Search

Home / Feature

Ada Kisah Bung Karno Awal Batik Indonesia

Editor   |    10 Oktober 2022    |   15:44:00 WITA

Ada Kisah Bung Karno Awal Batik Indonesia
Tokoh perdamaian dunia sekaligus Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela mengenakan batik dalam penutupan Piala Dunia Afrika Selatan pada 2010. (foto/BBC)

PADA tanggal 2 Oktober 2022 merupakan peringatan Hari Batik Nasional. Itu adalah tahun ke-13 Indonesia memperingati hari batik setelah UNESCO menetapkan batik sebagai intangible cultural heritage of humanity (Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi) yang berasal dari Indonesia pada 2 Oktober 2009.

"Teknik, simbol, dan kebudayaan terkait teknik mewarnai katun dan sutra dengan tangan (hand-dyed) yang dikenal sebagai Batik Indonesia, menjadi simbol kehidupan masyarakat mulai awal hingga akhir," tulis UNESCO.

Batik tak hanya untuk sandang, tapi juga bisa kita temui untuk gendongan bayi dan juga saat ada orang yang meninggal.

Batik adalah kain yang dilukis dengan cairan lilin malam menggunakan alat bernama canting, dan menghasilkan pola-pola tertentu pada kain.

Kata batik dirangkai dari kata ‘amba’ yang berarti kain yang lebar dan kata ‘tik’ berasal dari kata titik. Artinya, batik merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang lebar sedemikian rupa sehingga menghasilkan pola-pola yang indah.

Batik juga tak hanya ditemui di Jawa. Ia terbentang dari Aceh hingga Papua. Setiap daerah memiliki batik masing-masing dengan ciri yang khas.

Namun generasi saat ini barangkali belum banyak yang tahu, sosok di balik lahirnya batik Indonesia. Mereka ada Presiden Soekarno dan Go Tik Swan. Sesuai namanya, Go Tik Swan adalah keturunan Tionghoa kelahiran Solo, 11 Mei 1931. Ia adalah budayawan yang tekun dengan beragam minat, khususnya budaya Jawa. Banyak yang bilang ia lebih Jawa dari orang Jawa sendiri.

Minatnya akan budaya Jawa tak pernah pudar. Bahkan ia pernah "menentang" keluarganya saat masuk kuliah. Kala itu orang tuanya menginginkan Swan masuk Fakultas Ekonomi. Keinginan orang tuanya dituruti. Pada 1953, ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun tampaknya pilihan orang tuanya itu tak sesuai dengan kata hatinya. Ia memutuskan tak meneruskan kuliah di Fakultas Ekonomi itu dan memilih Sastra Jawa di UI.

Pilihannya tak salah. Pada 1955, ia sempat diminta menari saat UI memperingati Dies Natalis. Presiden Soekarno saat itu hadir.

Di depan Soekarno, ia membawakan tarian Gambir Anom. Itu merupakan tarian klasik Jawa bergaya Solo. Tampaknya Soekarno terpikat dengan tarian yang dibawakan Go Tik Swan. Soekarno menyalami dan mengundang Go Tik Swan untuk menari di Istana Negara.

Berawal dari tari, ia makin akrab dengan Soekarno. Sekitar 1957, Soekarno, Go Tik Swan diminta untuk menciptakan "batik Indonesia".

Batik memang sudah menjadi dunia sehari-hari bagi Swan. Go Dhiam Ik, ayahnya adalah pemilik usaha batik. Hardjosoewarno (72 tahun), anak angkat Go Tik Swan, bercerita sejak kecil Go akrab dengan batik karena kakek-neneknya punya tempat pembatikan. ”Go Tik Swan itu sang empu kesayangan Soekarno,” kata beberapa waktu lalu.

Karena tak asing dengan batik, Go Tik Swan langsung menyanggupi permintaan Soekarno itu.

Setelah lama mencari inspirasi, akhirnya Go Tik Swan menggabungkan berbagai karkater dari batik Solo, Jogja dan Pesisiran menjadi satu hingga terciptalah batik Indonesia. Tercatat ada 200 motif batik karya Go Tik Swan pada rentang 1950-2008.

Beberapa batik ciptaannya antara lain bermotif radyo kusumo, kuntul nglayang, kutila peksawani, dan parang anggrek. Batik yang diciptakan Go Tik Swan merupakan perpaduan multi warna antara batik Solo dominasi hitam dan cokelat dengan daerah pesisir yang memiliki warna cerah.

Kecintaannya akan budaya Jawa membuat Go Tik Swan diangkat menjadi bupati anom Keraton Surakarta pada 1984 dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Ia juga punya nama Jawa Hardjonagoro. Dedikasinya yang sangat tinggi terhadap budaya Jawa, akhirnya Keraton Solo menganugerahi gelar Panembahan Hardjonagoro. ”Itu gelar tertinggi dalam sejarah Jawa,” Hardjosoewarno.

Sepeninggal Go Tik Swan pada 5 November 2008, usaha batiknya diteruskan Hardjosoewarno. Bersama istri, Supiyah Anggriyani, Hardjo meneruskan karya batik yang adiluhung itu. (ris/sut)


Baca juga: Pengamalan dan Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di Bidang Ekonomi