Fama, Sita, dan Akun Gosip
AENEID, epos yang ditulis penyair Romawi Vergilius antara tahun 29 dan 19 sebelum Masehi, menyimpan satu makhluk yang lebih menakutkan daripada para raksasa dan dewa yang marah. Namanya Fama. Dalam Buku IV, baris 173 sampai 197, Vergilius melukiskannya sebagai anak bungsu Dewi Bumi, bersayap, bergerak cepat, dan tubuhnya membesar setiap kali berpindah. Di bawah setiap helai bulunya ada mata yang tidak pernah tidur, dan jumlah lidah, mulut, serta telinganya sama banyak dengan bulu itu. Malam hari ia terbang di antara langit dan bumi, siang hari ia bertengger di atap-atap rumah dan menara kota, menyebarkan kabar tentang yang terjadi maupun yang tidak pernah terjadi.
Fama muncul setelah Ratu Dido dari Kartago dan Aeneas, pelarian dari Troya, bersatu di sebuah gua. Kabar itu segera ia tebarkan ke kota-kota besar Libya. Kabar itu sampai ke telinga raja tetangga yang cemburu, doa raja itu sampai ke Jupiter, dan Aeneas akhirnya diperintahkan pergi. Dido yang ditinggalkan bunuh diri, dan Fama pula yang menyebarkan kabar kematiannya ke seluruh kota.
Vergilius menyimpan permainan kata dalam nama makhluk itu. Dalam bahasa Latin, fama berarti kabar burung, tetapi juga berarti nama baik. Kisah Dido adalah kisah tentang kabar burung yang menghancurkan nama baik.
Fama di Instagram
Dua ribu tahun kemudian, Fama punya akun. Lambe Turah muncul di Instagram pada 24 Desember 2015 dengan semboyan “Gosip Adalah Fakta yang Tertunda”. Pengelolanya anonim dan pernah berganti tangan, sementara para pengikut cukup memanggilnya Minceu. Menurut data pemantau media sosial HypeAuditor, pengikutnya kini sekitar 12,2 juta, dan sejumlah penelitian kampus menyebutnya salah satu sumber kabar tidak resmi yang paling banyak diikuti di Indonesia, meski bekerja di luar Kode Etik Jurnalistik.
Seperti Fama, akun semacam ini tidak berwajah dan bermata banyak. Ribuan pengikut menjadi matanya, mengirim foto dan potongan video dari tempat-tempat umum. Bedanya, Fama zaman ini kadang justru diberi bahan oleh mereka yang ingin dibicarakan. Seorang pelaku industri hiburan pernah mengungkapkan bahwa pihak artis kadang sengaja mengirim foto ke akun gosip supaya viral dan kemudian diangkat menjadi berita. Sumber di balik Lambe Turah sendiri membenarkan bahwa artis kerap meminta bantuan akun gosip demi pemberitaan. Kabar burung, dengan kata lain, tidak selalu lahir liar. Sebagian sengaja dilepas dari kandang.
Pers Ikut Mendengar
Fama di Instagram tidak akan sebesar itu tanpa bantuan pers. Liputan Tirto pada Desember 2018 memotret Irma Suryani, editor media gaya hidup, yang saban pagi mengecek empat akun gosip yang ia ikuti untuk mencari ide tulisan hari itu. Liputan yang sama mencatat bahwa media daring dan televisi kerap mengutip atau langsung mengambil bahan berita dari akun-akun tersebut. Penelitian di Universitas Multimedia Nusantara tentang pekerja infotainment bahkan menemukan sebagian dari mereka menayangkan unggahan Lambe Turah sebagai berita tanpa disunting sama sekali.
Mekanismenya sederhana. Akun gosip lebih cepat, dan media yang hidup dari klik takut tertinggal. Kalimat “dikutip dari akun X” lalu dipakai sebagai pengganti verifikasi, seolah menyebut alamat pengirim sudah cukup untuk membuktikan isi kirimannya. Padahal Dewan Pers punya pagar yang jelas. Ninik Rahayu, ketika memimpin lembaga itu, menegaskan bahwa media sosial bukan pers, karena pers mensyaratkan dua hal: perusahaan yang punya penanggung jawab, dan wartawan. Ia juga mengingatkan bahwa wartawan tetap wajib mengonfirmasi ulang setiap informasi yang berasal dari media sosial.
Di titik ini permainan kata Vergilius berubah menjadi kenyataan. Ketika media arus utama mengutip akun gosip tanpa memeriksa, yang dipinjamkan adalah fama dalam arti nama baik pers kepada fama dalam arti kabar burung. Kabar yang semula hanya bisik-bisik tanpa nama mendadak tampil dengan logo media dan ikut dipercaya.
Sita di Ayodhya
Kisah paling pahit tentang gunjingan tidak hanya ditulis di Roma. Dalam Uttarakanda, bagian penutup Ramayana karya Valmiki, Rama sudah kembali ke Ayodhya dan dinobatkan menjadi raja dengan Sita di sisinya. Sita bahkan sudah melewati ujian api untuk membuktikan kesuciannya setelah sekitar setahun ditawan Rahwana di Alengka. Tetapi di kota itu gunjingan terus beredar, mempertanyakan bagaimana seorang raja mau menerima kembali istri yang pernah berada dalam kekuasaan raja raksasa.
Rama tidak meragukan Sita. Ia hanya tidak sanggup menghadapi omongan orang. Ia memerintahkan Laksmana membawa Sita, yang sedang hamil, ke tepi Sungai Gangga dengan dalih mengunjungi para pertapa, lalu meninggalkannya di dekat pertapaan Valmiki. Laksmana menangis di tepi sungai, dan Sita menerima nasibnya dengan menitipkan pesan untuk suaminya.
Gunjingan rakyat Ayodhya memicu tragedi itu, tetapi keputusan Rama yang menjadikannya pembuangan. Gunjingan selalu ada di setiap kota. Gunjingan tanpa raja hanyalah bisik-bisik di pasar. Gunjingan yang dijalankan raja menjadi pembuangan.
Kita mengenal Sita-Sita masa kini. Aaliyah Massaid, pada 22 Agustus 2024, melaporkan ke polisi akun media sosial yang menyebarkan kabar miring tentang kehidupan pribadinya. Sehari sebelumnya, Azizah Salsha melalui kuasa hukumnya melaporkan sejumlah akun yang ia nilai menyebarkan fitnah tentang dirinya ke Bareskrim Polri. Nasib mereka tentu tidak sama dengan Sita. Tidak ada raja yang membuang mereka, dan keduanya justru memilih melawan lewat jalur hukum. Tetapi kerugian yang mereka adukan berasal dari sumber yang sama, yakni kabar tanpa penanggung jawab, dan peran raja yang ikut mendengarkan gunjingan kini terbuka bagi siapa saja yang punya pengeras suara, termasuk media.
Pilihan Sang Pujangga
Kisah Sita berakhir berbeda dalam Ramayana Kakawin Jawa Kuno. Setelah kembali ke Ayodhya, Sita tetap berkumpul bersama Rama. Tidak ada pembuangan ke tepi Gangga. Poerbatjaraka, seperti dirujuk peneliti Titik Pudjiastuti dalam kajiannya tentang Sita di jurnal Jumantara, mencatat perbedaan ini sebagai salah satu tanda bahwa kakawin itu tidak bersumber dari Ramayana Valmiki.
Perbedaan itu tidak serta-merta berarti sang pujangga sengaja menolak kisah pembuangan. Bisa jadi sumber yang ia pakai memang berakhir lebih awal. Tetapi bagi pembaca hari ini, perbedaan itu bisa dibaca sebagai sebuah kemungkinan: sebuah cerita tidak harus berakhir di tangan gunjingan. Dalam kakawin Jawa Kuno itu, Sita tidak dibuang karena omongan orang.
Media adalah pencerita. Ia memilih kabar mana yang diangkat, mana yang diperiksa dulu, dan mana yang dibiarkan tetap menjadi bisik-bisik. Pilihan itu tidak bisa diserahkan kepada akun yang pengelolanya tidak membuka identitas secara terang.
Keberatan yang Wajar
Keberatan terhadap sikap ini mudah ditebak. Akun gosip tidak selalu salah. Sebagian kabar yang ia lepas belakangan terbukti benar, dan publik memang membicarakannya. Media yang menolak mengikuti pembicaraan publik akan ditinggalkan pembacanya.
Keberatan itu ada benarnya. Pers tidak harus menutup mata terhadap akun gosip, dan tidak ada larangan menjadikannya petunjuk awal. Pedoman Pemberitaan Media Siber yang ditetapkan Dewan Pers pada 2012 memang membolehkan berita yang belum terverifikasi tayang lebih dulu, tetapi dengan syarat ketat: kabarnya menyangkut kepentingan publik yang mendesak, sumber pertamanya jelas dan kredibel, pihak yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya atau tidak dapat diwawancarai, dan pembaca diberi tahu bahwa kabar itu masih perlu diverifikasi. Gosip tentang kehidupan pribadi seorang selebritas hampir tidak pernah memenuhi syarat pertama, dan akun anonim jelas tidak memenuhi syarat kedua. Akun gosip boleh menjadi petunjuk awal, tetapi unggahannya bukan pengganti verifikasi.
Kota yang Mengulang
Dalam Aeneid, Fama tidak bekerja sendirian. Ia hanya bersuara, sedangkan yang membuat suaranya menjadi bencana adalah seisi kota yang mengulanginya dari satu atap ke atap lain. Di Ayodhya, gunjingan baru menjadi pembuangan ketika raja memutuskan mendengarkannya.
Fama di Instagram akan tetap bersayap dan bermata banyak. Yang masih bisa dipilih adalah apakah ruang-ruang redaksi ikut mengulang suaranya, atau menahannya sampai ada orang yang mau bertanggung jawab atas kabar itu. (*)
Menot Sukadana