Search

Home / Nasional

Tos Arak Bali, Diplomasi Cerdas Wayan Koster di Hadapan Menko Maritim & Investasi RI

Editor   |    31 Juli 2020    |   20:04:18 WITA

Tos Arak Bali, Diplomasi Cerdas Wayan Koster di Hadapan Menko Maritim & Investasi RI
Gubernur Koster tos arak Bali dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio melakukan kunjungan kerja ke Pulau Bali, Kamis (30/7).

MANGUPURA, PODIUMNEWS.com - Tos arak Bali menjadi tradisi baru di era kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster saat Pulau Dewata memasuki Tatanan Kehidupan Bali Era Baru.

Tos arak Bali dilakukan Wayan Koster bersama Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati ketika Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio melakukan kunjungan kerja ke Pulau Bali, Kamis (30/7), dalam rangkaian Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru dan Digitalisasi Pariwisata Berbasis QRIS di Kawasan Pariwisata Terpadu ITDC Nusa Dua.

Ada dua pesan khusus yang disampaikan Koster dalam acara Tos Arak Bali yang berlangsung di Peninsula Island The Nusa Dua, ITDC, Badung, Bali itu. Yakni, pertama Gubernur Bali melakukan diplomasi ekonomi produk lokal Bali di hadapan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, dan di hadapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio.

Mengingat keberadaan arak Bali saat ini sudah mampu dilegalkan dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Secara nasional, Koster sudah berhasil mengimplementasikan Program Tri Sakti Bung Karno yang salah satunya menciptakan kemandirian secara ekonomi atau ekonomi berdikari yang akarnya adalah kedaulatan rakyat.

Keberpihakan Koster terhadap masyarakat yang berprofesi sebagai petani minuman khas Bali seperti arak, tuak, dan brem ini dengan tegas secara terkonsep dikampanyekannya dihadapan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, dan di hadapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio.

Karena Koster meyakini, tujuan dilahirkannya Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali ini untuk mendukung pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dengan berbasis budaya sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, dan kesimpulannya Pulau Bali berhasil membangun pondasi ekonomi kerakyatan sekaligus mewujudkan Bali Berdikari di bidang Ekonomi.

Lebih dari itu, penggunaan produk arak Bali juga merupakan keseriusan Koster untuk mengimplementasikan Pergub Bali Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali.

“Astungkara, Pergub Bali Nomor 1 tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali dan Pergub Bali Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali ini bisa mensejahterakan petani dan produsen minuman Fermentasi dan Destilasi khas Bali,” ujar Koster.

Koster yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini menyatakan, dirinya ingin membuatkan koperasi khusus bagi para petani arak. Bila perlu hulu dan hilirnya mereka adalah di koperasi. “Saya akan kembangkan menjadi industri, karena saya ingin agar arak tradisional Bali ini bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat perdesaan di Pulau Dewata,” katanya.

Secara inovasi, Koster yang merupakan mantan anggota DPR-RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini dengan tekad yang kuat ingin mengembangkan industri arak Bali yang dipadukan dengan kemasan dan label Barak untuk kebutuhan wisatawan dan ekspor.

Selanjutnya, pesan khusus yang kedua yang disampaikan Koster, adalah arak Bali mampu menjadi obat Covid-19. “Di tengah gencarnya Bangsa Indonesia termasuk Bali menghadapi sekaligus menekan kasus Positif Covid-19, secara langsung Bali berhasil menemukan formula jitu untuk menyembuhkan orang tanpa gejala yang terkonfirmasi positif Covid-19,” ungkapnya.

Kata Wayan Koster yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, bahwa mereka yang mengalami Orang Tanpa Gejala (OTG) yang terkonfirmasi positif Covid-19 menggunakan terapi arak Bali di sejumlah tempat karantina yang dikelola Pemprov Bali.

"Terapi arak ini ternyata efektif sekali, mereka yang baru positif, ternyata dua hari dilakukan treatment arak, tercatat pada hari ketiga mereka negatif dan sembuh," ujar Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini yang setiap paginya rutin minum kopi khas Bali dicampur arak satu sendok makan.

Atas keberhasilan itu, Koster berharap produksi arak Bali berhasil menembus pasar nasional dan internasional. Selain terbukti untuk menyembuhkan Covid-19, arak Bali juga memiliki peran untuk membangkitkan sektor ekonomi perdesaan, yang secara tidak langsung, hal ini merupakan implementasi dari tugas yang diberikan Presiden RI, Joko Widodo saat dirinya menghadiri undangan ke Istana Bogor yang menegaskan agar aktivitas perekonomian dimulai dan bisa menggerakan kehidupan masyarakat. (BAS/PDN)