Search

Home / Opini

Waktu

Redaktur   |    01 Januari 2022    |   19:49:45 WITA

Waktu
Kang Marbawi, Kasubdit Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP. (Foto: doc.bpip/Istimewa)

MAKHLUK yang satu ini, sering kali tak disadari dan dilupakan keberadaannya. Bahkan disia-siakan. Seolah tak berharga. Namun melahirkan penyesalan tak berkesudahan. Dia, kadang dimitoskan dan disalahkan sebagai sebuah kesialan atau keburukan. Makhluk yang satu ini juga sering kali ditakuti manusia. Membuat manusia tak bebas. Dia adalah waktu!

Sering kali Kita memandang waktu adalah linieritas. Waktu dulu, sekarang dan yang akan datang. Begitu saja berlalu tanpa ada makna dan tujuan. Waktu liniertias memenjarakan kita dalam kejaran dan keterbatasan waktu. Seolah memacu kita untuk meraih wujud rencana dalam rentang waktu. Waktu linieritas yang membuat kita seolah berkejaran dalam keterbatasan waktu.

Waktu yang kita pahami adalah mewujud dalam waktu mekanis. Seperti jam di dinding atau jam di tangan dengan berbagai rupa, warna, ukuran, harga dan merek untuk prestise. Dan kita terpenjara dalam waktu mekanis. Terperangkap dalam -waktu objective, rutinitas jadwal dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Dan kembali ke jam, ke hari, ke bulan, ke tahun yang seolah sama. Sebuah siklus waktu. Dimana waktu berulang dan menciptakan dirinya sendiri yang tak terbatas. Dan kita tergilas lagi olehnya. Kita ada di dalamnya tanpa makna! Tanpa daya!

Waktu memiliki durasi. Apa yang kita jalani hari ini, adalah pantulan dari apa yang sudah kita perbuat di masa lampau. Apa yang kita kerjakan hari ini, hasilnya akan terlihat di masa depan atau yang akan datang. Itulah waktu durasi. Bukan waktu objektif-murni dari menit ke menit, dari jam ke jam atau dari ke hari ke hari dan seterusnya.

Walau waktu objektif sama, setiap dari kita, beda dalam kesadaran dan merasa. Maka waktu menjadi relative. Satu menit menunggu sesuatu atau antrian, seolah satu jam rasanya. Sementara satu jam dengan orang yang kita sayangi, lalu didatangi satpam, kita akan berkata, “baru sebentar ketemu!

Waktu durasi adalah satu menit atau satu jam atau satu hari atau satu tahun yang disadari dan diberi makna oleh kita. Satu menit, satu jam, satu hari, atau satu tahun yang disadari dan dimaknai menjadi waktu subjektive atau waktu yang dirasakan atau dihayati oleh manusia. Sekaligus menjadi waktu yang relative pada setiap orang yang menjalaninya.

Waktu subjective adalah hakikat waktu itu sendiri. Dalam menjalani waktu yang menentukan adalah kesadaran kita. Perasaaan lama atau tidak, sebentar atau lama itulah yang menggugah kesadaran kita. Kesadaran akan makna waktu atau durasi yang dilalui.

Penghayatan terhadap waktu sifatnya eksistensial, berkaitan dengan penghayatan kita atas waktu (hidup) yang kita jalani. Maka pantas Agustinus dari Hippo atau juga dikenal sebagai Santo Agustinus atau Saint Augustine mengatakanbahwa waktu hanya terdapat di dalam alam ciptaan. Karena waktu hanya dapat dirasakan dalam dimensi ruang, yaitu melalui gerak dan perubahan.

Kitalah yang memaknai waktu. Terpenjara oleh waktu. Atau waktu memberi kita kebebasan. Kebebasan adalah kesadaran untuk bekerja, bergerak, berkembang terus menerus, kreatif dan dinamis. Kebebasan dalam kesadaran yang memberi manfaat baik untuk kita, orang lain serta lingkungan sekitar kita. Itulah penghayatan kita terhadap waktu. Waktu yang membebaskan adalah pemaknaan terhadap kehadiran kesadaran kita untuk menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.

Dalam satu jam ada 60 menit, dalam satu hari ada 24 jam, dalam satu bulan ada 30 hari, dalam satu tahun ada 12 bulan. Waktu manakah yang kita gunakan, mekanis kah? Atau sekedar menjadi waktu linieritas dan siklus saja tanpa makna. Atau menjadi waktu subjective yang bermakna? Waktu adalah gerak dan perubahan. Sila di renungkan. Selamat Tahun Baru 2022.

Oleh: Kang Marbawi, Kasubdit Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP, Jum’at (31/12/2021)

(COK/RIS/PDN)


Baca juga: Pro Kontra Pengaturan Euthanasia di Indonesia