Libur Ketengan
BELI rokok ketengan sering dianggap tanda dompet sedang seret, walaupun penjual di warung tidak pernah menanyakan alasannya. Bagi dia sebatang atau sebungkus sama-sama laku, malah untungnya lebih tebal kalau dijual batangan.
Sekarang liburan juga dijual ketengan. Naik gunung tidak harus tiga hari dua malam. Cukup naik dan turun dalam sehari, tanpa menginap. Para pendaki menyebutnya tektok, dan ongkosnya cukup beberapa ratus ribu rupiah.
Yang menjual paket ketengan ini disebut open trip. Siapa saja boleh mendaftar, bayar per kepala, lalu berangkat bersama orang yang belum tentu dikenal. Tenda, alat masak, tiket masuk, sampai jemputan dari titik kumpul sudah diurus penyelenggara. Ada yang ikut karena malas repot mengurus sendiri, ada yang ikut karena sewa kapal ke pulau terlalu mahal kalau ditanggung sendiri. Ada juga yang menabung dulu sebelum berangkat.
Iwan Fals sudah menyanyikan liburan seperti ini tahun 1987 lewat "Libur Kecil Kaum Kusam". Keluarga di lagu itu tinggal di rumah kontrakan, gaji suaminya pas-pasan, dan mereka naik bis kota untuk libur yang datangnya sekali setahun. Bedanya, keluarga di lagu itu berangkat sendiri. Kaum kusam zaman sekarang berangkat bersama orang yang baru dikenal, yang sama-sama sedang berhemat.
Libur kecil seperti di lagu itu pernah saya alami. Sekitar tahun 1985 dan 1986, waktu saya kelas 2 dan 3 SD, kami masih tinggal di Kreneng, Denpasar. Hari Minggu di masa libur sekolah, ayah sesekali mengajak saya dan kakak, yang dua tahun lebih tua, ke Pantai Sanur. Kami bertiga naik bemo, membawa bekal seadanya dari rumah.
Kami biasa mandi di pantai yang orang sebut Pantai Bali Beach, karena letaknya di depan Hotel Bali Beach, gedung sepuluh lantai yang waktu itu paling tinggi di Bali. Setelah gedung itu berdiri, bangunan lain di Bali tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Pohon kelapa di pinggir pantai waktu itu masih rimbun. Sekarang pohonnya entah ke mana, hilang dimakan abrasi, tapi aturannya masih berlaku. Sejak April lalu, panitia khusus di DPRD Bali malah mengusulkan gedung di kawasan tertentu boleh lebih tinggi.
Kebetulan, lagu Iwan Fals tadi ada di album Wakil Rakyat.
Di air dangkal banyak bulu babi, yang durinya bisa menusuk telapak kaki kalau tidak awas. Setiap Minggu pantai ramai, banyak anak seusia saya.
Sejak kelas 4 SD, ayah sudah jarang mengajak. Saya dan kakak lalu berangkat berdua ke Sanur naik sepeda jengki Phoenix warna biru, bergantian membonceng.
Angka resmi justru sedang bagus. Tahun lalu, jumlah perjalanan wisatawan dalam negeri mencetak rekor. Tapi survei tahun ini menunjukkan, uang jalan-jalan termasuk yang paling banyak dipangkas orang. Dua hal itu tidak bertabrakan. Orang tetap jalan, cuma belinya ketengan.
Hotel juga ikut mengecer. Survei Bank Indonesia mencatat harga kamar hotel di Bali awal tahun ini turun, karena tamunya berkurang. Yang penting kamar terisi dulu.
Saya kira ini bukan soal gaya hidup. Tidak ada yang beli rokok ketengan karena merasa lebih keren. Hitungannya memang begitu.
Di Bali, ketengan bukan barang baru, dan tidak memalukan. Upacara punya tingkatan nista, madya, dan utama. Bagi pembaca di luar Bali, nista terdengar seperti hina. Di sini artinya paling sederhana, dan tetap sah. Keluarga berada boleh menggelar otonan tingkat besar dengan banten bertumpuk. Keluarga yang pas-pasan boleh ambil tingkat nista, dan upacaranya tetap jalan.
Konon, kata ngaben berasal dari beya, yang artinya bekal. Belakangan beya sering diplesetkan jadi biaya. Plesetan itu tidak meleset jauh, karena ngaben memang urusan ongkos. Karena itu ada ngaben massal, yang ongkosnya dipikul ramai-ramai oleh banjar atau desa.
Itu yang tidak dimiliki libur ketengan. Upacara diperkecil, desa ikut urunan. Liburan diperkecil, yang ikut urunan paling banter orang yang baru dikenal di rombongan open trip. Tentu masih ada yang gengsi mengambil tingkat nista, takut jadi bahan omongan di banjar.
Bali juga punya libur ketengannya sendiri, dan jadwalnya diatur kalender adat. Sehari setelah Galungan, pada Umanis Galungan, keluarga-keluarga saling berkunjung, lalu siangnya ramai-ramai ke Tanah Lot, Sanur, atau Bedugul. Banyak yang menggelar tikar dan membuka bekal dari rumah.
Tapi tamu tidak ikut libur Galungan. Menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, sebagian besar kamar hotel di Bali diisi turis asing. Coba tanya pekerja hotel, kapan terakhir mereka sempat menggelar tikar saat Umanis Galungan. Hotel tidak kenal tanggal merah.
Upah minimum pekerja hotel bintang empat dan lima di Badung tahun ini sekitar Rp3,8 juta sebulan. Tahun lalu, satu turis asing rata-rata membelanjakan sekitar Rp25 juta sekali datang ke Bali, lebih dari enam bulan upah itu. Pekerja yang melayaninya, kalau mau libur, ya beli ketengan. (*)
Menot Sukadana