Siapa Membayar Meja Kafe?
SECANGKIR kopi seharga Rp35 ribu bisa menjadi pengeluaran pribadi, biaya perusahaan, atau ongkos usaha. Semuanya bergantung pada siapa yang bekerja di belakang laptop yang diletakkan di samping gelas itu. Bagi sebagian pekerja Generasi Z, membedakan ketiganya semakin penting karena kafe kini ikut menjadi tempat mereka mencari penghasilan.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Gancar C Premananto, mengamati bahwa Gen Z mulai menyediakan anggaran khusus untuk kedai kopi. Mereka memanfaatkan kafe untuk bekerja, bertemu rekan, sekaligus bersosialisasi. Fasilitas internet, listrik, meja, dan kursi membuat kedai kopi menjadi alternatif tempat kerja tanpa perlu menyewa ruangan khusus.
Pengamatan tersebut menggambarkan perubahan menarik pada generasi yang sedang memasuki dunia kerja. Anak-anak muda yang sebelumnya datang ke kafe untuk berkumpul kini juga membawa laptop, menyusun laporan, mengerjakan desain, mengikuti rapat daring, atau menyelesaikan pesanan klien. Satu meja bisa dipakai untuk urusan kantor pada pagi hari, lalu menjadi tempat bertemu teman setelah pekerjaan selesai.
Namun, kebiasaan itu juga membawa pengeluaran yang tidak kecil apabila dilakukan secara rutin. Kopi seharga Rp35 ribu yang dibeli 15 kali dalam sebulan berarti Rp525 ribu. Jika ditambah makanan dan perjalanan, anggarannya tentu bertambah. Bagi pekerja muda yang baru memperoleh penghasilan sendiri, pengeluaran semacam ini patut diperhitungkan.
Apalagi kondisi pekerjaan Gen Z tidak seragam. Ada yang menjadi karyawan tetap dengan fasilitas kantor lengkap. Ada pegawai kontrak yang harus mengikuti aturan perusahaan mengenai tempat kerja. Sebagian lainnya memperoleh penghasilan dari pekerjaan lepas, menerima pesanan melalui internet, dan belum mampu menyewa kantor sendiri.
Ketiganya mungkin duduk di kafe yang sama, tetapi tanggung jawab membayar ongkos kerjanya berbeda.
Seorang karyawan muda, misalnya, diminta atasannya menemui klien di sebuah kafe. Ia harus memesan minuman, membayar parkir, dan mungkin mengeluarkan biaya tambahan untuk mendukung pertemuan tersebut. Karena kegiatan itu merupakan penugasan kantor, perusahaan semestinya menanggung pengeluaran yang wajar melalui mekanisme yang telah disepakati.
Perusahaan juga perlu memperjelas dukungan fasilitas ketika menerapkan sistem kerja jarak jauh. Fleksibilitas memang memungkinkan karyawan bekerja dari berbagai tempat, tetapi ketentuan mengenai internet, listrik, dan penggunaan ruang kerja tidak boleh dibiarkan kabur. Terutama apabila perusahaan memang mengharuskan pekerjaan dilakukan di luar fasilitas kantor.
Keadaannya berbeda bagi karyawan Gen Z yang sebenarnya sudah mempunyai tempat kerja di kantor, tetapi memilih pergi ke kafe karena bosan. Ia membutuhkan suasana baru, ingin bekerja sambil mendengarkan musik, atau merasa lebih nyaman menyelesaikan laporan dengan secangkir kopi.
Pilihan tersebut tentu sah. Namun, biaya yang muncul menjadi tanggung jawab pribadi, kecuali perusahaan mempunyai kebijakan yang mengatur sebaliknya. Keinginan memperoleh suasana kerja yang menyenangkan tidak otomatis membuat tagihan kopi menjadi pengeluaran kantor.
Perbedaan ini perlu dipahami pekerja muda sejak awal. Dunia kerja mengenal biaya operasional, penggantian pengeluaran, tunjangan, dan fasilitas karyawan. Semuanya memiliki ketentuan. Karyawan yang tidak memahami aturan tersebut bisa mengeluarkan uang untuk kebutuhan perusahaan tanpa pernah meminta penggantian, atau sebaliknya menganggap seluruh pengeluaran pribadinya layak dibayar kantor.
Persoalan lain dihadapi Gen Z yang bekerja secara lepas. Seorang desainer grafis berusia 24 tahun, misalnya, menerima pesanan logo dari beberapa pelanggan. Ia bekerja menggunakan laptop pribadi, mengirim hasil desain melalui internet, dan sesekali menemui klien di kedai kopi. Tidak ada perusahaan yang menyediakan meja atau mengganti biaya minumannya.
Bagi pekerja seperti ini, pengeluaran di kafe merupakan bagian dari biaya menjalankan usaha. Ongkos tersebut harus diperhitungkan ketika menentukan tarif jasa. Klien tidak otomatis berkewajiban mengganti setiap pengeluaran, kecuali memang ada kesepakatan khusus.
Di sinilah kemampuan mengelola keuangan menjadi penting. Seorang pekerja lepas bisa merasa memperoleh pendapatan Rp3 juta dari beberapa proyek dalam sebulan. Namun, pendapatan tersebut belum seluruhnya merupakan keuntungan. Masih ada biaya internet, listrik, transportasi, perangkat kerja, dan mungkin ratusan ribu rupiah yang dihabiskan di kafe.
Kalau seluruh uang yang diterima langsung dianggap penghasilan bersih, pekerja lepas dapat keliru menghitung hasil pekerjaannya. Kesalahan tersebut bisa berulang ketika ia menerima proyek berikutnya dengan tarif yang terlalu rendah.
Tentu tidak semua pekerja Gen Z menggunakan kafe dengan cara demikian. Ada yang cukup bekerja dari rumah, memanfaatkan fasilitas kantor, atau menggunakan ruang kerja bersama. Sebagian memang datang ke kafe karena ingin menikmati kopi dan bertemu teman. Mereka juga berhak menggunakan uangnya untuk kebutuhan rekreasi.
Karena itu, pernyataan bahwa Gen Z menyediakan anggaran khusus untuk kafe perlu ditempatkan secara proporsional. Pengamatan Gancar belum disertai data survei mengenai seberapa banyak pekerja muda melakukannya, berapa besar anggarannya, ataupun bagian pengeluaran yang berkaitan langsung dengan pekerjaan.
Yang layak diperhatikan adalah perubahan kebutuhan ruang kerja di kalangan anak muda. Mereka tidak selalu membutuhkan kantor lengkap dengan meja permanen. Sebagian cukup memerlukan tempat duduk, sambungan internet, dan suasana yang memungkinkan pekerjaan diselesaikan dengan baik.
Kebutuhan tersebut juga membuka persoalan bagi pengelola kota. Di Denpasar, misalnya, mahasiswa, pekerja muda, penulis, dan komunitas kreatif membutuhkan ruang untuk belajar, berdiskusi, serta menyelesaikan pekerjaan. Perpustakaan dan ruang publik dengan fasilitas memadai dapat menjadi alternatif agar setiap kebutuhan meja dan internet tidak selalu berakhir dengan kewajiban membeli makanan atau minuman.
Pemilik kafe sendiri tentu mempunyai kepentingan usaha. Pengunjung yang membeli satu gelas kopi lalu menempati meja selama berjam-jam menggunakan fasilitas yang mempunyai biaya. Pemilik berhak menetapkan ketentuan penggunaan ruang, dan pengunjung perlu menghormatinya.
Bekerja dari kafe pada akhirnya merupakan salah satu pilihan yang tersedia bagi Gen Z, bukan ukuran kemajuan atau keberhasilan mereka dalam bekerja. Yang lebih penting adalah kemampuan menghitung biaya dan memahami hubungan antara pekerjaan dengan pihak yang membiayainya.
Perusahaan semestinya membayar pengeluaran wajar yang timbul dari penugasan kerja. Karyawan menanggung ongkos ketika memilih kafe atas keinginan sendiri. Adapun pekerja lepas memasukkan biaya tersebut ke dalam perhitungan usahanya.
Bagi Gen Z yang baru membangun karier, pemahaman sederhana ini berguna jauh melampaui kebiasaan membeli kopi. Mereka sedang belajar menentukan nilai pekerjaan, mengelola penghasilan, dan mengenali biaya yang seharusnya tidak dibebankan kepada dirinya.
Sebab, pekerjaan yang selesai di kafe belum tentu menghasilkan uang lebih banyak daripada ongkos yang dikeluarkan untuk duduk di sana. Tagihan kopi bisa langsung dibayar. Menghitung apakah pekerjaan hari itu benar-benar menguntungkan membutuhkan sedikit lebih banyak ketelitian. (*)