Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Belum Sah

Oleh Nyoman Sukadana • 02 November 2026 • 06:47:00 WITA

Belum Sah
Menot Sukadana (Dok/Podiumnews)

KONON, dulu di kalangan sastra ada aturan tak tertulis yang cukup kejam.

Orang belum sah disebut sastrawan kalau karyanya belum pernah dimuat majalah Horison. Mau sudah menulis sebanyak apa, mau sudah dipuji teman sekampung, kalau belum tembus Horison, ya masih calon. Calon itu, seperti kita tahu, bisa lama sekali statusnya.

Horison terbit Juli 1966. Mochtar Lubis termasuk yang menggagasnya, dan di dewan redaksinya duduk H.B. Jassin dan Taufiq Ismail, nama-nama yang bikin penulis muda keringat dingin sebelum memasukkan naskah ke amplop.

Sampai pertengahan 1970-an hampir tidak ada majalah sastra lain yang sekelas. Semua naskah dikirim ke sana, dan banyak yang tidak pernah dimuat.

Sutardji Calzoum Bachri termasuk yang beruntung. Puisinya sudah dimuat di edisi Desember 1966, waktu belum ada orang yang memanggilnya Presiden Penyair.

Arsip lama Horison sekarang bisa dibaca di Wikisumber. Di edisi Oktober 1966 ada pengumuman redaksi yang ditulis dengan sangat sopan. Dengan menyesal, redaksi terpaksa menaikkan harga majalah jadi Rp7,50 karena kertas dan ongkos cetak naik, dan berharap pembaca memaklumi. Tapi, dan ini yang menyenangkan, honor pengarang ikut dinaikkan. Cerpen, kritik, dan esai paling sedikit Rp100, puisi Rp60.

Kalau dihitung, honor satu esai cukup untuk membeli tiga belas majalah yang memuat esai itu sendiri.

Saya membayangkan penulisnya pulang menenteng tiga belas majalah, dibagikan ke tetangga satu per satu, supaya tidak ada yang pura-pura tidak tahu.

Harian Kompas kemudian ikut jadi juri tak resmi. Koran itu memuat satu cerpen setiap Minggu, dan sejak 1992 cerpen-cerpen terbaiknya dipilih lalu dibukukan. Buku pertamanya Kado Istimewa, memakai judul cerpen Jujur Prananto. Sejak itu para cerpenis berebut satu kursi tiap pekan.

Tradisi buku pilihan itu masih berlanjut sampai sekarang. Yang edisi 2024 berjudul Raja dan Batu Langit, dan di dalamnya ada cerpen “Giri Tohlangkir” karya Ni Wayan Wijayanti.

Rubrik esai saya di PodiumNews kebetulan juga bernama Horison. Tidak ada hubungan apa-apa dengan majalah itu, sama nama saja, seperti dua orang bernama Wayan di satu banjar.

Jangan curiga saya sedang membaptis diri sendiri.

Majalah Horison sendiri sudah berhenti cetak bulanan sejak Juli 2016 dan pindah ke daring. Sekarang orang tidak perlu lagi mengirim amplop dan menunggu berbulan-bulan.

Pagi menulis, siang sudah terbit, sore sudah ada yang marah.

Saya pun, sebagai orang yang lahir di zaman amplop, ikut mencoba cara baru. Esai-esai di kolom JEDA saya taruh juga di Substack dan Medium.

Substack itu, kalau dijelaskan ke orang seumuran saya, mirip koran langganan yang diantar lewat email. Pembaca cukup memasukkan alamat email-nya, lalu setiap ada tulisan baru langsung masuk ke kotak suratnya. Medium lebih ramai, kebanyakan berbahasa Inggris, dan tulisan kita bisa dibaca orang yang sama sekali tidak kenal kita.

Medium diperkirakan dikunjungi sekitar 100 juta kali sebulan. Substack punya lebih dari lima juta langganan berbayar, dan di luar negeri katanya ada penulis yang hidup dari situ. Saya tidak berani bermimpi sejauh itu.

Buat saya dua tempat itu camilan. Makanan pokoknya tetap PodiumNews dan Kolom Kompas.com. Esai-esai itu kemudian saya bagikan ke dua grup WhatsApp, yang satu isinya sekitar seribu orang, yang satu lagi sekitar 1.500, ditambah teman-teman di Facebook.

Mereka orang-orang baik, tapi jarang membalas. Sesekali ada yang kirim jempol. Selebihnya diam.

Tapi angka di dasbor PodiumNews lain lagi. Selama enam bulan ini, satu esai di kolom JEDA rata-rata dibuka paling sedikit 800 kali, bahkan ada yang tembus lebih dari 1.200 kali. Rupanya yang diam itu banyak yang membaca.

Dibuka belum tentu dibaca sampai habis, tentu saja. Itu urusan antara mereka dan Tuhan.

Saya tidak tega meminta mereka mendaftar Substack pakai email. Itu sama saja dengan meminta orang pindah warung kopi langganan.

Urusan sah dan belum sah ini sempat saya obrolkan dengan Angga Wijaya di warung Jawa di Dalung, Sabtu pekan lalu. Angga jurnalis yang juga penyair dan esais, bukunya sudah sekitar dua puluh. Puisinya pernah dimuat di sejumlah media lokal dan nasional, termasuk Kompas.id, edisi daring harian Kompas. Saya mengaku kepadanya, saya baru kurang dari dua tahun ini serius menulis esai dan masih meraba-raba gaya.

Padahal kalau dihitung, saya sudah belasan tahun menulis opini di koran tempat saya bekerja dulu. Esai-esai JEDA bahkan sudah jadi buku, JEDA, buku pertama saya yang terbit akhir tahun lalu. Sekarang jadi editor, punya media sendiri, dan umur sudah 49 tahun.

Tapi kalau pakai ukuran zaman Horison, ya itu tadi. Masih calon.

Angga bilang tulisan saya setahun ini sudah jauh berkembang, dan itu biasa asal jangan berhenti. Setelah itu saya bertanya soal biografi yang sedang ia garap, dan gantian saya yang jadi pendengar.

Sejak Februari saya juga menulis di Kolom Kompas.com. Jadi, setelah sekian tahun, saya ikut antre juga di Kompas, walau lewat Kompas.com dan bukan halaman cetak Minggu harian Kompas yang dulu diincar para cerpenis.

Tulisan harus lolos redaktur orang lain dulu. Kalau tayang, syukur. Kalau ditolak, tulisan itu saya muat di PodiumNews, lalu saya kirim yang lain. Enaknya punya media sendiri, tulisan yang ditolak tetap bisa terbit.

Bagi wartawan, ditolak redaktur itu perkara biasa. Yang aneh justru kalau tulisan langsung terbit tanpa ada yang membaca dulu.

Redaktur membaca ulang, menanyakan sumber, kadang mencoret kalimat yang terlalu berani. Kalau ada yang keberatan, redaksi ikut menimbang dan ada jalur hak jawab. Kalau menerbitkan sendiri di Substack dan Medium, proses seperti itu tidak otomatis ada. Penulisnya yang memikul semuanya, termasuk kalau ada yang meradang.

Karena itu esai yang menyebut nama orang atau lembaga, apalagi isinya kritik, saya terbitkan dulu di PodiumNews. Di sana saya memang merangkap editor, jadi tidak bisa pura-pura ada orang lain yang menjaga. Tapi setidaknya tulisan itu terbit di media pers, dan kalau ada yang keberatan, jalur hak jawabnya jelas. Substack dan Medium cukup menayangkan ulang, dengan catatan tulisan itu pertama terbit di PodiumNews. Versi tayang ulangnya tetap tanggung jawab saya.

“Libur Ketengan”, esai tentang pekerja hotel di Bali yang upahnya jauh di bawah belanja tamunya, sudah tayang di Substack, sama persis dengan versi di PodiumNews. Versi bahasa Inggrisnya baru akan saya coba di Medium. Pembaca Medium banyak orang luar, dan sebagian barangkali pernah berlibur ke Bali lalu pulang membawa foto Tanah Lot.

Kalau ada satu dua yang pulang membawa cerita pekerja hotel juga, saya sudah senang.

Substack dan Medium saya isi kalau sempat saja, tanpa jadwal.

Soal sah, saya rupanya masih orang zaman amplop. Menunggu redaktur orang lain bilang tayang. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.