Batal Gratis
SETIDAKNYA ada delapan naskah buku tersimpan rapi di komputer kerja saya. Naskahnya sudah ada, yang belum ada ongkos cetaknya.
Setahun ini saya memang lebih banyak menulis esai dan naskah buku ketimbang berita. Esainya kebanyakan soal media dan pers. Rupanya ada yang membaca. Setelah sempat vakum, saya mulai diundang lagi jadi narasumber pelatihan jurnalistik, teknik menulis, dan kehumasan. Di Universitas Ngurah Rai, Universitas Mahendradatta, dan bulan ini di Universitas Warmadewa.
Jadi narasumber tentu perlu bahan. Maka saya menyusun dua buku: materi pelatihan jurnalistik tingkat dasar untuk wartawan pemula, dan Teknik Menulis Esai: Panduan Praktis Menulis Esai Populer dan Jurnalistik. Dua-duanya saya buat dalam bentuk e-book supaya gampang dibagikan ke peserta. Jadilah dua buku ini terbit duluan. Tidak perlu biaya cetak.
Posternya juga saya buat, lalu saya sebar. Di poster itu tertulis e-book gratis. Salah satu yang saya kirimi lewat WhatsApp adalah Angga Wijaya, wartawan dan esais yang sudah menerbitkan dua puluh buku kumpulan esai. Angga menyarankan buku itu jangan dibagi gratis. Lebih baik dijual.
Besok siangnya ia mengajak ngopi di warung Jawa di Dalung, tempat kami biasa duduk.
“Mending dijual Rp50 ribu, Bli. Mungkin saja laku,” katanya.
Katanya juga, e-book gampang dibajak. Bisa dicetak orang lalu dijual, bisa juga disebar lagi gratis ke mana-mana.
“Orang kita kurang menghargai yang berbau gratis, Bli,” tambahnya.
Saya termenung cukup lama. Selama ngobrol itu pikiran saya ke mana-mana. Tahu-tahu kopi yang saya pesan sudah tiga gelas.
“Benar juga sih. Padahal saya sampai begadang beberapa hari ini menyusun buku ini,” jawab saya. Tapi untuk peserta pelatihan, saya bilang tetap akan saya bagikan gratis.
Angga lalu menanyakan dua naskah buku saya yang dulu pernah ia sunting. Satu antologi esai, satu lagi monograf tentang perebutan ruang opini publik. Dua naskah itu juga masih di komputer.
Poster yang sudah tersebar kemudian saya hapus, lalu saya buat ulang tanpa kata gratis. Sempat juga terpikir, menulis buku kan sudah jadi kesukaan, kenapa tidak sekalian jadi pemasukan tambahan untuk media yang saya kelola. Malamnya saya menghubungi Wahyu, staf IT dan media sosial PodiumNews. Saya tanya bagaimana caranya jualan e-book lewat portal berita kami.
Ternyata butuh aplikasi lagi. “Coba saya pelajari dulu, Bli. Mungkin butuh biaya tambahan untuk aplikasi baru itu,” jawabnya.
Saya lalu cari-cari tahu, e-book itu laku atau tidak. Indra Laksana, Wakil Ketua Bidang Humas, Riset dan Informasi IKAPI Pusat, pernah menyampaikan hasil riset IKAPI tahun 2016. E-book yang banyak diunduh ternyata yang gratis. Kalau harus beli, orang masih memilih buku fisik.
Itu riset sepuluh tahun lalu. Sekarang mungkin sudah lain. Yang jelas, saya sendiri sampai umur 49 tahun belum pernah membeli e-book satu pun. Buku yang saya beli selalu yang ada fisiknya, yang bisa dipegang. Rasanya beda.
Lucu juga. Saya mau jualan barang yang saya sendiri tidak pernah beli. Calon pembelinya pun, kalau harus bayar, lebih suka buku cetak. Padahal buku cetak juga yang saya mau. Cuma ongkosnya belum ada.
Di warung itu saya sempat bilang ke Angga, “Mungkin tak ada salahnya dicoba, meski saya sendiri tidak tahu peluang usahanya seperti apa.”
Wahyu sampai sekarang masih mempelajari aplikasinya. Delapan naskah masih di komputer. Kolom JEDA sendiri memang gratis sejak awal. Kalau Anda membacanya sampai kalimat ini, berarti Angga keliru. Atau Anda memang suka yang gratisan. (*)
Menot Sukadana