Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Mimpi Mahal

Oleh Nyoman Sukadana • 28 Oktober 2026 • 23:48:00 WITA

 Mimpi Mahal
Menot Sukadana (Dok/Podiumnews)

GRAMEDIA sekarang bisa diajak bermitra. Saya baru tahu waktu iseng membuka situs Gramedia Partnership.

Anda yang punya tempat dan modal bisa punya toko Gramedia sendiri. Ini bukan waralaba, jadi tidak ada lisensi yang dibeli. Mitra menyiapkan tempat dan bangunannya, Gramedia yang mengurus tokonya.

Ada kafenya. Ada ruang komunitasnya.

Lho, kok mirip yang ada di kepala saya.

Saya baca terus. Untuk gerai minimal 400 meter persegi, investasi mitra sekitar Rp800 juta. Itu kalau sudah punya tempat. Kalau belum, saya hitung-hitung sendiri, bisa Rp1,2 miliar sampai Rp1,6 miliar.

Mahal.

Lalu saya ingat hitungan tukang untuk Selasar Aksara: Rp2 miliar.

Saya lihat lagi angka Gramedia. Tidak salah baca. Punya saya lebih mahal.

Padahal Gramedia sudah ada sejak 1970. Selasar Aksara baru ada namanya.


Selasar Aksara sudah lama saya impikan.

Saya sedang membangun Podium Ecosystem, usaha media kecil-kecilan. Ada PodiumNews, ada Redaksi Kopi, ada beberapa unit kreatif lain. Kantornya sekarang di Dalung.

Saya ingin semuanya pindah ke satu tempat. Redaksi bekerja di situ. Di depannya kedai kopi yang buka untuk umum. Ada ruang yang bisa dipinjam komunitas, atau dipakai teman-teman meluncurkan buku.

Tempatnya sudah ada: tanah keluarga di Mengwi.

Waktu rembuk keluarga, saya minta 16 are. Yang diberikan 8 are. Saya tidak menawar lagi. Delapan are itu 800 meter persegi, dua kali syarat minimal Gramedia.

Kalau ditaksir, tanah itu bisa Rp5 miliar.

Saya kaya? Kaya tanah, tapi kantong kering. Mengumpulkan puluhan juta saja saya ngos-ngosan.


Di situ saya mulai tergoda.

Ada tanah warisan orang tua, 5 are di Badung. Pernah ditawar orang Rp2,5 miliar.

Saya hitung di kepala. Kalau dijual, dapat Rp2,5 miliar. Bangun Selasar Aksara Rp2 miliar. Sisa Rp500 juta, cukup untuk mesin kopi, meja, kursi, dan gaji beberapa bulan pertama.

Keluarga tidak setuju. Tanah itu tidak jadi dijual.

Saya ikut keputusan itu. Waktu itu saya agak kecewa. Kecewanya hilang pelan-pelan, setelah saya menghitung lagi.


Anggap Selasar Aksara jadi dan laku. Laba bersihnya Rp20 juta sebulan. Bersih, ya. Sudah dipotong gaji, listrik, kopi, gula.

Rp2 miliar dibagi Rp20 juta: 100 bulan. Delapan tahun empat bulan.

Umur saya sekarang 49 tahun. Modal itu baru kembali waktu saya berumur 57 tahun. Itu pun kalau tidak ada satu bulan pun yang rugi.

Bulan rugi pasti ada. Sudah bertahun-tahun saya mengurus media. Iklan bisa seret, gaji karyawan tetap harus dibayar tiap bulan.

Kalau Selasar Aksara sepi? Tanah warisan sudah lepas, saya nombok tiap bulan.


Kembali ke Gramedia.

Saya mencari tahu sejarahnya. Gramedia berdiri 2 Februari 1970. Toko pertamanya kecil sekali: 25 meter persegi.

Seperempat are.

Saya jadi malu sendiri. Gramedia mulai dari seperempat are. Saya, yang modalnya jauh lebih tipis, langsung mau 8 are lengkap dengan gedung Rp2 miliar.

Ya sudah. Saya mulai dari yang kecil-kecil dulu. Kedai kopi, mejanya tidak usah banyak. Ruang diskusi numpang di ruang redaksi.

Gedung Rp2 miliar itu urusan belakang. Kedainya harus bisa cari makan sendiri dulu.

Untung keluarga mengerem waktu saya sedang kebelet.

Lahan di Mengwi sekarang masih kebun. Itu dulu yang saya urus. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.