Mang Manyot
SEJARAWAN Hilmar Farid sedang memilah arsip pribadi Pramoedya Ananta Toer ketika menemukan secarik slip honorarium dari harian Kompas. Slip itu terselip di antara dua dokumen yang tidak ada hubungannya. Nama penerima honornya M. Tasijawa.
Hilmar menuliskan temuan itu di Substack pada Desember 2025. Tasi berarti laut dalam banyak bahasa Austronesia, dan Jawa adalah pulau yang tidak pernah lepas dari hidup Pram.
Belakangan seorang pembaca memberi tahu Hilmar bahwa Tasijawa juga nama kelompok masyarakat di Pulau Buru, tempat Pram dibuang sekitar sepuluh tahun.
Berbekal tanggal dan nomor halaman di slip itu, Hilmar menelusuri katalog digital Perpustakaan Nasional sampai menemukan tulisannya, “Ofir, Sumatra-kah?”, di Kompas edisi Minggu, 22 Maret 1981, halaman 2. Isinya tentang Sumatra yang dulu dibayangkan sebagai tanah emas.
Saya membacanya sambil senyum kecut.
Pram, yang namanya sudah besar, menyamar supaya bisa masuk Kompas. Alasannya hanya bisa saya duga. Tulisan itu terbit sekitar enam bulan setelah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melarang Bumi Manusia beredar, dan nama bekas tahanan Buru di halaman koran bisa jadi urusan panjang bagi redaksi.
Saya, yang namanya belum ke mana-mana, menulis di Kompas.com justru dengan nama paling lengkap yang saya punya, I Nyoman Sukadana, lengkap dengan “I” di depannya, persis seperti di KTP.
Soekarno waktu masih belasan tahun menulis di Oetoesan Hindia milik Tjokroaminoto dengan nama Bima. Dalam biografinya ia mengaku tulisan atas nama Bima tidak kurang dari lima ratus. Bima dan Tasijawa sama-sama dipilih dengan sengaja untuk menutupi siapa penulisnya.
Nama yang saya pakai di kolom JEDA tidak saya pilih sendiri, dan tidak pernah dipakai untuk bersembunyi. Nama itu pemberian tetangga, dan niatnya pun tidak bagus-bagus amat.
Di Bali, anak ketiga dipanggil Nyoman atau Komang. Di rumah saya dipanggil Komang, disingkat Mang.
Waktu kecil, ada tetangga yang suka memanggil saya Mang Manyot. Saya menduga itu plesetan dari monyet.
Dari Manyot, entah lewat lidah siapa, lama-lama jadi Menot. Nama itu sudah menempel sejak saya kelas tiga SD. Saya lupa kapan persisnya, dan tidak ada slip honor yang bisa ditelusuri.
Nama itu ikut saya sampai kuliah, lalu ikut ke tempat kerja ketika saya menjadi wartawan. Teman-teman memanggil saya Menot. Sejumlah narasumber juga lebih kenal Menot daripada nama asli saya.
Nama Menot Sukadana sudah saya pakai waktu belajar ngeblog pada 2008. Tiga tahun kemudian saya membuka akun di Kompasiana dengan nama yang sama. Kompasiana itu rumahnya kelompok Kompas juga.
Waktu mulai menulis kolom di Kompas.com tahun ini, saya memakai I Nyoman Sukadana. Saya ingin seperti kolumnis lain di sana, tampil dengan nama yang sama dengan KTP supaya identitasnya jelas dan tidak disangka nama samaran.
Jadi di rumah yang sama, tahun 2011 saya Menot, tahun 2026 saya I Nyoman.
Sekarang Menot Sukadana ada di sampul buku Jeda dan di bawah judul setiap tulisan kolom JEDA dan Horison di PodiumNews.
Pemberian tetangga itu ternyata ada gunanya juga. Sukadana termasuk nama pasaran di Bali.
Di portal jurnal ilmiah Garuda saja ada I Ketut Sukadana, dosen hukum di Universitas Warmadewa, dan I Made Sukadana di Universitas Udayana. Yang bernama I Nyoman Sukadana pun tidak cuma saya.
Coba ketik Menot Sukadana di Google, yang keluar langsung saya. Ketik Nyoman Sukadana, saya harus antre dulu di antara Sukadana-Sukadana yang lain.
Karena itu buku Jeda terbit atas nama Menot Sukadana, supaya tidak tertukar dengan Sukadana lain yang namanya persis sama.
Tahun ini saya membuat situs pribadi dengan alamat menotsukadana.com. Ejekan seorang tetangga empat puluh tahun lalu kini saya bayar sewa domainnya.
Samuel Clemens setidaknya punya cerita yang gagah. Ia mengambil nama Mark Twain dari seruan awak kapal uap saat mengukur kedalaman sungai, dan mulai memakainya ketika menjadi wartawan di Nevada pada 1863.
Cerita seperti itu enak dibawakan di depan mahasiswa. Kalau saya ditanya asal-usul nama sendiri, ceritanya harus dimulai dari monyet.
Undang-Undang Hak Cipta tahun 2014 memberi pengarang hak memakai nama alias atau samaran pada karyanya. Menot barangkali masuk golongan alias.
Di boks redaksi PodiumNews, juga di media-media tempat saya bekerja dulu, nama saya selalu tertulis lengkap: I Nyoman Sukadana.
Tetangga itu barangkali sudah lupa pernah memanggil saya begitu. Kalau suatu hari ia membaca kolom JEDA, nama di bawah judulnya itu sebetulnya pemberian dia. Sampai sekarang saya belum sempat berterima kasih. (*)
Menot Sukadana