Search

Home / Feature

Efek Positif Pembelajaran Tatap Muka

Redaktur   |    06 Oktober 2021    |   21:49:51 WITA

Efek Positif Pembelajaran Tatap Muka
(Foto: Istimewa)

TREN kasus positif COVID-19 dalam beberapa pekan ini mulai menurun. Pemerintah pun melonggarkan sejumlah aturan. Salah satunya aturan pembelajaran tatap muka (PTM).

Sebuah studi baru dari Bank Dunia menyajikan perkiraan kerugian pembelajaran anak-anak akibat penutupan sekolah terkait COVID-19 di Indonesia. Bank Dunia memperkirakan penutupan sekolah hingga Juni 2021 telah mengakibatkan hilangnya sekitar 0,9 tahun pembelajaran.

Selain itu, penutupan sekolah juga menurunkan  25 poin skor PISA Programme for International Student Assessment (PISA) siswa di bidang membaca. PISA merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global.

Jika berlanjut hingga Desember 2021, diperkirakan kerugian akan menjadi lebih besar. "Jumlah pembelajaran yang hilang lebih ditentukan oleh kualitas dukungan pembelajaran terhadap siswa daripada durasi penutupan sekolah," kata peneliti Bank Dunia untuk Indonesia Noah Yarrow dan Rythia Afkar dalam tulisannya di blog.wordbank.org, 17 September 2021.

Selama pandemi COVID-19 berlangsung, kata mereka, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya besar untuk mengurangi dampak pandemi pada sistem sekolah. Seperti kurikulum darurat, TV pendidikan, dan pulsa internet untuk meningkatkan akses siswa terhadap pembelajaran jarak jauh. Namun, hasil dari upaya ini beragam. Misalnya, anak usia sekolah yang menonton TV pendidikan antara Mei hingga November 2020 turun dari 56 persen menjadi 10 persen.

Selain itu, menurut temuan Bank Dunia, pemberian pulsa internet tidak signifikan meningkatkan jumlah siswa yang mengakses pembelajaran daring, meskipun jumlah waktu yang mereka habiskan untuk pembelajaran jarak jauh setiap harinya meningkat.

Hasil evaluasi yang dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek tahun lalu menyebut walaupun pembelajaran jarak jauh sudah terlaksana dengan baik, tetapi terlalu lama tidak melakukan pembelajaran tatap muka akan berdampak negatif bagi anak didik. Dampak negatif itu di antaranya:

  1. Ancaman Putus Sekolah
    Risiko putus sekolah menjadi makin besar karena anak terpaksa harus bekerja membantu perekonomian keluarga di tengah krisis pandemi COVID-19. Persepsi orang tua yang tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar juga menjadi penyebab banyak orang tua memutuskan untuk menghentikan anak sekolah.
  2. Kendala Tumbuh Kembang
    Perbedaan akses dan kualitas membuat kesenjangan capaian belajar terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda. Hilangnya pembelajaran tatap muka secara berkepanjangan juga berisiko terhadap pembelajaran jangka panjang baik secara kognitif maupun perkembangan karakter.
  3. Tekanan Psikososial & KDRT
    Minimnya interaksi sosial dengan guru, teman serta lingkungan, ditambah tekanan pembelajaran jarak jauh dapat menyebabkan anak stres. Selain itu, banyak juga kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan anak dan tidak terdeteksi karena kurangnya akses dan interaksi dengan pihak luar seperti guru.

Karena dampak itu, pemerintah pun membuka kembali pembelajaran tatap muka dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan.

"Pengambilan kebijakan pada sektor pendidikan harus melalui pertimbangan yang holistik dan selaras dengan pengambilan kebijakan pada sektor lain di daerah. Kendati kewenangan ini diberikan, perlu saya tegaskan bahwa pandemi belum usai," kata dia.

Selama pandemi ini, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan dengan dua prinsip pokok. Pertama, memprioritaskan kesehatan dan keselamatan dalam penyelenggaraan pendidikan. Kedua, mempertimbangkan tumbuh kembang ana dan hak anak selama pandemi COVID-19.

Dan saat ini, bersamaan dengan menurunnya kasus positif COVID-19 sejumlah sekolah kembali menyelenggarakan PTM secara terbatas. (COK/RIS/PDN)