kini potongan politik bahkan beredar sebagai video vertikal di media sosial, yang durasinya sering hanya belasan detik.

Temuan Hallin yang lebih penting justru soal sebabnya. Para penyunting film tahun 1968 sebenarnya sudah bisa membuat potongan pendek, tetapi mereka menganggapnya tidak pantas untuk tokoh politik besar.

Potongan memendek bukan semata karena televisi makin dangkal. Wartawan Amerika pasca-Perang Vietnam dan skandal Watergate menjadi lebih curiga terhadap politisi, dan mereka tidak mau lagi sekadar menyiarkan ucapan kandidat mentah-mentah.

Mereka memotong supaya bisa menganalisis, membandingkan, dan menyanggah.

Jadi persoalannya bukan pada memotong. Persoalannya ada pada apa yang dilakukan setelah memotong.

Potongan wartawan datang bersama nama penulis, nama media yang bisa digugat, dan kewajiban melayani hak jawab serta hak koreksi sebagaimana diatur Undang-Undang Pers.

Wartawan memotong lalu bertanggung jawab atas konteks yang ia buang. Clipper memotong lalu menghilang.

Halaman anonim yang menyerang Ganjar dan Anies tidak mencantumkan pengelola yang bisa dikirimi hak jawab, dan ketika klipnya sudah beredar, tidak ada ralat yang bisa mengejarnya.

Itu tidak berarti pers bersih dari dosa yang sama.

Judul yang mencomot satu kalimat paling panas dari wawancara panjang, lalu menyimpan penjelasannya di paragraf kesembilan, adalah teknik Bismarck dalam ukuran kecil. Bedanya hanya pada skala dan pada adanya seseorang yang bisa dimintai pertanggungjawaban.

Panca Satya

Anak-anak Hindu di Bali mengenal ajaran Panca Satya dari pelajaran agama: lima bentuk kesetiaan pada kebenaran.

Satya hredaya, setia pada hati nurani. Satya wacana, setia pada kata-kata. Satya laksana, setia pada perbuatan. Satya semaya, setia pada janji. Satya mitra, setia pada sahabat.

Ajaran ini sederhana, tetapi memuat satu hal yang sering dilupakan dalam perdebatan soal kebohongan: kebenaran tidak hanya diukur dari kata-kata.

Kalau ukurannya hanya satya wacana, Yudhistira bisa dibela. Gajah bernama Aswatama memang mati, dan kata "gajah" memang ia ucapkan, meski pelan.

Bismarck juga bisa dibela, karena isi yang ia sisakan memang berasal dari laporan Abeken. Pembelaan setiap clipper pun berdiri di wilayah yang sama: itu ucapannya sendiri.

Tetapi Panca Satya menempatkan satya hredaya di samping satya wacana.

Yudhistira tahu Drona akan memahami jawabannya sebagai kabar kematian sang putra, dan justru itulah tujuannya. Kata-katanya setia pada kebenaran, hatinya tidak.

Lalu ada satya laksana. Pemotong klip Ganjar tidak mengucapkan apa pun. Ia hanya memilih detik mana yang disimpan dan detik mana yang dibuang, lalu menempelkan potongan itu di samping penjelasan seorang dokter.

Tetapi memilih adalah perbuatan, dan perbuatan itu punya maksud.

Ajaran ini juga mengena pada kita yang meneruskan klip ke grup keluarga atau grup banjar tanpa pernah menonton rekaman utuhnya. Kita mungkin tidak memotong, tetapi kita ikut menyebarkan potongan.

Drona sendiri jatuh karena ia percaya pada reputasi satya wacana Yudhistira. Ia mengabaikan teriakan Bima, tetapi menerima jawaban muridnya tanpa bertanya gajah mana, Aswatama yang mana, dan mengapa suara Yudhistira mengecil di ujung kalimat.

Penonton klip hari ini berada di posisi yang sama: menonton di sela pekerjaan, dari wajah yang dikenal, dengan suara yang asli. Semua tanda keaslian itu justru membuat kita tidak bertanya apa yang hilang.

Kereta yang Menyentuh Tanah

Mahabharata tidak membiarkan Yudhistira lolos begitu saja.

Sebelum hari itu, kereta perangnya selalu melaju setinggi empat jari di atas tanah, tanda kejujurannya yang tidak pernah tercela.

Begitu kalimat setengah benar itu terucap, kuda dan keretanya turun menyentuh bumi. Hukumannya langsung, dan menimpa orang yang memotong.

Akibatnya juga tidak berhenti pada kematian Drona. Aswatama, putra yang dikabarkan mati itu, menyimpan dendam atas cara ayahnya dibunuh.

Di akhir perang ia menyelinap ke perkemahan Pandawa pada malam hari dan membantai putra-putra Pandawa yang sedang tidur.

Setengah kebenaran yang dipakai untuk memenangkan satu pertempuran ikut melahirkan salah satu pembantaian paling kelam dalam epos itu.

Di lini masa, tidak ada kereta yang turun menyentuh tanah.

Bismarck tidak pernah kehilangan apa pun karena telegram Ems; ia dikenang sebagai pemersatu Jerman. Sejauh yang diberitakan, halaman yang memotong ucapan Ganjar tidak pernah dimintai pertanggungjawaban; jangkauannya malah dibeli dengan iklan berbayar.

Yang menanggung akibatnya adalah orang yang ucapannya dipotong, dan penonton yang seperti Drona meletakkan penilaiannya sendiri karena percaya pada wajah dan suara yang asli.

Dendamnya pun sama: setiap potongan yang menyerang satu pihak dibalas dengan potongan lain yang menyerang pihak lawan, sampai tidak ada lagi yang ingat percakapan utuhnya.

Karena keretanya tidak pernah terlihat turun, kitalah yang harus belajar melihatnya.

Setiap kali sebuah klip terasa terlalu sempurna untuk membenarkan kemarahan kita, barangkali di sana ada kata "gajah" yang sengaja digumamkan pelan. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.