Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Gali Lubang

Oleh Menot Sukadana • 06 November 2026 • 07:02:00 WITA

 Gali Lubang
Menot Sukadana (Dok/Podiumnews)

SEKITAR jam lima sore, Jalan Raya Padang Luwih di Dalung, tak jauh dari rumah saya, sudah tidak muat. Mobil berhenti, motor nyelip di sela-selanya, dan pemotor yang buru-buru nyelonong naik ke trotoar.

Tidak ada yang heran, sudah biasa. Dari tahun ke tahun macetnya makin parah. Apalagi kalau ada orang punya hajatan, atau jalan, got, dan trotoar ke arah Gatot Subroto Barat sedang dibongkar.

Pemotor yang naik trotoar itu sebenarnya cuma cari celah. Jalan sudah penuh, ya trotoar dipakai. Pemerintah Kabupaten Badung rupanya juga sedang cari celah, hanya saja ke bawah tanah.

Jalan baru dari ujung Gatsu Barat ke Canggu, terus sampai Mengwi, sebagian mau dibuat kira-kira 15 meter di bawah kaki orang Kerobokan.

Siapa pun yang sering lewat Kerobokan Kaja tahu permukiman di sana sudah rapat. Rumah-rumah berimpitan, lengkap dengan merajan-nya, dan ada pura di sela-selanya. Membuat jalan baru di atas tanah berarti membongkar banyak rumah, dan bisa mengenai pura.

Jadilah terowongan, dan angkanya nambah. Juli lalu, Bupati Badung masih menyebut jalan bawah tanah sekitar 400 meter untuk melewati permukiman padat di Batu Culung. Belakangan yang dibahas sudah terowongan sekitar 2,4 kilometer.

Batu Culung pernah jadi jalan pelarian. Waktu jalan depan Pasar Pengosari jebol tahun lalu dan ditutup sepekan, kendaraan dari arah Tabanan memutar lewat Banjar Gadon dan Batu Culung, lalu tembus ke Dalung.

Waktu itu diberitakan, seorang warga Banjar Gadon malah cemas jalan di lingkungannya ikut rusak karena banyak dilewati truk. Jalannya kecil, dan kalau dilewati dua arah sesekali ikut macet.

Soal uang, orang kampung punya pepatah: gali lubang tutup lubang, untuk yang ngutang ke sana supaya bisa bayar ke sini.

Badung sudah siapkan pinjaman Rp1,67 triliun untuk proyek itu, tapi kemudian ditunda sampai 2028 karena pembangunannya belum mungkin dimulai tahun depan. Ketua DPRD Badung memberi alasan yang gampang dicerna siapa saja yang pernah kredit motor: kalau pinjaman diambil, “pasti akan ada bunga.”

Menunda pinjaman itu sudah benar. Saya cuma geleng kepala melihat kabupaten paling kaya di Bali, dengan pendapatan asli daerah hampir Rp10 triliun setahun, tetap merasa perlu ngutang.

Sejauh ini yang bertambah baru angka panjang terowongannya, sementara jadwalnya malah mundur setahun.

Terowongan memang dipilih supaya tidak banyak tanah di atas yang harus dibeli. Tapi tanah tetap dibutuhkan, setidaknya untuk mulut terowongan, jalan keluar-masuknya, dan tempat alat berat bekerja.

Pembebasan tanahnya mau dibayar pakai uang Badung sendiri, sementara gambar finalnya belum pasti dan masih ditimbang cukup satu lubang atau perlu tiga. Mirip orang yang belum tahu rumahnya mau berapa kamar, tapi sudah sibuk cari tanah.

Kalau tanah keburu dibeli lalu mulut terowongannya digeser, uangnya nyangkut di tanah yang tidak dipakai. Mestinya gambarnya dipastikan dulu, baru tanahnya dibeli.

Ujung lain jalan itu ada di Mengwi, kampung saya. Kalau jadi, orang dari Canggu bisa langsung sampai ke Terminal Mengwi lewat jalan baru.

Sebelum itu, pemotor di Padang Luwih masih akan naik trotoar tiap jam lima sore, dan kalau jalan besar ada yang jebol lagi, Batu Culung bisa kembali ketiban macet. Warga di sana barangkali paling menunggu kepastian soal jalur terowongan itu.

Di kampung, gali lubang tutup lubang itu nasibnya orang kepepet. Mudah-mudahan lubang Badung tidak ikut pindah-pindah tempat. (*)

Menot Sukadana



Menot Sukadana
Editor

Menot Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.