Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Tokoh Lewat

Oleh Nyoman Sukadana • 26 Oktober 2026 • 23:49:00 WITA

Tokoh Lewat
Menot Sukadana (Dok/Podiumnews)

KENAL nama, tak kenal muka. Begitulah nasib penulis kolom. Namanya dibaca tiap pekan di koran langganan, tulisannya diteruskan di grup WhatsApp, tapi ketika ia antre bayar di warung sebelah, tak seorang pun menoleh. Influencer kebalikannya: mukanya dikenal sampai ke pasar, tapi apa yang pernah ia tulis, belum tentu ada yang ingat.

Goenawan Mohamad pun, barangkali, kena. Cerita ini saya temukan di tulisan Rusdi Mathari di Mojok, 2 Oktober 2014, berjudul “Agus Mulyadi Ingin Disedot”. Judulnya memang begitu. Isinya guyon dari awal sampai akhir.

Rusdi bertemu Agus Mulyadi tanpa sengaja di Warung Mas Kali, Yogyakarta. Agus waktu itu blogger asal Magelang yang mulai dikenal. Ia datang bersandal jepit kuning, memanggul ransel hitam, bertopi safari putih seperti turis Jepang, dan celana cokelatnya sudah menipis di bagian selangkangan. Di sela obrolan ngalor-ngidul, Agus bercerita pernah ke Salihara, Jakarta, tempat kesenian yang didirikan Goenawan Mohamad, dan bertemu GM di sana.

Waktu itu musim kampanye capres. Agus memakai kaus bergambar Garuda merah. GM menegurnya, “Kamu pendukung Prabowo ya?” Agus menjawab ia sudah memakai simbol itu jauh sebelum Prabowo memakainya.

Agus heran. GM ternyata biasa saja di tempat yang ia dirikan sendiri. Waktu GM lewat, banyak orang hanya duduk diam. Tak ada yang mengangguk, tak ada yang menyapa.

“Padahal dia itu tokoh, lho,” kata Agus.

Tokoh memang. GM menulis Catatan Pinggir di majalah Tempo sejak pertengahan 1970-an. Sampai hari itu di tahun 2014, hampir empat puluh tahun ia menulis kolom yang sama, terputus antara lain ketika Tempo dibredel. GM masih sempat menegur tamu muda yang kausnya aneh. Tapi waktu ia lewat di Salihara, tak ada yang menegurnya.

Saya tidak tahu kenapa orang-orang di Salihara diam. Mungkin mereka tidak kenal mukanya. Mungkin kenal, tapi sungkan menyapa orang sebesar itu. Dari cerita Agus, tidak ada yang bisa dipastikan.

Rusdi lalu bertanya apakah Agus pengagum GM. Agus bilang tidak. Ia malah minder, katanya, karena GM pintar dan bahasanya sulit ia pahami. Ia lebih suka Umar Kayam, yang bahasanya seperti bahasa orang kampung macam dia.

Umar Kayam menulis kolom di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Tokohnya Pak Ageng dan pembantunya, Mister Rigen, wong cilik yang lugu tapi suka bertanya. Kolom itu kemudian dibukukan, salah satunya Mangan Ora Mangan Kumpul. Kata pengantarnya ditulis oleh GM. Di sana GM memuji Kayam yang tidak pernah pura-pura populer.

Jadi esais yang bahasanya sulit dipahami Agus memuji esais yang bahasanya mudah. Pemuda dari Magelang memilih yang mudah.

Rusdi sendiri lain lagi. Ia wartawan senior yang namanya tak sebesar GM. Ia meninggal pada Jumat, 2 Maret 2018. Serial Ramadan yang ia tulis di Mojok, tentang tokoh bernama Cak Dlahom, dibukukan jadi Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Sejak 2019 buku itu jadi bahan makalah, skripsi, dan jurnal di berbagai kampus. Saya kira kebanyakan mahasiswa yang menulis tentang buku itu tak pernah melihat muka penulisnya.

Agus jalannya lain. Bukan cuma namanya yang dikenal, mukanya juga. Sebelum ditarik jadi redaktur Mojok, ia membuka jasa edit foto di Magelang dengan modal Photoshop. Menurut Puthut EA, kepala suku Mojok, pelanggan bisa dibuatkan foto, misalnya sedang bersalaman dengan Totti, kapten AS Roma, tarifnya Rp50 ribu. Telepon dari Puthut datang sehari sebelum Agus mulai bekerja sebagai penjaga parkir di mal dekat desanya. Ia memilih Mojok, lalu kelak menjadi pemimpin redaksinya. Tahun 2017 ia menulis bahwa orang lebih mengenalnya sebagai Agus Mojok ketimbang Agus Mulyadi.

Di Bali sama saja. Ada beberapa penulis esai asal Bali yang namanya dikenal sampai tingkat nasional. Gde Aryantha Soethama, misalnya, menulis buku esai Basa Basi Bali dan Bali Tikam Bali, tapi penghargaan nasional malah ia terima lewat kumpulan cerpen, Mandi Api, tahun 2006. Ada juga Putu Setia, wartawan Tempo yang menulis Menggugat Bali tahun 1986 dan lama mengisi kolom Cari Angin di Koran Tempo. Sejak 2009 ia menjadi pendeta dengan nama Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda.

Bisa jadi Anda pernah membaca tulisan atau buku mereka. Tapi kalau mereka duduk di sebelah Anda di warung kopi, atau di wantilan waktu ada upacara di desa, belum tentu Anda tahu itu mereka. Kenal nama, tak kenal muka.

Influencer bekerja dengan cara sebaliknya. Atta Halilintar, yang besar dari YouTube, punya hampir 39 juta pengikut di Instagram. Di akun seperti itu muka adalah dagangan utama. Tulisannya cukup satu-dua baris di bawah foto. Agus berdiri di tengah-tengah: mukanya dikenal seperti influencer, tapi yang ia jual tetap tulisan.

Zaman koran memberi esais kesempatan untuk tidak dikenal mukanya. Halaman opini sudah menjamin ada yang membaca. Sekarang banyak halaman itu tutup. Tulisan masih bisa ditemukan lewat mesin pencari, tapi yang paling cepat menyebar biasanya tulisan dari orang yang mukanya sudah dikenal. Agus paham itu lebih cepat dari kebanyakan kita, termasuk saya, yang masih berharap disapa karena tulisan.

Di Warung Mas Kali siang itu, Rusdi sempat mengusulkan Agus ganti nama jadi Agus Mohamad, lalu Agus Kayam. Agus menolak dua-duanya. Agus Mohamad ia tolak karena nama Agus Mulyadi sudah terkenal. Agus Kayam ia tolak karena namanya sendiri sudah bagus: Agus yang mulia dan abadi.

Ia tidak salah soal terkenal. Hanya beberapa tahun kemudian, orang malah memanggilnya Agus Mojok. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.