Podiumnews.com / Kolom / Editorial

PSEL Bali dan Ukuran Keberhasilannya

Oleh Menot Sukadana • 05 November 2026 • 22:19:00 WITA

 PSEL Bali dan Ukuran Keberhasilannya
PSEL Bali menjanjikan energi listrik sekaligus solusi persoalan sampah perkotaan. (Ilustrasi/PodiumNews)

PEMBANGUNAN fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Pedungan, Denpasar Selatan, menunjukkan kemajuan. Dari 1.100 titik pemancangan pondasi yang direncanakan, sebanyak 723 titik telah diselesaikan. Pekerjaan konstruksi terus berjalan, sementara mesin dan peralatan utama sedang dalam proses pemesanan serta fabrikasi.

Kemajuan itu mendapat apresiasi Wakil Ketua Dewan Pengawas BPI Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, ketika meninjau lokasi proyek, Kamis (5/11/2026). Ia bahkan melihat peluang PSEL Bali menjadi percontohan pengelolaan sampah bagi daerah lain di Indonesia.

Optimisme tersebut memiliki dasar. Fasilitas di atas lahan enam hektare itu dirancang mengolah 1.500 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sekitar 240 GWh setahun. Jika beroperasi sesuai rencana, proyek ini dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan serius di Bali.

Namun, kemajuan pembangunan fisik baru merupakan tahap awal. Keberhasilan PSEL nantinya harus dinilai dari kemampuannya menangani sampah secara nyata, bukan semata-mata dari kapasitas mesin ataupun jumlah listrik yang dihasilkan.

Selama ini, persoalan sampah di Bali tidak berhenti pada keterbatasan fasilitas pengolahan. Pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, dan pengurangan sampah dari sumbernya masih memerlukan pembenahan. Kehadiran fasilitas berteknologi tinggi tidak otomatis menyelesaikan persoalan tersebut.

Pemerintah daerah perlu memastikan sistem pengangkutan mampu memasok sampah sesuai kebutuhan operasional fasilitas. Wilayah pelayanan, pembagian tanggung jawab antardaerah, serta biaya pengumpulan dan pengangkutan juga harus diperjelas sejak awal. Tanpa kesiapan tersebut, kapasitas pengolahan sebesar 1.500 ton per hari berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Pada saat bersamaan, pembangunan PSEL tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan program pengurangan sampah dari rumah tangga, pasar, hotel, restoran, dan kegiatan usaha lainnya. Pemilahan dan daur ulang tetap diperlukan agar bahan yang masih memiliki nilai guna tidak seluruhnya berakhir di fasilitas pembakaran.

Persoalan lain yang memerlukan perhatian adalah dampak lingkungan. Teknologi insinerasi membutuhkan pengendalian emisi yang ketat serta pengelolaan residu pembakaran secara aman. Masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar fasilitas Pedungan, berhak memperoleh informasi mengenai teknologi pengendalian pencemaran, hasil pemantauan kualitas udara, dan penanganan abu sisa pembakaran.

Klaim penggunaan teknologi ramah lingkungan harus dapat dibuktikan melalui pengujian dan pengawasan yang terbuka. Transparansi menjadi penting karena proyek ini akan beroperasi dalam jangka panjang dan berhubungan langsung dengan kesehatan serta kenyamanan masyarakat.

Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 telah mengatur kewajiban pengendalian pencemaran dan pelaporan pengolahan sampah maupun pemantauan lingkungan. Ketentuan itu perlu diterjemahkan menjadi mekanisme pengawasan yang dapat diakses publik.

Di sisi pembangunan, target penyelesaian dalam 24 bulan juga memerlukan pengawasan berkelanjutan. Kemajuan pekerjaan, pemenuhan standar lingkungan, dan kesiapan operasional sebaiknya diumumkan secara berkala. Dengan demikian, masyarakat dapat mengikuti perkembangan proyek berdasarkan hasil pekerjaan yang terukur.

Dukungan pemerintah pusat melalui Danantara, keterlibatan PLN, serta kerja sama pemerintah daerah dan investor tentu menjadi modal penting. Akan tetapi, besarnya dukungan kelembagaan harus diimbangi kejelasan tanggung jawab masing-masing pihak, termasuk ketika proyek menghadapi keterlambatan atau kendala operasional.

PSEL Bali memang menjanjikan perubahan dalam pengelolaan sampah. Terlebih ketika TPA Suwung telah lama menghadapi persoalan kelebihan kapasitas. Karena itu, penyelesaian proyek patut menjadi prioritas tanpa mengabaikan standar keselamatan dan perlindungan lingkungan.

Bali membutuhkan fasilitas pengolahan sampah yang benar-benar bekerja, didukung sistem pengelolaan yang tertib sejak dari sumbernya. Keberhasilan PSEL kelak akan terlihat ketika volume sampah yang menumpuk berkurang secara konsisten, listrik dapat dihasilkan, dan masyarakat sekitar tidak harus menanggung persoalan lingkungan yang baru.

Itulah ukuran yang lebih penting daripada pujian atas kemajuan konstruksi. PSEL Bali layak menjadi proyek percontohan nasional apabila keberhasilannya dapat dibuktikan setelah fasilitas mulai beroperasi. (*)



Menot Sukadana
Editor

Menot Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.